Episode 14 [Pilihan]

โ—กฬˆโ‹†โ’ฝโ’ถโ“…โ“…โ“Ž Reading๐Ÿ

๐™ผ๐š˜๐š‘๐š˜๐š— ๐š”๐šŽ๐š‹๐š’๐š“๐šŠ๐š”๐šŠ๐š—๐š—๐šข๐šŠ ๐š๐šŠ๐š•๐šŠ๐š– ๐š–๐šŽ๐š–๐š‹๐šŠ๐šŒ๐šŠ ใ‹ก

ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ

Malam yang sunyi. Tak banyak orang mengendarai kendaraan umum mereka. Terlebih, minim para pejalan kaki yang keluar dari rumah masing-masing.

Namun tidak dengan seorang wanita cantik, dengan barang-barang mewah bawaannya. Wanita itu tampak sedang duduk seorang diri di sebuah Cafe ternama.

Pandangannya hanya fokus pada sebuah benda di tangannya, ia bahkan tak menoleh sekalipun. Setelah cukup lama pandangannya hanya tertuju pada benda itu, akhirnya ia meletakkannya.

Wanita itu adalah Natasya. Ia menghela nafas panjang, lalu meraih kopi panas miliknya.

"Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggunya, tapi kenapa dia belum datang juga?" pikir Natasya, ia melihat jarum jam di tangannya.

Tak berselang lama, akhirnya orang yang di tunggu-tunggunya pun tiba. Dia seorang pria bersurai kuning kecoklatan, dengan bola matanya yang berwarna biru langit.

Pria itu melambaikan tangannya pada Natasya dengan angkuh, perlahan kakinya melangkah mendekati wanita itu.

"Selamat malam, Natasya," ucapnya seraya duduk berseberangan dengan Natasya.

"Malam juga," balasnya.

"Ngomong-ngomong tumben sekali kau mengajakku makan malam. Sudah lama sejak kita menghabiskan waktu bersama."

Natasya berdalih menatap sekeliling dengan raut sinis, lalu kembali memandang sosok pria di hadapannya.

Pria yang angkuh setiap kali melakukan sesuatu.

"Richard, aku memanggilmu kesini karena aku ingin kita tak lagi bertemu. Dan perjanjian sebelumnya, aku tidak peduli jika kau membocorkannya pada ayah," tutur Natasya seraya bangkit dari tempatnya duduk.

Pria bernama Richard itu lantas membulatkan kedua bola matanya, memandang Natasya yang baru saja bangkit. Bergegas tangannya meraih lengan Natasya.

"Kau yakin?"

"Yah, aku yakin. Karena aku tidak ingin hidup seperti ini untuk selamanya." Natasya menunduk, menatap lantai yang kosong.

"Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku tidak akan melarangnya sampai saat yang tepat."

Richard menyeringai, lalu perlahan meninggalkan Natasya seorang diri. Ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, membuat Natasya tak lagi melihat sosoknya.

Wanita itu lantas memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mendapati wajah yang tak asing, tubuhnya terkapar di jalanan.

Mendapatinya yang tak berdaya kontan membuat Natasya keluar dari mobilnya, lalu mendekati pria yang tak asing itu.

"Felipe! Apa yang terjadi padamu?!" Natasya mengangkat kepala pria itu, lalu di letakannya pada paha.

Felipe tampak membuka matanya, namun tidak untuk bibirnya yang terdiam membisu. Pria itu terlihat begitu pucat, seakan hidupnya akan segera berakhir.

"Felipe, katakan sesuatu!!"

"Uโ€“ ntuk kali ini saโ€“ ja, aku membutuhkan darah โ€ฆ " ucapnya lirih.

Wanita itu melihat sekeliling, setelah memastikan keadaannya aman ia lantas membawa Felipe masuk ke dalam mobilnya. Meski cukup kesulitan, ia tetap menuntun jalan pria itu.

"Hisap lah darahku berapapun yang kau mau. Asal kau tetap berada di sisiku," cakap Natasya, ia menunduk kecewa.

Tak berpikir panjang, Felipe lantas menggigitnya dengan puas. Pria itu bahkan tak melepas gigitannya dalam waktu yang dekat.

"Aโ€“ apakah sudah selesai?"

"Terima kasih," ucap Felipe. Natasya ternganga mendengarnya.

"Tiโ€“ tidak masalah. Ugh, tapi โ€ฆ ini sedikit saโ€“." Natasya terbaring dalam dekapan Felipe.

Tampaknya, wanita itu tak kuasa menahan rasa sakit dari gigitan vampir, hingga membuatnya terbaring lemas.

"Heuh, mungkin aku terlalu banyak menghisap darahnya. Bagaimanapun dia sudah membantuku, tidak mungkin aku meninggalkannya sendirian."

ใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽใ€ฐ๏ธŽ

Pagi yang baru telah tiba. Terdengar suara kendaraan umum melaju kesana kemari. Bahkan semburat mentari pagi masuk menembus kaca jendela sebuah mobil.

Mobil itu tampak terparkir di tengah jalan, membuat beberapa kendaraan cukup kesulitan melaju karenanya.

Setelah beberapa kali mendengar klakson dibunyikan, akhirnya seseorang membuka matanya.

Ia melihat sekeliling, mendapati tempat yang cukup asing baginya saat terbangun. Bahkan dirinya mendapati seorang pria yang tengah memandangnya.

"Feโ€“ Felipe?! Apa yang kau lakukan disini?!!" teriaknya.

Wanita itu kontan bangkit, lalu menyadari bahwa dirinya berada di dalam mobil.

