โกฬโโฝโถโ โ โ Reading๐
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ใก
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Siang telah berganti malam. Hembusan angin sejuk merasuk kulit tubuh. Cahaya lampu yang terang terlihat dari segala arah.
Malam itu, Natasya mengajak Felipe menuju salah satu tempat di Lous Island. Keramaian tampak bertambah di malam perayaan festival tersebut.
Ia berjalan melewati beberapa orang yang bersorak-sorai kegirangan. Tampaknya, Natasya cukup kesulitan berjalan melewati kerumunan di jalanan.
Seorang pria yang tiba-tiba saja menabraknya dari arah yang berlawanan membuat Natasya terjatuh. Tubuhnya terlempar ke dalam dekapan Felipe.
"Ugh!"
"Apa kau baik-baik saja?" Felipe bertanya, tatapannya terlihat sinis.
"Ah, iโ iya."
"Jika kau kesulitan berjalan lebih baik aku menggendongmu saja." Pria dengan bola matanya yang berwarna merah itu lantas menggendong Natasya.
Ia berjalan melewati kerumunan yang begitu panjang. Natasya bersandar pada bahu Felipe, lalu mendengar detakan jantung yang begitu cepat dari tubuh pria tersebut.
"Apakah jantung vampir berdetak kencang?" tanya Natasya, pria itu kontan memperlambat jalannya.
"Iya, mungkin begitu."
Setelah berjalan melewati perayaan festival, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang cukup asing. Namun Natasya paham betul mengenai tempat tersebut.
Ia menarik lengan Felipe lalu di bawanya masuk. Sejumlah mata memerhatikan kedatangan mereka, bahkan di antaranya ada yang saling berbisik mengenai keduanya.
"Tempat apa ini?" tanya Felipe, pandangannya melihat ke segala arah tempat tersebut.
"Ini adalah BAR, tempat dimana orang minum-minum saat merayakan acara atau semacamnya. Duduklah, aku akan memesan wine untukmu."
Wanita itu mengangkat tangannya, memanggil bartender untuk mendekat.
"Selamat malam, Nona. Anda ingin memesan wine jenis apa?"
"Aku ingin memesan dua botol wine termahal, apapun itu."
"Ah, baiklah silahkan menunggu." Bartender itu berjalan menjauhi keduanya.
Setelah menunggu lebih dari lima menit, akhirnya dua botol wine pesanan Natasya tiba. Bartender itu menyajikannya, lalu menuangkan salah satu botol wine kedalam dua gelas.
Natasya langsung meneguk gelas pertama, sementara Felipe hanya terdiam menatapnya. Pandangannya terlihat aneh.
"Kenapa kau tidak minum?" Natasya bertanya, ia mengulurkan tangannya dengan segelas wine.
"Minuman apa ini? Baunya sangat menjijikkan."
"Eh? Ini wine termahal di BAR ini, jadi sudah tentu memiliki rasa yang paling nikmat. Cobalah, kau pasti akan ketagihan," jelas Natasya, ia kembali menuang wine pada gelasnya.
Felipe tak berpikir panjang, ia langsung meminum wine yang berada di gelasnya dalam sekali teguk.
Wanita yang duduk berseberangan dengannya membulatkan kedua bola matanya, menatap kagum pria tersebut.
"Ternyata kau jago juga, ya. Bagaimana jika kita lomba minum. Yang mabuk duluan harus mentraktir makanan," paparnya.
Natasya menyeringai, merasa hebat lantaran lawannya hanya seorang vminum yang belum tentu jago minum.
Setelah lebih dari dua jam, mereka menghabiskan lebih dari lima botol. Tiga di antaranya Felipe yang menghabiskan, sementara Natasya yang lebih dulu mabuk berat.
Pandangannya terlihat kabur, ia bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang duduk dengannya. Tak hanya pandangannya saja yang kabur, tubuhnya bahkan lemas tak berdaya. Sosoknya tak sanggup berjalan walau hanya satu langkah.
"Kau โฆ kau curang. Aku tidak pernah melihat vampir yang minum-minum sebanyak itu." Natasya mengangkat tangannya, lalu meraba wajah Felipe.
"Hei, aku tidak curang. Tapi aku memang sanggup menghabiskan semuanya sendiri. Sekarang kau sudah kalah, jangan lupa traktir aku makanan, kebetulan aku penasaran dengan camilan di tepi jalan itu," cetus Felipe, ia memperlihatkan senyuman licik yang terukir di wajahnya.
