Bab 2. Penggerebekan

Belum sempat Zio bangun dari tubuh Aura, pintu sudah didobrak oleh para warga, membuat jantung keduanya berdebar dengan keras. Bahkan secara reflek Aura berteriak, karena segerombolan orang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya.

"Astaga, kalian ini benar-benar memalukan!" cetus salah satu dari mereka, membuat Zio dan Aura menganga. Sontak saja Zio yang saat itu hanya memakai celana sekolah segera bangkit, sementara Aura terduduk di lantai, masih syok dengan situasi yang sedang terjadi.

"Heh, ini ada apaan sih? Maen dobrak-dobrak rumah orang, dasar gak sopan!" cetus Zio dengan alis yang bertautan. Dia melihat ke arah Aura yang tampak kebingungan, sedangkan yang lain seolah tak mau tahu, karena bukti sudah ada di depan mata.

Melihat Zio yang tidak memakai baju, dan penampilan Aura yang berantakan sudah dipastikan dua sejoli itu habis melakukan sesuatu. Apalagi ditambah cuaca yang sedang mendukung, pasti hasrat mereka mudah naik ke puncak ubun-ubun.

"Harusnya kami yang tanya, kalian ini sedang apa? Berduaan di dalam rumah dengan pakaian seperti ini, kalian pasti sedang berbuat mesyum 'kan?" tuding seorang wanita yang memang hobinya menggosip. Dan tentunya pernyataan tersebut mendapat dukungan dari yang lain.

"Iya bahkan sebelum kami, dua pemuda yang sepertinya muridmu sudah mengetahuinya lebih dulu. Kamu ini benar-benar memalukan, Aura. Guru macam apa kamu?" cerca yang lain. Sementara dua pelaku yang sudah memprovokasi para warga sudah kabur dengan gelak tawa.

Mereka tak tahu bahwa kejahilan itu akan berbuntut panjang, karena kini warga semakin berdatangan. Tak peduli meski gerimis masih melanda, jiwa kepo mereka lebih tinggi dengan berita yang sedang panas-panasnya.

Mendengar itu bukan hanya terkejut, tetapi Aura langsung marah karena dituduh melakukan hal yang menurunkan harga dirinya. Apalagi dengan profesinya sebagai seorang pendidik, sungguh dia merasa terhina.

"Ibu jangan asal bicara!" ketus Aura yang saat itu sudah berdiri di samping Zio. Sementara pemuda itu sedang berpikir siapa dua orang yang telah mengerjai dia dan Aura.

Seketika rahang Zio mengeras.

"Si anjinggg Tomy, Mekiii!" teriak Zio dengan begitu lantang, dia hendak keluar untuk menghampiri dua sahabatnya, karena dia sangat yakin dua setan itu yang telah membuat para warga menjadi salah paham.

Namun, Zio yang baru saja berjalan beberapa langkah langsung ditahan oleh para pria yang ada di sana. Dan mendengar bahasa Zio yang begitu kasar, mereka sudah bisa menebak bahwa pemuda ini adalah bocah berandal. Hobi celap-celup tanpa berpikir resiko apa yang akan didapatkan.

"Tanggung jawab dulu, jangan main kabur-kabur aja kamu!" tukas seorang pria, membuat Zio menahan kekesalannya. Dia mengepalkan tangan dengan dada yang bergemuruh hebat. Andai Tomy dan Mike ada di depannya, jangan harap kedua pemuda itu selamat dari amukannya.

Setan lu bedua! Umpat Zio di dalam hatinya.

"Pak, Bu, kami tidak melakukan apa-apa. Saya berani bersumpah, dia hanya mengantarkan saya karena saya tidak membawa mobil," ujar Aura dengan menggebu-gebu. Namun, satu kancing yang terlepas dari kemejanya akibat tarikan Zio sebelum terjatuh, membuat mereka semakin tak bisa percaya.

"Sudahlah, Bu Aura tinggal mengaku saja apa susahnya. Dari pada nanti aib Ibu disebarin di sosial media."

"Kenapa kalian tidak bisa percaya padaku? Apakah hanya karena kalian melihat kami berada dalam satu rumah lantas kalian bisa berpikir dan menuduh kami dengan tuduhan yang menjijikan?"

Aura nampak frutasi, apalagi saat melihat Zio tak memberikan pembelaan pada dirinya. Dengan geram dia menabok lengan Zio dengan begitu keras.

PLAK!

"Ayo katakan kalau kita tidak melakukan apa-apa! Kenapa kamu hanya diam saja?" teriak Aura dengan bola mata yang sudah memerah. Dia tidak mau citranya buruk hanya gara-gara berita omong kosong ini. Sumpah demi apapun, sekarang dia menyesal karena mengambil keputusan untuk pulang bersama Zio.

"Gini aja deh, sekarang kalian mau apa? Kalo pun gue sama Bu Aura sawadikap skidipapap gak ngerugiin kalian juga 'kan?" cetus Zio yang membuat mulut semua orang menganga, termasuk Aura.

Tanpa segan Aura langsung memukul kembali lengannya dan berteriak sekencamg-kencang mungkin. "ZIOOO!!!" Sumpah serapah rasanya ingin Aura luapkan, tetapi dia masih sadar apa profesinya sekarang.

"Ya walaupun itu semua tidak merugikan kita secara material. Tapi kalian tidak bisa dijadikan contoh yang baik, apalagi Bu Aura ini adalah seorang guru dan kamu muridnya, kalau mau gitu-gituan ya udah nikah, jangan bisanya cuma nyangkul, tapi tidak mau bertanggung jawab," timpal si ibu yang sudah gatal ingin bicara.

"Betul itu, kita juga sudah panggilkan Pak RT, supaya kasus seperti ini ditindak lanjuti!" seru yang lain.

Dan yang membuat Aura sesak nafas adalah saat keluarganya tiba-tiba datang, dengan sambutan yang benar-benar memalukan.

"Ada apa ini?" tanya Rendra, ayah Aura. Melihat putrinya yang berantakan dan juga pemuda yang bertelanjangg dada.

***

Sabar sabar, mulut Zio ini memang kudu dilakban 🤣🤣🤣

Terpopuler

Comments

Ika_Kartika ❤️

Ika_Kartika ❤️

nah loh tambah runyam gak tuh masalah'a 🤭

2024-07-10

0

Ika_Kartika ❤️

Ika_Kartika ❤️

Ya Allah nih bocah mulut'a bener" bisa"a ngmg kayak gitu d saat suasana lagi genting"a ... dasar cucu buaya rawa 🤣🤣

2024-07-10

0

Ika_Kartika ❤️

Ika_Kartika ❤️

yg mereka lihat gak kayak gitu Bu guru jd penjelasan anda gak mungkin bisa d terima dengan mudah 😁

2024-07-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Taruhan
2 Bab 2. Penggerebekan
3 Bab 3. Dipaksa Menikah
4 Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5 Bab 5. Tersipu
6 Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7 Bab 7. Panggilan
8 Bab 8. Salah Paham
9 Bab 9. Hukuman
10 Bab 10. Mulai Terperangkap
11 Bab 11. Namanya Juga Bocah
12 Bab 12. Sebuah Pesan
13 Bab 13. Minta Kerjaan
14 Bab 14. Your Favorit Flower
15 Bab 15. Balapan
16 Bab 16. Syarat
17 Bab 17. Dikeroyok
18 Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19 Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20 Bab 20. Mencari Tahu
21 Bab 21. Disandera
22 Bab 22. Kerja Tambahan
23 Bab 23. Minta Bantuan
24 Bab 24. Tidur Terpisah
25 Bab 25. Bencana
26 Bab 26. Terus Ditatap
27 Bab 27. Hari Minggu
28 Bab 28. Mengantar Belanja
29 Bab 29. Ke Rumah Zio
30 Bab 30. Durian Runtuh
31 Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32 Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33 Bab 33. Jauhin Amora!
34 Bab 34. Pertengkaran Hebat
35 Bab 35. Obat
36 Bab 36. Razia
37 Bab 37. Pertemuan Pertama
38 Bab 38. Putus!
39 Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40 Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41 Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42 Bab 42. Gosip Merajalela
43 Bab 43. Surat Peringatan
44 Bab 44. Balas Dendam
45 Bab 45. Cemburu
46 Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47 Bab 47. Minta Gaji
48 Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49 Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50 Bab 50. Kiko
51 Bab 51. Hadiah
52 Bab 52. Berdebat Lagi
53 Bab 53. Tetap Pergi
54 Bab 54. Kesepakatan
55 Bab 55. Suara Sirine
56 Bab 56. Kamu Jahat!
57 Bab 57. Kita Putus!
58 Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59 Bab 59. Memberi Pelajaran
60 Bab 60. Meminta Maaf
61 Bab 61. Merasa Disisihkan
62 Pengumuman
63 Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64 Bab 63. Lebih Dari Itu
65 Bab 64. Peringatan Ghara
66 Bab 65. Jenguk Zio
67 Bab 66. Rangga Frustasi
68 Bab 67. Mulai Sekolah
69 Bab 68. Tabrak Lari
70 New Novel
71 Bab 69. Kiko Berhasil
72 Bab 70. Menyesal
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Bab 1. Taruhan
2
Bab 2. Penggerebekan
3
Bab 3. Dipaksa Menikah
4
Bab 4. Melabrak Dua Sahabat
5
Bab 5. Tersipu
6
Bab 6. Saya Bakal Paksa Ibu
7
Bab 7. Panggilan
8
Bab 8. Salah Paham
9
Bab 9. Hukuman
10
Bab 10. Mulai Terperangkap
11
Bab 11. Namanya Juga Bocah
12
Bab 12. Sebuah Pesan
13
Bab 13. Minta Kerjaan
14
Bab 14. Your Favorit Flower
15
Bab 15. Balapan
16
Bab 16. Syarat
17
Bab 17. Dikeroyok
18
Bab 18. Stop Pake Panggilan Saya
19
Bab 19. Lagi-lagi Dihukum
20
Bab 20. Mencari Tahu
21
Bab 21. Disandera
22
Bab 22. Kerja Tambahan
23
Bab 23. Minta Bantuan
24
Bab 24. Tidur Terpisah
25
Bab 25. Bencana
26
Bab 26. Terus Ditatap
27
Bab 27. Hari Minggu
28
Bab 28. Mengantar Belanja
29
Bab 29. Ke Rumah Zio
30
Bab 30. Durian Runtuh
31
Bab 31. Jangan Nguji Aku Terus, Ra!
32
Bab 32. Kamu Pantas Mendapatkannya
33
Bab 33. Jauhin Amora!
34
Bab 34. Pertengkaran Hebat
35
Bab 35. Obat
36
Bab 36. Razia
37
Bab 37. Pertemuan Pertama
38
Bab 38. Putus!
39
Bab 39. Kecupan Dan Pelukan
40
Bab 40. Tolongin Istri Saya!
41
Bab 41. Bukan Pada Gadis Lain
42
Bab 42. Gosip Merajalela
43
Bab 43. Surat Peringatan
44
Bab 44. Balas Dendam
45
Bab 45. Cemburu
46
Bab 46. Aku Berubah Pikiran
47
Bab 47. Minta Gaji
48
Bab 48. Makan Malam Dengan Rangga
49
Bab 49. Aku Pengen Kamu Percaya
50
Bab 50. Kiko
51
Bab 51. Hadiah
52
Bab 52. Berdebat Lagi
53
Bab 53. Tetap Pergi
54
Bab 54. Kesepakatan
55
Bab 55. Suara Sirine
56
Bab 56. Kamu Jahat!
57
Bab 57. Kita Putus!
58
Bab 58. Kamu Nggak Sayang Aku!
59
Bab 59. Memberi Pelajaran
60
Bab 60. Meminta Maaf
61
Bab 61. Merasa Disisihkan
62
Pengumuman
63
Bab 62. Menguapkan Rasa Kesal
64
Bab 63. Lebih Dari Itu
65
Bab 64. Peringatan Ghara
66
Bab 65. Jenguk Zio
67
Bab 66. Rangga Frustasi
68
Bab 67. Mulai Sekolah
69
Bab 68. Tabrak Lari
70
New Novel
71
Bab 69. Kiko Berhasil
72
Bab 70. Menyesal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!