Bab 13. Minta Kerjaan

"Gue mau ke kantor bokap, lu bedua mau ngikut kagak?" tanya Zio saat sudah naik ke atas motornya.

"Ngikut lah, bosen juga di rumah. Kan mayan bisa jajan gratis di sana," jawab Mike seraya menyenggol lengan Tomy.

"Ya itung-itung nemenin elu," timpal Tomy.

Zio memakai helm full face-nya, lalu menyalakan mesin motor. Membawa kendaraan roda dua itu membelah jalan raya. Saat melewati gerbang, para pemuda itu mendadak jadi pusat perhatian. Ya, itulah Zio dan dua sahabat sablengnya, meskipun dikenal sebagai berandal sekolah tetapi tak menutupi pesona mereka.

Zio memimpin dan menggunakan kecepatan cukup tinggi, hingga dalam waktu setengah jam mereka sudah sampai di depan gedung Sixnine Entertainment.

Setelah berhasil memarkirkan motor, Zio langsung berjalan menuju meja resepsionis.

"Mbak, Daddy ada 'kan?" tanya Zio dengan gaya slengean.

Wanita berambut cepol itu lantas menjawab sambil tersenyum, "Ada, Tuan Muda."

"Ok, makasih," balas Zio, lalu mengajak dua sahabatnya untuk ikut naik ke ruangan tertinggi yang ada di gedung ini, yakni lantai 69. "Cabut, Bre. Bokap ada di atas."

Lantas keduanya mengekor pada Zio sambil melihat-lihat pemandangan yang membuat melek mata. Yakni wanita-wanita dewasa dengan bokongg dan dada yang sempurna. Hah, semuanya tampak menggunggah selera.

Plak, plak!

"Liat apaan lu bedua! Ayo masuk!" cetus Zio setelah menggeplak kepala Tomy dan Mike, karena mereka malah memperhatikan seorang karyawan cantik yang barusan lewat.

"Ya elah, Zi, rezeki itu gak boleh ditolak!" protes Mike sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang lumayan sakit.

"Iya, Zi, jarang-jarang juga kita ke sini," timpal Tomy, dia tersenyum kecil saat wanita yang dimaksud itu menoleh.

"Masuk atau gue colok mata lu bedua!"

Tak ingin mendengar alasan dua sahabatnya, Zio menyuruh mereka segera masuk ke dalam lift karena sedari tadi dia sudah menahan pintunya.

"Ah elah, ngapa cantik-cantik banget sih karyawan bokap lu. Jadi pengen kerja di sini juga," kata Tomy saat lift baru saja tertutup.

"Heleh, yang ada tuh pala kenty jelalatan ke mana-mana," seru Zio, yang sudah sangat hafal dengan otak mereka. Bersama selama hampir 6 tahun, sudah tentu membuat mereka saling memahami karakter masing-masing.

Tomy dan Mike kompak tergelak.

"Serius, Zi, gue juga mau," kata Mike dengan senyum mesyum.

"Kalo gitu gue bakal bilang ke bokap buat nambah tiga karyawan sekaligus. Lumayan juga 'kan kalo gue kerja ada temen?" balas Zio, merasa bahwa tidak ada salahnya kalau Tomy dan Mike ikut kerja dengannya.

Pintu lift terbuka, mereka bertiga lantas keluar dan langsung menyambangi ruangan pimpinan tertinggi, yang kini ditempati oleh Alessandro El Barrack.

Zio langsung menyelonong masuk, membuat Alessandro dan Boby merasa terkejut. Apalagi disusul dua bocah biang rese yang selalu menampakkan wajah tanpa dosa.

"Hai, Om," sapa Tomy dan Mike secara bersamaan dengan mengangkat satu tangan masing-masing.

Boby hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena perasaannya tiba-tiba jadi tak enak.

"Ketuk pintu dulu kan bisa, Cio, kamu ini sudah diajari sopan santun, tapi masih saja begitu," ketus Alessandro memperingati putra bungsunya yang sudah melenggang ke sofa.

"Kelamaan, Dad, basa-basinya," jawab Zio seraya mengambil toples makanan lalu membagikannya pada Tomy dan Mike. "Lu bedua kalo mau ngopi bikin sendiri-sendiri dah."

"Mayan, Bre, buat ganjel perut sebelum makan siang," kata Mike dan langsung mendapat anggukan dari Tomy.

"Minta kuenya dikit ya, Om," kata Tomy seraya melirik Alessandro dan juga Boby. Namun, keduanya sama-sama terdiam, karena dibalas pun percuma, yang ada bikin naik darah.

"Anak siapa sih nih bedua, perasaan gue dulu gak gini-gini amat," gumam Boby sambil geleng-geleng kepala. Lalu dia kembali menatap layar laptop yang ada di depannya.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alessandro to the point. Dia sedang banyak kerjaan, jadi tak mau waktunya terbuang sia-sia.

"Dad, berhubung Zio udah kawin dan mungkin sebentar lagi kasih Daddy cucu—"

Boby mendelik dan menatap Alessandro. Tak percaya kalau bocah kemarin sore yang dulunya masih menyusu menggunakan botol, kini sudah mampu membuat bibit di rahim seorang wanita. Hih, mendadak ia merinding.

"Zio, mau minta kerjaan sama Daddy."

Kening Alessandro berkerut. Tak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh puteranya. Apa? Bekerja? Bukankah Zio yang ia kenal adalah sosok yang suka menghabiskan uang dan suka membuat masalah?

"Daddy nggak salah denger?" kata Alessandro dengan tatapan tak percaya.

"Bener itu, Om, kita juga mau ikut kerja supaya bisa liat cewek-cewek cantik, eh biar bisa bantu Zio maksudnya," timpal Mike yang sempat mendapat pelototan mata dari Zio.

"Lalu bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Alessandro.

"Kerjanya pulang sekolah aja, Dad. Kan bisa tuh dari siang sampe malem," jawab Zio, kali ini ia ingin membuktikan pada Aura, bahwa dia bisa menjadi suami yang bertanggung jawab terhadap keluarga, meskipun usianya masih terbilang bocah.

Alessandro melirik ke arah Boby, bingung menentukan pekerjaan apa yang harus diberikan kepada putranya. "Bab, lu punya saran nggak?"

Boby tampak berpikir, hingga tercetus sebuah ide yang membuatnya tersenyum jahil.

Boby bangkit dari tempat duduknya dan berbisik di telinga Alessandro, membuat pria itu pun ikut tersenyum lebar.

"Oke, Daddy bakal kasih kamu kerjaan. Kalian juga mau 'kan?" ujar Alessandro, membuat Tomy dan Mike mengangguk semangat. Namun, tidak dengan Zio, karena melihat raut wajah ayahnya dia jadi merasa curiga.

"Emangnya Daddy mau kasih kita kerjaan apa?" tanya Zio dengan kening yang berkerut.

*

*

*

Raut wajah ketiga pemuda itu langsung berubah suram saat di tangan mereka sudah ada alat-alat kebersihan. Zio yakin bahwa Alessandro sedang mengerjainya.

"Dad, yang bener aja dong, masa anak pemilik perusahaan malah suruh jadi OB, gak keren banget," protes Zio dengan tatapan sebal, begitu pun juga dengan Tomy dan Mike.

"Gak ada yang bagusan dikit apa, Om?" timpal Tomy.

"Itu sudah paling cocok, kalian keren kok pegang sapu dan kain pel," jawab Boby sambil menahan senyum.

"Tapi—"

"Kalau kalian tidak mau ya sudah, cari kerjaan sendiri sana! Tapi ingat, kalau tidak ada yang menerima kalian, jangan kembali ke sini," potong Alessandro saat Mike hendak bicara.

Ketiga pemuda itu saling pandang, sementara Alessandro dan Boby kembali naik ke lantai atas dengan acuh tak acuh.

"Dad, Daddy!" panggil Zio, tetapi Alessandro tak mengindahkan panggilan itu. Ya, hitung-hitung memberi pelajaran pada putranya, bahwa menjalani hidup itu harus dengan usaha.

"Ck, gini nih kalo Bokapnya Bernat lagi rese," cetus Zio sambil berdecak keras.

***

Gitu-gitu bapak lu, Bang🤣

Terpopuler

Comments

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Meleset.. kirain mau di kasih posisi OB ternyata cleaning service..

2024-01-07

1

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Jgn2 Boby ngebisikin klo Zio dkk kerja jd OB 🤭🤭

2024-01-07

1

Ta..h

Ta..h

jalani aja zi mulai dari nol yg penting judulnya kerja 🤩🤩🤩

2023-11-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Taruhan
2 Bab 2. Penggerebekan
3 Bab 3. Dipaksa Menikah
4 Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5 Bab 5. Tersipu
6 Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7 Bab 7. Panggilan
8 Bab 8. Salah Paham
9 Bab 9. Hukuman
10 Bab 10. Mulai Terperangkap
11 Bab 11. Namanya Juga Bocah
12 Bab 12. Sebuah Pesan
13 Bab 13. Minta Kerjaan
14 Bab 14. Your Favorit Flower
15 Bab 15. Balapan
16 Bab 16. Syarat
17 Bab 17. Dikeroyok
18 Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19 Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20 Bab 20. Mencari Tahu
21 Bab 21. Disandera
22 Bab 22. Kerja Tambahan
23 Bab 23. Minta Bantuan
24 Bab 24. Tidur Terpisah
25 Bab 25. Bencana
26 Bab 26. Terus Ditatap
27 Bab 27. Hari Minggu
28 Bab 28. Mengantar Belanja
29 Bab 29. Ke Rumah Zio
30 Bab 30. Durian Runtuh
31 Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32 Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33 Bab 33. Jauhin Amora!
34 Bab 34. Pertengkaran Hebat
35 Bab 35. Obat
36 Bab 36. Razia
37 Bab 37. Pertemuan Pertama
38 Bab 38. Putus!
39 Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40 Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41 Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42 Bab 42. Gosip Merajalela
43 Bab 43. Surat Peringatan
44 Bab 44. Balas Dendam
45 Bab 45. Cemburu
46 Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47 Bab 47. Minta Gaji
48 Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49 Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50 Bab 50. Kiko
51 Bab 51. Hadiah
52 Bab 52. Berdebat Lagi
53 Bab 53. Tetap Pergi
54 Bab 54. Kesepakatan
55 Bab 55. Suara Sirine
56 Bab 56. Kamu Jahat!
57 Bab 57. Kita Putus!
58 Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59 Bab 59. Memberi Pelajaran
60 Bab 60. Meminta Maaf
61 Bab 61. Merasa Disisihkan
62 Pengumuman
63 Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64 Bab 63. Lebih Dari Itu
65 Bab 64. Peringatan Ghara
66 Bab 65. Jenguk Zio
67 Bab 66. Rangga Frustasi
68 Bab 67. Mulai Sekolah
69 Bab 68. Tabrak Lari
70 New Novel
71 Bab 69. Kiko Berhasil
72 Bab 70. Menyesal
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1. Taruhan
2
Bab 2. Penggerebekan
3
Bab 3. Dipaksa Menikah
4
Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5
Bab 5. Tersipu
6
Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7
Bab 7. Panggilan
8
Bab 8. Salah Paham
9
Bab 9. Hukuman
10
Bab 10. Mulai Terperangkap
11
Bab 11. Namanya Juga Bocah
12
Bab 12. Sebuah Pesan
13
Bab 13. Minta Kerjaan
14
Bab 14. Your Favorit Flower
15
Bab 15. Balapan
16
Bab 16. Syarat
17
Bab 17. Dikeroyok
18
Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19
Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20
Bab 20. Mencari Tahu
21
Bab 21. Disandera
22
Bab 22. Kerja Tambahan
23
Bab 23. Minta Bantuan
24
Bab 24. Tidur Terpisah
25
Bab 25. Bencana
26
Bab 26. Terus Ditatap
27
Bab 27. Hari Minggu
28
Bab 28. Mengantar Belanja
29
Bab 29. Ke Rumah Zio
30
Bab 30. Durian Runtuh
31
Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32
Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33
Bab 33. Jauhin Amora!
34
Bab 34. Pertengkaran Hebat
35
Bab 35. Obat
36
Bab 36. Razia
37
Bab 37. Pertemuan Pertama
38
Bab 38. Putus!
39
Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40
Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41
Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42
Bab 42. Gosip Merajalela
43
Bab 43. Surat Peringatan
44
Bab 44. Balas Dendam
45
Bab 45. Cemburu
46
Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47
Bab 47. Minta Gaji
48
Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49
Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50
Bab 50. Kiko
51
Bab 51. Hadiah
52
Bab 52. Berdebat Lagi
53
Bab 53. Tetap Pergi
54
Bab 54. Kesepakatan
55
Bab 55. Suara Sirine
56
Bab 56. Kamu Jahat!
57
Bab 57. Kita Putus!
58
Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59
Bab 59. Memberi Pelajaran
60
Bab 60. Meminta Maaf
61
Bab 61. Merasa Disisihkan
62
Pengumuman
63
Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64
Bab 63. Lebih Dari Itu
65
Bab 64. Peringatan Ghara
66
Bab 65. Jenguk Zio
67
Bab 66. Rangga Frustasi
68
Bab 67. Mulai Sekolah
69
Bab 68. Tabrak Lari
70
New Novel
71
Bab 69. Kiko Berhasil
72
Bab 70. Menyesal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!