Luna sampai tepat waktu ketika namanya dipanggil oleh pembawa acara untuk menerima penghargaan. Dia pun mengatur napas dan memasang senyuman lebar agar tidak kelihatan sedang kelelahan.
"Silakan kepada Nona Luna untuk naik ke podium karena sebentar lagi akan ada acara penyerahan piala penghargaan!" panggil host seorang laki-laki yang masih cukup muda.
Luna pun berjalan dengan pasti ke podium dan melihat banyak tatapan mata kepadanya. Tangannya sedikit gemetar tapi ditutupinya dengan senyuman yang paling manis.
Salah satu dari mereka ada Yuki, saingan bisnis Luna. Dia malah menatap Luna tajam seakan ingin menusuknya dengan pedang. Jelas saja, Yuki jeles. Karena tahun kemarin dialah yang mendapatkan penghargaan itu.
"Berhubung ketua penyelenggara, yaitu Nyonya Kamaratih Wicaksana sedang kurang sehat. Pemberian piala hari ini akan diwakilkan oleh puteranya, yaitu Tuan Damar Wicaksana. Usianya masih sangat muda yaitu dua puluh lima tahun namun sudah menjadi seorang CEO yang sukses. Silakan maju, tuan!" ujar host yang lain yaitu seorang perempuan yang lumayan cantik.
Orang yang dipanggil host datang dari belakang podium. Sedangkan Luna masih menatap ke seluruh tamu yang hadir.
Begitu Luna menoleh, alangkah terkejutnya ketika melihat laki-laki yang akan memberinya penghargaan adalah orang yang dititipkan kunci mobilnya.
Damar juga tidak kalah terkejut namun dia pandai berpura-pura. Dia pun menyerahkan piala penghargaan itu kepada Luna dengan senyuman ramah. Padahal hatinya tak menentu seperti akan menghadapi perang.
"Selamat, Nona Luna. Semoga nona tambah sukses lagi ke depannya!" ungkap Damar seramah mungkin.
"Ba-baik, pak! Terima kasih. Semoga bapak juga selalu sukses dan memaafkan orang yang tak sengaja berbuat salah!" sahut Luna yang sedikit menyindir.
Damar tersenyum sinis, "tentu saja saya adalah pemaaf. Tapi untuk orang yang mau mengakui kesalahannya. Begitu, Nona Luna. Apakah anda mau meminta maaf sekarang juga?" tanya Damar yang juga menyindir Luna.
Para host dan hadirin di ruangan itu merasa aneh karena sikap Luna dan Damar. Mereka seperti punya dunia sendiri tanpa menghiraukan yang lain.
"Tapi saya lebih tua lima tahun dari tuan. Makanya sudah seharusnya tuan memaafkan saya dengan ikhlas. Begitu, Tuan Damar!" Luna tidak tinggal diam.
Lagi-lagi, Damar tersenyum sinis, "oh, ternyata anda sudah tua ya, kak. Apa perlu saya mencium tangan kakak?"
Damar menantang Luna dan siap melakukan niatnya. Namjn Luna tidak mau dipermalukan lagi.
"Terima kasih, Tuan Damar. Apa boleh saya mengucapkan sepatah dua patah kepada para karyawan saya?" tanya Luna yang meminta izin kepada host. Apalagi setelah melihat Sarah, Prilly dan karyawan lainnya baru datang.
Kedua host segera mengangguk. Damar pun akhirnya menyerah.
"Baiklah! Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para pendukung dan karyawan saya. Mereka sudah menemani saya selama ini. Piala ini juga untuk kalian!" ucap Luna seraya mengangkat piala itu tinggi. Namun karena piala itu terlalu besar malah membuat tubuhnya limbung.
Waduh! Apalagi sih, Luna. Kalau kamu sampai jatuh, pasti mereka akan menertawakanmu. Terlebih Yuki!
Sarah juga menahan napas dan Prilly sampai menutup mukanya, mengira kalau Luna benar-benar terjatuh.
Untung saja, Damar menangkap tubuh Luna di saat yang tepat. Akhirnya Luna pun bisa berdiri tegak lagi.
Semua yang hadir menatap mereka dengan takjup. Mereka seperti melihat adegan drama romantis dalam film.
Kali ini, Luna seperti kehilangan wajahnya. Ternyata Damar malah sudah menolongnya.
"Terima kasih, tuan!" ungkap Luna. Kali ini sangaaat tulus!
