โกฬโโฝโถโ โ โ Reading๐
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ใก
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Felipe mengambil kain yang berserakan di lantai, lalu dipakaikan nya pada Natasya. Ia lantas mengangkat wanita itu dan dibawanya keluar dari ruang kamar tersebut.
Sementara Richard tampak memandangnya sinis. Ia bangkit lalu meraih kemejanya di atas ranjang.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Esok yang baru telah tiba. Natasya mengucak kedua matanya yang penuh dengan cairan, mendapati cahaya matahari pagi yang menyinari wajahnya.
"Ugh, kepalaku sakit sekali," keluhanya seraya memegangi kepala yang berdenyut.
Ia berdalih menatap cermin di sebelah ranjang, lalu memandang wajahnya dalam cermin tersebut. Terlihat seluruh tubuhnya yang telanjang, membuat Natasya terbelalak kaget.
"Keโ kenapa aku tidak mengenakan pakaian?!!"
Wanita itu lantas meraih selimut di bawahnya, untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
Tak berselang lama seorang pria masuk ke dalam ruang kamarnya. Ia memandang dingin sosok Natasya dalam jarak yang dekat.
Perlahan kakinya melangkah mendekati Natasya. Ia mendekatkan wajahnya.
"Apa kau ingat yang terjadi semalam?" pria itu bertanya, dia adalah Felipe.
"Meโ memangnya apa yang aku laโ "
Felipe meletakkan jari telunjuknya pada bibir Natasya. Kedua mata mereka saling bertemu.
"Apa kau benar-benar tidak mengingatnya? Sedikitpun?"
Natasya menggeleng pelan, tubuhnya terasa kaku bak sebuah patung.
"Kemungkinan besar Richard memberi obat pada wine mu, maka dari itu semalam kau terlihat mabuk. Aku yakin itu perbuatannya," ungkap Felipe, ia menghela nafas panjang.
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"
"Kau โฆ ah, sebenarnya aku malas memberitahumu. Tapi aku melakukannya agar ayahmu menghukum Richard. Karena semalam kalian berdua โฆ."
Natasya menutup mulut pria itu, kedua bola matanya terbelalak. Keringat dingin tampak bercucuran membasahi tubuhnya yang tak terbalut kain.
Wanita itu berdalih menatap sekeliling, merubah raut wajahnya dibalik pandangan Felipe.
"Jangan bicarakan hal itu lagi. Aku akan mengurusnya sendiri. Sekarang aku minta kau keluar," katanya lembut.
Natasya menundukkan kepalanya, memandang selimut miliknya yang berwarna putih. Ia menghela nafas panjang yang kemudian melempar ponselnya ke lantai kamar.
"Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, Richard!! Kau sudah melakukan hal yang memalukan, aku harus membalasnya!!"
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Seorang wanita dengan beberapa orang di belakangnya tampak berjalan memasuki sebuah perusahaan besar. Wajahnya terlihat begitu dingin, namun parasnya yang cantik sama sekali tak berubah.
Ia berjalan dengan angkuhnya menuju sebuah lift yang baru saja tiba. Kakinya perlahan melangkah, hingga akhirnya seorang pria menghentikannya.
"Maaf, Nona Natasya. Tuan Jason tidak berada di ruangannya, dia sedang berada di kantin perusahaan. Mari saya antar โฆ " tuturnya.
"Tidak perlu, biar aku dan orang-orangku saja yang kesana," tolak Natasya lembut.
Ia lantas berjalan meninggalkan lift, lalu menuju kantin perusahaan yang berada di sebelah perusahaan.
Sosoknya yang datang tiba-tiba disambut hangat oleh para pekerja kantin. Mereka mempersilahkan Natasya serta beberapa orang di belakangnya untuk masuk.
Para pekerja kantor yang tengah mengisi perut mereka tampak melihatnya kagum. Namun Natasya hanya terdiam dengan wajah dinginnya.
Ia berjalan mendekati dua orang di meja yang sama. Mereka adalah tuan Jason serta Richard.
*๐๐๐ผ๐!!*
Natasya menampar keras wajah Richard. Suaranya terdengar begitu menggema di kantin perusahaan. Sosoknya kini menjadi pusat perhatian sejumlah orang.
"Natasya!! Apa yang kau lakukan?!!!" bentak tuan Jason seraya bangkit dari duduknya. Ia menatap geram wajah putrinya.
"Semalam dia memberi obat pada minumanku. Dan di saat aku tidak sadarkan diri, dia melakukan hal yang memalukan. Richard melepas pakaianku!!" ungkap Natasya.
