โกฬโโฝโถโ โ โ Reading๐
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ใก
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Mobil-mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati gedung-gedung besar. Suara bising terdengar dimana-mana, seakan suara bising adalah kebiasaan yang terjadi.
Sebuah mobil nampak berhenti di parkiran perusahaan besar. Dua orang dari dalam keluar dengan tangan yang saling terikat. Sejumlah orang yang melihat kedatangan mereka lantas menundukkan kepala sebagai rasa hormat.
Dua orang itu adalah Natasya serta Felipe. Keduanya berjalan beriringan menuju lift dari lantai dasar.
"Ngomong-ngomong, kenapa ayahmu menyuruh kita datang kesini?" tanya Felipe dengan wajah datar.
"Hmm, aku juga tidak tau. Kita lihat saja nanti," balas Natasya seraya berjalan keluar dari lift.
Mereka lantas memasuki ruangan bertanda Direktur di depan pintu. Mata mereka tertuju pada benda-benda mewah di dalam ruangan tersebut.
Tak hanya benda-benda mewah itu saja, melainkan seorang pria paruh baya yang disebut-sebut sebagai Direktur.
Wajahnya menyeringai, mampu membuat tubuh Natasya bergidik. Pria itu duduk di sebuah kursi dengan angkuhnya, seraya menggerakkan jari telunjuknya pada meja.
"Selamat datang, Putriku dan Felipe," sambutnya. Ia mempersilahkan Natasya serta Felipe duduk di sebuah sofa.
"Ayah, apa yang membuatmu memanggil kami kesini?" Natasya bertanya.
"Sebenarnya, Ayah ingin kalian pergi ke Lous Island. Ada dua tiket yang seharusnya untuk Ayah ibu, tapi karena ada sedikit kendala jadi kami tidak bisa pergi," ungkap tuan Jason seraya memperlihatkan dua tiket miliknya.
Ia menjulurkan tangan pada Natasya, memberikan dua tiket tersebut.
Wanita itu memandang pria di sebelahnya, lalu membisikkan sesuatu pada telinganya.
"Baiklah, Ayah. Kami akan pergi, ngomong-ngomong kapan kami harus berangkat?"
"Mungkin nanti malam."
Keduanya saling menatap, mata mereka terbelalak kaget mendengar perkataan tuan Jason.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Langit siang tergantikan oleh langit malam yang gelap. Lampu-lampu di jalanan mulai dinyalakan untuk menerangi jalanan yang gelap. Tak berbeda dengan sebuah rumah di pusat kota.
Orang-orang di dalamnya nampak tengah di sibukkan oleh beberapa hal, salah satunya untuk menyiapkan kepergian Natasya ke Lous Island.
"Hati-hati dijalan, jangan lupa hubungi Ibu jika kau sudah sampai di sana," ucap nyonya Bianca, ibu dari Natasya.
"Baik Bu, selamat tinggal โฆ."
Ia berjalan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Felipe dari belakang. Perlahan mobil yang ditumpangi mereka melaju dengan kecepatan tinggi menuju bandara terdekat.
Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung, lantaran tak satupun dari mereka membuka pembicaraan. Natasya hanya fokus pada layar ponsel di tangannya, sementara Felipe sibuk tidur.
Tiba-tiba saja pria itu terbangun, lalu memandang wajah Natasya yang terlihat bersinar oleh cahaya ponsel.
Ia mendekatkan wajahnya, membelai rambut Natasya ke belakang.
"Aโ ada apa?" tanyanya terkejut.
"Aku hanya ingin memastikan mengenai bekas luka yang waktu itu. Dan ternyata sudah hilang, ya?" Pria itu menyeringai nakal.
"Ah, jika aku tidak membeli salep mahal, pasti lukanya tidak akan sembuh dengan cepat."
"Oh, begitu ya? Jadi โฆ tidak masalah, bukan? Jika aku menggigitmu untuk yang kedua kalinya." Ucapannya itu terdengar seperti mengancam, membuat bulu kuduk Natasya berdiri.
"Singkirkan wajahmu!" Natasya menjauhkan wajahnya dari pandangan Felipe, lalu menatap jalanan yang ramai kendaraan malam hari.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Tiga puluh menit berlalu, dan akhirnya mobil mereka sampai di bandara. Supir mereka mengeluarkan dua koper dari dalam bagasi.
Setelahnya, Natasya serta Felipe berjalan menjauhi mobil mereka untuk masuk ke dalam pesawat. Ia melambai-lambaikan tangannya pada supir kepercayaan sang ayah.
Tak lama berselang, pesawat yang di tumpangi mereka terbang. Natasya melihat ke arah luar jendela, mendapati bangunan seisi kota yang cantik dengan gemerlap lampu.
Ia tersenyum kecil, lalu berdalih menatap Felipe yang duduk di sebelahnya.
"Apa kau mau makan sesuatu?" tanya Natasya, ia mengeluarkan beberapa camilan dari dalam tas miliknya.
"Aku memang lapar, tapi aku tidak tertarik dengan satupun camilan yang kau bawa." Wajahnya terlihat dingin, ia bahkan tak menatap Natasya sekalipun.
"Lalu, apa yang kau inginkan?"
Felipe berdalih menatap wanita di sebelahnya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya.
"Darah," bisiknya kontan membuat Natasya tertawa kecil.
"Jangan bercanda, haha!! Kau seperti vampir saja." Pria itu menatapnya kesal, lalu berjalan menjauhinya.
"Hmm, apa dia marah?"
Sementara itu, Felipe berjalan menuju toilet yang berada di dalam pesawat. Ia membuka setiap pintu toilet yang tertutup, untuk memastikan ada orang di dalamnya.
Begitu mendapati seseorang yang tengah mencuci wajahnya, perlahan Felipe mendekatinya lalu mendorongnya masuk pada salah satu toilet.
"Hei!! Apa yang kau lakukan? Tolong!! Disini ada Pria mesum!" teriaknya.
Felipe menyeringai, lalu menggigitnya seakan tak menjadi masalah. Setiap sudut bibirnya terdapat darah, ia menjilatnya. Mungkin bagi para vampir darah adalah makanan mereka, tapi tidak untuk manusia.
"Uhm, segar โฆ." Pria itu berjalan meninggalkan orang yang tengah pingsan.
Tak berselang lama setelah kepergiannya, ia kembali ke sisi Natasya. Wajahnya terlihat berseri-seri, mungkin karena merasa puas telah menghisap darah manusia.
"Felipe, apa ada yang menarik?" tanya Natasya heran.
"Apa? Ah, tidak."
Kericuhan mendadak terjadi, setelah seseorang datang dengan geramnya.
Ia berteriak tanpa henti, kedua bola matanya menatap setiap kursi.
"Nona, tolong jangan berteriak!"
"Ah, dia! Dia orangnya!!" Wanita itu menunjuk Felipe. Wajahnya memperlihatkan raut kesal.
"Maโ maaf Tuan, apakah benar Anda sudah menggigit nona ini?" tanya salah seorang pramugari pada Felipe. Pria itu menatapnya dingin, tak sekalipun membuka mulutnya.
"Tuan, mohon bicaralah."
"Maaf, sebenarnya ada apa?" Natasya bertanya, wajahnya terlihat kebingungan.
"Pria ini sudah menggigitku tadi saat berada di dalam toilet!! Apa kau kekasihnya? Tolong beritahu dia jika dia itu tidak bisa mendengar!" celoteh wanita tersebut.
Jari telunjuknya masih menunjuk sosok Felipe. Namun pria itu sama sekali tak merasa bersalah maupun takut. Dilihat dari wajahnya, ia seakan tak bersalah.
"Felipe, tolong katakan yang sebenarnya! Jangan diam saja!! Aku malu melihat tatapan orang-orang ke arah kita," bisik Natasya pada Felipe.
"Heuh โฆ aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Kenapa kau menuduhku seperti orang jahat? Apa kau mempunyai bukti bahwa aku bersalah?"
Wanita yang menuduhnya lantas terdiam membisu, tubuhnya mematung. Ia melihat sekeliling, mendapati tatapan kejam dari penumpang lain.
"Buktinya, leherku mempunyai bekas!" Ia membelai rambutnya, lalu menunjukkan sesuatu yang dianggap sebagai bukti.
Tapi sayangnya, leher wanita itu sama sekali tak membekas. Melihatnya membuat para penumpang merasa jijik padanya.
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Lima jam telah berlalu. Pesawat yang ditumpangi mereka akhirnya mendarat dengan selamat di bandara. Natasya serta Felipe keluar secara bersamaan, lalu mengambil koper mereka.
Tak jauh dari tempat dimana mereka mendarat, tiba-tiba saja Natasya menghentikan langkahnya, membuat Felipe berhenti.
"Ada apa?"
"Felipe, aku tidak mengerti apa yang sebelumnya terjadi. Dan aku benar-benar ingin mengerti siapa diโ."
"Cepat, taksinya sudah berhenti." Felipe menarik lengannya, lalu membawa itu masuk bersamanya.
๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ...
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ... ๐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
kโKโ Bโฦ ษณฯ ษพ ๐๐ฅโเผ๐๐ ๐โ๐ยง
setau aku kalo di gigit vampir itu langsung mati ๐ค๐ค๐ค
ko ini kaga yah ๐ค๐ค๐ค๐ค
2023-06-28
1