"Eh, iya Rey?" kata Amira terbata.
Tetapi akhirnya gadis muda ini menemukan alasan tepat untuk menolak tawarannya.
"Rey, maaf ya ... aku takut Mama Eva marah ... jadi, aku pulang sendiri aja ya? makasih udah mau nawarin." tolak Amira berbohong menggunakan Eva sebagai alasan.
Wajah Reyno terlihat kecewa ia mencebik bibirnya lirih. Disusul dengan anggukan kepalanya. Sebenarnya Reyno bisa saja memaksa, tetapi dia tak ingin membuat Amira kesal ataupun membenci sikapnya itu.
"Oke, kalo gitu hati-hati ya?" katanya melambaikan tangannya. Karena sekarang arah jalan mereka berbeda. Amira langsung berjalan ke pintu keluar sedangkan Reyno harus ke lobi untuk mengambil mobilnya ditempat parkir kampus.
Amira bisa bernafas lega sekarang. Buru-buru ia melangkahkan kakinya sebelum Reyno keluar bersama mobilnya.
Amira berjalan diatas trotoar. Ia harus mencari angkot untuk pulang. Dari arah barat datang mobil angkutan umum berjalan kearahnya. Amira melambaikan tangannya untuk sebagai tanda ia akan menaiki mobil itu. Tetapi, tiba-tiba saja Amira menepuk keras dahi mulusnya itu.
"Astaga! aku lupa kan sekarang, aku punya rumah baru!" ucapnya hampir memasuki angkot jurusan rumah yang lama.
Amira berhenti, dan menganggukkan kepalanya lirih kepada sopir angkot karena tak jadi naik.
Hingga datang warna angkot yang berbeda warna yang seharusnya ia pilih untuk menuju rumah barunya. Amira hendak menyetop kendaraan itu. Tetapi terdengar suara seseorang yang memanggil keras namanya.
"Amira!" panggil Axel dari mobilnya. Amira menoleh melihat sosok yang telah resmi menjadi suaminya sedang berteriak dari dalam mobil.
Amira sampai mengernyitkan matanya karena sinar matahari disore hari menerpa wajahnya. Kilauan cahaya terang itu hampir menutupi pandangan Amira sepenuhnya. Secara samar Amira masih melihat sosok Axel ditempat itu.
"Pak Axel?" ucapnya, karena posisinya hampir ditengah jalan. Amira tak sadar ada kendaraan berat akan segera melintas. Melihat istrinya sedang dalam bahaya, Axel segera keluar dari mobil berlari dengan cepat dan menarik tangan Amira.
"Srakkk." Didekapnya tubuh Amira dalam pelukannya melindungi tubuh Amira yang hampir terlindas truk itu. Amira sendiri lebih terkejut dengan apa yang dilakukan Axel kepadanya. Ia sendiri tak sadar dengan bahaya yang sempat mengancam nyawanya karena kecerobohannya sendiri.
"Kamu kalo dijalan bisa gak sih hati-hati? malah berhenti sembarangan disini! bahaya tahu!" sungut Axel memarahi Amira. Jantungnya hampir dibuat copot karena Amira. Andai saja Axel telat beberapa langkah tak tahu bagaimana jadinya.
"Maaf Pak, habisnya saya kaget ... terus Bapak malah teriak-teriak dari sana." balas Amira lirih secara tak langsung menyalahkan Axel atas kejadian ini. Amira memalingkan wajahnya mana berani dia menatap wajah Axel.
Berbeda dengan Axel yang sedang menatap kesal Amira, sungguh mau diapakan lagi wanita ini. Karena gara-gara dia, Axel harus sampai berlari terbirit-birit untuk menyelamatkan dirinya.
"Hah! terserahlah, ayo sekarang kita pulang!" ajak Axel meninggalkan Amira bersiap membuka pintu mobilnya. Amira masih terdiam.
"Hey, malah bengong! ayo naik!" sentak Axel lagi membuat Amira terkejut.
"Ini saya gak papa naik satu mobil sama Bapak?" tanya Amira ragu karena dirinya merasa tak pantas untuk satu mobil dengan Axel. Memang perasaan yang canggung meskipun kenyataannya mereka telah resmi menikah.
Tak kahyal kata-kata itu membuat Axel tersenyum getir, setelah mendengar pertanyaan lugu dari bibir tipis Amira. Walaupun ada Dia sendiri sejujurnya takjub dengan sikap sopan yang dimiliki Amira.
"Udah deh gak udah banyak tanya! emangnya saya pernah larang kamu naik kemobil saya?" tanya Axel pernahkah ia secara tak sadar mengucapkan kata-kata itu kepada Amira.
Amira menyudutkan bola matanya keatas. Kemudian menggeleng lirih karena memang tak menemukan kata itu selama lima hari dia hidup berdua dengan Axel.
"Nah, kan gak pernah ... udah sekarang mendingan kamu naik ... atau kita bakalan dimarahin orang karena udah berhenti sembarangan!" ajak Axel lagi tak terhitung banyaknya. Amira ingin membuka pintu depan. Tetapi ia ragu. Hingga akhirnya dia malah berjalan ke deretan pintu mobil kedua.
"Kamu, kenapa duduk disitu Amira?" tanya Axel benar-benar tak habis pikir dibuatnya.
Amira malah tersenyum kaku, ia sendiri belum nyaman bila harus duduk dengan jarak yang dekat dengan Axel.
"Saya gak mau ganggu Bapak, nanti kalo saya duduk disitu Bapak jadi gak fokus nyetir lagi, jadi saya duduk dibelakang aja." kilah Amira beralasan yang sungguh tidak masuk akal. Lagi-lagi Axel dibuat tercengang dengan alasan Amira barusan.