Pria bernama Richard lantas bangkit, lalu kembali mendapat tamparan dari Natasya untuk yang kedua kalinya. Pria itu tampak kesakitan, namun tak berani mengeluh di hadapan banyak orang.
"Hentikan, Natasya!! Kau tidak boleh menampar sembarangan orang!!" bentak tuan Jason.
Namun tampaknya Natasya tak mau berhenti. Ia menarik kerah pakaian Richard hingga terlepas beberapa kancing kemejanya itu.
"Natasya!!!" tuan Jason mendorong keras tubuh putrinya hingga terkapar di lantai kantin.
Wanita itu menunduk, merasakan malu yang begitu hebat. Perlahan tubuhnya bangkit, lalu mengangkat kepalanya dengan tatapan sinis.
"Jika Ayah lebih membelanya, maka aku tidak akan menganggap orang sepertimu sebagai Ayah!!"
Natasya berlari keluar dari kantin perusahaan diikuti oleh beberapa asistennya. Kedua bola matanya tampak mengeluarkan air mata yang tak kunjung reda.
Saat tiba di luar kantin, ia tak sengaja menabrak sosok pria dengan bola mata merahnya. Natasya menutupi wajahnya dalam dekapan pria tersebut.
"Felipe โฆ bawa aku ke tempat yang nyaman. Aku tidak ingin terus berada di neraka ini," pintanya sembari menangis tersedu-sedu.
Pria bernama Felipe itu melihat sekeliling, lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
"Tuan! Anda ingin membawa nona Natasya kemana?!" tanya salah seorang asistennya.
Felipe tak menggubris, ia membawa Natasya masuk ke dalam taksi bersamanya. Taksi itu kemudian melaju dengan kecepatan tinggi menuju taman di pusat kota.
Sepanjang perjalanan, Natasya sama sekali tak berhenti menangis. Wajahnya masih berada dalam dekapan Felipe. Hingga akhirnya mereka tiba di taman.
"Natasya, kita sudah sampai. Ayo keluar โฆ "
Wanita dengan nama Natasya itu lantas memperlihatkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Ia berjalan keluar dari taksi, lalu mendekati kursi taman yang kebetulan kosong.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Felipe bertanya.
"Mungkin begitu. Jika bersamamu, aku merasa lebih nyaman dan tenang. Tetaplah bersamaku, jangan pergi."
Natasya bersandar pada bahu Felipe. Matanya menatap langit biru dengan awan putih di atas. Ia memperlihatkan senyuman manis yang terukir di wajahnya.
"Aku akan bersamamu sampai kau bosan," kata Felipe membuat Natasya berdalih menatapnya.
Ia mengangkat kepalanya dari sandaran bahu Felipe.
"Tunggu disini, aku akan membelikanmu minuman." Pria itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan Natasya seorang diri.
Setelah berjalan beberapa langkah, seorang wanita dengan rambut merah batanya tampak menghentikan kaki Felipe. Ia tersenyum sinis, bola matanya mengarah pada Natasya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Felipe, apa kau benar-benar ingin tetap bersamanya? Hidup bersama manusia itu merepotkan," katanya sembari berjalan memutari sosok Felipe.
"Kau yang kerepotan, tapi aku tidak." Felipe kembali melangkahkan kakinya dengan pandangan dingin. Namun wanita itu dengan cepat menghentikannya kembali.
Ia memperlihatkan empat taring gigi miliknya serta bola matanya yang merah menyala.
"Apakah aku boleh menghisap darahnya?" tanya wanita itu dengan angkuh, ia menunjuk sosok Natasya dengan jari telunjuknya.
"Jangan pernah menyakitinya, aku tidak akan memaafkanmu," lontar Felipe. Ia mendorong kasar tubuh wanita di hadapannya.
"Jika itu yang kau inginkan, maka kau harus ikut denganku."
Wanita itu adalah Reatha. Dengan cepat kakinya berlari menghampiri sosok Natasya yang tengah duduk seorang diri. Ia memperlihatkan senyuman manis yang mampu meluluhkan hati Natasya.
"Halo, akhirnya kita bertemu lagi. Aku berharap kaโ "
"Reatha!! Berhenti!!" sela Felipe.
"Eh? Bukannya kau bilang ingin membelikanku minuman? Sekalian untuk Reatha, ya."
"Aโ apa? Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian."
"Tidak masalah, disini ada Reatha. Aku tidak sendirian."
Felipe perlahan melangkahkan kakinya, namun pandangannya masih tertuju pada sosok Natasya. Reatha yang duduk bersebelahan dengan wanita itu tampak menyeringai licik.
๐๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ...
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ... ๐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments