Bab 10. Mulai Terperangkap

Selesai mengajar di kelas XII IPS, Aura hendak kembali ke ruang guru. Namun, tiba-tiba Zio mendekatinya dan langsung mengambil alih pekerjaan si ketua kelas, yakni membawa buku yang sudah dikumpulkan untuk dia periksa.

"Biar gue aja, Rick," ujar Zio cepat, sebelum pemuda berkacamata itu buka suara. Dan semua penghuni kelas tentu tahu apa maksud tujuan Zio, pasti supaya bisa berdekatan dengan Aura.

"Kenapa gak dari kemaren aja, Zi, pas tugas Pak Haris?" timpal Erick dengan senyum mengejek.

"Beda vibes dong, Rick. Kalo deket Pak Haris hawanya suram, otak juga mendadak kagak jalan, beda kalo sama Bu Aura," balas Zio seraya melirik sang istri dengan senyum menggoda.

Tanpa berkata apapun, Aura yang sudah sangat jengah langsung melenggang keluar dari kelas Zio. Sementara pemuda itu mengekor di belakangnya, sepanjang langkah Zio terus tersenyum ke arah Tomy dan Mike, membuat ia tidak memperhatikan jalan.

Bruk!

"Aduh!" keluhnya setelah menabrak pintu, membuat tawa semua penghuni kelas meledak. Apalagi dua sahabat sablengnya.

"Ati-ati, Zi, jangan bokongg doang lu perhatiin, jalan juga!" seru Mike sambil terkekeh keras. Disusul Tomy yang geleng-geleng kepala, karena sepertinya Zio sedang berusaha untuk menaklukkan Aura.

Zio mengusap-usap pucuk hidungnya yang baru saja mencium pintu. Sial, ternyata cukup sakit hingga dia ingin mengumpat.

"Bacott lu, Mek!" seru Zio sambil mengacungkan jari tengah. Tak ingin ketinggalan, dia segera menyusul Aura yang sudah berjalan jauh.

"Bu Aurahhh, tunggu saya dong, Bu!" teriak Zio sambil berlari di lorong kelas. Namun, bukannya menuruti apa kata Zio, Aura justru mempercepat jalannya, agar tidak berbarengan dengan pemuda itu.

"Kayaknya bakal ada yang berjuang sampe titik darah penghabisan nih," celetuk Tomy.

"Bener, gue yakin Bu Aura gak bakal terima Si Kiko segampang itu," balas Mike. Seperti sejalan, otak keduanya sama-sama memikirkan nasib pernikahan Zio dan Aura, yang sepertinya akan lebih berwarna, karena diisi kesablengan yang hakiki oleh sang cucu buaya.

"Cabutlah, Bre!" ajak Tomy sebelum guru kedua masuk ke kelas mereka.

"Si Zio gimana?" balas Mike sambil mengikuti langkah Tomy.

"Dah ntar juga nyusul tuh bocah, kayak kagak tahu dia aja, masuk kalo ada maunya," cibir Tomy, padahal ketiganya sama saja. Tidak ada yang paling mending, karena mereka semua suka membuat orang berubah jadi sinting.

Sementara itu, di dalam ruang guru, Zio terus mengekor pada Aura yang memiliki meja di sudut ruangan. Ada sekat kecil di antara guru yang lain, membuat tatanan ruangan tersebut nampak lebih rapih.

"Taruh saja di situ, dan langsung keluar!" cetus Aura, tak ingin meladeni Zio yang tingkahnya sudah sangat nauzubillah.

"Gak mau flying kiss dulu?" tanya Zio setelah meletakkan buku.

Sontak saja hal tersebut membuat Aura langsung melihat sekitar, takut ada yang mendengar ucapan vulgard suami bocahnya.

Aura menarik lengan Zio agar lebih dekat, lalu dia bicara dengan nada berbisik-bisik, "Saya sudah bilang, Zio, jangan sampai sekolah tahu tentang hubungan kita. Apa kamu tidak paham apa yang saya katakan?!"

Zio melirik tangannya yang masih digenggam oleh sang istri, dia tersenyum lebar dan nampak menyebalkan sekali di mata Aura.

"Tapi dengan Ibu kayak gini, tanpa saya bicara pun pasti mereka curiga."

Melihat tatapan mata Zio, Aura langsung tersadar dan melepaskan genggaman tangannya. Astaga, bagaimana dia bisa khilaf secara mendadak?

"Kalo gitu kamu keluar, jangan ganggu saya lagi, oke?" bujuk Aura dengan emosi yang tertahan di dada. Semakin diladeni, nyatanya tingkah Zio semakin tak ada habisnya.

"Oke, saya keluar dulu. Semangat ya, Cantik. Inget, jangan senyum ke cowok lain, karena Bu Aura cuma punya saya," balas Zio sambil memperhatikan wajah Aura yang mulai tersipu.

Sebelum pergi dia mengambil sesuatu dari balik saku, lalu meninggalkannya di meja Aura. Satu permen dengan bungkus berwarna merah.

"Janji gak senyum pas baca tulisan di belakangnya," ucap Zio dengan lengkungan bibir yang begitu sempurna.

"Sudahlah jangan banyak tingkah!" balas Aura dengan ketus, lalu pura-pura tak memedulikan pemberian Zio. Dia duduk dan mengambil buku tugas yang baru saja dikumpulkan.

Sementara Zio hanya mengangkat satu alisnya ke atas, lalu melenggang pergi.

Setelah memastikan bahwa suaminya sudah keluar, Aura mulai melirik permen yang tergeletak di mejanya. Sial, dia malah penasaran sekarang.

"Sudahlah, Aura, itu semua hanya akal-akalan dia saja. Abaikan!" Otak wanita itu mungkin berkata demikian, tetapi tidak dengan nalurinya.

Karena dengan gerakan cepat Aura mengambil permen tersebut, lalu membaca sesuatu yang dilarang oleh Zio.

Blush!

Mendadak Aura salah tingkah, mulutnya menganga karena merasa tak percaya dengan perasaannya sendiri. Astaga, lihat dia jadi nampak seperti bocah remaja yang baru mengenal cinta.

Tanpa ia tahu, Zio mengintipnya dari balik jendela. Pemuda itu senyum-senyum tidak jelas, saat melihat Aura yang mulai terperangkap dalam rayuannya.

"Gue bilang juga apa? Kena 'kan sama pelet cucu buaya," kekeh pemuda itu.

***

Siapin obat jantung gih Bu😂

Terpopuler

Comments

Hasbi Asidiqi

Hasbi Asidiqi

suami bocah bu guru udah bikin dunia bu guru jungkir balik dan berwarna......😁

2024-02-15

0

Ta..h

Ta..h

mulai g normal nih detak jantungmu bu aura gara2 di gombalin suami cilik 🤩🤩🤩🤩.

2023-11-02

1

Anonim

Anonim

Cio...Cio....hidupmu penuh warna sekarang ya....😁😁😁

2023-09-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Taruhan
2 Bab 2. Penggerebekan
3 Bab 3. Dipaksa Menikah
4 Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5 Bab 5. Tersipu
6 Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7 Bab 7. Panggilan
8 Bab 8. Salah Paham
9 Bab 9. Hukuman
10 Bab 10. Mulai Terperangkap
11 Bab 11. Namanya Juga Bocah
12 Bab 12. Sebuah Pesan
13 Bab 13. Minta Kerjaan
14 Bab 14. Your Favorit Flower
15 Bab 15. Balapan
16 Bab 16. Syarat
17 Bab 17. Dikeroyok
18 Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19 Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20 Bab 20. Mencari Tahu
21 Bab 21. Disandera
22 Bab 22. Kerja Tambahan
23 Bab 23. Minta Bantuan
24 Bab 24. Tidur Terpisah
25 Bab 25. Bencana
26 Bab 26. Terus Ditatap
27 Bab 27. Hari Minggu
28 Bab 28. Mengantar Belanja
29 Bab 29. Ke Rumah Zio
30 Bab 30. Durian Runtuh
31 Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32 Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33 Bab 33. Jauhin Amora!
34 Bab 34. Pertengkaran Hebat
35 Bab 35. Obat
36 Bab 36. Razia
37 Bab 37. Pertemuan Pertama
38 Bab 38. Putus!
39 Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40 Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41 Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42 Bab 42. Gosip Merajalela
43 Bab 43. Surat Peringatan
44 Bab 44. Balas Dendam
45 Bab 45. Cemburu
46 Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47 Bab 47. Minta Gaji
48 Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49 Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50 Bab 50. Kiko
51 Bab 51. Hadiah
52 Bab 52. Berdebat Lagi
53 Bab 53. Tetap Pergi
54 Bab 54. Kesepakatan
55 Bab 55. Suara Sirine
56 Bab 56. Kamu Jahat!
57 Bab 57. Kita Putus!
58 Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59 Bab 59. Memberi Pelajaran
60 Bab 60. Meminta Maaf
61 Bab 61. Merasa Disisihkan
62 Pengumuman
63 Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64 Bab 63. Lebih Dari Itu
65 Bab 64. Peringatan Ghara
66 Bab 65. Jenguk Zio
67 Bab 66. Rangga Frustasi
68 Bab 67. Mulai Sekolah
69 Bab 68. Tabrak Lari
70 New Novel
71 Bab 69. Kiko Berhasil
72 Bab 70. Menyesal
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1. Taruhan
2
Bab 2. Penggerebekan
3
Bab 3. Dipaksa Menikah
4
Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5
Bab 5. Tersipu
6
Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7
Bab 7. Panggilan
8
Bab 8. Salah Paham
9
Bab 9. Hukuman
10
Bab 10. Mulai Terperangkap
11
Bab 11. Namanya Juga Bocah
12
Bab 12. Sebuah Pesan
13
Bab 13. Minta Kerjaan
14
Bab 14. Your Favorit Flower
15
Bab 15. Balapan
16
Bab 16. Syarat
17
Bab 17. Dikeroyok
18
Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19
Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20
Bab 20. Mencari Tahu
21
Bab 21. Disandera
22
Bab 22. Kerja Tambahan
23
Bab 23. Minta Bantuan
24
Bab 24. Tidur Terpisah
25
Bab 25. Bencana
26
Bab 26. Terus Ditatap
27
Bab 27. Hari Minggu
28
Bab 28. Mengantar Belanja
29
Bab 29. Ke Rumah Zio
30
Bab 30. Durian Runtuh
31
Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32
Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33
Bab 33. Jauhin Amora!
34
Bab 34. Pertengkaran Hebat
35
Bab 35. Obat
36
Bab 36. Razia
37
Bab 37. Pertemuan Pertama
38
Bab 38. Putus!
39
Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40
Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41
Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42
Bab 42. Gosip Merajalela
43
Bab 43. Surat Peringatan
44
Bab 44. Balas Dendam
45
Bab 45. Cemburu
46
Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47
Bab 47. Minta Gaji
48
Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49
Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50
Bab 50. Kiko
51
Bab 51. Hadiah
52
Bab 52. Berdebat Lagi
53
Bab 53. Tetap Pergi
54
Bab 54. Kesepakatan
55
Bab 55. Suara Sirine
56
Bab 56. Kamu Jahat!
57
Bab 57. Kita Putus!
58
Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59
Bab 59. Memberi Pelajaran
60
Bab 60. Meminta Maaf
61
Bab 61. Merasa Disisihkan
62
Pengumuman
63
Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64
Bab 63. Lebih Dari Itu
65
Bab 64. Peringatan Ghara
66
Bab 65. Jenguk Zio
67
Bab 66. Rangga Frustasi
68
Bab 67. Mulai Sekolah
69
Bab 68. Tabrak Lari
70
New Novel
71
Bab 69. Kiko Berhasil
72
Bab 70. Menyesal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!