Pukul 10 malam lewat 10 menit, Rose meniup lilin ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Konon, di jam itulah ia lahir dengan tangisan nyaring dan cemprengnya, begitu ayahnya pernah berkisah.
Sudah dua tahun belakangan ini Rose merayakan ulang tahun secara sederhana, hanya bersama ayah dan ibunya, juga kakak tersayangnya. Bram malam ini pulang lebih awal dari pekerjaannya karena ingin merayakan ulang tahun adik satu-satunya itu.
Ayah dan ibunya beberapa kali menawarkan ulang tahun yang meriah seperti biasa disetiap tahunnya hingga usianya yang ke 17 tahun lalu, namun Rose menolaknya, tidak ada alasan yang jelas mengapa ia menolak.
Setelah keheningan sempat tercifta saat Rose menaikan doa dan harapannya di hari ulang tahunnya, ia segera menyuapkan potongan kue ulang tahunya pada kedua orang tuanya lalu pada Bram juga.
Wajah Steven sempat terlintas dibenaknya, ingin ia menyuapkan kue itu juga pada laki-laki yang sempat singgah dihatinya itu, namun ia buru-buru menepis bayangannya manakala mengingat ucapan ibu Steven pada ibundanya.
"Semoga hidupmu kedepannya semanis cita rasa kue yang ku makan ini," ucap Bram dengan senyum terkembang diwajahnya sembari mengusap lembut pucuk rambut Rose, sebagai doa untuk adik tersayangnya itu.
"Terima kasih kak Bram," sahut Rose balas tersenyum manja.
"Ini boneka Little Pony Pinkie Pie," Bram mengambil hadiahnya yang ia sembunyikan dibelakang sofa.
"Wuah! Terima kasih kak Bram," dengan antusias, Rose menerima boneka besar berbahan kain dan kapas lembut itu dengan raut berbinar.
"Kok kak Bram bisa tahu sih kalau Rose sangat suka Pinkie Pie?" tanya Rose sembari memeluk boneka itu erat.
"Tau-lah! Kakak 'kan sering melihatmu menonton kartun itu,.dan selalu heboh bila melihat Pinkie Pie muncul dengan gaya sok cantik dan imutnya itu. Sifatmu 'kan nggak jauh beda dengan karakter kartun kesayanganmu itu," ujar Bram terkekeh.
Martin dan Marlina ikut tertawa mendengar ucapan putra sulungnya, keduanya juga sering menyaksikan putrinya itu ribut sendiri didepan layar televisi saat menonton kartun kesayangannya itu.
"Mana hadiahku?" kali ini Rose menadahkan satu tangannya pada ayah dan ibunya yang masih terlena dalam tawa mereka.
"Tenang saja, Ayah dan Bunda sudah menyiapkan hadiah liburan untukmu Rose, selama 1 minggu. Iya 'kan Yah?" sahut Marlina sembari menoleh kearah suaminya, dan langsung disambut anggukan oleh laki-laki itu.
"Satu minggu? Wuah, ini luar biasa!" pekik Rose senang lalu berdiri diatas kursi sofa dan melompat-lompat sambil memeluk Pinkie Pie. Pasalnya, selama ini dirinya hanya mengisi liburan dirumah saja sembari rebahan didepan televisi. Kalaupun keluar paling ke taman Wisata, atau berkunjung kerumah Norsa sepupunya yang masih satu kota, atau ke rumah Shasa, kakak sepupunya yang dahulunya ada dikota Samarinda sewaktu ayah sepupunya itu belum meninggal.
"Rose! Kau akan membuat sofa ini roboh!" tegur Bram.
"He... Maaf. Rose terlalu bersemangat," ia lalu duduk kembali di posisinya dengan Pinkie Pie yang masih dipeluknya.
"Liburannya kemana Bun? Serius Ayah sama Bunda ikutan berlibur sama Rose" tanya Rose menatap kedua orang tuanya bergantian. Selama ini kedua orang tuanya itu sangat sulit bila diajak berlibur sama-sama mengingat tanggung jawab pekerjaan mereka sebagai seorang pegawai negeri.
"Serius dong. Ayah sama Bunda ambil cuti demi nyenangin kamu, hadiah ulang tahun plus kenaikan kelas." ucap Martin senang melihat antusias putrinya.
"Kita sekeluarga akan liburan ke villa Bukit Biru lusa, jadi besok kau boleh belanja untuk keperluanmu selama seminggu disana," ujar sang bunda.
"Wow villa Bukit Biru! Bukankah liburan disana cukup mahal Bun?" Rose terkesiap, villa yang disebut sang bunda merupakan tempat berlibur favorite yang cukup terkenal dan elite di kotanya, terletak didataran tertinggi yang ada dipinggiran kota, sehingga dari puncaknya bisa melihat seluruh kota kabupaten dan beberapa desa-desa persawahan penduduk disekitarnya.
Biasanya beberapa teman sekolahnya hanya dua hingga tiga hari saja berada disana bersama keluarganya, bukan karena tidak betah, tapi mereka harus merogoh kantongnya cukup dalam bila sampai beberapa hari berlibur disana.
"Gratis Sayang," ucap Marlina tersenyum.
"Gratis? Yang benar saja Bunda, apa mungkin Bunda sama Ayah menang lotre?"
"Nggak Sayang, hari gini nggak pake menang-menang lotre segala. Kita liburan sama pemiliknya, paman Haswan dan bibi Sarina," ungkap Marlina.
"Wuah hebat! Ternyata Paman dan Bibi sekaya itu rupanya, Rose nggak nyangka kalau villa Bukit Biru itu punya mereka. Kalau Rose tahu, udah sejak lama Rose ajak Bunda sama Ayah liburan kesana," ucapnya girang.
"Tapi--" Rose mendadak teringat sesuatu.
"Tapi apa Rose?" Marlina menatap putrinya penuh tanya begitu pula halnya dengan Martin dan Bram.
"Pak Reyn ikut juga kah?"
"Memang kenapa kalau gurumu itu ikut?" Marlina menelisik wajah putrinya, demikian pula Martin dan Bram.
"Orangnya nggak asik. Udah tua pake nyebelin, pake ngeselin, pemarahan, sok tahu, sok disiplin, dan kalau ngomong mulutnya nggak pake penyaring," ungkap Rose panjang bagai kereta api, bahkan wajahnya menunjukan ketidak sukaannya pada sosok Reyn gurunya itu.
Marlina, Martin, dan Bram saling berpandangan dan berusaha menelan saliva mereka dengan susah payah.
"Ng-ngak ikut," sahut Marlina singkat.
"Heuh! Syukurlah, jadi kita bisa bersenang-senang!" ucap Rose lega dan kembali mengembangkan senyum bahagianya.
"Boleh ajak Rina sama Norsa gak Bun?" tanya Rose kemudian.
"Untuk Norsa bolehlah, dia sepupumu Sayang. Disana kita hanya bersama keluarga paman Haswan dan bibi Sarina saja, jadi ditutup untuk umum selama 1 minggu full," terang Marlina.
"Oke, Rose mengerti. Rose mau tidur duluan, untuk mempersiapkan energi pergi berbelanja sama Norsa besok," gadis itu berdiri, ia lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya begitu pula pada kakaknya Bram untuk berpamitan.
"Apa Ayah sama Bunda yakin menikahkan Rose dengan Reyn, gurunya itu?" tanya Bram pelan pada kedua orang tuanya, ia menatap langkah riang Rose yang menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas dimana kamarnya berada.
"Bram, Ayah dan Bundamu sudah memikirkan baik dan buruknya, dan kau juga sudah kami ceritakan kenapa keputusan sulit ini kami tempuh." sahut Martin tidak kalah pelannya, sambil memperhatikan Rose yang masih menaiki anak-anak tangga meninggalkan ruang keluarga, khawatir pembicaraan rahasia mereka didengar oleh putrinya itu.
"Rose, dia masih terlalu muda untuk menikah. Mentalnya bisa saja masih belum cukup menjadi seorang isteri, apalagi dia masih sekolah Yah, ini bisa mempengaruhi kejiwaannya nanti," ucap Bram khawatir pada adik kesayangannya itu.
"Ayah mengerti kekhawatiranmu Bram, semuanya sudah kami bicarakan pada Reyn juga kedua orang tuanya, bahkan alasan Rose menikah muda diusia muda inipun mereka sudah tahu," terang Martin.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ya sebentar lagi Villa itu akan menjadi milik mu juga Rose..Aman lah bisa kapan pun kamu mau kesana,gak ada yg ngelarang 😂😂
2024-10-25
1
Qaisaa Nazarudin
Liburan PERNIKAHAN MU Rose...😂😂
2024-10-25
1
auliasiamatir
srgitu khawatir nya orang tua rose sama anak gadis nya, , sampe harus memilih jalan sep ini.😌
2023-10-27
1