Damar hanya tersenyum lebar. Dia tahu kalau banyak pasang mata sedang memerhatikan mereka. Tidak mungkin dia akan membiarkan Luna terjatuh. Bisa hancur nama baiknya!
*****
Luna tidak bisa menyembunyikan rasa malunya apalagi di depan Damar. Dia memilih berkumpul dengan semua karyawannya di luar ruangan.
"Kamu ini kenapa sih, Lun. Hampir saja jantung ekye copot melihat kamu mau jatuh!" omel Prilly dengan gaya gemulainya bak seorang puteri.
"Iya, Lun. Tapi cowok yang sudah menolongmu itu sangat ganteng. Andai saja, aku belum menikah pasti aku akan mengejarnya sampai kemana pun!" ujar Sarah antusias. Dia malah gagal fokus dan lebih memerhatikan Damar.
"Aakh! Dia masih anak kecil. Bisa jadi tidurnya masih ngisap jempol. Ngapain dikejar-kejar? Masih banyak cowok ganteng di antara para tamu!" celetuk Luna yang memandang Damar seperti anak kecil bukannya cowok dewasa.
"Aaiiih, jangan begitu kamu, Lun. Kalau sampai jatuh cinta sama dia, baru tahu rasa kau, yee!" sergap Prilly.
"Yeee, siapa yang bakalan jatuh cinta sama dia. Kalau sampai kejadian, aku akan mentraktir kalian tujuh hari tujuh malam!" sumpah luna.
"Beneran ya, Lun. Aku akan buat catatan dan dipajang di kantor agar kamu selalu ingat sumpahmu itu!" Sarah juga mendesak Luna.
"Iya, terserah kalian saja. Sebagai tanda terima kasihku. Malam ini kita akan ke karaoke sepuasnya. Tapi ingat! Besok tetap masuk kerja. Kita harus tambah semangat karena piala ini!"
Semuanya pun bertepuk tangan penuh suka cita. Mereka juga gak mau malas-malasan dan semakin bersemangat bekerja.
"Kalian jalan duluan, deh. Aku masih ada urusan dengan panitia acara. Tenang saja, aku pasti menyusul kalian!" ungkap Luna ketika semua karyawannya akan pergi ke tempat karaokean.
"Beneran kamu akan nyusul ya, saay. Kamu harus mendengar suara merdu ekyee!" ucap Prilly sambil mengedipkan matanya dengan genit.
"Iyeee, tenang saja. Sudah jalan sana!" Luna pun mendorong Prilly agar segera berangkat.
Setelah itu, Luna masuk ke dalam ruangan lagi. Dia harus menemui panitia acara dan menanyakan apa yang akan diterimanya setelah mendapatkan penghargaan.
Dilihatnya, Damar sedang dikerubungi gadis-gadis cantik, salah satunya adalah Yuki. Dia yang paling bernafsu berdekatan dengan Damar.
Luna pura-pura gak melihatnya. Dia terus saja berjalan tanpa menoleh menuju ke meja penyelenggara.
Damar melihat Luna melewatinya dengan angkuh. Ternyata, Luna tidak berubah setelah dia sudah menolongnya.
"Maaf, apa yang akan aku dapatkan setelah ini?" tanya Luna tanpa basa basi.
"Ada beberapa bagian, Ka. Pertama ada dinner dengan ketua penyeleñggara. Tapi karena Nyonya Kamaratih masih sakit jadi diwakilkan dengan Tuan Damar!"
Apa? Dinner dengan bocah ingusan itu? No no no ....
"Apa bisa dinner itu dilewati saja? Jadwalku sangat padat sampai sebulan ke depan!" ungkap Luna berbohong. Tentu saja, dia gak mau bertemu dengan anak ingusan itu lagi.
"Maaf, ka! Semuanya sudah diatur. Kakak tidak bisa cancel salah satunya. Jika semua lancar, kakak akan mendapatkan sponsor dari perusahaan yang dimiliki keluarga Nyonya Kamaratih. Yaitu perusahaan yang CEOnya adalah Tuan Damar sendiri!" jelas seorang panitia dengan panjang lebar.
Wow, fantastis! Kini, Luna benar-benar terikat dengan Damar sepenuhnya! Kepala Luna mulai kliyengan.
Dari jauh, Damar selalu memerhatikan Luna. Dia mulai tertarik dengan wanita yang usianya lebih tua darinya. Entah mengapa ada aura tersendiri dari Luna yang membuat banyak pria tertarik, termasuk Damar.
Tanpa sadar, Damar tersenyum. Luna sudah masuk ke dalam jebakannya!!!
❤❤❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments