Wajah Adrian yang tampak bersinar dan juga senyuman hangatnya yang terukir membuat jantungku terasa mulai berdebar di hadapannya. Apalagi memandangi penampilannya gagah di mataku membuat senyumanku mulai mengambang. Seumur hidupku, aku tidak pernah menabrak seseorang apalagi seorang pria berwajah tampan terutama berprofesi sebagai jaksa.
Bertemu dengan seorang jaksa secara tidak sengaja dalam suatu tempat tidak terduga seperti suatu kebetulan. Aku menjadi sangat penasaran tujuannya mengunjungi minimarket ini. Tiba-tiba rasa penasaranku sangat tinggi sekarang. Apakah mungkin ia tinggal di sekitar sini?
Namun aku tetap harus membantunya memungut barangnya masih berserakan. Aku kembali berjongkok mengambil barang-barangnya. Adrian mengetahui aksiku saat ini secara spontan mengulurkan tangan kanannya padaku.
"Saya tetap tidak tega mengamati seorang wanita yang repot mengambilkan barang saya seperti ini. Sini sebaiknya Anda berdiri saja," tawar Adrian tersenyum ramah berbicara lembut padaku.
Daripada aku membiarkan tangannya terus terulur seperti itu sampai pegal, lebih baik aku menurutinya menyentuh tangannya sambil perlahan memposisikan tubuhku berdiri sempurna.
Namun dirinya sekarang berjongkok membereskan semua barangnya yang berserakan termasuk barang belanjaanku. Aku semakin merasa tidak enak dan bersalah padanya sekarang karena telah merepotkannya, apalagi ini pertemuan pertama kami.
"Jaksa Adrian, biar saya saja mengambil sendiri," lirihku sedikit membungkuk.
"Tidak perlu. Ini sudah saya ambilkan semuanya untuk Anda," sahutnya beranjak sambil memberikan semua barangnya padaku.
"Terima kasih, Jaksa Adrian. Maafkan saya telah merepotkan Anda.” Rasanya tanganku semakin gemetar, padahal bukan berhadapan dengan penjahat, tapi entah kenapa hanya berhadapan dengan pria tampan saja berhasil menambah rasa gugup.
"Tidak masalah, Detektif Penny. Anda tidak perlu meminta maaf pada saya. Saya melakukannya dengan sepenuh hati saya membantu Anda.”
Memang jarang sekali aku bertemu dengan seseorang yang memiliki hati lembut seperti dirinya. Melihat sikapnya sangat ramah dan juga penampilannya seperti ini, aku yakin sekali ia sudah memiliki seorang kekasih atau sudah menikah. Tunggu sebentar! Untuk apa aku memedulikan kehidupan asmaranya sedangkan kita baru pertama kali berkenalan? Sadarlah pikiranku harus kembali serius!
"Omong-omong, Anda belanja makanannya banyak sekali. Apakah Anda mengintai seseorang di sekitar sini?" tanya Adrian mengamati barang belanjaanku berupa makanan ringan.
"Iya nih. Saya sedang mengintai seorang saksi mata dari kasus kami. Saksi itu terlihat mencurigakan saat saya menginterogasinya tadi jadi saya dan rekan saya mengintainya dari tadi," jawabku berlagak seperti detektif profesional di hadapannya. Sebenarnya aku tidak bermaksud sembarang membocorkan informasiku, tapi dilihat bahasa tubuhnya, ia bisa dipercayai bagiku.
"Kalau boleh tahu, kasus apa yang sedang Anda hadapi?"
"Kasus pembunuhan yang terjadi kemarin di pinggir sungai."
"Oh, kasus itu juga saya yang pegang, ini adalah suatu kebetulan. Di lain waktu, kalau mau minta bantuan bisa hubungi saya saja. Jadi kita bekerja sama untuk menangkap pembunuh tersebut, bagaimana?"
Sungguh kebetulan sangat pas. Adrian seperti sedang mengetahui isi hatiku yang saat ini sangat membutuhkan bantuan. Tentu saja, aku tidak mungkin menolak tawaran yang tidak akan kutolak. Dengan begini, akan mempermudahkan aku menyelesaikan kasus ini. Bukan karena kesempatanku bisa berdekatan dengannya supaya bisa menjadi kekasihnya.
Aku mengulurkan tangan kananku menampakkan senyuman percaya diri. "Baiklah, kalau begitu kita akan sering bertemu terus untuk ke depannya.“
Seketika tangan Adrian menyentuh tanganku, aku bisa merasakan kelembutan dan hangatnya tangan ini. Rasanya aku ingin memperpanjang waktu berjabat tangan. Namun, mengingat aku telah menyita banyak waktu dan Nathan pasti menungguku lama, terpaksa aku harus berpamitan dengan pemuda tampan ini. Terpaksa aku yang mengakhiri sesi sentuhan tangan, meski sebenarnya aku bingung kenapa Adrian masih menyentuh tanganku padahal sudah berlangsung sepuluh detik.
"Saya pergi duluan ya, kasihan rekan saya mengintai sendirian.”
"Tidak apa-apa. Silakan duluan saja."
Aku sudah bersiap-siap mengambil semua barang belanjaanku, lalu berlari menuju pintu keluar minimarket.
"Penny!" pekik Adrian dari kejauhan.
Aku tercengang mendengar namaku dipanggilnya dengan lantang dari kejauhan membuat langkah kakiku terhenti di depan pintu masuk. Baru pertama kali aku dipanggil seperti itu saat pertemuanku dengan orang yang baru kukenal. Aku membalikkan tubuh ke belakang menghadapnya mengukir senyuman terindahku padanya.
"Iya, Adrian?" sahutku.
"Lain kali kita berbicara santai saja, jangan terlalu formal karena kita kan partner kerja juga," sahut Adrian sambil berjalan santai menghampiriku berdiri di dekat pintu.
Hanya mendengar kalimat sederhana itu sudah bisa membuat jantungku berdebar. Namun, tetap saja aku harus bersikap profesional dan pastinya aku menyetujui usulannya itu daripada perbincangan kami terkesan seperti robot setiap hari.
"Baiklah, Adrian. Aku juga lebih nyaman berbicara santai padamu."
"Kalau begitu kamu sebaiknya bergegas menemani temanmu sekarang. Aku juga ingin pulang ke kediamanku," usulnya.
"Aku pergi dulu, Adrian," pamitku sopan bergegas meninggalkan minimarket.
Aku bergegas berlari dengan napas tersengal-sengal menuju tempat persembunyian Nathan. Sejenak aku mengamati sekelilingku dengan penuh waspada lalu memasuki mobil Nathan.
"Maafkan aku. Kamu pasti menungguku lama," desisku sambil menepuk betis kakiku.
"Tidak apa-apa kok. Lagi pula juga kamu sudah bawa makanannya," jawab Nathan tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba ada seseorang yang muncul di depan rumah Pak Bastian. Orang tersebut sangat misterius yang mukanya ditutupi dengan masker sehingga aku tidak bisa melihat mukanya dengan jelas. Pak Bastian dan orang misterius itu saling berbicara dengan serius.
"Hei, Nathan! Coba kamu lihat deh! Itu ... siapa sih?" tanyaku sedikit gemetaran.
"Aduh dilihat dari sini tidak jelas! Ayo, kita mendekat ke sana! Jangan sampai ketahuan." ajak Nathan sambil membuka pintu mobil.
Semakin kami berjalan mendekati rumah Pak Bastian, semakin jelas kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bahkan dari menuruni mobil Nathan, aku sampai rela menahan napas beberapa kali supaya misi rahasia berjalan sempurna.
"Kerja yang bagus," kata orang misterius itu menepuk pundak Pak Bastian.
"Tapi apakah tindakan ini benar? Kalau misalnya saya ketahuan berbohong gimana?" tanya Pak Bastian dengan ragu.
"Tenang saja. Anda akan dilindungi secara ketat. Cukup lakukan perintahnya, tutup mulut, dan terima uangnya."
Aku dan Nathan sangat terkejut setelah mendengar perkataan Pak Bastian. Ternyata pernyataan Pak Bastian di kantor polisi adalah semuanya kebohongan. Ia sudah menipu dan membodohi semuanya.
ACHOOO!
Tiba-tiba Nathan bersin dengan suara keras di situasi mencekam begini. Dengan sigap kami berdua lari dan langsung meninggalkan tempat tersebut agar tidak tertangkap basah.
Pagi harinya, aku pulang ke rumah sebentar untuk mengambil barang-barangku sekalian untuk menyapa ibuku. Saat aku hendak meninggalkan rumah, tante Desy menghampiriku.
"Bukankah kamu tadi baru masuk rumah? Kenapa pergi lagi?" tanya Desy menatapku heran.
"Aku pulang cuma buat mengambil barangku yang penting dan menyapa ibu karena kemungkinan aku sudah jarang pulang ke rumah," jawabku dengan senyuman ramah.
"Oh, memangnya pekerjaan kamu apa sampai tidak bisa pulang?" tanya tante Desy.
"Aku bekerja sebagai detektif. Saat ini sedang mengerjakan kasus pembunuhan jadinya agak sibuk."
Mengingat waktu semakin siang, terpaksa aku mengakhiri perbincangan santai dengan tetangga baruku. "Aku permisi dulu, Tante."
Setibanya di kantor, aku masih terus mendengar rekaman ponsel Alya sambil melihat laporan autopsi mayat Alya. Pak Bastian mengatakan bahwa Alya ditusuk oleh pembunuh sebanyak dua kali, akan tetapi di laporan autopsi goresan dan bekas tusukan tersebut sebanyak empat kali. Berarti pernyataan Pak Bastian sepenuhnya bohong. Sayangnya suara rekaman terus tidak terdengar terlalu jelas dan rekaman CCTV di minimarket tidak terlihat jelas.
Akhirnya aku memutuskan untuk mencari rekaman CCTV di sekitar TKP sekali lagi. Memang benar yang dikatakan Nathan bahwa semua CCTV di sekitar sini sengaja dirusak oleh pelaku. Setelah mencari tahu hingga sore, aku pun akhirnya menyadari bahwa ada sebuah mobil yang selalu terparkir di minimarket tersebut. Lalu, aku langsung bergegas ke minimarket untuk meminta rekaman dasbor mobil miliknya.
Entah ini merupakan sebuah kebetulan lagi, tanpa sengaja aku bertemu dengan Adrian yang hendak ingin memasuki minimarket ini.
"Penny, sedang apa kamu di sini?" tanya Adrian berbasa-basi.
"Aku menemukan sebuah rekaman dasbor. Tapi entah itu terlihat jelas atau tidak, kita berdoa saja semoga jelas," jawabku dengan tersenyum lebar.
"Mari kita melihatnya bersama. Hmm enaknya di mana ya?" ajak Adrian sambik bertopang dagu.
"Bagaimana kalau di "Peaceful Restaurant"? Aku kebetulan mendapat kupon makan gratis di situ. Sekalian kita makan malam bersama," jawabku tertawa terkekeh.
"Boleh juga tuh. Ayo, kita kesana sekarang!" ajak Adrian antusias.
Sambil menikmati makan malam, aku dan Adrian menyaksikan rekaman tersebut. Rekaman itu merekam sang pelaku berjalan di depan minimarket sekitar pukul 8 malam. Sedangkan Pak Bastian mengatakan ia melihat aksi pembunuhan tersebut pukul 10 malam.
"Ada apa? Kenapa ekspresimu gitu?" tanya Adrian bingung melihatku.
"Ini aneh. Saksi menyatakan bahwa aksi pembunuhan tersebut terjadi sekitar pukul 10 malam. Rekaman ini merekam sang pelaku berjalan di sekitar minimarket pukul 8 malam," ucapku yang bingung.
"Lalu jarak dari minimarket menuju ke TKP hanya dua kilometer dan perjalanan menuju ke sana tidak membutuhkan waktu dua jam. Apakah mungkin?" ujar Adrian semakin curiga.
Saat Adrian mengatakan hal itu, muncullah orang misterius yang menghampiri sang pembunuh. Rekaman tersebut menunjukkan pukul 9 malam.
"Iya benar persepsimu. Ada pihak lain yang bekerja sama dengan pelaku. Tapi wajah mereka berdua tidak terlihat begitu jelas," jawabku yang lemas.
"Sebenarnya motif pembunuhan pelaku apa sih? Siapa orang yang berbicara dengan pelaku?" tanya Adrian sambil menggarukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar! Waktu itu Pak Bastian bilang saat itu cuma ada Alya dan pelakunya. Pak Bastian mengatakan ciri-ciri pelaku itu tingginya sekitar 180 cm, sedangkan orang yang berbicara dengan pelaku itu tingginya sekitar 180 cm," lanjutku berpikir keras hingga dahiku berkerut.
"Berarti pelakunya pria ini. Pria yang selama kita anggap pelaku itu hanya kaki tangannya saja. Satu-satunya harapan kita adalah pernyataan yang jujur dari Pak Bastian, sayangnya ia bersekongkol dengan pelaku dan menyatakan kebohongan," ucap Adrian yang menunjuk pria itu.
"Aduh seandainya saksi itu jujur, jadi semuanya akan cepat terselesaikan dan situasi tidak akan semakin rumit!" keluhku sambil memijit pelipisku akibat kepalaku mulai terasa sakit.
drrt...drrt...
Di tengah perbincangan kami, ponselku berbunyi. Ternyata Pak Bastian yang meneleponku. Aku langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Detektif Penny? Bolehkah kita bertemu sekarang di kantor polisi? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Anda," ucap Pak Bastian lewat telepon.
"Baik Pak Bastian. Saya akan segera ke sana secepatnya, mohon ditunggu," ucapku yang terburu-buru ingin menutup panggilan teleponnya.
Tiba-tiba terdengar suara tusukan yang mengerikan.
"ARRGHH! Selamatkan saya, Detektif Penny. Saya telah ... ditikam oleh pelakunya," ucap Pak Bastian yang sangat lemas.
"Pak Bastian? Pak Bastian? Anda masih di sana?" tanyaku dengan rasa takut.
Sambungan telepon dengan Pak Bastian langsung terputus. Sepertinya pelaku mengambil ponsel milik Pak Bastian untuk melenyapkan bukti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
martina melati
kesempatan mumpung ada y
2024-09-28
0
martina melati
hehehe... sekali mendayung 2 ato 3 pulau sanggup y /Facepalm/
2024-09-28
0
martina melati
shrsny jangan terbuka beri info, walo pd jaksa sekalipun... cukup katakan, iy sedang bertugas.
2024-09-28
0