โกฬโโฝโถโ โ โ Reading๐
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ใก
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Siang yang begitu terik, terlihat tiga orang tengah duduk di kursi taman, dengan minuman di tangan mereka. Ketiga orang itu adalah Natasya, Felipe serta Reatha.
Mereka tampak menikmati pemandangan siang itu di taman.
"Hmm, Natasya โฆ bagaimana jika kita pergi ke rumah Felipe? Kau belum pernah ke sana, kan?" kata Reatha dengan mata berbinar binar.
"Boleh juga, lagipula aku juga penasaran dimana rumah Felipe. Ayo, kita pergi ke rumahmu."
Kedua mata Felipe terbelalak kaget, ia memandang sinis sosok Reatha yang duduk bersebelahan dengannya.
"Sepertinya tidak bisa, kebetulan hari ini aku ada urusan," tolaknya.
Perlahan ia bangkit dari kursi tempatnya duduk, lalu menarik lengan Reatha. Wanita itu dibawa pergi bersamanya.
"Seharusnya aku tidak meminta untuk datang ke rumahnya."
Tak berselang lama, ponselnya berdering. Ia lantas mengambil ponsel yang berada di dalam saku jasnya. Sebuah nama Richard tertera pada layar ponselnya, membuat Natasya enggan untuk mengangkat panggilan tersebut.
Wanita itu menghela nafas panjang dengan pandangan yang tertuju pada ponselnya. Hembusan angin sejuk yang melintas membuatnya merasa damai.
Sampai pada akhirnya, ia memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya, dengan menggunakan taksi yang kebetulan lewat.
Perjalanan selama lima belas menit di dalam taksi membuatnya merasa lelah. Ia menatap pemandangan di luar jendela dengan hembusan angin sejuk yang masuk. Raut wajahnya tampak kecewa.
"Nona, kita sudah sampai," ucap supir taksi begitu berhenti di kediaman Natasya.
"Ah, terima kasih." Wanita itu berjalan keluar dari taksi yang di tumpanginya, lalu masuk ke dalam rumah.
Lampu-lampu di rumahnya tampak mati. Bahkan terdengar suara shower di kamar mandi yang terus menyala. Kakinya perlahan melangkah menuju sumber suara.
Namun ia tak mendapati apapaun selain air yang keluar dari shower tersebut. Tubuhnya berbalik, kedua bola matanya mendapati seorang pria dengan tubuh tinggi. Pria itu memperlihatkan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.
"Riโ Richard?! Apa yang sedang kau lakukan di rumahku?!"
Pria bernama Richard itu mendekatinya, membuat Natasya berada di sudut ruangan. Tangannya meraba dinding yang begitu dingin, ia mengalihkan pandangannya.
"Kau sangat cantik, Natasya." Richard menyentuh dagunya, membuat mata mereka saling bertemu.
Pria itu meraba sekujur tubuh Natasya, lalu menamparnya dengan keras. Sama seperti apa yang di lakukannya saat berada di kantin perusahaan.
"Kau โฆ." Natasya memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan dari pria di hadapannya.
"Bukankah sakit? Jika kau merasa sakit, seharusnya kau tidak sembarangan menamparku!!" teriak Richard, ia kembali menampar Natasya untuk yang kedua kalinya.
Tak hanya sampai situ, Richard bahkan mendorong tubuh kecil Natasya hingga terkapar di lantai kamar mandi. Seluruh tubuhnya basah lantaran terkena air. Sementara itu Natasya hanya terdiam tak berkutik.
Kepalanya tertunduk ke bawah, tak berani menatap sosok Richard yang mengerikan bak seorang monster.
"Kau takut juga, ya?"
"Jangan mendekat, atau aku akan memukulmu!" tukas Natasya yang kontan membuat Richard tertawa geli.
"Haha!! Apa kau bilang? Akan memukulku?!! Jangan bercanda, tubuhmu yang lemah ini tidak mampu memukulku!"
Natasya dengan cepat bangkit lalu meraih benda berat. Ia melemparkan benda berat itu pada Richard, lalu bergegas berlari ke ruang kamarnya.
"Arghhh!!! Natasya!!!!"
Dengan cepat ia mengunci pintu kamarnya. Sosoknya bersembunyi dibalik ranjang yang tinggi.
"Aโ aku harus menelepon seseorang!!" Natasya mencari ponselnya yang berada di dalam jas, namun ponsel yang ia bawa tak lagi berada dalam genggamannya.