"Astaga! ini bocah emang nguji tekanan darah tinggi gue kayaknya!" dengus Axel menggeleng kesal. Daripada merasakan kekesalannya terlalu lama, segera Axel menghidupkan mesin mobil dan tancap gas.
Amira meraba kursi empuk ini. Sensasi lembut dan halus membuat bokongnya terasa nyaman. Walaupun hidupnya berkecukupan. Semenjak Rani sang Ibu tiada, Amira tak pernah merasakan lagi naik mobil mewah. Kemanapun ia pergi hanya menggunakan transportasi umum sebagai alat akomodasi setiap harinya.
Tiba-tiba rasa kantuk Amira datang. Matanya perlahan terpejam, walaupun Amira terlihat menahan matanya untuk tetap terbuka. Tetapi karena ditambah udara dingin dari Air conditioner. Membuat menambah rasa kantuk dimatanya itu.
Dari kaca spion depan Axel melihat tingkah Amira. Terlihat tubuhnya tak seimbang karena terombang-ambing sesuai dengan gerakan mobil.
Axel pun tergelak, melihat tingkah Amira terlihat sangat lucu dimatanya. Ia jadikan pemandangan itu sebagai hiburan. Karena terlalu banyak melihat kaca spion daripada melihat kearah jalanan, Axel tak sadar didepan ada polisi tidur. Hingga menyebabkan loncatan tinggi karena Axel telat mengurangi kecepatan gas mobilnya.
Akibatnya Amira tersungkur diatas kursi mobil itu. Seketika Axel mengehentikan mobilnya untuk melihat keadaan Amira dibelakang.
Tetapi yang terjadi ternyata Amira masih tertidur pulas tanpa merasa terganggu sama sekali.
Lagi-lagi Axel tersenyum getir, dirinya seperti baby sister yang sedang merawat bayi kecil sekarang.
"Dasar baru diajak jalan dua kilo aja udah tepar?" sungutnya kepada sosok yang tak sadar itu.
Kali ini Axel dengan hati-hati menginjak gas mobilnya kembali. Kurang dari dua kilo meter jauhnya mereka akan tiba dirumah.
*
Hingga waktu lima menit mereka tiba dihalaman depan rumah. Axel menekan remote control dari tangannya untuk membuka pintu gerbang.
Gerbang dengan teknologi canggih itu membuka secara otomatis. Dengan sabar Axel menunggu pintu gerbang membuka sesuai dengan ukuran mobilnya.
Ketika pintu gerbang terbuka Axel langsung tancap gas dan segera memasukkan mobilnya kedalam garasi tanpa pintu itu. Setelah berhasil, ia tutup lagi gerbang dengan menekan tombol bertuliskan kata tutup.
Laki-laki yang menjabat sebagai dosen ini pun mematikan mesin mobilnya. Ia berhasil memarkirkan mobilnya secara sempurna didalam garasi. Setelah itu tanpa ragu, Axel meninggalkan mobil dan bergegaslah kedalam rumah lewat pintu utama.
Bola mata Axel berputar perlahan, ada perasaan ganjil didalam hatinya saat ini.
"Kok kayak ada yang ketinggalan tapi apa ya?" katanya tiba-tiba. Ia merogoh semua kantong celananya untuk mencari kunci rumah. Ketika tangannya memasuki kantong saku bagian depan ia menemukan benda pipih itu.
Tangannya mulai memasukkan kunci itu kedalam pintu, tetapi perasaan Axel belum juga tenang.
Baru saja melangkahkan kakinya didepan pintu. Axel melemparkan tas kerjanya. Ia langsung berlari menuju halaman. Suara hentakan kaki terburu-buru menuruni anak tangga kecil sebagai jalan penghubung menuju garasi. Ia membuka kembali pintu mobilnya itu. Hal yang janggal ketika dirinya sadar telah melupakan Amira yang masih terlelap dikursi belakang.
"Dasar pikun! bisa banget gue lupa ada ini bocah disini!" umpat Axel memarahi dirinya sendiri. Jantungnya terasa berdegup kencang. Takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Amira.
Tetapi lihat saja yang terjadi, Amira malah terlihat sangat nyaman. Bahkan merentangkan kedua tangannya keatas. Amira sadar ada udara angin segar yang menyentuh kulitnya. Kemudian dibukanya kedua matanya itu.
"Ah, udah sampai ya Pak?" kata Amira dengan entengnya. Amira membenarkan tali tasnya yang sedang melingkar di atas perutnya. Kemudian menggaruk rambutnya yang terurai tak terarah, entah karena gatal ataupun yang lain. Segera Amira melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Sedangkan Axel berdiri mematung di pinggiran pintu. Seandainya Amira tahu kenyataan ini. Tetapi hanya Tuhan dan Axel lah yang tahu.
"Hah." hembusan nafas panjang karena mengetahui keadaan Amira baik-baik saja. Ada perasaan lega sekaligus kesal yang Axel rasakan. Ia melirik kepergian Amira berjalan menuju pintu utama dengan jalan terhuyung-huyung, karena kesadaran wanita itu belum tembus seratus persen.
"Iya sih dia baik-baik aja ... oke fine! tapi ya gak lugu banget gitu kali! bisa banget lagi dia tidur disini ... padahal mesin mobil udah mati terus AC juga sama, apa gak panas?" gerutu Axel melemparkan pintu mobilnya secara kasar. Melampiaskan kekesalannya karena sikap polos bin ajaib yang dimiliki Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments