Bab 19. Lagi-lagi Dihukum

Karena terlambat ke sekolah, Zio dan Mike terpaksa melompati pagar yang memiliki tinggi hampir 3 meter. Dengan bersusah payah dan saling bahu-membahu akhirnya mereka berhasil, meski pun keringat langsung mengucur deras dari pelipis masing-masing.

Selanjutnya mereka mengendap-endap seperti maling karena takut ketahuan oleh para guru. Sementara di dalam kelas, suasana belajar mengajar tengah berlangsung.

"Ada Pak Haris, Zi!" bisik Mike melihat sang guru yang tengah melakukan pengecekan ditiap sudut sekolah.

"Ck, anjing!" umpat Zio seraya menyembunyikan diri di balik dinding, dia dan Mike terus merapat agar tidak ketahuan, karena dengan begitu mereka pasti akan kembali mendapat hukuman.

"Astaga, gue lupa lagi," celetuk Zio, teringat dengan kesepakatan yang telah ia buat dengan Aura. Andai dalam bulan ini nilainya tidak naik, maka dia akan kehilangan wanita itu selamanya.

"Lupa tentang apaan?" tanya Mike sambil mengerutkan keningnya.

"Ada perjanjian yang udah gue sepakati sama Aura. Gue nggak boleh sering-sering bolos, Mek, karena rumah tangga gue dipertaruhkan," jawab Zio dengan raut memelas. Ya, otaknya memang tidak bodoh-bodoh amat, tetapi yang membuat ia sering mendapat nilai buruk adalah rasa malas yang terus menggerogotinya.

"Bu Aura nyuruh lu rajin sekolah?" tebak Mike, bukannya lekas pergi dari sana, mereka berdua justru mengobrol.

"Dia cuma kasih syarat supaya nilai gue naik, otomatis kan gue harus rajin masuk kelas. Kalo nggak, nilai gue bakal jeblok terus kayak otak lu," ujar Zio sekaligus mencibir, membuat Mike langsung mengangkat tangannya untuk menabok mulut Zio yang sembarangan bicara.

"Bacot lu, lemes bener," seru Mike dengan tatapan sedikit menungkik.

Zio hendak menimpali ucapan sahabatnya itu, tetapi sudah ada sepasang mata yang melihatnya dengan tajam hingga membuatnya langsung gelagapan.

"Muka lu kenapa, Zi? Kek kebelet berakk begitu?" sambung Mike bertanya, dia tidak tahu kalau di belakang sana sudah ada yang bertolak pinggang.

"Belakang lu bege!" gumam Zio sambil memalingkan wajah. Ketika Mike hendak berbalik, ia langsung dikejutkan oleh sebuah pertanyaan yang tercetus tanpa aba-aba.

"Sedang apa kalian di sini? Kalian mau membolos lagi?" tanya seorang guru wanita yang baru saja keluar dari kelasnya karena mendengar suara orang mengobrol.

"Eh, Ibu Cantik, kita abis ke toilet, Bu," jawab Mike beralibi, keduanya bangkit sambil cengengesan.

"Kalian pikir saya percaya? Tas kalian saja masih menempel di punggung seperti itu. Sekarang kalian ke kantor, temui Pak Haris untuk mendapat hukuman!" ketus guru tersebut, yakin kalau Zio dan Mike berencana untuk kabur dari mata pelajaran.

"Dih, Bu, saya nggak lagi bohong lho ini," sahut Mike, malas kalau harus berurusan dengan Pak Haris.

"Lagian Pak Haris juga bosen ketemu sama kita mulu, Bu, udah ya, biarin kita masuk," timpal Zio dengan tampang memelas. Karena mulai saat ini ia tidak boleh malas, demi bisa mendapatkan Aura, eh salah, demi masa depannya.

"Itu hanya alibi kalian, sekarang ikut Ibu untuk menemui Pak Haris, kalau dibiarkan yang ada kalian akan kabur lagi. Dasar anak-anak nakal!" cerocos sang ibu guru seraya memimpin langkah.

Hampir semua guru di sekolah ini pernah berhadapan dengan Zio and The Genk, jadi mereka sudah tidak asing lagi dengan kedua pemuda itu. Dari kelas 9 sampai menuju kelulusan ada saja ulah mereka.

Setibanya di kantor Zio dan Mike langsung menghadap Pak Haris. Semua guru yang kebetulan sedang tidak mengajar hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana memiliki anak yang kelakuannya seperti Zio dan Mike.

"Tumben kalian berdua? Personil satunya ke mana?" tanya Pak Haris, karena dia memang belum mendapat kabar kalau Tomy masuk rumah sakit.

"Emang Bapak belum denger kalo si Tomy masuk rumah sakit?" jawab Mike dengan pertanyaan pula.

"Lho kenapa dia?"

"Dikeroyok, Pak!" Lagi-lagi Mike yang menjawab, kini dengan suara yang menggebu. Sementara Zio hanya diam saja.

Keduanya pikir Pak Haris akan simpati, tetapi ternyata mereka salah, Pak Haris justru menuding kepala mereka secara bergantian dengan jari telunjuk. "Makanya jangan suka buat masalah. Lihat, di antara kalian sudah ada korban, kalau kalian tidak berubah, yang ada kalian akan jadi korban selanjutnya. Coba deh sekali-kali berpikir dengan otak yang jernih."

"Aduh, Pak, Bapak tuh nggak tahu masalahnya," sambar Mike yang langsung mendapat geplakan dari tangan Zio. Percuma, mau dijelaskan seperti apapun Pak Haris akan tetap menyalahkan mereka.

"Udah deh, Pak, jangan pake lama, kalo mau hukum-hukum aja, nggak perlu pake kultum segala," cetus Zio yang membuat mata Pak Haris hampir copot.

Benar-benar anak ini!

Pak Haris mengambil nafas lalu membuangnya pelan-pelan. "Ya sudah sekarang kalian bersihkan toilet sampai jam pelajaran habis. Lalu kerjakan buku paket Matematika halaman 56. Saya tidak mau tahu, selesai istirahat buku kalian sudah ada di meja saya!"

Mulut Mike langsung menganga dan gatal ingin memprotes, tetapi Zio segera menariknya keluar.

"Kita nggak punya waktu buat negoisasi, yang ada si Haris makin nyerocos nggak jelas," kata Zio sebelum Mike buka suara.

*

*

*

Zio dan Mike melepas seragam mereka, kemudian mulai membersihkan toilet yang dimaksud. Tidak di sekolah, tidak perusahaan, pekerjaan mereka selalu saja bersih-bersih.

"Pokoknya abis ini gue nggak mau kerja jadi cleaning servis lagi di kantor Daddy," ujar Zio sambil menyikat lantai.

"Lah, terus lu mau kerja di mana, Zi? Emang bokap lu bakal biarin lu hidup seneng? Gue sih nggak percaya, soalnya keliatan banget kalo Om Ale tuh punya dendam pribadi sama lu," timpal Mike.

"Liat aja nanti, gue bakal ngadu ke Mommy, masa anak gantengnya disuruh ngepel, nyapu, nggak keren banget sih. Sebagai calon pewaris Sixnine Entertainment, image gue ancur banget di tangan si Ale," cerocos Zio, dia bangkit untuk mengambil ember yang ada di luar. Akan tetapi dia dikejutkan oleh kedatangan Aura.

"Zio? Untuk apa kamu di sini?" tanya Aura dengan wajah yang nampak masih shock.

"Eh, jangan salah sangka dulu, Sayang. Gue di sini—" Zio menepuk jidatnya. "Aku di sini karena disuruh Pak Haris."

"Kamu dihukum?" tanya Aura lebih detail.

"Itu lebih tepatnya."

"Kenapa?"

"Kok kenapa? Ya karena aku telat dong, Aurah Sayang. Kan tadi kita pulang bareng dari stasiun," jawab Zio dengan mulut lemesnya yang membuat Aura langsung mendelik.

"Kamu jangan keras-keras begitu dong, nanti ada yang denger. Kamu harus inget perjanjian kita!" ketus Aura sambil celingukan dan sedikit mendorong tubuh Zio agar jauh lebih masuk ke ruangan tersebut.

Sementara Zio hanya bisa senyum-senyum menikmati tingkah Aura. Aura tidak tahu saja, kalau di antara mereka ada Mike yang sedang menguping.

"Pak Haris nggak mungkin hukum kamu, kalo kamu punya alasan yang jelas. Niat kamu emang pengen bolos 'kan?" sambung Aura sambil menatap mata suaminya, mencari celah kejujuran di antara indera penglihatan itu.

"Aku—"

"Ingat-ingat lagi, kalau sampai kamu gagal dalam kesepakatan kita. Kita benar-benar berakhir!" tukas Aura memberikan kesempatan Zio untuk menggodanya.

Zio menggeser kakinya, membuat Aura mundur, namun Zio segera menarik pinggang wanita itu. "Mulai ngarep nih?" goda Zio dengan senyuman khasnya.

Aura sedikit mendelik. "Berharap apa?"

"Dibalik omelan kamu, kamu lagi ngingetin aku supaya rajin belajar sampai nilai aku naik. Itu artinya, kamu juga berharap kita bisa—"

Tatapan mata Zio mulai menunjukkan reaksi aneh. Sementara Aura mendadak gagap, ya, dia tahu suaminya hanyalah bocah mesyum yang tak tahu adab. Salahnya memancing Zio hingga berpikir sampai ke sana.

Kepala Aura mundur secara reflek saat wajah Zio maju. Namun, momen mereka hancur berantakan karena sebuah hal yang mengejutkan.

"DOR! MAU APA LU BERDUA?" sentak Mike yang tiba-tiba keluar dari persembunyiannya.

***

Mau anu, eum anu🤭

Terpopuler

Comments

Ta..h

Ta..h

mike kamu ya ku timpuk pake swaloww ganggu aja yg mau mesraan 😅😅😅.

2023-11-02

3

mama galaau

mama galaau

ganggu aja lu Mike... tinggal dikit lg lho

2023-10-04

1

mama galaau

mama galaau

harusnya kls X kak... kls 9 msh SMP

2023-10-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Taruhan
2 Bab 2. Penggerebekan
3 Bab 3. Dipaksa Menikah
4 Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5 Bab 5. Tersipu
6 Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7 Bab 7. Panggilan
8 Bab 8. Salah Paham
9 Bab 9. Hukuman
10 Bab 10. Mulai Terperangkap
11 Bab 11. Namanya Juga Bocah
12 Bab 12. Sebuah Pesan
13 Bab 13. Minta Kerjaan
14 Bab 14. Your Favorit Flower
15 Bab 15. Balapan
16 Bab 16. Syarat
17 Bab 17. Dikeroyok
18 Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19 Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20 Bab 20. Mencari Tahu
21 Bab 21. Disandera
22 Bab 22. Kerja Tambahan
23 Bab 23. Minta Bantuan
24 Bab 24. Tidur Terpisah
25 Bab 25. Bencana
26 Bab 26. Terus Ditatap
27 Bab 27. Hari Minggu
28 Bab 28. Mengantar Belanja
29 Bab 29. Ke Rumah Zio
30 Bab 30. Durian Runtuh
31 Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32 Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33 Bab 33. Jauhin Amora!
34 Bab 34. Pertengkaran Hebat
35 Bab 35. Obat
36 Bab 36. Razia
37 Bab 37. Pertemuan Pertama
38 Bab 38. Putus!
39 Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40 Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41 Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42 Bab 42. Gosip Merajalela
43 Bab 43. Surat Peringatan
44 Bab 44. Balas Dendam
45 Bab 45. Cemburu
46 Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47 Bab 47. Minta Gaji
48 Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49 Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50 Bab 50. Kiko
51 Bab 51. Hadiah
52 Bab 52. Berdebat Lagi
53 Bab 53. Tetap Pergi
54 Bab 54. Kesepakatan
55 Bab 55. Suara Sirine
56 Bab 56. Kamu Jahat!
57 Bab 57. Kita Putus!
58 Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59 Bab 59. Memberi Pelajaran
60 Bab 60. Meminta Maaf
61 Bab 61. Merasa Disisihkan
62 Pengumuman
63 Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64 Bab 63. Lebih Dari Itu
65 Bab 64. Peringatan Ghara
66 Bab 65. Jenguk Zio
67 Bab 66. Rangga Frustasi
68 Bab 67. Mulai Sekolah
69 Bab 68. Tabrak Lari
70 New Novel
71 Bab 69. Kiko Berhasil
72 Bab 70. Menyesal
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1. Taruhan
2
Bab 2. Penggerebekan
3
Bab 3. Dipaksa Menikah
4
Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5
Bab 5. Tersipu
6
Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7
Bab 7. Panggilan
8
Bab 8. Salah Paham
9
Bab 9. Hukuman
10
Bab 10. Mulai Terperangkap
11
Bab 11. Namanya Juga Bocah
12
Bab 12. Sebuah Pesan
13
Bab 13. Minta Kerjaan
14
Bab 14. Your Favorit Flower
15
Bab 15. Balapan
16
Bab 16. Syarat
17
Bab 17. Dikeroyok
18
Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19
Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20
Bab 20. Mencari Tahu
21
Bab 21. Disandera
22
Bab 22. Kerja Tambahan
23
Bab 23. Minta Bantuan
24
Bab 24. Tidur Terpisah
25
Bab 25. Bencana
26
Bab 26. Terus Ditatap
27
Bab 27. Hari Minggu
28
Bab 28. Mengantar Belanja
29
Bab 29. Ke Rumah Zio
30
Bab 30. Durian Runtuh
31
Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32
Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33
Bab 33. Jauhin Amora!
34
Bab 34. Pertengkaran Hebat
35
Bab 35. Obat
36
Bab 36. Razia
37
Bab 37. Pertemuan Pertama
38
Bab 38. Putus!
39
Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40
Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41
Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42
Bab 42. Gosip Merajalela
43
Bab 43. Surat Peringatan
44
Bab 44. Balas Dendam
45
Bab 45. Cemburu
46
Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47
Bab 47. Minta Gaji
48
Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49
Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50
Bab 50. Kiko
51
Bab 51. Hadiah
52
Bab 52. Berdebat Lagi
53
Bab 53. Tetap Pergi
54
Bab 54. Kesepakatan
55
Bab 55. Suara Sirine
56
Bab 56. Kamu Jahat!
57
Bab 57. Kita Putus!
58
Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59
Bab 59. Memberi Pelajaran
60
Bab 60. Meminta Maaf
61
Bab 61. Merasa Disisihkan
62
Pengumuman
63
Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64
Bab 63. Lebih Dari Itu
65
Bab 64. Peringatan Ghara
66
Bab 65. Jenguk Zio
67
Bab 66. Rangga Frustasi
68
Bab 67. Mulai Sekolah
69
Bab 68. Tabrak Lari
70
New Novel
71
Bab 69. Kiko Berhasil
72
Bab 70. Menyesal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!