Dikarenakan Zio yang pergi tanpa alasan, alhasil Aura keluar dari kamar dan menyambangi meja makan sendirian. Di sana ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah tampak rapih, seperti hendak pergi.
"Suamimu mau ke mana lagi, Aura? Semalam Mamah nggak liat dia pulang, pas bangun udah pergi lagi aja," ujar Syanas ketika melihat putrinya datang.
Jangankan kedua orang tuanya, Aura sendiri tidak tahu kenapa Zio tiba-tiba pergi meninggalkan rumah. Seperti ada sesuatu yang terjadi, tapi apa?
"Ada sesuatu yang harus dia urus, Mah, mungkin nggak bisa selesai cepet, jadi dia banyak waktu di luar, lagian dia tetep masuk sekolah kok," jawab Aura beralibi seraya membantu sang ibu untuk memindahkan makanan ke dalam wadah.
Syanas menghela nafas kecil, sebenarnya dia tidak terlalu suka kalau Aura menikah dengan pria yang lebih muda, apalagi Zio masih sekolah, tetapi apa boleh buat, jika sudah cinta maka tidak akan mungkin memandang usia.
"Tapi Mamah sama Papah mau pulang hari ini lho, Aura. Nanti titipkan salam saja lah sama suamimu itu, bilang kalau kami menitipkan kamu sama dia, harus dijaga dengan baik, nggak boleh disakitin!" timpal Syanas, karena dia dan Rendra sudah sepakat untuk pulang hari ini.
"Mamah sama Papah beneran mau pulang hari ini?" tanya Aura memastikan, raut wajahnya tampak lebih sumringah karena dengan begitu ia bisa bebas untuk tidak satu kamar dengan Zio.
"Iya, Mamah sama Papah sudah packing, Nak," seru Rendra membuat lengkungan kecil di bibir Aura semakin lebar. Namun, karena tak ingin membuat orang tuanya berpikir aneh, Aura menutupi kebahagiaannya itu dengan menormalkan raut wajahnya.
"Kalau begitu biar aku yang antar kalian ke stasiun. Mamah sama Papah naik kereta 'kan?"
"Tentu saja, Mamahmu mana mau diajak naik pesawat, yang ada teriak-teriak seperti waktu itu," balas Rendra dengan senyum mengejek, melontarkan ketidaksukaan Syanas terhadap pesawat terbang.
"Papah!" rengek Syanas, karena sejak ia muda sampai sekarang, dia enggan untuk mengendarai kendaraan udara itu.
"Apa, Mah? Papah kan bicara apa adanya," balas Rendra sambil menahan senyum, sementara Syanas sudah mengerucutkan bibirnya.
"Ya, tapi—"
"Sudah-sudah, lebih baik kita cepat sarapan, nggak baik kan ribut-ribut di depan makanan," timpal Aura yang melihat perdebatan kecil di antara kedua orang tuanya.
Akhirnya mereka bertiga pun mulai menyantap sarapan dari piring masing-masing. Namun, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Ketiga orang itu pun sontak saling pandang. Lalu Aura berinisiatif lebih dulu, "Kayaknya ada orang di luar, kalo gitu biar aku yang buka pintu. Mamah sama Papah lanjut aja makannya."
Rendra dan Syanas kompak menganggukkan kepala, sementara Aura bangkit dari kursi dan melenggang ke arah pintu. Saat benda persegi panjang itu terbuka, terlihat seorang pria dengan pakaian seragam serba hitam tengah berdiri sambil memegang koper berukuran besar.
"Selamat pagi, Nona," sapa pria itu sambil mengulum senyum, tetapi Aura justru mengernyitkan dahinya.
"Ada apa ya?"
"Oh ini, Nona, saya membawa barang-barang milik Tuan Muda Zio, katanya suruh diantar ke sini," jawab pria itu dengan jujur, dia memang ditugaskan oleh Arabella untuk mengantarkan keperluan sang majikan yang sudah tidak tinggal di rumah.
"Oh begitu, ya sudah bawa masuk saja," titah Aura, kemudian dia menggeser diri untuk memberikan akses pada pria tersebut agar masuk ke dalam rumahnya.
Namun, ternyata tak hanya koper saja yang ia terima ada paper bag besar yang tertinggal, dan paper bag itu memang untuk dirinya.
"Ini dari Nyonya Ara, kata beliau ini untuk istri Tuan Muda."
"Hah, untukku?" ujar Aura dengan wajah yang semakin terlihat keheranan dicampur rasa penasaran. Sementara pria itu hanya menganggukkan kepala.
"Karena tugas saya sudah selesai, saya permisi dulu, Nona."
"Bapak tidak ingin sarapan dulu? Kebetulan keluarga saya sedang sarapan."
"Tidak, Nona, terima kasih."
Terlihat sekali bahwa pria tersebut membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan istri majikannya, takut menjadi masalah.
"Baiklah, sampaikan rasa terima kasihku untuk Nyonya Ara ya," ujar Aura dan langsung mendapat jawaban berupa anggukan.
Setelah pria itu pergi Aura kembali melihat paper bag yang ada di tangannya, dia sedikit mengulas senyum karena bersyukur memiliki mertua yang baik. Ya meski ia tidak tahu apa yang Arabella berikan untuknya.
*
*
*
Di bumi belahan lain, Zio baru saja sampai di rumah sakit tempat di mana Tomy dirawat. Dia langsung berlari tunggang langgang menuju ruangan sang sahabat, dan dengan tidak sabaran dia membuka pintu.
Ceklek!
Mata Zio langsung terbelalak lebar, ia tampak terkejut saat melihat kondisi Tomy yang nampak cukup parah.
"Zi!" panggil Mike yang sampai saat ini berada di rumah sakit, padahal dia sudah diminta untuk pulang oleh kakak Tomy, tapi dia tetap keras kepala.
"Jangan bilang ini semua perbuatan Athar," ujar Zio menebak, karena di sini hanya satu orang saja yang ia curigai. Terlebih semalam pemuda itu dia kalahkan, sudah pasti Athar ingin membalas dendam padanya.
"Enggak, Zi, mereka bukan anak buah Athar," timpal Mike yang memang melihat jelas tampang orang-orang yang menghajar dia dan Tomy.
Zio makin terperangah.
"Terus siapa, Mek? Sekarang yang punya masalah sama gue cuma dia!"
"Iya tapi emang bukan mereka. Gue masih inget jelas muka-muka dia orang."
"Kalo gitu gue harus cari tahu siapa mereka. Gue nggak terima kalian diperlakuin kayak gini!" cetus Zio sambil menatap tubuh Tomy yang terkulai di atas brankar.
"Nggak perlu, Zi! Masalah ini biar Kakak yang urus!" timpal Tiwi yang saat itu memang tengah menjaga Tomy. Dia cukup tahu bagaimana karakter teman-teman adiknya, dia merasa masalah tidak akan selesai-selesai jikalau Zio turun tangan.
"Tapi Tomy temen aku, Kak. Aku bakal bales mereka setimpal, sama kayak apa yang mereka perbuat!" tegas Zio dengan berapi-api, sumpah demi apapun dia tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti ini.
"Iya, Kak, aku juga nggak terima. Karena kita nggak salah apa-apa!" timpal Mike yang sama marahnya.
"Tapi ini bahaya buat kalian. Masalah bakal makin runyam kalo kalian juga terluka. Jadi, please ... percaya sama Kakak, biar Kakak dan keluarga yang handle, oke?"
Tiwi bangkit dan menepuk-nepuk bahu Zio yang tampak menegang. Dia tahu Zio tidak akan terima masukannya, tetapi hanya ini yang bisa dia perbuat.
"Kalian bersih-bersih dulu aja. Biar Kakak yang cari sarapan," sambung Tiwi, melihat baju lusuh Zio dan Mike. Ya, meskipun dua pemuda itu terkenal berandal, tetapi kalau sudah masalah solidaritas, maka jangan ditanya. Karena itu Tiwi pun menyanyangi keduanya seperti adiknya sendiri.
*
*
*
"Hati-hati ya, Mah, Pah," ucap Aura saat melepas kepergian orang tuanya di stasiun. Dia terpaksa mengambil izin, karena tak mau kehilangan momen ini.
"Iya, kamu juga hati-hati di sini. Baik-baik sama suamimu ya, Nak. Ingat kalau main pakai pengaman," balas Syanas, yang membuat suasana haru langsung berubah menyebalkan seketika.
"Mamah ini apa-apaan sih, kenapa harus itu terus yang diingat?" cetus Aura dengan bibir mencebik.
"Mamah kan cuma takut kamu kebobolan. Kasihan, suamimu belum ujian."
"Iya-iya, Mah. Lagi pula siapa juga yang main begituan sama dia!" gerutu Aura yang tentunya masih terdengar jelas di telinga kedua manusia baya itu.
"Apa kamu bilang?" tanya Rendra.
"Ah nggak, aku nggak ngomong apa-apa kok, Pah. Ya udah, Mamah sama Papah langsung naik aja, supaya bisa santai. Lagian Zio nggak mungkin dateng," tukas Aura seraya memberi saran. Sebelumnya dia sudah menghubungi sang suami, bahwa ayah dan ibunya pulang kampung hari ini.
"Ya sudah, ayok, Pah. Nanti nitip salam aja buat dia sama besan," balas Syanas seraya menarik tangan Rendra.
Pria paruh baya itu pun menurut, dia kembali menarik koper. Namun, tiba-tiba mereka dihadang oleh seseorang yang baru saja berlari sangat kencang.
"Mah, Pah, maaf Zio telat," ujar Zio dengan nafas ngos-ngosan. Begitu tahu kalau mertuanya hendak pulang dia langsung meminta izin untuk pergi dari rumah sakit.
Ketiga orang itu melihat Zio dengan raut terkejut karena kedatangannya yang sangat mendadak. Namun, detik selanjutnya Syanas mengulum senyum dan merangkul tangan Zio.
"Nggak apa-apa, udah syukur kamu dateng padahal kamu lagi banyak urusan. Maaf ya buat kamu jadi repot," ujar Syanas, suka melihat menantunya yang ganteng, meski kurang srek karena masih bocah.
"Kalian kan mertuaku, jadi apapun itu harus aku usahain," balas Zio seraya melirik Aura yang diam-diam merasa tertampar, karena pada kenyataannya dia tidak bisa sebaik itu pada orang tua Zio.
Syanas terkekeh kecil, makin terpana saja ia terhadap sifat Zio yang menurutnya cukup dewasa.
"Terima kasih, Zio, tapi kami sudah mau naik ke kereta, jadi kami pamit dulu. Tolong jaga Aura di sini ya, kalau ada apa-apa sama dia, kamu berurusan sama saya," timpal Rendra dengan wajah khas bapak-bapak posesif terhadap putrinya.
Aura tersenyum kecil, begitu pun juga dengan Zio.
"Siap, Pah, kalian tenang aja, aku bakal selalu berusaha buat menjaga dan membahagiakan istri aku," jawab Zio yang membuat pipi Aura sedikit bersemu.
Mendengar itu perasaan Syanas dan Rendra jauh lebih tenang. Lalu detik selanjutnya Zio dan Aura benar-benar mengantar kepergian dua manusia baya itu.
Kemudian setelah itu mereka sama-sama berjalan menuju parkiran.
"Kamu naik apa ke sini?" tanya Aura basa-basi, tetapi selalu ditanggapi lain oleh Zio.
Pemuda itu tersenyum manis, "Gue naik motor, Ra."
Langkah Aura langsung terhenti seketika.
"Bisa nggak kamu rubah cara bicara kamu ketika lagi sama saya? Saya lebih suka yang awal!" cetus Aura, entah kenapa dia merasa risih mendengar Zio memanggil dirinya dengan sebutan 'gue'.
Lagi, Zio tersenyum, malah semakin lebar.
"Oke, tapi gue juga mau lu ikutin apa kata gue. Stop pake panggilan saya, mau gimana pun gue suami lu, bukan orang lain. Well, terserah lu mau panggil diri lu apa, sayangnya Zio misalnya, yang penting jangan saya. Sama kaya lu, gue juga risih," ujar Zio membalikkan ucapan Aura. Yang membuat wanita itu tergagap.
Ada jeda di antara mereka, dan Zio tetap setia menunggu jawaban Aura.
"Oke, saya—maksudnya aku, aku bakal rubah panggilan itu!" kata Aura akhirnya. Zio langsung tersenyum lebar.
"Pinter banget sih istrinya Zio," ucap pemuda itu sambil menjawil dagu Aura. Kemudian berjalan meninggalkan Aura yang menganga.
Hah, Aura mendesahkan nafas kasar, lalu mengekor pada langkah Zio hingga mereka sampai di parkiran. Namun, sebelum naik ke motornya Zio lebih dulu mengantar Aura hingga wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati ya, Cantik, bawanya jangan ngebut-ngebut, karena ada aku yang pengen liat kamu terus baik-baik aja," ucap Zio, terdengar begitu lebay.
Aura tak menjawab, dia justru membuka jaketnya untuk diberikan pada Zio.
"Pake ini, baju kamu udah kotor," ucap Aura yang membuat jantung Zio langsung meronta-ronta.
"Astaga, baru nurut satu kali langsung dikasih jaket, gimana nurut berkali-kali, pasti langsung dikasih jatah," celetuk Zio.
"Haish ...."
***
Wkwk panjang nih guys🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
❤️MOMMY JEJE💋💋💋
azzeekk 💋
2023-09-04
0
❤️MOMMY JEJE💋💋💋
lu bikin reader bengex cio🤣
2023-09-04
0
Sony Sondang
bongko yakin aro kelakuane zio,ono bae jawabne🤣🤣🤣🤣
2023-09-03
0