Setelah mandi di kamar yang lain, Aura pergi ke dapur untuk membantu sang ibu membuat sarapan. Saat itu Syanas tampak sedang mengiris bawang untuk membuat nasi goreng.
"Kamu udah ladenin suamimu?" tanya Syanas pada sang anak, ketika Aura baru saja berdiri di sebelahnya.
"Udah, Mah, lagian dia nggak bawa baju ganti, aku harus siapin apa coba? Palingan nanti dia pulang ke rumah orang tuanya dulu," jawab Aura apa adanya.
Syanas langsung mengangguk paham, lalu tiba-tiba dia merapatkan diri ke tubuh Aura, seolah ingin mengatakan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain.
"Aura, Mamah pesen ya, kalo lagi main suaranya jangan kenceng-kenceng. Kalo emang gak bisa ditahan, ya udah pasang peredam suara aja, kan malu ada Mamah dan Papah," bisik Syanas yang membuat mulut Aura menganga. Karena ia dan Rendra sempat mendengar suara teriakan Aura dan juga desaahan Zio yang memanggil-manggil nama istrinya.
Aura mengerutkan kening dan mendadak gagap. Karena sepertinya sang ibu sudah salah paham.
"Mah, aku nggak ngapa-ngapain kok. Jangan mikir yang enggak-enggak deh," protes wanita dengan tubuh semampai itu.
"Lho terus tadi suara siapa? Orang dari kamar kalian berdua kok, Papah juga denger, jadi Mamah nggak mungkin salah," cerocos Syanas, tak ingin sang putri menyangkal apa yang dia katakan. "Oh iya, kamu juga udah pake KB belum? Mamah khawatir kalian punya anak, tapi suami kamu malah masih sekolah. Jadi mending ditunda dulu deh."
Hah, niat hati ingin membantu, Aura malah merasa frustasi dengan semua pembicaraan ibunya. Kenapa semua orang mendadak menyebalkan, padahal dia sudah sangat lelah membahas hal yang sama dari kemarin.
"Mah, please, stop ya ngomongin aku sama Zio. Kita pasti pikirin yang terbaik kok," balas Aura dengan wajah jengah.
"Mamah hanya mengingatkan saja, Aura. Lagi pula suamimu itu kelihatannya masih bocah, apa yang seperti itu seleramu?"
"MAMAH ...." Aura menggeram, membuat Syanas langsung membungkam mulutnya. Kemarin dia mungkin akan diam saja, karena Aura masih tampak shock, tapi tidak dengan hari ini, dia harus berusaha menasihati sang yang baru saja sah menjadi seorang istri.
*
*
*
Satu keluarga itu sedang menikmati sarapan yang dibuat oleh Syanas. Namun, tak hanya ada suara dentingan alat makan saja, karena di sana Rendra buka suara untuk mengobrol dengan menantunya.
"Setelah ini apa rencanamu? Kamu kan sudah menjadi seorang suami, dan seorang suami tentu wajib memberi nafkah lahir dan batin untuk istrinya," ujar pria paruh baya itu yang terntunya tertuju pada Zio.
"Saya bakal minta kerjaan sama Daddy, Pah, buat ngehidupin Aura, jadi kalian tenang aja, meskipun Aura punya pendapatan sendiri, tapi saya bakal tetep kasih nafkah buat dia," jawab Zio seraya melirik sang istri yang fokus pada makanannya. Padahal wanita itu juga turut mendengarkan.
"Bagus itu, jadi saya nggak perlu khawatir buat ninggalin Aura di ibu kota, karena sudah ada kamu."
"Lagian aku juga bakal baik-baik aja kok, Pah, jadi nggak perlu berlebihan kayak gitu," timpal Aura, karena mau ada Zio atau tidak, kehidupannya tetap akan berjalan seperti biasa. Ya, mungkin hanya akan sedikit berbeda.
"Tetap saja, Papah dan Mamah akan selalu khawatir sama kamu, apalagi kamu ini anak gadis satu-satunya," cetus Rendra tak ingin mendengar kata protes.
"Kalo gitu kenapa Mamah dan Papah nggak tinggal di sini aja sama kita?" seru Zio tiba-tiba, membuat Aura langsung mendelik. Di bawah sana Aura mencubit paha Zio dengan keras, karena sudah bicara sembarangan.
"Aw, sakit, Sayang," keluhnya dengan panggilan yang menggelikan di telinga Aura.
"Makanya kamu kalo mau bicara itu dipikir dulu!" bisik Aura penuh penekanan. Sebab ia paham apa tujuan Zio, pasti semua itu agar mereka tetap bisa satu kamar. "Dan berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu!"
Rendra dan Syanas yang menonton perdebatan kecil itu lantas saling melirik satu sama lain.
"Mamah sih setuju kalo kita tinggal di sini, Pah, biarkan Alteza saja yang mengurus rumah di desa," celetuk Syanas dengan wajah sumringah. Teringat dengan si sulung, kakak Aura.
"Mamah, no!" tolak Aura mentah-mentah, sampai membuat Syanas terkejut.
"Suamimu sendiri yang menawarkan lho, Aura," ujar Syanas.
Aura menahan nafas, dari dia membuka mata sampai sekarang, kenapa tak ada sedikitpun ketenangan. Ada saja yang membuat dadanya meletup-letup.
"Mamah, suamiku—" Aura melirik ke arah Zio yang mulai tersenyum lebar, karena Aura memanggilnya dengan mesra. "Dia hanya asal bicara. Bukankah seseorang yang sudah menikah membutuhkan privasi? Aku yakin kalian akan sangat terganggu kalau kalian tinggal di sini."
Syanas dan Rendra langsung paham ke mana arah pembicaraan Aura. Sementara sang buaya cilik tampak menuntut penjelasan lebih dalam. Dia sudah membuka mulut hendak bicara, tetapi tatapan mata Aura seolah membungkamnya.
"Betul itu, Mah, nanti kita pulang saja, tidak baik ikut campur dengan masalah rumah tangga anak-anak," ujar Rendra, membuat Aura langsung menghela nafas lega. Sementara Zio dan Syanas kompak menunjukkan raut kecewa.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Dwi Setya Rini
aurrrahhh aurrrahhh oh aurrrahhh
2024-01-14
1
Ta..h
sabar ya zi lom saat nya belah duren 😂😂😂
2023-11-02
1
Tri Oktifatun
ya ampun ngakak mulu q baca novel kocak bgt 😆😆😆😆🤣🤣🤣🤣
2023-09-24
0