"Rose!" satu panggilan membuat gadis itu celingukan mencari sumber suara begitu dirinya turun dari bus sekolah, satu tas belanjaan ditenteng pada tangan kirinya.
Rose seketika membeku, melihat Steven muncul dari rimbunan bonsai yang berada disudut pagar rumahnya.
"Rose, kenapa kau tidak mengangkat dan membalas pesanku sejak semalam, aku khawatir Rose," Steven mendekati Rose dan memegang salah satu tangan kekasihnya itu, dan segera ditepis oleh Rose.
"A-ada apa denganmu Rose?" Steven tersentak kaget melihat reaksi Rose yang tidak biasanya seperti itu.
"Sebaiknya kak Steven jangan menemui Rose lagi," ucap Rose dingin.
"T-tapi kenapa Rose? Apa yang terjadi? Semalam kita baik-baik saja," Steven masih tidak mengerti, perasaannya mendadak kalut melihat perubahan drastis kekasihnya.
"Mulai semalam, kita sudah tidak baik-baik saja Kak," sahut Rose hampir menangis, mengingat kata-kata menyakitkan ibu Steven yang masih terngiang-ngiang dipendengarannya.
Steven terhenyak mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis pujaannya, juga memandang raut wajah Rose yang memerah menahan tangisnya, ia masih tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Ia kembali mendekati Rose dan berusaha menyentuh pundak gadisnya itu, namun Rose lagi-lagi menghindar dengan cepat, membuatnya kembali terpana.
"Katakan pada Kakak, apa yang terjadi Rose? Jangan membuat Kakak bingung." Kali ini Steven hanya memandangi wajah Rose dan tidak berusaha terlalu dekat seperti sebelumnya, ia tidak mau Rose bertambah marah padanya.
"Ibu Kak Steven tidak merestui hubungan kita Kak," sahut Rose menatap sayu wajah tampan dihadapannya. Hatinya memang sakit, tapi Steven adalah laki-laki yang ia sukai, hingga disudut hatinya yang lain ia berusaha tidak percaya apa yang ia dengar semalam.
"M-mamiku?" jari Steven menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Maminya kak Steven," Rose mengangguk mengiyakan.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin Rose," ucap Steven tidak percaya.
"Kakak menganggapku berbohong?" ucap Rose kecewa. "Ya, wajar saja, beliau kan ibunya kak Steven," ucap Rose kembali dingin.
"B-bukan begitu maksud Kakak Rose."Sahut Steven terbata-bata, merasa bingung merangkai kata dalam situasi seperti ini.
"Mami sendiri yang memintaku mengajakmu ke acaraku Rose karena ingin bertemu langsung denganmu, lalu memberikan surat undangan itu juga secara langsung pada ibumu Rose," sambungnya, mengingat ibunya memberitahukan hal itu saat mereka berada dimeja makan bersama ayahnya.
"Mungkin saja beliau sengaja mengundang kami, hanya untuk berkata itu pada Bunda," ujar Rose masih dengan raut kecewanya menanggapi ucapan Steven.
"Kak Steven pulang saja, gadis sepertiku ini tidak memiliki bibit, bobot, bebet seperti yang diharapkan Maminya kak Steven, begitulah yang dikatakan beliau semalam.pada.Bunda," Rose berbalik, meninggalkan Steven yang tergugu, masih tidak percaya bila ibunya sampai berkata demikian pada keluarga Rose.
Ia memandangi Rose yang berjalan memasuki pagar besi rumahnya, menutup dan mengaitnya seperti semula.
Ditempatnya berdiri, Steven enggan beranjak, ia masih terus memandangi Rose yang melewati dua mobil yang terparkir dihalaman rumah hingga menghilang dibalik pintu depan rumahnya.
Perasaan Steven kini sangat hampa, tidak terbersit sedikitpun bila hubungannya dengan Rose akan bisa sekacau ini. Mungkinkah ibunya yang begitu lembut, sangat perhatian dan penyayang pada keluarga mampu melakukan itu tanpa sepengetahuannya?
Tidak, Steven masih belum bisa mempercayainya.
...⚘️⚘️⚘️...
"Ayah! Bunda!" panggil Rose dengan suara nyaringnya dari depan pintu.
"Iya Sayang! Ayo, cepat kemari!" sahut Marlina dari ruang tamu.
"Mobil siapa didepan itu Bun--" tanya Rose lalu menghentikan langkahnya, sejenak ia memperhatikan tiga orang tamu yang duduk dihadapan kedua orang tuanya disiang bolong begini.
"Pak Reyn? Kenapa dia ada disini? Pantas saja tidak jadi mengadakan HER Biologi hari ini," gumam Rose seorang diri, saat mengenali salah seorang tamu, sedangkan dua orang lainnya ia hanya mengingatnya samar-samar.
"Kok berdiri disana saja sih, ayo cepat kemari," panggil Marlina karena Rose belum juga bergegas.
"Iya Bun," Rose cepat beranjak, kedua orang tuanya pernah berkata tidak sopan bila mengabaikan tamu yang bertandang kerumah.
"Masih ingat sama Paman dan Bibi ini," ucap Marlina pada Rose yang sudah berada didekat mereka.
Rose memperhatikan dua tamu seumuran ayah dan ibunya yang tengah tersenyum melihatnya yang mengingat-ingat wajah mereka.
"Heum. Kalau nggak salah--, Paman dan Bibi yang tinggalnya disebelah rumah bibi Nina yang ada dikota Samarinda itu kan?" ucap Rose girang, begitu berhasil mengingat wajah keduanya, lalu dengan buru-buru meraih tangan keduanya dan mencium punggung tangan suami isteri yang tengah duduk berdampingan didepan orang tuannya.
"Ingatanmu sangat bagus Nak," puji Sarina, sang tamu wanita sambil mengusap lembut pucuk rambut Rose, sementara Haswan suaminya ikut tersenyum disampingnya.
"Mana oleh-oleh buat Rose Bibi dan Paman?" Rose menadahkan satu tangannya tanpa malu dan merasa sungkan sedikitpun, membuat suami isteri itu seketika tertawa melihatnya.
Bila ke Samarinda untuk mengunjungi kakak sepupunya Shasa yang masih tinggal diisana saat mendiang ayah Shasa masih hidup, Rose tidak pernah lupa menyambangi tetangga sebelah rumah sepupunya itu, hanya meminta oleh-oleh gratis. Sarina dan suaminya memang memiliki beberapa gerai jajanan khas Kalimantan Timur di kota itu.
"Ini oleh-olehnya, Bibi dan Paman tidak pernah lupa 'kan sama kesukaanmu?" Sarina meraih sekantong plastik besar disudut sofa yang telah ia siapkan lalu memberikannya pada Rose yang langsung disambut gembira gadis itu. Sementara tas belanjaan yang ditentengnya ditaruh begitu saja diatas meja kaca tamu.
"Wuah banyak sekali Amplang, Kue Kemiri dan Gula Gait-nya!" Mata Rose berbinar senang.
Amplang, jajanan khas Samarinda Kalimantan timur itu, memang sangat diminati oleh Rose. Berbahan dasar ikan Tenggiri, Belida, atau Haruan dan tepung kanji yang digoreng garing. Tentu saja harus ditambah beberapa bumbu dan rempah-rempah yang menjadikan rasanya gurih, renyah dan tidak pernah ingin berhenti saat mengunyah dan merasakan sensasi keriuk-keriuknya.
Keminting, sesuai namanya begitulah bentuk jajanan ini, terbuat dari tepung terigu, tepung kanji, gula jawa, sagu, santan, dan gula pasir. Jangan heran kalau kita menyantap kue ini, kita akan merasakan rasa manis. Kue yang teksturnya renyah ini dimasak dengan cara dipanggang di oven.
Gula Gait, jajajan khas Kalimantan Timur ini juga dibuat dari bahan berupa gula aren dan gula putih. Keduanya kemudian diolah menjadi seperti karamel dengan tekstur yang mirip dengan kayu yang memiliki warna keemasan. Proses pembuatan gula gait mirip dengan cara membuat gulali tapi beda di proses akhirnya. Rasanya tentu saja manis dan ramah didalam mulut, semanis dan seramah warga Kalimantan Timur.🤭😊
Gletak!
"Apa itu?" Reyn yang sedari tadi hanya diam disamping kedua orang tuanya melihat barang belanjaan yang tumpah diatas meja tepat dihadapannya.
Wajah Rose seketika memerah menahan rasa malu. Kantong plastik oleh-oleh ditangannya tidak sengaja menyenggol tas belanjaannya yang ada diatas meja, sehingga para pe*balutnya keluar begitu saja tanpa perrnisi. "Kenapa harus tumpah dihadapan pak Reyn lagi sih?" batin Rose malu sambil menggigit bibir bawahnya.
"I-ini Roti Tawar, oleh-oleh sepulang sekolah," ucap Rose langsung memasukan barang-barang miliknya kedalam tas belanjanya.
Martin dan Marlina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah putri mereka, sementara Sarina dan Haswan, sepasang suami isteri itu tersenyum menahan tawa. Reyn? Dia hanya menatap dingin, baginya kecerobohan Rose itu sudah biasa.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sena judifa
kasihan jg y steve sm rose
2023-10-22
0
auliasiamatir
hummm rose di jpdohin sama reyn toh
2023-10-18
1
ayu nuraini maulina
MK nya d cari tau jgn mudah tampang doang
2023-09-01
1