Sementara itu di bumi belahan lain, Zio, Mike dan juga Tomy tengah bersiap-siap untuk pergi ke arena balapan. Mereka sama sekali tak berpikir untuk pulang terlebih dahulu padahal dari pagi pakaian mereka masih tetap sama, yakni baju putih abu-abu yang kini sudah basah oleh keringat.
"Bray, tuh hp lu bunyi mulu," ucap Mike saat mendengar dering ponsel milik Tomy. Dia yakin sang sahabat sedang dihubungi oleh keluarganya.
"Hadeuh, padahal gue udah bilang, gue lagi sama lu bedua," balas Tomy seraya mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya.
Di layar tertera jelas nama sang kakak, dengan wajah malas Tomy pun menerima panggilan itu. "Ngape, Kak? Gue udah chat nyokap."
"Kamu di mana sih? Pulang sekolah bukannya ke rumah dulu malah keluyuran, kebiasaan deh. Mamah sama Papah tuh sebenernya khawatir tahu, kamu ini mau jadi apa sih tiap hari kaya gitu terus?" cerocos Tiwi, satu-satunya kakak Tomy.
"Kan gue udah bilang, Kak, gue lagi kumpul sama si Zio sama si Mekiii," jawab Tomy apa adanya.
"Iya terus kamu pulang kapan? Main juga inget waktu, Tomy, inget keluarga di rumah. Jangan tahunya cuma minta duit, terus keluyuran nggak jelas. Pokoknya, malam ini Kakak tunggu kamu sampe jam 10, kalo nggak pulang juga, rumah bakal Kakak kunci!" ketus Tiwi bernada ancaman.
Bahkan tanpa menunggu jawaban sang adik, dia langsung memutus panggilan itu secara sepihak. Membuat Tomy harus menelan kembali kata-katanya.
"Ngape, Bray?" tanya Mike dengan kening yang berkerut saat Tomy mengantongi ponselnya dengan wajah masam.
"Biasa si Titiw abis kultum," jawab Tomy sambil memutar bola matanya jengah. Tak begitu memikirkan perkataan sang kakak yang sudah naik darah dengan tingkah lakunya.
"Lu kalo mau balik, balik aja, Tom, lu juga!" timpal Zio, menatap kedua sahabatnya secara bergantian. "Gue bisa sendiri kok."
Namun, seperti tak bisa terpisahkan. Tomy justru menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Zio menghadapi Athar sendirian. Karena dia tahu pemuda itu dikenal licik dan memiliki banyak rencana untuk mencapai tujuannya.
"Dah ayo cabut, gue bakal temenin lu!" ujar Tomy, menepuk satu bahu Zio. Membuat Zio benar-benar merasa beruntung memiliki dua sahabat sejati seperti Mike dan Tomy, meski keduanya sama-sama sableng.
*
*
*
Dengan mengendarai motor sport, mereka semua pergi ke tempat yang sudah disepakati. Saat di pertengahan jalan, mata Zio menangkap mobil Aura yang terparkir di sebuah restoran.
Dibalik helm full face-nya, Zio tersenyum tipis, mengingat sang istri yang saat ini sedang makan malam dengan temannya. Ya, entah karena pikirannya yang selalu positif pada Aura, atau feeling-nya yang belum terlalu kuat, hingga dia tidak berpikir bahwa wanita itu berani menemui laki-laki lain di belakangnya.
Tak berapa lama kemudian, Zio dan kedua sahabatnya tiba di arena balap. Suasana di tempat itu terlihat begitu ramai, seolah mereka sudah tahu siapa yang akan bertanding malam ini.
Saat Zio menatap ke arah Athar, pemuda itu langsung menarik sudut bibirnya ke atas, sebuah senyum sinis pertanda bahwa Athar tengah meremehkan Zio.
Tak ingin dianggap lemah, Zio pun segera turun dari motornya dan menghampiri Athar yang memiliki begitu banyak pendukung. Sorak-sorai anak-anak muda mengudara, meneriaki nama Athar, sementara Zio hanya memiliki dua pendukung, itu pun Tomy dan Mike.
Namun, jangan salah, karena tiba-tiba nama Zio pun turut menggelegar, saat pemuda itu melepas helm full face-nya. Wajah tampan Zio tak bisa diragukan, karena hal tersebut satu-satunya daya tarik yang membuat para gadis menjerit.
"Gue harap malam ini lu gak main curang," ucap Zio dengan tatapan dingin, sedikit pun dia tidak sudi jika Amora memiliki hubungan dengan Athar. Meski dirinya berandal, dia ingin tetap yang terbaik untuk sang keponakan tersayang.
"Lagian kapan sih, Zi, gue main curang? Nggak usah gengsi deh, kalo mau akuin gue hebat, ya udah akuin aja," balas Athar, kini dia terlihat lebih berani karena di belakang sana, banyak sekali teman-temannya.
"Gue tahu gimana lu, Anjingg! Jadi gak usah ngerasa hebat. Buktiin aja sekarang, dan inget, gue gak bakal kalah dari lu!" ucap Zio penuh penekanan.
Tatapan keduanya saling melayang dengan penuh permusuhan. Hingga menciptakan suasana gemuruh yang menegangkan. Athar berdecih, lalu segera kembali ke motornya. Dia akan perlihatkan pada Zio, siapa dia sesungguhnya.
Karena balap motor tersebut akan segera dimulai. Zio pun naik ke atas motornya lagi, sementara Athar sudah menarik gas, hingga deru suara mesin terus mengudara.
"Zi, ati-ati, lu jangan terkecoh sama permainan si bocah anjjingg itu, semangat brother!" ucap Tomy seraya menepuk bahu Zio beberapa kali, mengingatkan sang sahabat, agar tidak masuk ke dalam jebakan Athar.
"Iya, Zi, gue yakin lu pasti menang. Gak bakal ada yang bisa ngalahin cucu buaya," timpal Mike, membuat semangat Zio semakin membara.
Dia membawa kendaraan roda dua itu ke garis yang sudah ditentukan. Di sampingnya, Athar terus melayangkan tatapan tajam. Hingga saat bendera kecil yang dibawa oleh seorang gadis melayang ke udara, dua motor itu langsung melesat begitu saja.
Riuh tepuk tangan dan juga teriakan saling bersahut-sahutan. Memeriahkan acara malam itu. Sementara Zio dan Athar terus menambah kecepatan, saling berkejaran dan tak ingin keduluan.
Athar sedikit merapatkan body motornya, tetapi Zio yang sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan pemuda itu, segera menambah kecepatan.
"Gue gak bakal kalah dari lu, Anak Tarzan!" gumam Zio.
Seolah tak habis akal, kini Athar mengambil jalur sebelah kiri, membuat fokus Zio jadi teralihkan. Tak ingin kalah, dia terus memperhatikan pergerakan Athar yang sedang berusaha memperdayanya.
Hingga dia teringat dengan pesan Tomy. Bahwa apa yang dilakukan Athar, tidak lebih hanya sebuah taktik.
Tak ingin berlama-lama, Zio semakin mempercepat kendaraannya. Tak berbeda dengan Athar yang kembali mengejarnya, membuat posisi mereka imbang.
Athar menoleh, dari balik helm itu Zio bisa melihat senyum Athar yang penuh dengan ejekan.
Sialan nih bocah!
Zio mengumpat dalam hati, tetapi hal tersebut tak membuatnya goyah. Dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, Zio berhasil memimpin. Terus memimpin, hingga garis finish nampak di depan matanya.
Dia melihat ke belakang, Athar tak kalah jauh darinya. Dia menarik gas dengan penuh, hingga dia berhasil melewati garis finish dan sorak-sorai pun kembali menggema.
Zio tersenyum puas, meski dia harus bersusah payah, tetapi kemenangan ini justru membayar semuanya. Begitu motor berhenti, Tomy dan Mike langsung menghampirinya, mereka melakukan tos sebagai bentuk apresiasi.
"Good job, Brother, ini baru sahabat gue," ucap Tomy sambil merangkul Zio.
"Gila-gila, keren bener, dah kayak pembalap yang ada di tipi-tipi," timpal Mike tak kalah receh.
Zio dengan rambut basahnya nampak tersenyum sumringah. Berbeda dengan Athar yang selalu menampakkan tatapan tajam. "Ck, gue bilang juga apa, kalo mampunya main sama kadal, ya udah main sama kadal, jangan sama buaya." Sindir pemuda itu, semakin membuat senyum Athar terlihat kecut.
Sementara mereka bertiga tergelak kencang. Tak peduli setelah ini mereka menerima hukuman dari orang tua masing-masing, karena sepertinya mereka akan pulang larut malam.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Hasbi Asidiqi
zio....hati" inget istri klo mau ngapa"in,ada yg nungguin d rumah
2024-02-17
0
Ta..h
di omelin emak bapak mu nanti nyampe rumah 🏡😅😅😅😅
2023-11-02
1
Anonim
siap2 kena marah orang rumah trio cowok kece 😁😁😁
2023-09-07
0