Sementara di bumi belahan lain, Mike dan Tomy ternyata masih belum sampai di rumah masing-masing, sebab di pertengahan jalan tiba-tiba mereka dihadang oleh segerombolan orang.
Sontak saja hal tersebut membuat Tomy mengerem secara mendadak untuk menghindari adanya kecelakaan.
Begitu motor sukses berhenti, Tomy langsung melepas helm dan mengomel, karena orang-orang yang ada di depan sana telah menghalangi jalannya.
"Heh, lu lagi pada ngapain sih? Kalo mau cari mati jangan di sini!" sewotnya dengan emosi yang menggebu. Karena dia sudah lelah sekali seharian ini beraktivitas, dia ingin segera sampai di rumah dan beristirahat.
Namun, bukannya mendengarkan apa kata Tomy orang-orang itu justru melangkah mendekat, membuat Mike merasakan sesuatu yang tak beres.
"Cabut aja, Bray, gak bener nih," bisiknya pada sang sahabat.
Tomy mengangguk kecil, dia segera memasang kembali helmnya dan menjalankan mesin motor. Akan tetapi saat ia hendak menarik gas, tiba-tiba satu orang berlari ke arahnya dan menendang begitu keras, membuat mereka berdua terjungkal ke sisi jalan.
"Argh."
Terdengar sebuah erangan dari Tomy dan Mike karena terkejut dengan serangan dadakan tersebut. Tak sampai di situ, orang yang menendang motor Tomy lantas mendekat dan langsung menarik tubuh Tomy dengan kasar.
Helm yang semula terpasang di kepalanya dilempar dengan sembarangan, membuat Tomy semakin terperangah, karena tak ada angin tak ada hujan orang-orang ini justru menyerangnya tanpa sebab.
"Mau apa lu?" sentak Tomy sambil memegangi cengkraman yang ada di bajunya dan mereka saling tatap dengan sengit.
"Gak usah banyak bacottt!" balas pemuda yang terlihat lebih tua darinya, sebuah pukulan melayang mengenai wajah Tomy dengan begitu keras, hingga membuat tubuh pemuda itu terhuyung.
"Tom!" teriak Mike.
Melihat itu sontak saja Mike tak tinggal diam, dia pun langsung bangkit dengan kepalan tangan yang begitu kuat, ia hendak membalas pukulan yang diterima oleh sahabatnya. Namun, sayangnya dia lebih dulu dicekal.
"Apa-apain sih ini? Lu pada punya urusan apa sama kita? Lu semua dari mana?" sentak Mike berusaha melepaskan cekalan itu. Dia sungguh tak mengenali satu pun dari mereka.
Kedua tangan Mike terus dipegang dengan kuat oleh dua orang, sementara yang lain mulai mengerubungi Tomy, mereka mengeroyok pemuda itu dengan serangan membabi buta.
"Arghh ...." Suara erangan itu kembali mengudara, Tomy berusaha menyerang balik, tetapi dia kalah tenaga, hingga dia kembali terjungkal di aspal.
"Makanya jadi orang jangan sok jagoan," ucap orang yang memukuli Tomy dengan seringai kecil.
"Lepasin gue! Jangan jadi banci lu pada anjingg!" umpat Mike sambil meronta-ronta, dia benar-benar merasa marah karena sahabatnya dipukuli seperti itu.
"Jaga mulut lu kalo lu gak mau bernasib sama!" cetus orang yang merupakan ketua genk dari mereka semua.
Mike menghembuskan nafas kasar, dia semakin mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa terlepas tetapi tetap tak bisa. "Kita berdua gak punya urusan sama lu pada. Jadi lu yang harusnya jaga tuh bacot!"
Di saat Mike dan salah satu dari mereka beradu mulut. Tomy berusaha untuk bangkit dengan susah payah, wajahnya sudah tampak babak belur karena dia tak diberi kesempatan untuk melawan.
"Hiyaaa!" Tomy mengerahkan seluruh tenaganya, dan berhasil melayangkan kaki ke kepala pemuda yang sedang membelakanginya. Serangan cepat itu tak terelakan, hingga membuat pemuda yang semula congkak itu berbalik tersungkur di aspal dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.
"Cih, abis lu di tangan di gue," gumamnya dengan penuh dendam.
Detik selanjutnya perkelahian kembali terjadi, Tomy dan Mike sama-sama dipukuli tetapi luka yang Tomy dapat justru lebih parah, hingga dia nyaris tak sadarkan diri. Beruntung saat itu beberapa tukang ojek yang masih mencari pelanggan datang berbondong-bondong, membuat semua orang yang memukuli Tomy dan Mike kabur dengan tunggang langgang.
*
*
*
Karena ponsel Zio mati dari semalam, alhasil dia tak bisa dihubungi sama sekali. Padahal sejak tiba di rumah sakit, Mike yang masih sadarkan diri segera menghubungi sahabatnya untuk memberitahu kabar tentang Tomy.
Hingga saat pagi menjelang Zio masih bergelung di bawah selimut dengan tangan yang melingkar di pinggang Aura.
Sementara Aura yang sudah bangun lebih dulu, sedang berusaha melepaskan diri dari pelukan Zio. Semalam mereka telah menyepakati sesuatu yang sepertinya hanya akan menguntungkan pemuda itu.
"Bangunlah, kamu juga harus pergi ke sekolah!" cetus Aura sambil beringsut, tetapi seolah tak ingin jauh dari istrinya Zio kembali menarik tubuh Aura agar semakin rapat.
"Ish, pengap tahu, bahkan dari semalam dia tidak melepaskan aku sedikit pun, bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak?" gerutu Aura.
Di balik bantal Zio menyunggingkan senyum, karena sebenarnya dia juga sudah bangun. Akan tetapi dia senang mendengar ocehan Aura yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Argh," teriak Aura sambil menabok tangan Zio yang merayap masuk ke dalam piyamanya. Dia langsung ketar-ketir, sementara Zio pura-pura baru membuka mata, dia memasang wajah bodoh dan seolah tak tahu apa-apa.
"Kenapa teriak-teriak gitu sih?" tanya Zio dengan suara serak.
Nafas Aura terdengar memburu dan terlihat waspada.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu pasti sengaja ingin melakukan yang bukan-bukan padaku, dasar otak mesyum!" cetus Aura seraya bangkit dari ranjang. Zio pun turut bangun, dia ingin meraih pergelangan tangan Aura, tetapi wanita itu segera menghindar.
"Ya ampun, Aurah, pikiran lu tuh kejauhan—"
"Hei, bicara yang sopan!" tukas Aura, tak suka jika Zio memakai bahasa seperti itu di depannya.
"Kenapa? Udah pengen dipanggil Sayang nih? Udah berubah pikiran?" goda Zio dengan senyumnya yang begitu khas. Karena terbiasa tidur tanpa memakai baju, alhasil dia bertelanjang dada, membuat Aura lagi-lagi membuang muka.
"Jangan ngaco deh. Terserah, terserah,terserah kamu lah mau pake panggilan apa, saya nggak bakal peduli," jawab Aura tak ingin ambil pusing, rasanya malas berdebat dengan Zio, apalagi di waktu sepagi ini.
"Cewek tuh gitu ya, apa-apa terserah, ntar giliran gue bilang minta jatah malah marah."
Ucapan Zio sukses membuat mata Aura mendelik, tetapi begitu ia menangkap sesuatu yang menyembul dari balik celana kolor yang Zio kenakan, dia langsung berubah gelagapan.
Glek!
"Sudahlah, capek saya ngomong sama kamu, saya mau mandi," cetus Aura akhirnya, dia memilih melangkah cepat ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara Zio mulai turun dari ranjang, berniat untuk mengejar sang istri. "Gue belum apa-apa lho, Ra, udah capek aja."
Brak!
"Ra, gue ikut!" teriaknya di depan pintu yang baru saja tertutup, tetapi jangan harap Aura akan mengikuti apa kata Zio, karena tak ada pergerakan apapun dari dalam sana. "Sekarang lu boleh nolak gue sama Kiko, Ra, tapi besok-besok gue jamin, lu sendiri yang minta."
Bibir Zio berkedut, lalu kembali berjalan ke arah nakas di mana ponselnya sedang diisi daya. Dia menghidupkan benda pipih tersebut, hingga tak berapa lama kemudian semua notifikasi masuk.
Kening Zio berkerut ketika mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari Mike, sahabatnya. Karena merasa penasaran hal yang pertama kali ia lakukan adalah membuka pesan dari pemuda tersebut.
Deg!
Mata Zio seperti ingin keluar dari tempatnya begitu mengetahui keadaan Tomy sekarang. Tanpa membuang waktu Zio langsung memakai baju untuk pergi ke rumah sakit yang ditunjukkan oleh Mike.
Saking terburu-burunya dia memakai pakaian dengan begitu asal-asalan, bahkan tanpa mencuci muka terlebih dahulu.
"Ra, gue pergi," teriak Zio sebelum meninggalkan kamar, membuat Aura yang sedang membersihkan tubuhnya langsung mengerutkan kening, takut salah dengar.
"Pergi?" ulang Aura. "Ke mana?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Tri Oktifatun
🤣🤣🤣🤣
2023-10-08
1
❤️MOMMY JEJE💋💋💋
cieeee mulai keppoh 💋
2023-09-04
0
❤️MOMMY JEJE💋💋💋
wkwkwkwk
kikooo tunjukin pesonamuuhh🤣
2023-09-04
0