Aura hanya bisa tergugu ketika para warga meminta agar Zio menikahinya. Bagaimana bisa dia menerima keputusan tak berlandaskan itu, sementara ada sosok yang ia tunggu kepastiannya.
Jangan sampai kesalahpahaman ini menghancurkan semua impian yang sudah dia susun sejak lama. Menikah dengan Zio? Astaga salah dan dosa apa yang sudah Aura perbuat, hingga ia harus melewati ujian yang begitu berat.
"Bukti sudah di depan mata, jadi tunggu apalagi? Jangan sampai ada pasangan lain yang berbuat mesyum seenaknya hanya karena kita mudah memaafkan perbuatan bejatt mereka!" ucap pria yang baru saja memperlihatkan sebuah video pada Rendra. Sebuah bukti yang membuat Aura dan Zio tak bisa berkutik.
Seketika itu juga dada Rendra terasa sesak. Sebagai seorang ayah, tentu dia tidak terima jika anak perempuannya hanya dijadikan budak nafsuu, apalagi oleh muridnya sendiri. Dia melihat ke arah Zio yang senantiasa bergeming, sedari tadi pemuda itu tak melakukan pembelaan, karena ia yakin semua itu akan percuma, tidak akan ada yang percaya pada ucapan dia dan Aura.
"Hubungi keluargamu, suruh mereka segera menghadapku!" cetus Rendra yang membuat Zio mengangkat kepalanya.
Namun, bukan pemuda itu yang menjawab. Karena dengan cepat Aura menimpali ucapan ayahnya. "Papah mau apa?!"
Jangan sampai Rendra menyetujui ide warga. Sumpah demi apapun, dia tidak akan pernah setuju kalau harus menikah dengan Zio.
"Tentu saja membicarakan hubungan kalian berdua. Kamu pikir Papah akan diam saja? Kamu tinggal sendirian di kota, dan lihat, ketakutan Papah justru menjadi kenyataan," seru Rendra yang membuat para penggosip memasang telinga mereka dengan sangat tajam.
"Tapi, Pah. Ini semua cuma salah paham, aku tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Apalagi dengan—" Aura melirik ke arah Zio, ah, rasanya dia benar-benar ingin mengamuk sekarang.
"Sudahlah, kali ini Papah tidak bisa percaya begitu saja. Andai bukti itu tidak ada, mungkin Papah juga akan membelamu habis-habisan!" pungkas Rendra.
Namun, karena tak ingin menjadi bahan omongan, Rendra meminta semua orang untuk pergi dari rumah putrinya. Karena dia ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Hanya ditemani Pak RT sebagai perwakilan, Rendra menunggu orang tua Zio datang.
Aura semakin menangis kencang di pelukan sang ibu, Syanas. Sementara Zio berusaha menghubungi sang ayah, Alessandro. Pada dering pertama, telepon Zio diabaikan sehingga membuat dia berdecak kesal.
"Sibuk apaan sih nih PakBapak, gak tahu apa anaknya mau dikawinin secara paksa," gerutu Zio. Padahal di ujung sana Alessandro sedang duduk santai di meja kebesarannya. Dia sengaja mengabaikan telepon si bungsu, karena sudah pasti ada maunya.
"Bagaimana?" tanya Rendra membuat fokus Zio jadi teralihkan.
"Belom diangkat, Pak. Bentar saya usahain lagi," balas Zio. Kali ini dia menghubungi ibunya, berharap wanita paruh baya itu segera mengangkat panggilan darinya.
"Ayolah, jangan bikin gue kaya kambing congekk," gumam Zio dengan perasaan cemas. Belum lagi melihat tatapan mata Rendra yang sudah seperti ingin melahapnya hidup-hidup.
Seperti harapannya, Arabella yang sedang menikmati semangkuk mie instan segera menggeser ikon hijau di layar pintarnya.
"Kamu di mana, Sayang? Kok jam segini belum pulang, kejebak hujan ya?" tanya Arabella bertubi, meskipun kerap membuat ulah, tetapi sebagai ibu dia akan selalu mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Mom, ini lebih dari sekedar kejebak ujan. Daddy ke mana sih? Kenapa gak angkat telepon aku?" balas Zio dengan menggebu-gebu.
"Daddy di kantor dong, Cio. Memangnya kenapa, hem?" Ya, panggilan masa kecil itu hanya boleh dilontarkan oleh anggota keluarganya saja, selain itu jangan harap Zio akan menoleh.
Sebelum menjawab Zio menghela nafas lebih dulu. Dia juga sempat melirik ke arah Rendra, lalu berkata dengan jujur pada ibunya, "Mom, Zio mau dikawinin."
Uhuk!
Arabella langsung tersedak kuah mie, hingga membuat dia terbatuk-batuk. Detik selanjutnya wanita paruh baya itu membelalakan matanya karena terlalu terkejut, "Apa? Cio, kamu jangan bercanda!"
"Beneran, Mom, makanya cepet telepon Daddy. Nanti dijelasin di sini. Jangan lama-lama, ntar ekor buaya Zio keburu ilang, dicincang sama Bapaknya Bu Aura," cerocos Zio setengah merengek.
"Apa? Bu Aura?" tukas Arabella karena merasa tak asing dengan nama tersebut. Jantungnya dibuat terperanjat beberapa kali, karena informasi yang diberikan oleh putranya.
"Iya, Mom, itu yang body-nya kaya guitar spanyol."
Di saat-saat genting seperti ini Zio malah mengurusi bentuk tubuh Aura yang sangat proporsional. Sementara Arabella mendadak pusing, karena tak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi pada putra bungsunya.
Akhirnya setelah panggilan Zio terputus. Arabella langsung menghubungi suaminya. Tak butuh waktu lama panggilan itu sudah terhubung, karena Alessandro akan selalu memprioritaskan wanita itu.
"Kenapa, Mom? Bukannya Daddy baru transfer ya kemarin buat beli tas?" sapa Alessandro dengan suaranya yang terdengar lembut.
"Dad," lirih Arabella, sementara tatapannya terlihat sayu.
"Kenapa sih, Sayang? Kamu sakit?"
Arabella menggelengkan kepala seolah Alessandro dapat melihatnya. "Ada kabar buruk dari Cio." jawab wanita itu dengan pasrah.
"Hah sudah tidak aneh. Kenapa lagi dengan bocah itu? Dia buat masalah sama guru yang mana, Mom?" cerocos Alessandro berpikir sang anak ada masalah di sekolah.
"Cio buat masalah sama Bu Aura, Dad."
"Ya sudah, nanti biar Daddy ke sekolah. Mommy tidak perlu memikirkannya."
"Bukan."
Alessandro langsung mengeryit heran, "Bukan apanya, Mom?"
"Bukan di sekolah, tapi di rumah Bu Aura. Mereka dipaksa menikah oleh warga."
"WHAT? MENIKAH?"
DUAR!
Bagai disambar petir di siang bolong, Alessandro merasa sangat terkejut mendengar berita bahwa putra bungsunya yang masih duduk di kelas XII SMA dipaksa menikahi gurunya.
Dada pria itu terasa sesak hingga membuatnya terengah-engah. "Ampun gue mah ... punya anak kok hobi-nya buat masalah, gak yang gede gak yang kecil, dua-duanya sama. Seneng banget nyiksa bapaknya." Gerutu Alessandro yang saat itu didengar oleh sahabat sekaligus asistennya.
"Kenapa lagi sih, Al?" tanya Boby yang saat itu baru masuk, setelah membuat segelas kopi hitam.
Alessandro memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Tak dapat dibayangkan apa yang sudah menimpa Zio dan Aura. Karena tiba-tiba digrebek para warga.
"Si bontot bikin ulah?" tebak Boby yang membuat Alessandro mendesaahkan nafas kasar.
"Gue cabut dulu deh, Bab. Mau ngunduh mantu," ujar Alessandro seraya berjalan menuju pintu, melewati meja Boby yang memang letaknya tak jauh dari benda persegi panjang itu.
Kening Boby mengernyit, karena ia memang tak sempat mendengar percakapan Alessandro dengan istrinya, "Ngunduh mantu? Siape yang kawin? Si Ghara mau poligami?"
Mendengar itu sontak saja Alessandro langsung menghentikan langkah dan memicingkan mata ke arah sahabatnya, "Gue lakban mulut lu ya, Bab, ngomong sembarangan."
"Padahal gue cuma nanya lho, Al," seru Boby tak terima disalahkan begitu saja. Karena rasanya tidak mungkin kalau Zio yang akan menikah, pemuda itu kan belum lulus sekolah.
Alessandro menyugar rambutnya yang sudah mulai memutih. Dengan tampang frustasi dia berkata, "Buaya cilik lepas dari kandangnya."
Persis seperti reaksi Alessandro, Boby pun tampak terperangah, karena tanpa menyebutkan nama sudah tentu ia tahu siapa yang Alessandro maksud. "Kok bisa, Al? Gimana ceritanya, Zio buntingin anak siapa?" Tanya Boby bertubi-tubi, tetapi tak ada satu pun yang dijawab karena detik selanjutnya Alessandro sudah keluar dari ruangannya untuk pergi ke rumah Aura.
Dia tak sendiri, karena sebelumnya dia sudah janjian dengan Arabella. Hingga kini kedua orang itu tiba di kediaman Aura, yang dikenal sebagai guru bahasa di sekolah putra mereka.
Pertemuan antar kedua orang tua itu, membuat kepala Aura terasa ingin meledak. Karena dengan begitu mudahnya Rendra memutuskan bahwa Zio harus menikahinya. Padahal mereka tidak pernah melakukan apa-apa.
Impian Aura untuk bisa bersama dengan pria pujaannya benar-benar harus pupus, karena tepat hari ini juga pernikahan tak berlandaskan cinta itu dilangsungkan.
"Jadi nikah nih?" tanya Zio dengan tampang cengo. Dia benar-benar tak menyangka, kalau akhirnya dia harus menikahi Aura, sang guru yang menjadi primadona di sekolah.
"Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Saya tidak mau, kalau sampai Aura dicap sebagai wanita nakal, hanya gara-gara bujuk rayuan kamu. Masih muda, kamu ini sudah pintar main sama wanita dewasa," ceplos Rendra yang membuat Alessandro dan Arabella saling pandang.
Mereka benar-benar sangat malu dengan kelakuan Zio. Namun, ada benarnya juga kalau pemuda itu dinikahkan. Karena dengan begitu Zio akan mengerti bagaimana poros kehidupan.
Meski sama seperti pernikahan putra sulung mereka yang harus disembunyikan terlebih dahulu karena memiliki beberapa alasan.
Mereka yakin, bersama Aura pemuda itu akan berubah.
"Pah, apakah semuanya benar-benar tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik?" tanya Aura sekali lagi, sudah tak tahu harus bagaimana dia menyikapi kejadian ini.
"Bukankah semua ini juga kita lakukan untuk kebaikan? Terlebih kebaikanmu, karena seorang wanita harus memiliki harkat dan martabat! Apalagi dengan statusmu sebagai pendidik, apakah pantas kamu memiliki skandal seperti itu?" tegas Rendra yang seolah tak bisa dibantah.
Aura tak dapat menimpali ucapan ayahnya. Kali ini dia hanya bisa pasrah, saat akhirnya Zio benar-benar mengucapkan janji suci di depan semua orang yang menyaksikan pernikahan dadakan itu.
"Ke depannya saya tidak mau mendengar kalau kamu kabur dan lari dari tanggung jawabmu. Kalau sampai itu terjadi, saya sendiri yang akan menyeretmu kembali dan mencincang habis masa depanmu!" tukas Rendra, tak ingin Zio menyakiti, apalagi meninggalkan putrinya.
Tak hanya Zio yang merasa merinding, ternyata Alessandro juga ikut ketar-ketir dengan ancaman besannya.
"Saya akan mengingatkan dia tentang itu semua, Tuan Rendra, anda tenang saja," timpal Alessandro yang sedari tadi lebih banyak diam. Karena posisi Zio memang tak pernah bisa mendapat pembelaan.
Namun, bukannya lekas memikirkan apa saja yang harus dia lakukan setelah menjadi seorang suami. Zio malah senyam-senyum, lalu melontarkan sebuah pertanyaan dengan wajah tanpa dosa, "Tapi saya sama Bu Aura udah boleh itu kan ...."
Paham ke mana arah pembicaraan Zio, Aura lantas mendelikkan matanya. Dia pastikan bahwa tidak akan pernah ada kontak fisik, selama pernikahan mereka berjalan.
Jangan sampai dia menyentuhku! Batin Aura dengan sungguh-sungguh.
***
Revisi ya gaes🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Buaya blm lepas Dadd...Msh aman, situasi dan kondisi aja yg bikin suasana jd kacau..itupun krn ulah anak2 sahabatmu..
2024-01-07
1
Alexandra Juliana
Angkat tlp dr anakmu Ale-Ale....dia digerebek akibat laporan dari anak2 sahabatmu, dan dia akan dinikahkan paksa..
2024-01-07
1
Ta..h
😂😂😂😂 aduh cioooooo ampun inget nya yang enak2 nya aja kamu ya.
2023-11-02
1