Namun, begitu melihat Natasya yang sudah tak kuasa menahan mabuknya, Felipe lantas membawanya kembali ke penginapan mereka.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Esok pun tiba, Natasya terbangun dalam keadaan yang sudah membaik. Walau dahinya dirasa demam. Ia bangkit dari ranjang tempatnya tidur, lalu melihat sekeliling.
Ia mendapati seorang pria, dia adalah Felipe. Pria itu tengah tertidur dengan posisi duduk, kepalanya diletakkan di atas meja.
"Feโ ah, sepertinya dia kelelahan," pikirnya.
Ia beranjak turun dari ranjang, lalu mengingat kejadian semalam dimana ia diantar pulang oleh Felipe. Dalam sekejap kedua bola matanya terbelalak kaget.
**FLASHBACK ON*
"Felipe, aku sudah tidak kuat," keluhnya. Ia memperlihatkan raut wajah tak berdaya.
"Tenang saja, aku akan menggendongmu seperti sebelumnya."
Di perjalan menuju penginapan, Natasya sama sekali tak menutup mulutnya. Cara bicaranya yang terdengar imut, dengan wajah manis bak pancake.
"Felipe โฆ boleh aku memelukmu?"
"Apa?" Langkahnya terhenti, ia menoleh, kedua bola mata mereka saling bertemu.
"Aku kedinginan, apa aku boleh memelukmu?"
"Teโ terserahmu saja."
Dalam pelukannya, ia merasa begitu hangat. Bahkan wajahnya perlahan memerah. Sosoknya tak kuasa menahan jantung yang terus berdegup kencang.
Keduanya sempat berhenti di sebuah bangunan kecil, untuk melepas lelah Felipe yang terus membawa Natasya di punggunggnya.
Suasana yang begitu hening, tak ada satupun orang yang berjalan melewati tempat tersebut. Rembulan malam itu terlihat bersinar terang.
Natasya memandang Rembulan yang indah di atas langit, lalu berdalih menatap wajah Felipe di sebelahnya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada pria itu, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Felipe.
Siapa yang tak terkejut dengan hal itu? Felipe tak membalasnya, ia terdiam mematung. Perlahan tangannya meraih pinggang Natasya, lalu menggigit lehernya dengan empat taring yang ia miliki.
**FLASHBACK OFF**
"Aโ apa yang aku lakukan semalam?!!" teriaknya membangunkan Felipe yang tengah tertidur lelap.
Ia meraba lehernya yang kembali membekas. Lalu dengan geram menghampiri Felipe di kursi kamarnya.
"Kenapa kau menggigitku lagi?! Bagaimana ini? Aku juga tidak membawa salepnya โฆ " celoteh Natasya, mulutnya tak berhenti berbicara.
"Sudah?"
"Hah? Aโ apa maksudmu?"
"Apa sudah selesai memarahiku?" Pria itu bangkit dari duduknya, lalu membisikkan sesuatu pada telinga Natasya. Tubuh wanita itu kontan bergetar hebat.
Setelahnya, Felipe beranjak keluar dari kamar wanita itu, bahkan sebelum Natasya menanyakan satu hal.
"Aneh โฆ wanita lain yang sebelumnya Felipe gigit bahkan tak membekas, kenapa leherku meninggalkan bekas luka setiap kali pria itu menggigitku?" gumamnya.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Siang yang begitu terik membuat suasana terasa begitu panas. Natasya serta Felipe berjalan melewati pohon besar di sisi utara Lous Island.
Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan keduanya. Pandangannya tak luput dari dua orang itu. Perlahan ia melangkahkan kakinya mengikuti Natasya serta Felipe dari belakang.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya berhenti di sebuah kolam renang. Airnya yang biru jernih menambah suasana terasa menyejukkan, dengan hambusan angin yang merasuk tubuh.
"Apa kau mau mandi?" tanya Felipe, ia memperlihatkan raut licik.
"Kenapa harus aku? Seharusnya kau yang mandi. Bukankah vampir kepanasan saat terkena matahari? Saat pertama kali bertemu pun kau sampai memohon mohon," cibir Natasya.
Tiba-tiba saja Felipe memercikkan air padanya, membuat pakaian wanita itu basah tak tertolong.
"Hei!! Apa-apaan kau?!" Tak berpikir panjang, Natasya lantas membalasnya. Ia memercikkan air yang lebih banyak pada pria itu, bahkan ia sampai mendorong Felipe hingga terjatuh ke dalam kolam.
๐๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ...
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ... ๐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments