Martin sesekali melirik Marlina yang duduk dijok belakang menemani Rose yang merintih kesakitan. Rasa penasarannya terlalu besar akan apa yang telah diperbincangkan oleh ibu Mutiara dengan isterinya itu, namun keberadaan Rose membuatnya harus bersabar sampai keduanya mendapat waktu yang baik.
"Untuk apa keluarga pak Mikasa bersama besannya datang ke rumah kita malam-malam begini, Yah?" tanya Marlina, begitu mobil mereka memasuki halaman rumah dan melihat keberadaan beberapa tamu yang sudah menunggu diteras rumah.
"Entahlah Bun." Martin lalu memarkirkan mobilnya dekat teras samping rumahnya. "Bun, ajak Rose lewat pintu samping saja, tidak enak kalau mereka melihat kondisi Rose seperti itu." ucapnya.
"Tapi bagimana dengan jok kotor ini Pah, mana bau lagi," ucap Marlina sambil membuka pintu mobil dan membawa Rose turun bersamanya.
"Tidak apa-apa Bun, besok Ayah akan bawa ke salon mobil untuk dibersihkan. Maaf, Ayah tidak bisa membantu Rose, Ayah harus segera menemui mereka, pasti ada sesuatu yang penting sampai mereka datang semalam ini kemari." ucap Martin menduga.
"Tolong minta Bibi buatkan minuman untuk para tamu kita ya Bund?" Marlina mengangguk mengiyakan, dan Martin-pun bergegas, ia disambut oleh dua keluarga yang telah menantinya.
"Selamat malam pak RT, maaf mengganggu malam-malam." Pak Mikasa dan isterinya segera bangkit dari kursi lalu mengulurkan tangannya pada Martin begitu pula dengan pak Radit besannya.
"Iya, selamat malam. Tidak apa-apa pak Mikasa dan pak Radit. Mari masuk," Martin menerima uluran tangan ketiga tamunya untuk berjabat tangan lalu membuka kunci rumahnya dan mengajak mereka masuk.
"Mari, silahkan duduk." ucap Martin mempersilahkan. "Ada keperluan apa Bapak-Bapak dan ibu kemari.
"Begini pak, saya mohon anak saya Rusdi jangan dipenjarakan, dia masih harus melanjutkan pendidikannya, entah bagaimana nasibnya bila itu terjadi," mohon pak Radit tanpa basa-basi.
"Tapi Rusdi sudah melakukan kekerasan rumah tangga terhadap anak kami Riani, kami tidak terima. Bayi yang dikandungannya juga meninggal begitu dilahirkan," sentak ibu Mikasa dengan tangis yang seketika pecah.
"Perkataan isteri saya itu benar pak Martin, akibat tendangan Rusdi pada Riani tempo hari, Riani pendaharan dan terpaksa harus operasi dan sampai sekarang masih dalam perawatan dirumah sakit," sambung pak Mikasa sembari memeluk isterinya.
"Iya, saya tahu Rusdi memang bersalah dan untuk itu saya sungguh-sungguh minta maaf Bapak dan ibu Mikasa, saya bersedia melakukan apapun semampu saya asal saja Rusdi jangan di penjara." ucap pak Radit sambil bersimpuh dikaki kedua besannya.
"Apapun yang pak Radit lakukan tidak akan mungkin membuat Riani kembali seperti semula! Tidak mungkin menjadi gadis lagi, dan belum tentu bisa melupakan semua kesakitan yang dilakukan oleh Rusdi padanya! Sebagai ibunya, saya mau Riani dan Rusdi bercerai saja!" ketus ibu Mikasa masih menangis tersedu-sedu.
"Maaf, ini minumannya Pak," bibi Ara datang menghampiri dengan nampan ditangannya.
"Taruh saja dimeja Bi," suruh Martin pada asisten rumah tangganya itu. Pembicaraan terhenti sesaat, hanya ada suara gelas yang saling bersentuhan dengan tatakannya saja, juga sedikit suara sesenggukan ibu Mikasa yang masih terdengar.
"Diminum dulu teh hangatnya Bapak-Bapak dan Ibu," Martin mempersilahkan, begitu bibi Ara meninggalkan mereka dengan membawa nampan ditangannya.
"Terima kasih pak RT. Bu, ini minum dulu," pak Mikasa mengambil segelas teh dan memberikannya pada isterinya.
"Begini pak Mikasa dan Ibu, juga pak Radit," Martin memandang ketiganya secara bergantian. "Permasalahan ini sudah kita laporkan bersama ke kantor polisi setempat dan masih dalam proses, juga Rusdi sudah diperiksa oleh pihak yang berwajib. Dan Riani juga telah mendapat penanganan dari pihak rumah sakit. Mari kita menunggu semua hasilnya dengan sabar," ucapnya berusaha menengahi kedua keluarga yang sudah berbesanan itu.
"Pak RT, mohon berikan saya kesempatan bicara sebentar," pinta pak Radit.
"Silahkan pak Radit." angguk Martin.
"Rusdi, dia belum punya pekerjaan, karena baru saja lulus dan akan melanjutkan kuliahnya ditahun ajaran baru ini, emosinya juga masih labil. Sehingga saat mereka bertengkar, Rusdi sampai menendang isterinya, Riani. Itu sebabnya diawal saya tidak menyetujui pernikahan mereka yang masih dibawah umur, takut terjadi hal seperti ini," tutur pak Radit.
"Tapi apa harus dikata, Riani sudah hamil duluan karena pergaulan mereka berdua yang melewati batas, jadi saya putuskan Rusdi memang harus menikahi Riani sebagai bentuk tanggung jawab,"
Pak Radit menujukan pandangannya pada kedua besannya.
"Bila ibu Mikasa meminta Radit menceraikan Riani, saya terpaksa menyetujuinya. Dan saya sebagai ayah Radit juga bersedia membiayai semua biaya rumah sakit nak Riani, bahkan sampai nak Riani benar-benar pulih secara fisik dan mentalnya. Juga saya bersedia membiayai Riani menyelesaikaan sekolahnya di SMP yang sempat mandek karena Rusdi yang menghamilinya. Ya, sampai perguruan tinggi." ungkapnya memberi janji.
"Itu sebagai rasa permohonan maaf saya pada keluarga pak Mikasa, juga sebagai rasa tanggung jawab keluarga kami pada nak Riani. Dan saya mohon kemurahan hati Bapak dan Ibu Mikasa untuk membuka pintu maaf buat anak saya Rusdi dan berkenan untuk menarik laporan yang sudah masuk kekantor kepolisian. Bila Rusdi sampai jadi narapidana, masa depannya mungkin akan hancur."
Raut pak Radit nampak memerah, menahan segala rasa malu akibat perbuatan putranya. Juga rasa gelisah, takut, khawatir, karena tak ingin anak tunggalnya itu masuk penjara dan menyandang predikat sebagai narapidana diusia muda, dan itu pasti sangat berpengaruh bagi masa depannya.
Demikianlah perasaan orang tua, sejahat apapun anak mereka, sebagian besar orang tua akan tetap mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya, bahkan rela menanggung konsekuensi yang diakibatkan si anak.
Martin menghela napas berat, kedua kepala keluarga itu sama-sama warga dalam RT yang ia pimpin.
"Apa yang dialami oleh keluarga pak Mikasa, saya turut merasakannya walau tidak pernah mengalaminya. Dan apa yang tengah dikhawatirkan keluarga pak Radit saya juga memahaminya. Saya pun tidak bisa berbuat banyak sebagai ketua RT, saya berusaha membantu sebisa saya saja." ucap Martin dengan sangat hati-hati, karena salah kata saja pasti akan menyakiti salah satu pihak.
"Saya harap kita sama-sama bersabar menghadapi masalah ini, merenungkan semuanya baik-baik dirumah kita masing-masing sambil menunggu hasil penyidikan dari kantor polisi.
"Semoga saja kita masing-masing bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini," ia menatap ketiga tamunya, sebagai ketua RT dirinya tentu mengharapkan warganya itu mendapatkan keadilannya masing-masing.
...⚘️⚘️⚘️...
Hati Martin begitu sakit, mendengar semua perkataan ibu Mutiara yang diceritakan isterinya. Berulang kali ia harus meneguk air putih dari atas nakas untuk meredakan rasa sesak didadanya, merasa harga diri keluarganya diinjak-injak oleh seorang terhormat yang harusnya menjadi panutan.
"Jadi mereka sengaja mengundang kita ke pesta syukuran kelulusan anaknya hanya untuk mendengar hinaannya pada putri kita? Bukankah anaknya yang selalu mendekati putri kita?" geram Martin dalam marahnya.
"Maafkan Bunda Yah, karena sempat meminta Ayah menyetujui Rose berhubungan dengan Steven waktu itu," Marlina terlihat sangat bersalah dan menyesal, kejadian malam ini dipesta membuatnya mengerti mengapa suaminya sangat menentang hubungan putrinya dengan putra orang nomor satu dikota mereka.
"Kejadian malam ini tentang putri kita, juga beberapa permasalahan yang terjadi pada beberapa warga kita, Ayah harap Bunda tidak lagi menentang apa yang pernah Ayah usulkan dulu," ucap Martin mengingatkan obrolan penting yang pernah mereka bahas.
"Tapi Rose masih kecil Yah, dia belum bisa apa-apa." sergah Marlina, sebagai ibunya ia sangat tahu putrinya.
"Rose masih manja, dan semua keperluannya selalu Bunda dan bi Ara yang menyediakannya Yah," ucap Marlina masih berusaha memberi banyak alasan.
"Bun, kita sudah membicarakan ini." Martin menyentuh kedua pundak isterinya lembut, berusaha memberi pengertian.
"Ayah hanya tidak mau Rose bernasib sama seperti Riani anak tetangga kita, Shasa kakak sepupunya dan yang lainnya lagi. Anak laki-laki itu pasti akan datang lagi dan lagi, dan berusaha mengoda dan merayu putri kita."
"Dan kita tidak bisa menjaganya terus menerus selama 24 jam, mereka bisa saja bertemu dengan diam-diam dibelakang kita, dan bila sampai terjadi sesuatu pada putri kita, ibunya sudah mengatakan bila ia tidak akan membiarkan Steven menikahi anak kita, ingat itu baik-baik Bun," ucap Martin.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Dengerin tuh usul suami,jangan ngenyel pengen mantu kaya tapi harga diri di bawah tapak kaki mereka,.
2024-10-25
1
Qaisaa Nazarudin
Apapun alasannya Rusdi tetap salah,Udah berani main fisik,Uadah tau masih labil,sok soan menghamili anak gadis orang,Dan satu lg harusnya Rusdi yg sekalian di bawak kesini, kenapa makah bapaknya doang yg datang,gak gentleman banget jd lelaki..😡😡
2024-10-25
1
Sena judifa
iya sih pergaulan anak sekarang
2023-10-22
0