Selesai mengajar di kelas XII IPS, Aura hendak kembali ke ruang guru. Namun, tiba-tiba Zio mendekatinya dan langsung mengambil alih pekerjaan si ketua kelas, yakni membawa buku yang sudah dikumpulkan untuk dia periksa.
"Biar gue aja, Rick," ujar Zio cepat, sebelum pemuda berkacamata itu buka suara. Dan semua penghuni kelas tentu tahu apa maksud tujuan Zio, pasti supaya bisa berdekatan dengan Aura.
"Kenapa gak dari kemaren aja, Zi, pas tugas Pak Haris?" timpal Erick dengan senyum mengejek.
"Beda vibes dong, Rick. Kalo deket Pak Haris hawanya suram, otak juga mendadak kagak jalan, beda kalo sama Bu Aura," balas Zio seraya melirik sang istri dengan senyum menggoda.
Tanpa berkata apapun, Aura yang sudah sangat jengah langsung melenggang keluar dari kelas Zio. Sementara pemuda itu mengekor di belakangnya, sepanjang langkah Zio terus tersenyum ke arah Tomy dan Mike, membuat ia tidak memperhatikan jalan.
Bruk!
"Aduh!" keluhnya setelah menabrak pintu, membuat tawa semua penghuni kelas meledak. Apalagi dua sahabat sablengnya.
"Ati-ati, Zi, jangan bokongg doang lu perhatiin, jalan juga!" seru Mike sambil terkekeh keras. Disusul Tomy yang geleng-geleng kepala, karena sepertinya Zio sedang berusaha untuk menaklukkan Aura.
Zio mengusap-usap pucuk hidungnya yang baru saja mencium pintu. Sial, ternyata cukup sakit hingga dia ingin mengumpat.
"Bacott lu, Mek!" seru Zio sambil mengacungkan jari tengah. Tak ingin ketinggalan, dia segera menyusul Aura yang sudah berjalan jauh.
"Bu Aurahhh, tunggu saya dong, Bu!" teriak Zio sambil berlari di lorong kelas. Namun, bukannya menuruti apa kata Zio, Aura justru mempercepat jalannya, agar tidak berbarengan dengan pemuda itu.
"Kayaknya bakal ada yang berjuang sampe titik darah penghabisan nih," celetuk Tomy.
"Bener, gue yakin Bu Aura gak bakal terima Si Kiko segampang itu," balas Mike. Seperti sejalan, otak keduanya sama-sama memikirkan nasib pernikahan Zio dan Aura, yang sepertinya akan lebih berwarna, karena diisi kesablengan yang hakiki oleh sang cucu buaya.
"Cabutlah, Bre!" ajak Tomy sebelum guru kedua masuk ke kelas mereka.
"Si Zio gimana?" balas Mike sambil mengikuti langkah Tomy.
"Dah ntar juga nyusul tuh bocah, kayak kagak tahu dia aja, masuk kalo ada maunya," cibir Tomy, padahal ketiganya sama saja. Tidak ada yang paling mending, karena mereka semua suka membuat orang berubah jadi sinting.
Sementara itu, di dalam ruang guru, Zio terus mengekor pada Aura yang memiliki meja di sudut ruangan. Ada sekat kecil di antara guru yang lain, membuat tatanan ruangan tersebut nampak lebih rapih.
"Taruh saja di situ, dan langsung keluar!" cetus Aura, tak ingin meladeni Zio yang tingkahnya sudah sangat nauzubillah.
"Gak mau flying kiss dulu?" tanya Zio setelah meletakkan buku.
Sontak saja hal tersebut membuat Aura langsung melihat sekitar, takut ada yang mendengar ucapan vulgard suami bocahnya.
Aura menarik lengan Zio agar lebih dekat, lalu dia bicara dengan nada berbisik-bisik, "Saya sudah bilang, Zio, jangan sampai sekolah tahu tentang hubungan kita. Apa kamu tidak paham apa yang saya katakan?!"
Zio melirik tangannya yang masih digenggam oleh sang istri, dia tersenyum lebar dan nampak menyebalkan sekali di mata Aura.
"Tapi dengan Ibu kayak gini, tanpa saya bicara pun pasti mereka curiga."
Melihat tatapan mata Zio, Aura langsung tersadar dan melepaskan genggaman tangannya. Astaga, bagaimana dia bisa khilaf secara mendadak?
"Kalo gitu kamu keluar, jangan ganggu saya lagi, oke?" bujuk Aura dengan emosi yang tertahan di dada. Semakin diladeni, nyatanya tingkah Zio semakin tak ada habisnya.
"Oke, saya keluar dulu. Semangat ya, Cantik. Inget, jangan senyum ke cowok lain, karena Bu Aura cuma punya saya," balas Zio sambil memperhatikan wajah Aura yang mulai tersipu.
Sebelum pergi dia mengambil sesuatu dari balik saku, lalu meninggalkannya di meja Aura. Satu permen dengan bungkus berwarna merah.
"Janji gak senyum pas baca tulisan di belakangnya," ucap Zio dengan lengkungan bibir yang begitu sempurna.
"Sudahlah jangan banyak tingkah!" balas Aura dengan ketus, lalu pura-pura tak memedulikan pemberian Zio. Dia duduk dan mengambil buku tugas yang baru saja dikumpulkan.
Sementara Zio hanya mengangkat satu alisnya ke atas, lalu melenggang pergi.
Setelah memastikan bahwa suaminya sudah keluar, Aura mulai melirik permen yang tergeletak di mejanya. Sial, dia malah penasaran sekarang.
"Sudahlah, Aura, itu semua hanya akal-akalan dia saja. Abaikan!" Otak wanita itu mungkin berkata demikian, tetapi tidak dengan nalurinya.
Karena dengan gerakan cepat Aura mengambil permen tersebut, lalu membaca sesuatu yang dilarang oleh Zio.
Blush!
Mendadak Aura salah tingkah, mulutnya menganga karena merasa tak percaya dengan perasaannya sendiri. Astaga, lihat dia jadi nampak seperti bocah remaja yang baru mengenal cinta.
Tanpa ia tahu, Zio mengintipnya dari balik jendela. Pemuda itu senyum-senyum tidak jelas, saat melihat Aura yang mulai terperangkap dalam rayuannya.
"Gue bilang juga apa? Kena 'kan sama pelet cucu buaya," kekeh pemuda itu.
***
Siapin obat jantung gih Bu😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Hasbi Asidiqi
suami bocah bu guru udah bikin dunia bu guru jungkir balik dan berwarna......😁
2024-02-15
0
Ta..h
mulai g normal nih detak jantungmu bu aura gara2 di gombalin suami cilik 🤩🤩🤩🤩.
2023-11-02
1
Anonim
Cio...Cio....hidupmu penuh warna sekarang ya....😁😁😁
2023-09-07
0