โกฬโโฝโถโ โ โ Reading๐
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ใก
ใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธใฐ๏ธ
Hembusan angin terasa sejuk, membelai rambut Natasya menjulang tinggi. Senja kala itu terlihat jelas di matanya, menambah suasana terasa romantis.
Wanita itu berdiri di tepi jembatan dengan mata yang hanya tertuju pada senja. Ia menjulurkan tinggi tangannya, seakan ingin meraih langit oren itu.
Tak lama berselang usai senja tak lagi nampak, Natasya perlahan meninggalkan jembatan yang hanya ia seorang. Langkahnya yang kecil membawanya masuk ke dalam sebuah mobil pickup.
Wanita itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, melewati gedung-gedung di jalanan. Banyak toko yang mulai tutup lantaran malam melanda, ia menatap satu persatu toko yang mulai kosong pengunjung.
Sebuah toko yang tampak ramai pelanggan mencuri perhatiannya. Ia menghentikan mobil yang di kendarainya tak jauh dari toko tersebut.
Perlahan Natasya melangkah keluar. Sosoknya disambut hangat oleh pekerja di sana.
Kedua bola matanya menatap setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh aksesoris mewah.
Wanita mana yang tidak menyukai benda-benda seperti itu? Natasya lantas mengambil sebuah bandana yang tampak elegan. Ia mencobanya sembari melihat ke arah cermin, lalu mendapati seorang wanita yang berjalan menghampirinya.
Wanita itu kontan menarik keras pundaknya. Tatapan tajam dari matanya membuat tubuh Natasya bergidik.
"Siapa Anda?" tanyanya mencoba untuk mencairkan suasana.
Wanita itu terdiam membisu, dengan raut dingin dari wajahnya. Satu hal yang membuat Natasya merasa familiar padanya, yaitu matanya yang berwarna merah, sama dengan mata yang Felipe miliki.
Setelah diingat-ingat, Natasya merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Meskipun mereka belum pernah saling berbincang-bincang, namun wajahnya mampu Natasya kenali.
"Bukankah kau wanita yang saat malam itu bersama Felipe?"
Wanita di hadapannya lantas mengangguk. Auranya terasa berbeda dengan manusia pada umumnya, ditambah tatapannya yang begitu sinis.
"Se-- senang bertemu kembali denganmu, namaku Natasya Gu. Panggil saja aku Natasya," ia memperkenalkan diri lalu mengulurkan tangannya.
"Oh, jadi namamu Natasya, ya? Padahal wajahmu biasa saja, tapi kenapa Felipe menyukaimu, ya?" cakapnya kontan membuat Natasya tertegun.
Ia meletakkan posisi tangannya semula, lantaran wanita itu sama sekali tak membalas uluran tangan darinya.
"Apa mungkin ...." Ia membelai rambut Natasya, lalu mendapati luka bekas gigitan seseorang.
"A-- apa yang kau lakukan?!!"
"Oh, sudah kuduga dia hanya nengincar ini. Ngomong-ngomong, namaku Reatha. Semoga lain hari kita bisa bertemu kembali," cetusnya lalu berjalan meninggalkan Natasya seorang.
Ia menunduk menatap lantai yang kosong, lalu memandang setiap langkah wanita yang perlahan menjauhinya.
......................
Sore yang tergantikan oleh malam membuat jalanan terlihat sunyi. Sedikit kendaraan yang melaju kesana kemari demi kesibukan masing-masing.
Natasya menatap jalanan yang minim kendaraan dari lantai tiga rumahnya. Dengan segelas coklat yang menemaninya di malam hari. Setiap tetes di teguknya kedalam mulut.
Pakaian tidurnya yang tipis membuat angin merasuk pada tubuhnya. Ia memegangi setiap lengan untuk menjaga kehangatan. Perlahan kehangatan alami ia rasakan, auranya yang berbeda Natasya rasakan dengan jelas pada tubuhnya.
"Natasya ... " panggil seseorang, membuat Natasya menoleh kaget.
"Fe-- Felipe?! Kapan kau tiba disini?" tanyanya seraya mendorong pelan tubuh pria itu.
"Mungkin baru saja." Perkataannya itu membuat Natasya menatap tajam ke arahnya.
Kedua mata mereka saling bertemu dalam jarak yang dekat. Posisi tangan Felipe yang memegangi besi balkon dengan tubuh Natasya di dalamnya.
Tak ada sedikitpun peluang bagi Natasya untuk menghindari hal tersebut.
"Kenapa kau menatapku? Apa ada yang aneh?" tanya Felipe, ia merubah pandangannya pada Natasya.
"Sejak pertama aku penasaran, kenapa bola matamu berbeda dengan yang lain. Warnanya merah legam dan berkilau seperti berlian, sangat jarang ada yang memilikinya."
"Memangnya saat ini hal itu penting?"
