"Gue mau ke kantor bokap, lu bedua mau ngikut kagak?" tanya Zio saat sudah naik ke atas motornya.
"Ngikut lah, bosen juga di rumah. Kan mayan bisa jajan gratis di sana," jawab Mike seraya menyenggol lengan Tomy.
"Ya itung-itung nemenin elu," timpal Tomy.
Zio memakai helm full face-nya, lalu menyalakan mesin motor. Membawa kendaraan roda dua itu membelah jalan raya. Saat melewati gerbang, para pemuda itu mendadak jadi pusat perhatian. Ya, itulah Zio dan dua sahabat sablengnya, meskipun dikenal sebagai berandal sekolah tetapi tak menutupi pesona mereka.
Zio memimpin dan menggunakan kecepatan cukup tinggi, hingga dalam waktu setengah jam mereka sudah sampai di depan gedung Sixnine Entertainment.
Setelah berhasil memarkirkan motor, Zio langsung berjalan menuju meja resepsionis.
"Mbak, Daddy ada 'kan?" tanya Zio dengan gaya slengean.
Wanita berambut cepol itu lantas menjawab sambil tersenyum, "Ada, Tuan Muda."
"Ok, makasih," balas Zio, lalu mengajak dua sahabatnya untuk ikut naik ke ruangan tertinggi yang ada di gedung ini, yakni lantai 69. "Cabut, Bre. Bokap ada di atas."
Lantas keduanya mengekor pada Zio sambil melihat-lihat pemandangan yang membuat melek mata. Yakni wanita-wanita dewasa dengan bokongg dan dada yang sempurna. Hah, semuanya tampak menggunggah selera.
Plak, plak!
"Liat apaan lu bedua! Ayo masuk!" cetus Zio setelah menggeplak kepala Tomy dan Mike, karena mereka malah memperhatikan seorang karyawan cantik yang barusan lewat.
"Ya elah, Zi, rezeki itu gak boleh ditolak!" protes Mike sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang lumayan sakit.
"Iya, Zi, jarang-jarang juga kita ke sini," timpal Tomy, dia tersenyum kecil saat wanita yang dimaksud itu menoleh.
"Masuk atau gue colok mata lu bedua!"
Tak ingin mendengar alasan dua sahabatnya, Zio menyuruh mereka segera masuk ke dalam lift karena sedari tadi dia sudah menahan pintunya.
"Ah elah, ngapa cantik-cantik banget sih karyawan bokap lu. Jadi pengen kerja di sini juga," kata Tomy saat lift baru saja tertutup.
"Heleh, yang ada tuh pala kenty jelalatan ke mana-mana," seru Zio, yang sudah sangat hafal dengan otak mereka. Bersama selama hampir 6 tahun, sudah tentu membuat mereka saling memahami karakter masing-masing.
Tomy dan Mike kompak tergelak.
"Serius, Zi, gue juga mau," kata Mike dengan senyum mesyum.
"Kalo gitu gue bakal bilang ke bokap buat nambah tiga karyawan sekaligus. Lumayan juga 'kan kalo gue kerja ada temen?" balas Zio, merasa bahwa tidak ada salahnya kalau Tomy dan Mike ikut kerja dengannya.
Pintu lift terbuka, mereka bertiga lantas keluar dan langsung menyambangi ruangan pimpinan tertinggi, yang kini ditempati oleh Alessandro El Barrack.
Zio langsung menyelonong masuk, membuat Alessandro dan Boby merasa terkejut. Apalagi disusul dua bocah biang rese yang selalu menampakkan wajah tanpa dosa.
"Hai, Om," sapa Tomy dan Mike secara bersamaan dengan mengangkat satu tangan masing-masing.
Boby hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena perasaannya tiba-tiba jadi tak enak.
"Ketuk pintu dulu kan bisa, Cio, kamu ini sudah diajari sopan santun, tapi masih saja begitu," ketus Alessandro memperingati putra bungsunya yang sudah melenggang ke sofa.
"Kelamaan, Dad, basa-basinya," jawab Zio seraya mengambil toples makanan lalu membagikannya pada Tomy dan Mike. "Lu bedua kalo mau ngopi bikin sendiri-sendiri dah."
"Mayan, Bre, buat ganjel perut sebelum makan siang," kata Mike dan langsung mendapat anggukan dari Tomy.
"Minta kuenya dikit ya, Om," kata Tomy seraya melirik Alessandro dan juga Boby. Namun, keduanya sama-sama terdiam, karena dibalas pun percuma, yang ada bikin naik darah.
"Anak siapa sih nih bedua, perasaan gue dulu gak gini-gini amat," gumam Boby sambil geleng-geleng kepala. Lalu dia kembali menatap layar laptop yang ada di depannya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alessandro to the point. Dia sedang banyak kerjaan, jadi tak mau waktunya terbuang sia-sia.
"Dad, berhubung Zio udah kawin dan mungkin sebentar lagi kasih Daddy cucu—"
Boby mendelik dan menatap Alessandro. Tak percaya kalau bocah kemarin sore yang dulunya masih menyusu menggunakan botol, kini sudah mampu membuat bibit di rahim seorang wanita. Hih, mendadak ia merinding.
"Zio, mau minta kerjaan sama Daddy."
Kening Alessandro berkerut. Tak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh puteranya. Apa? Bekerja? Bukankah Zio yang ia kenal adalah sosok yang suka menghabiskan uang dan suka membuat masalah?
"Daddy nggak salah denger?" kata Alessandro dengan tatapan tak percaya.
"Bener itu, Om, kita juga mau ikut kerja supaya bisa liat cewek-cewek cantik, eh biar bisa bantu Zio maksudnya," timpal Mike yang sempat mendapat pelototan mata dari Zio.
"Lalu bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Alessandro.
"Kerjanya pulang sekolah aja, Dad. Kan bisa tuh dari siang sampe malem," jawab Zio, kali ini ia ingin membuktikan pada Aura, bahwa dia bisa menjadi suami yang bertanggung jawab terhadap keluarga, meskipun usianya masih terbilang bocah.
Alessandro melirik ke arah Boby, bingung menentukan pekerjaan apa yang harus diberikan kepada putranya. "Bab, lu punya saran nggak?"
Boby tampak berpikir, hingga tercetus sebuah ide yang membuatnya tersenyum jahil.
Boby bangkit dari tempat duduknya dan berbisik di telinga Alessandro, membuat pria itu pun ikut tersenyum lebar.
"Oke, Daddy bakal kasih kamu kerjaan. Kalian juga mau 'kan?" ujar Alessandro, membuat Tomy dan Mike mengangguk semangat. Namun, tidak dengan Zio, karena melihat raut wajah ayahnya dia jadi merasa curiga.
"Emangnya Daddy mau kasih kita kerjaan apa?" tanya Zio dengan kening yang berkerut.
*
*
*
Raut wajah ketiga pemuda itu langsung berubah suram saat di tangan mereka sudah ada alat-alat kebersihan. Zio yakin bahwa Alessandro sedang mengerjainya.
"Dad, yang bener aja dong, masa anak pemilik perusahaan malah suruh jadi OB, gak keren banget," protes Zio dengan tatapan sebal, begitu pun juga dengan Tomy dan Mike.
"Gak ada yang bagusan dikit apa, Om?" timpal Tomy.
"Itu sudah paling cocok, kalian keren kok pegang sapu dan kain pel," jawab Boby sambil menahan senyum.
"Tapi—"
"Kalau kalian tidak mau ya sudah, cari kerjaan sendiri sana! Tapi ingat, kalau tidak ada yang menerima kalian, jangan kembali ke sini," potong Alessandro saat Mike hendak bicara.
Ketiga pemuda itu saling pandang, sementara Alessandro dan Boby kembali naik ke lantai atas dengan acuh tak acuh.
"Dad, Daddy!" panggil Zio, tetapi Alessandro tak mengindahkan panggilan itu. Ya, hitung-hitung memberi pelajaran pada putranya, bahwa menjalani hidup itu harus dengan usaha.
"Ck, gini nih kalo Bokapnya Bernat lagi rese," cetus Zio sambil berdecak keras.
***
Gitu-gitu bapak lu, Bang🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Meleset.. kirain mau di kasih posisi OB ternyata cleaning service..
2024-01-07
1
Alexandra Juliana
Jgn2 Boby ngebisikin klo Zio dkk kerja jd OB 🤭🤭
2024-01-07
1
Ta..h
jalani aja zi mulai dari nol yg penting judulnya kerja 🤩🤩🤩
2023-11-02
1