"Semalam kau pingsan, dan aku tidak bisa mengendarai mobil. Jadi terpaksa aku menunggumu terbangun," jelasnya dengan raut dingin.

Natasya terdiam cukup lama. Seseorang yang mengetuk kaca mobilnya dengan keras kontan membuyarkan lamunannya.

Wanita itu lantas membuka kaca mobilnya yang dikunci semalaman.

"Ada apa, Tuan?"

"Apa kau tidak menyadari bahwa mobilmu ini membuat masalah?! Lihat, kau berhenti di tengah jalan, menghambat mobil lain yang ingin lewat!" bentaknya.

"Ah, maafkan saya."

Natasya berdalih menatap belakang, mendapati beberapa mobil yang terhenti karenanya. Ia lantas menyalakan mesin mobilnya, lalu memarkirkannya ditepi jalan.

"Karena sekarang kau sudah bangun, jadi aku akan pergi sekarang," ucap Felipe. Tangannya berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut.

"Kenapa tidak bisa dibuka?" Pria itu menatap Natasya dengan senyuman yang terukir di wajah wanita itu.

"Kau tidak akan bisa pergi sekarang. Bukankah semalam kau sudah berjanji untuk tetap berada di sisiku?" Natasya menyeringai, lalu perlahan melajukan kendaraannya.

Sementara Felipe hanya bisa terdiam, menatap pemandangan di luar jendela. Hijaunya dedaunan pada pohon membuatnya seakan terhipnotis.

"Felipe, sebenarnya siapa Reatha? Sepertinya dia sangat dekat denganmu?" tanya Natasya sembari menyetir.

"Itu tidak penting."

"Apa dia juga manusia cadanganmu? Jadi, saat dia tidak ada, kau tidak bisa menghisap darahnya. Dan kau kehabisan tenaga, apa benar begitu?" tebaknya membuat Felipe memutar kedua bola matanya.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tiโ€“."

"Ugh, kepalaku. Sepertinya mulai lagi."

"Kenapa? Apa yang terjadi padamu?"

"Setiap kali kau menghisap darahku, aku akan merasa pusing. Dan tubuhku menggigil, jadi kita harus cepat sampai rumah agar aku bisa menyembuhkan luka ini."

"Itu tidak perlu," lontar Felipe, ia menatap Natasya.

Keduanya keluar dari mobil begitu Felipe membisikkan sesuatu pada telinganya. Mereka berjalan beriringan menuju toilet umum yang tak jauh dari tempat sebelumnya.

Natasya serta Felipe berada di ruangan yang sama. Keduanya saling bertatapan. Perlahan pria itu mendorong Natasya, keduanya berada di sudut ruangan yang sempit.

Sedikit demi sedikit pria itu meraba pinggang Natasya, lalu mendekatkan wajahnya.

"Tuโ€“ tunggu!"

"Apa lagi?"

"Kau yakin cara ini akan berhasil? Kedengarannya sangat mustahil," sela Natasya, ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

"Ikuti saja bagaimana alurnya."

Pria itu menempelkan bibirnya pada Natasya. Wanita itu menutup matanya, tak berani menatap wajah pria dalam jarak yang begitu dekat.

"Bagaimana? Apakah sudah lebih baik?" Felipe bertanya.

"Suโ€“ sudah. Eh, tapi kenapa lukanya tidak hilang?"

"Yah, aku juga tidak tau."

Seorang pria yang tiba-tiba saja muncul kontan membuat keduanya terkejut. Pandangan pria itu tak luput dari keduanya, sosoknya penuh curiga.

"Ah, keren โ€ฆ keren sekali. Ternyata kalian cukup berani melakukannya di toilet umum, ya?" Pria itu menyeringai dengan gila.

"Keโ€“ kenapa kau bisa ada disini?"

"Mungkin hanya kebetulan, tapi โ€ฆ apa kau tau aku sedang video call dengan ayahmu?"

Natasya membulatkan kedua matanya, tubuhnya terdiam mematung. Wanita itu bahkan tak mengedipkan matanya sekalipun.

๐Ÿ‚๐™ฑ๐šŽ๐š›๐šœ๐šŠ๐š–๐š‹๐šž๐š—๐š ...

๐™ผ๐š˜๐š‘๐š˜๐š— ๐š๐šž๐š”๐šž๐š—๐š๐šŠ๐š—๐š—๐šข๐šŠ ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š”๐šŠ๐š›๐šข๐šŠ ๐šŠ๐šž๐š๐š‘๐š˜๐š›, ๐š”๐šŠ๐š›๐šŽ๐š—๐šŠ ๐š”๐šŠ๐š›๐šข๐šŠ ๐š’๐š—๐š’ ๐šœ๐šŽ๐š๐šŠ๐š—๐š ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐š’๐š”๐šž๐š๐š’ ๐š•๐š˜๐š–๐š‹๐šŠ ๐š–๐šŽ๐š—๐šž๐š•๐š’๐šœ ๐š—๐š˜๐šŸ๐šŽ๐š•. ๐™ณ๐šž๐š”๐šž๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŽ๐š”๐šŽ๐šŒ๐š’๐š• ๐šŠ๐š™๐šŠ๐š™๐šž๐š— ๐šœ๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š ๐š‹๐šŽ๐š›๐š‘๐šŠ๐š›๐š๐šŠ ๐š‹๐šŠ๐š๐š’ ๐šŠ๐šž๐š๐š‘๐š˜๐š›, ๐š•๐š˜๐š‘ ... ๐Ÿ

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!