"Mungkin, karena ... tadi aku bertemu dengan wanita yang saat malam itu bersamamu, namanya Reatha?" papar Natasya membuat Felipe terdiam.
Tubuhnya yang terasa dingin semakin mendingin bak es dalam tubuhnya. Natasya meraba lengan pria itu, lalu berhenti tepat di dadanya.
"Dan juga ... aku tidak tau kenapa tubuhmu terasa begitu dingin," lanjut ucapnya.
Semakin lama ia membahas mengenai Felipe, pria itu semakin mendesak. Tubuhnya bergetar hebat, lalu tak lama setelahnya ia menyeringai.
Perlahan ia melepaskan tangannya, lalu berjalan masuk menjauhi Natasya yang masih berada di luar.
"Tunggu aku ...." wanita itu berlari mengejarnya.
Mereka duduk pada sofa di ruang TV, keduanya sama sekali tak bertatapan. Merasa canggung, Natasya lantas menuju dapur rumahnya untuk mengambil camilan.
Ia kembali dengan beberapa snack serta bawang putih di tangannya. Kakinya berjalan mendekati Felipe yang tengah duduk berdiam diri.
"Ini, aku membawakanmu camilan. Sepertinya seru jika dilakukan sambil menonton TV." Natasya mengambil remote kontrolnya, menyalakan tayangan romantis pada layar televisinya.
"Apa kau membawa sesuatu yang lain?" tanya Felipe setelah lama terdiam.
"Hmm, tidak."
"Itu tidak mungkin ... baunya seperti ...."
"Oh, mungkin ini." Natasya memperlihatkan beberapa potongan bawah putih yang berada di piring.
Pria vampir itu lantas terkejut bukan main. Perlahan tubuhnya menghindari Natasya dengan bawah putih yang di anggapnya sebagai camilan.
"Kenapa kau menghindariku? Apa kau juga mau bawang putih ini?"
"Ti-- tidak! Singkirkan itu! Aku tidak menyukai benda yang itu ... " tolaknya.
Keringat dingin tampak mulai bercucuran. Lekukan tubuhnya kini terlihat jelas, begitu kemeja putih yang di kenakannya terkena keringat.
"Natasya, aku akan pergi sekarang." Pria itu bangkit dari sofa.
"Eh? Secepat itu? Baiklah, jangan lupa besok pagi kau datang ke rumahku. Besok kita ada acara," tutur Natasya memberitahukan.
Pria itu membalasnya dengan anggukan, lalu berjalan keluar dari ruang televisi.
......................
Esok yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Natasya terbangun di atas ranjang yang nyaman. Ia meraba kasurnya yang empuk. Tangannya perlahan meraih ponsel yang berada di bawah bantalnya.
Angka yang tertera di layar ponselnya membuat Natasya membuka matanya lebar-lebar. Ia lantas bangkit dari ranjang lalu menuju kamar mandi.
Setelah cukup lama menyibukkan dirinya dengan beberapa barang, akhirnya ia tiba di tahap terakhir. Natasya mengenakan aksesoris pada telinganya dengan bentuk yang tak asing.
Setelah dirasa semuanya sudah siap, Natasya kembali mengecek benda-benda di dalam tasnya. Sampai pada akhirnya, seorang pria yang sudah cukup lama di tunggunya tiba.
Pakaiannya yang sederhana terlihat mencolok pada tubuh pria itu, ditambah tingginya yang berbeda jauh dengan Natasya.
"Aku sudah datang," ucapnya dengan senyuman lebar yang terukir di wajahnya.
Natasya berjalan keluar, lalu mendekati pria yang berada di luar kamarnya itu.
"Aku kira kau tidak akan datang."
"Tidak mungkin begitu." Pria itu adalah Felipe. Ia mendorong Natasya ke sudut ruangan, mengincar anggota tubuhnya yang terbuka.
Saat mendapati benda pada telinga Natasya, kontan matanya terbelalak kaget. Tubuhnya bergetar hebat, wajahnya yang berwarna putih bak seorang mayat itu seketika memerah.
"Ada apa denganmu?"
"Arghh!! Pa-- panas!!!"
Natasya terus berjalan mendekatinya, lantaran tak tau bahwa benda yang di kenakannya adalah penyebab utama Felipe merasa kepanasan.
"Menjauh dariku!! Natasya!!"
๐๐ฑ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ...
๐ผ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ณ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐ ... ๐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
kโKโ Bโฦ ษณฯ ษพ ๐๐ฅโเผ๐๐ ๐โ๐ยง
kenapa Natasya bawa bawang putih ๐ค๐ค๐ค
apa yang di pakai sampe Felipe merasa kepanasan ๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค
2023-06-28
1
Amber
kasian felipe nya woy
2023-06-27
0
Alaska
sbnrnya dia itu vampir, ayolah ngmg aja
2023-06-27
0