"Jangan jangan โฆ ponselku terjatuh di kamar mandi?"
"Natasya sayang, aku membawa ponselmu. Ayo keluar โฆ " kata Richard dari balik pintu.
Natasya melihat sekeliling kamarnya, mendapati jendela besar yang bisa di gunakannya untuk kabur. Namun ia tak berani jika harus melompat dari ketinggian.
Wanita itu berjalan mendekati jendela kamarnya, lalu membuka jendela tersebut. Ia menggigit kuku jarinya memandang tanah di taman rumahnya.
"Apa aku benar-benar harus melompat dari sini?!"
Ia membalikkan badannya, lalu kembali melihat ke arah jendela. Dari kejauhan tampak sesuatu terbang ke arah jendela kamar, hingga terlihat jelas bagaimana sosoknya.
"Felipe? Kau bisa terbang?" tanya Natasya heran.
"Jangan pedulikan hal itu. Lebih baik sekarang โฆ."
Setelah cukup lama Richard berusaha untuk membuka pintu kamar Natasya, akhirnya ia berhasil membuka pintu tersebut.
Pria itu mendapati Natasya tengah duduk di pangkuan seseorang. Ia meletakkan kedua tangannya pada leher Felipe. Mereka memperlihatkan senyuman sinis yang mampu membuat Richard mengernyitkan dahinya.
"Oh, sejak kapan kau berada di sana?" Richard berjalan mendekati keduanya.
Hingga akhirnya mereka bertiga berada dalam satu ruangan yang sama. Pandangan mereka tampak berapi-api.
"Kau sudah berani menampar wanitaku, jadi aku tidak akan membiarkanmu begitu saja," kata Felipe sembari memeluk erat sosok Natasya.
"Wah โฆ menyenangkan sekali. Apa kalian sengaja memperlihatkan hal itu padaku? Natasya โฆ jangan lupa bahwa dia adalah seorang vampir, apa kau tidak khawatir dia akan menggigitmu?" tuturnya dengan raut wajah angkuh.
"Tidak akan pernah!" Natasya kontan mencium bibir Felipe, keduanya sama sama terkejut.
Kedua bola mata Richard tampak terbelalak kaget, ia bahkan tersenyum kecut melihatnya.
"Ah, baiklah โฆ kali ini aku akan mengalah. Tapi โฆ aku akan membawanya setelah kalian bersenang-senang. Selamat tinggal, sayang โฆ " papar Richard yang kemudian berjalan keluar dari kamarnya.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Seorang wanita tampak menyibukkan dirinya di sebuah supermarket dengan pria di sebelahnya. Mereka memilih beberapa makanan siap saji untuk makan malam.
Terlihat beberapa barang yang sudah penuh di troli.
"Apa ini?" pria itu bertanya, dia adalah Felipe.
"Ini minuman kepala. Apa kau mau?"
"Mungkin aku harus mencobanya lebih dulu?" Felipe membuka tutup minuman tersebut, lalu meneguknya perlahan.
Pria itu kontan menyemburkan minumannya setelah meneguk beberapa tetes.
"Keโ kenapa?"
"Rasanya aneh."
"Ah, itu artinya kau tidak menyukainya. Lebih baik kita segera membayarnya dan pulang," cakap Natasya yang kemudian mendorong troli nya.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Usai berbelanja, Natasya mulai mencampurkan beberapa bahan untuk membuat makanan siap saji, yang hanya perlu menaburkan bumbunya saja.
Setelah lebih dari sepuluh menit ia sibuk dengan bahan makanannya, akhirnya ia menyajikannya di meja makan. Wanita itu duduk bersebelahan dengan Felipe.
Ia begitu menikmati makanan di mejanya, namun tidak untuk Felipe yang hanya memandangnya mengisi perut.
Natasya mengulurkan tangannya, dengan sendok serta makanan di atasnya.
Ia mendekatkannya pada bibir Felipe, berusaha untuk menyuapi pria tersebut.
"Apa?"
"Makanlah, rasanya enak!" kata Natasya dengan makanan penuh di dalam mulutnya.
"Benarkah? Daripada memakan makanan manusia, sepertinya lebih enak jika aku menghisap darahmu, sudah beberapa hari ini aku tidak minum darah manusia," ungkapnya sembari merubah raut wajah.
Ia terlihat begitu manis bercampur wajah tampannya.
๐๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ...
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ... ๐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments