Reyn dan Rose keluar dari kamar pengantin setelah mandi dan berpakaian rapi. Di meja makan semua sudah menunggu pengantin baru itu untuk santap siang bersama.
Semua pasang mata mengawasi keduanya dari ujung rambut sampai keujung kaki dengan senyuman penuh arti.
"Apa'an sih senyum-senyum aneh begitu," ucap Rose yang merasa terganggu melihat semua orang dimeja makan saling sikut menyikut satu sama lain menatap ke arahnya dan Reyn.
Reyn, laki-laki itu kembali pada mode biasanya, datar, dan tak perduli pada apapun disekitarnya. Ia menarik kursi untuk Rose dan mempersilahkan isteri kecilnya itu duduk disana sebelum menyiapkan kursi untuk dirinya sendiri.
"Yang sama-sama mandi keramas, ehem! Sepertinya melewatkan malam--," celetuk Norsa menggoda, namun segera dipotong oleh ibunya.
"Norsa! Kau itu masih kecil, belum pantas berkomentar pada orang yang sudah menikah! Diem! Apalagi suami sepupumu itu juga gurumu," omel Jurima pada putrinya dengan suara menekan.
"I-iya Bu, maaf," ucap Norsa malu dan salah tingkah sendiri, ia diam-diam melirik wajah datar Reyn sekilas dan tidak berani bersuara lagi.
"Kok sarapan paginya berat semua sih Bun?" gadis itu melihat kearah ibunya sejenak.
"Rose 'kan pengennya teh panas sama roti selai keju aja," pandangannya menyapu semua hidangan diatas meja, tidak ada teh panas disana apalagi sepotong roti yang ia cari sejak tadi.
Alih-alih memberi jawaban, Marlina ibu Rose dan Sarina ibu Reyn malah saling berpandangan lalu kembali tersenyum penuh arti, begitu pula dengan semua keluarga besar yang hadir di meja makan itu.
"Reyn, Mama rasanya tidak percaya kalau kau mampu membuat Rose sampai lupa waktu hanya dalam tempo semalam," Sarina tersenyum senang, membayangkan sesuatu sudah terjadi pada putranya dan Rose.dimalam pengantin mereka.
Awalnya, dirinya cukup khawatir karena putranya itu sempat menolak perjodohan, karena tidak mau menikahi muridnya sendiri. Begitu pula Rose, kesan gadis itu selalu buruk bila berbicara tentang Reyn, gurunya yang ia cap sebagai guru killer disekolahnya.
"Itu baru malam pertama Ma. Masih akan ada banyak kejutan dimalam-malam berikutnya," sahut Reyn malah menjadi, sontak saja suasana makan siang keluarga besar itu menjadi riuh mendengar ucapan Reyn yang tidak biasanya bercanda.
Rose yang kurang memahami makna pembicaraan ibu metuanya dan suaminya, memandang Reyn disebelahnya yang tengah sibuk mengambil nasi, memasukannya kedalam piring beserta sayuran dan lauknya.
"Ini makan siangmu muridku, kita berdua sudah melewatkan sarapan pagi karena bangun kesiangan. Gurumu ini akan mengajarkan banyak hal padamu hari ini, persiapkan energimu dengan baik," Reyn meletakan piring yang baru ia isi dihadapan Rose dengan senyum tersampir dibibirnya.
"Apa!? Ini sudah siang?" kaget Rose tidak percaya.
"Iya Sayang. Ayo buruan makan, kita sudah terlambat pulang hari ini," Reyn memberi tatapan lembutnya.
"Ciie, ciyeeee yang dipanggil sayang," Kompak Bram dan Shasa sambil tertawa riuh.
"Sayang? Dia panggil aku sayang," wajah Rose seketika merona.
"Terima kasih," Rose buru-buru menunduk dan menyuapkan makanannya, tak ingin semua orang dimeja makan itu tahu bila saat ini ia sedang salah tingkah mendapat panggilan manis dari Reyn, tentu para sepupunya itu akan terus meledeknya.
"Wuah, Norsa juga mau dipanggil Sayang pak Reyn!" tanpa sadar Norsa bersuara lagi sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya, hatinya menghangat dan terbuai melihat sikap manis gurunya itu pada sepupunya tanpa malu-malu dihadapan semua keluarga besar mereka.
