Ini kali pertama Rose menginjakan kakinya di villa Bukit Biru. Hari ini begitu cerah, tapi suasana villa yang ada dipuncak itu tetap sejuk, bahkan awan gemawan bisa terlihat begitu dekat berseliweran kurang diatas villa yang memiliki ketinggian 1.230 kaki dari permukaan air laut, sehingga angin yang mengembus pun begitu kencang.
Sudah dua hari Rose bersama keluarganya juga keluarga Haswan berada disana. Ia dan Norsa tidak mau menyia-nyiakan waktu sedetikpun selama disana, mendatangi setiap sudut villa tanpa kenal lelah sedikitpun.
Sore itu, Rose merasa sedikit heran, melihat kesibukan tidak biasa di area villa, karena selama dua hari disana, keadaan cukup senyap dan asri karena hanya dirinya, Norsa, dan keluarganya bersama keluarga Haswan saja, bahkan kakaknya Bram baru bisa bergabung dihari ketiga liburan mereka karena pekerjaannya.
"Bibi, aku melihat beberapa truck membawa properti pelaminan digerbang villa tadi sore. Siapa yang akan menikah?" tanya Rose disela-sela makan malam mereka.
"Oh itu, Reyn anak Bibi akan menikah besok." sahut Sarina santai, yang lainnya pun terlihat santai termasuk Norsa, hanya Rose saja yang nampak kaget hingga hampir tersedak.
"Minum dulu Rose," Norsa buru-buru menyodorkan segelas air putih dan segera disambar oleh gadis itu untuk meredakan tenggorokannya.
"Pak Reyn akan menikah besok? Hee, ceweknya pasti kepohonan," seketika Rose tergelak tidak karuan seorang diri sementara yang lainnya hanya terpaku menatapnya.
Begitu pula halnya dengan kedua orang tua Rose, biasanya mereka akan cepat menegur bila hal itu dirasa salah dan berlebihan, tapi kali ini mereka seakan sengaja membiarkan putri mereka itu tertawa sesukanya dan sepuasnya hingga akhirnya tersadar.
"M-maaf Paman, Bibi," Rose terlihat canggung, rona merah akibat tawanyaa masih terlihat jelas, ia merasa.tak enak pada kedua orang tua Reyn setelah melihat tatapan tajam ayah dan ibunya, sementara Norsa pura-pura sibuk menyantap hidangan makan malamnya.
"Tidak apa Sayang," lembut Sarina sembari tersenyum. "Reyn pasti jadi guru yang killer ya disekolah?" tanyanya menatap calon menantunya.
"Iya Bibi, pak Reyn bukan killer lagi tapi sudah tahap super duper killer. Seisi kelas musti bersiap-siap, dan perasaan kami begitu deg-deg'an hanya mendengar suara hentakan sepatunya masuk kelas. " ucap jujur Rose dengan raut serius dan antusias mengatakan apa yang tengah dirinya dan teman-temannya rasakan.
"Benerkan Norsa?" Gadis itu melirik sepupunya yang asik makan untuk meminta dukungannya.
"Ng-nggak kok! Pak Reyn super baik orangnya," bantah Norsa tak jujur sambil melirik kedua orang tua Reyn yang tengah memperhatian dirinya dan Rose.
"Ih Norsa, jujur dong, gak boleh bo'ong, dosa!" ucap Rose berisik dan sedikit kesal pada sepupunya yang tidak mendukungnya, Haswan dan Sarina hanya bisa tertawa melihat Rose yang bersikap apa adanya.
"Maafkan Rose pak Haswan dan ibu Sarina, putri kami ini terkadang tidak tahu apa yang dirinya ucapkan," Martin nampak tidak nyaman, putrinya kelewat jujur memang kalau sudah berbicara tentang yang ia rasakan.
"Ah, tidak masalah pak Martin. Saya dan ayahnya Reyn suka kejujuran Rose. Setidaknya kita tahu bagaimana sikap Reyn di sekolah pada para siswanya," sahut Sarina tulus, mengubah tawanya menjadi senyuman.
"Semoga killer-nya Reyn hanya di sekokah saja ya Pak Martin dan ibu Marlina, tapi dengan isterinya dirumah tidak," Sarina berucap penuh arti pada kedua calon besannya itu lalu melihat kearah Rose yang terlihat bingung mendengar ucapannya.
"Rose, cepat selesaikan makan malammu dan segeralah tidur dikamarmu bersama Norsa malam ini. Ayah dan Bunda masih akan berbincang-bincang dengan Paman dan Bibimu," tegur Martin, saat melihat Rose menginjak punggung kaki Norsa karena gemes, ia masih kesal sepupunya tidak mau jujur tentang sikap Reyn yang memang menyebalkan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Rose bangun!" Marlina terus menggoyang-goyangkan tubuh putrinya yang masih molor dikasur empuknya.
"Ya ampun Bunda, Rose masih ngantuk nih," gerutu gadis itu semakin melingkar dalam selimutnya.
"Rose, pernikahannya 3 jam lagi akan dimulai, kau masih saja santai. Ayo cepetan Sayang!" Marlina mendudukan Rose ditempat tidurnya dengan paksa.
"Bunda apaan sih! Yang nikah itu pak Reyn, bukannya Rose! Kok malah Rose yang disibukan. Rose masih ngantuk," gadis itu kembali merebahkan tubuhnya dengan perasaan kesal, ia memang benar-benar masih mengantuk karena selama 2 hari kemarin tidak ada tidur siang karena terlalu sibuk bergerilya bersama Norsa mengelilingi seluruh sudut villa.
"Ih anak ini yah, dibilangin masih aja tiduran," Marlina menarik daun telinga putrinya saking gemesnya.
"Aduh Bun, sakit Bun!" pekik Rose memegang telinganya, kepalanya mengikuti arah tangan ibunya, menahan rasa sakit dan perih disana.
"Cepat mandi sana sekarang!" paksa Marlina sambil melempar handuk pada putrinya.
Walau terpaksa, Rose tetap membawa langkahnya menuju kamar mandi.
"Norsa mana Bun?" gadis itu menghentikan langkahnya didepan pintu kamar mandi, saat baru tersadar bila sepupunya sudah tidak ada dikamar.
"Norsa sedang berdandan cantik dikamar sebelah. Ayo cepatan, ini sudah pukul 12 siang sayang, 3 jam lagi acaranya akan dimulai." Marlina semakin tidak sabaran melihat Rose yang terkesan lelet masuk ke kamar mandinya.
"Iya, iya Bun, gitu aja sewot. Anak orang lain yang nikah Bunda segitu gelabakannya, apa lagi anak sendiri," Rose masuk sambil ngedumel.
Marlina hanya menggelengkan kepala mendengar dumelan putrinya, ia keluar dari kamar untuk mengambil makan siang buat putrinya itu.
Tiga puluh lima menit kemudian.
"Rose, buruan makan!" suruh Marlina begitu Rose keluar dari kamar mandi. "Lama banget sih mandinya?" omel Marlina lagi yang siang itu serasa habis stok kesabarannya menghadapi putri semata wayangnya.
"Kenapa sih Bunda dari tadi ngomel-ngooomel mulu? Kaya Rose aja yang mau nikah," kesal gadis itu, tapi tetap saja ia patuh, menghampiri piring makan siangnya diatas nakas dan segera menyantapnya karena perutnya juga terasa lapar minta diisi.
Ucapan Rose membuat Marlina tercekat, sejujurnya ia tidak tega memperlakukan putrinya seperti ini dihari pernikahannya, apalagi merahasiakannya, tapi bila ia melembut dan melunak, ia takut Rose akan curiga dan bisa jadi rencana yang ia dan suaminya susun bersama kedua calon besannya bisa saja gagal total.
Bersambung...👉
Note : Kepohonan adalah sebuah kepercayaan sebagian besar masyarakat yang ada dibeberapa daerah Provinsi Kalimantan Timur, yang pada intinya adalah sebuah malapetaka yang akan terjadi jika ketika kita melihat orang lain makan atau minum kemudian tidak ikut menyantapnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sena judifa
thor orang kaltim y
2023-10-27
1
Sena judifa
kalo ditempatku bkn kepohonan tapi kepuhunan thor
2023-10-27
1
auliasiamatir
ya ammpiuuunn, kasih tau rose dong, kalau dia nya yang mau nikah 😌
2023-10-27
1