Belum sempat Zio bangun dari tubuh Aura, pintu sudah didobrak oleh para warga, membuat jantung keduanya berdebar dengan keras. Bahkan secara reflek Aura berteriak, karena segerombolan orang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.
"Astaga, kalian ini benar-benar memalukan!" cetus salah satu dari mereka, membuat Zio dan Aura menganga. Sontak saja Zio yang saat itu hanya memakai celana sekolah segera bangkit, sementara Aura terduduk di lantai, masih syok dengan situasi yang sedang terjadi.
"Heh, ini ada apaan sih? Maen dobrak-dobrak rumah orang, dasar gak sopan!" cetus Zio dengan alis yang bertautan. Dia melihat ke arah Aura yang tampak kebingungan, sedangkan yang lain seolah tak mau tahu, karena bukti sudah ada di depan mata.
Melihat Zio yang tidak memakai baju, dan penampilan Aura yang berantakan sudah dipastikan dua sejoli itu habis melakukan sesuatu. Apalagi ditambah cuaca yang sedang mendukung, pasti hasrat mereka mudah naik ke puncak ubun-ubun.
"Harusnya kami yang tanya, kalian ini sedang apa? Berduaan di dalam rumah dengan pakaian seperti ini, kalian pasti sedang berbuat mesyum 'kan?" tuding seorang wanita yang memang hobinya menggosip. Dan tentunya pernyataan tersebut mendapat dukungan dari yang lain.
"Iya bahkan sebelum kami, dua pemuda yang sepertinya muridmu sudah mengetahuinya lebih dulu. Kamu ini benar-benar memalukan, Aura. Guru macam apa kamu?" cerca yang lain. Sementara dua pelaku yang sudah memprovokasi para warga sudah kabur dengan gelak tawa.
Mereka tak tahu bahwa kejahilan itu akan berbuntut panjang, karena kini warga semakin berdatangan. Tak peduli meski gerimis masih melanda, jiwa kepo mereka lebih tinggi dengan berita yang sedang panas-panasnya.
Mendengar itu bukan hanya terkejut, tetapi Aura langsung marah karena dituduh melakukan hal yang menurunkan harga dirinya. Apalagi dengan profesinya sebagai seorang pendidik, sungguh dia merasa terhina.
"Ibu jangan asal bicara!" ketus Aura yang saat itu sudah berdiri di samping Zio. Sementara pemuda itu sedang berpikir siapa dua orang yang telah mengerjai dia dan Aura.
Seketika rahang Zio mengeras.
"Si anjinggg Tomy, Mekiii!" teriak Zio dengan begitu lantang, dia hendak keluar untuk menghampiri dua sahabatnya, karena dia sangat yakin dua setan itu yang telah membuat para warga menjadi salah paham.
Namun, Zio yang baru saja berjalan beberapa langkah langsung ditahan oleh para pria yang ada di sana. Dan mendengar bahasa Zio yang begitu kasar, mereka sudah bisa menebak bahwa pemuda ini adalah bocah berandal. Hobi celap-celup tanpa berpikir resiko apa yang akan didapatkan.
"Tanggung jawab dulu, jangan main kabur-kabur aja kamu!" tukas seorang pria, membuat Zio menahan kekesalannya. Dia mengepalkan tangan dengan dada yang bergemuruh hebat. Andai Tomy dan Mike ada di depannya, jangan harap kedua pemuda itu selamat dari amukannya.
Setan lu bedua! Umpat Zio di dalam hatinya.
"Pak, Bu, kami tidak melakukan apa-apa. Saya berani bersumpah, dia hanya mengantarkan saya karena saya tidak membawa mobil," ujar Aura dengan menggebu-gebu. Namun, satu kancing yang terlepas dari kemejanya akibat tarikan Zio sebelum terjatuh, membuat mereka semakin tak bisa percaya.
"Sudahlah, Bu Aura tinggal mengaku saja apa susahnya. Dari pada nanti aib Ibu disebarin di sosial media."
"Kenapa kalian tidak bisa percaya padaku? Apakah hanya karena kalian melihat kami berada dalam satu rumah lantas kalian bisa berpikir dan menuduh kami dengan tuduhan yang menjijikan?"
Aura nampak frutasi, apalagi saat melihat Zio tak memberikan pembelaan pada dirinya. Dengan geram dia menabok lengan Zio dengan begitu keras.
PLAK!
"Ayo katakan kalau kita tidak melakukan apa-apa! Kenapa kamu hanya diam saja?" teriak Aura dengan bola mata yang sudah memerah. Dia tidak mau citranya buruk hanya gara-gara berita omong kosong ini. Sumpah demi apapun, sekarang dia menyesal karena mengambil keputusan untuk pulang bersama Zio.
"Gini aja deh, sekarang kalian mau apa? Kalo pun gue sama Bu Aura sawadikap skidipapap gak ngerugiin kalian juga 'kan?" cetus Zio yang membuat mulut semua orang menganga, termasuk Aura.
Tanpa segan Aura langsung memukul kembali lengannya dan berteriak sekencamg-kencang mungkin. "ZIOOO!!!" Sumpah serapah rasanya ingin Aura luapkan, tetapi dia masih sadar apa profesinya sekarang.
"Ya walaupun itu semua tidak merugikan kita secara material. Tapi kalian tidak bisa dijadikan contoh yang baik, apalagi Bu Aura ini adalah seorang guru dan kamu muridnya, kalau mau gitu-gituan ya udah nikah, jangan bisanya cuma nyangkul, tapi tidak mau bertanggung jawab," timpal si ibu yang sudah gatal ingin bicara.
"Betul itu, kita juga sudah panggilkan Pak RT, supaya kasus seperti ini ditindak lanjuti!" seru yang lain.
Dan yang membuat Aura sesak nafas adalah saat keluarganya tiba-tiba datang, dengan sambutan yang benar-benar memalukan.
"Ada apa ini?" tanya Rendra, ayah Aura. Melihat putrinya yang berantakan dan juga pemuda yang bertelanjangg dada.
***
Sabar sabar, mulut Zio ini memang kudu dilakban 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ika_Kartika ❤️
nah loh tambah runyam gak tuh masalah'a 🤭
2024-07-10
0
Ika_Kartika ❤️
Ya Allah nih bocah mulut'a bener" bisa"a ngmg kayak gitu d saat suasana lagi genting"a ... dasar cucu buaya rawa 🤣🤣
2024-07-10
0
Ika_Kartika ❤️
yg mereka lihat gak kayak gitu Bu guru jd penjelasan anda gak mungkin bisa d terima dengan mudah 😁
2024-07-10
0