"Hush! Sadar Norsa, gurumu itu mengatakannya pada isterinya bukan padamu," Jurima kembali menegur putrinya agar sadar dari khayalannya.
"Kalau melihat Reyn bersikap seperti ini pada isterinya, Papa rasanya pengen kembali muda Ma," Haswan, ayah Reyn terkekeh memandang isterinya lalu disambut tawa oleh semua orang yang ada dimeja makan.
"Sepertnya kita sama pak Haswan, saya juga ingin menolak tua," Martin, ayah Rose tidak mau kalah, ikut berkomentar ditengah-tengah riuhnya tawa pada acara makan siang mereka.
Rona merah pada belahan pipi Rose makin menjadi, rasa malu tidak bisa ia sembunyikan ketika dirinya dan Reyn menjadi pusat perbincangan siang itu.
Berbeda dengan Reyn, laki-laki itu seperti biasanya kembali bersikap datar, apapun ledekan dan guyonan yang mengarah padanya dan Rose ditanggapi hanya dengan senyuman tipis diujung bibirnya yang hampir-hampir tidak terlihat, senyumnya memang mahal, seharga bongkahan berlian.🤭🤭
...🍓🍓🍓...
"Hati-hati ya Sayang," Marlina memeluk Rose erat, siang itu ia harus rela melepaskan putrinya itu pergi dan tinggal bersama Reyn, untuk memulai rumah tangga barunya.
"Bunda nggak mau ikut?" Rose menatap ibunya penuh harap, ingin sekali ia menangis karena tidak pernah berpisah dengan kedua orang tuanya dan juga Bram kakak kandungnya yang sangat memanjakannya.
"Bunda harus membereskan beberapa barang di villa ini pasca pernikahan kalian bersama Mama Sarina-mu, mungkin minggu depan kami akan berkunjung kerumah kalian," ucap Marlina menahan kesedihannya. Biar bagaimanapun, seorang ibu pastinya akan merasa berat bila melepaskan putri kesayangannya.
"Ingat pesan Bunda, jadilah isteri yang baik, dan jaga nama baik suamimu. Lakukanlah tugasmu sebagai isteri seperti yang pernah Bunda ajarkan padamu Nak," Marlina kembali mengingatkan beberapa petuah yang pernah ia berikan pada putrinya.
"Iya Bun," Rose mengangguk lemah.
"Rose Sayang, bilang sama Mama ya kalau Reyn tidak memperlakukanmu dengan baik. Mama pasti akan memberinya pelajaran," Sarina, ibu mertua Rose memeluk menantunya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Tentu Ma," angguk Rose membalas pelukan hangat sang ibu mertuanya.
Setelah ritual berpamitan pada kedua orang tua dan keluarga besarnya usai, Rose dan Reyn melambaikan tangannya, mobil yang dikendarai keduanya perlahan meninggalkan villa Bukit Biru milik keluarga Reyn, menuju hunian baru mereka, dimana segala biduk rumah tangga dan segala tantangannya akan dimulai.
...🍓🍓🍓...
"Ini rumah siapa?" Rose berdiri disisi mobil memandang rumah mewah dihadapannya yang jauh lebih besar dan megah dari hunian kedua orang tuanya.
"Rumah kita," sahut Reyn yang tengah menurunkan dua koper dari bagasi mobil lalu menyeretnya mendekati Rose yang masih memandangi rumah dan sekitarnya.
"Ayo," Reyn berjalan lebih dulu menuju teras rumah sambil menyeret dua koper ditangan kanan dan kirinya.
"Saya bantu pak Reyn," Rose buru-buru menyusul.
Reyn menghentikan langkahnya tepat didepan pintu lalu menoleh kearah Rose yang langsung gelagapan menerima tatapan angker suaminya yang tertuju padanya.
"M--maaf Pak, eh -- Mas, eh -- Pak Mas, eh -- Mas Pak, eh -- Mamas suamiku," Rose membekap mulutnya sendiri yang mendadak mengalami penyakit latah.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
ya Allah rose jadi mendadak latah, pak reyn senyum dikit dong
2023-10-30
1
Sena judifa
diam norsa jgn ikut campur😊😊
2023-10-29
1
Putra Al - Bantani
ribet banget ya manggilnya
2023-10-15
1