Rose melepas sepatu high heelsnya, lalu berlari-lari kecil meninggalkan pintu dimana ia sedang menguping, ketika mendengar ibunya dan ibu Steven mengakhiri pembicaraan mereka.
Disini, disudut dalam toilet, Rose menangis pilu tanpa memperdengarkan suaranya. Karena dirinya ibunya menerima semua perkataan menyakitkan itu, dadanya semakin sesak mengingat perkataan demi perkataan ibu Steven yang menyakitkan pada ibunya. Wanita itu begitu lembut dalam bersikap dan manis dalam setiap tutur katanya dihadapan semua orang, ternyata lidahnnya begitu tajam dan berbisa saat berada ditempat yang tersembunyi batinnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Martin memandangi isterinya yang kembali seorang diri, ia sempat menoleh kesana-kemari mencari keberadaan si Ibu tuan rumah yang meminta ijin mengajak isterinya pergi, tapi tidak menemukannya dimanapun.
"Kami menunggu kabar baiknya lho bu Marlina, 'kan dua calon besan sudah saling bertemu," seloroh isteri Musha pada Marlina tersenyum menggoda.
"Ah, ibu Musha bisa aja," ucap Marlina menanggapi dengan tersenyum, berusaha keras menyembunyikan kemelut yang bergejolak dalam dadanya saat ini.
"Yah, kita pulang yuk. Rose pasti sudah lelah, jam 10 malam anak itu biasanya sudah tidur," Marlina berucap pada suaminya.
Martin menatap bola mata isterinya, sebagai seorang suami yang sudah mengarungi rumah tangga selama 23 tahun bersama isterinya, ia dapat melihat ada beban yang berat disana.
"Pak Musha dan Ibu, pak Jose dan Ibu, kami pamit dulu ya, Jam segini anak kami Rose biasanya memang sudah tidur," ucapnya beralasan.
"Baik Pak Martin dan ibu Marlina, hati-hati dijalan," ucap Jose mewakili.
Setelah berjabatan tangan, keduanya segera bergegas mencari putri mereka,""Dimana Rose Yah?" tanya Marlina.
"Kita tanya Steven saja Bun, tadi putri kita bersamanya," keduanya lalu mendekati Steven yang sedang bersama teman-temannya.
"Steven, dimana Rose?" tanya Martin, begitu mereka sudah berada didekat pemuda itu.
Steven menoleh. "Maaf Om, tadi Rose meminta ijin mau ke toilet, mungkin masih disana, mari saya antar."
"Maaf teman-teman, saya tinggal sebentar ya," tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Steven bergegas pergi bersama kedua orang tua Rose. Ada rasa khawatir menyelinap dalam benaknya, karena Rose memang cukup lama tidak kembali.
"Kenapa kau tidak mencari tahu tentang putriku bila ia belum juga kembali sampai sekarang? Aku tidak akan memaafkanmu bila terjadi sesuatu padanya," sesal Martin saat ketiganya berjalan menyusuri lorong menuju toilet.
"M-maafin saya Om," hanya itu kalimat yang mampu Steven katakan, ia merasa bersalah dan sangat tidak nyaman pada kedua orang tua Rose, seolah dirinya tidak bertanggung jawab pada keselamatan kekasihnya itu.
Rasa cemas Steven membawa kakinya setengah berlari saat melihat situasi toilet sepi, ia buru-buru membuka pintu toilet.
Ceklek!
"Rose!!" pekik ketiganya hampir bersamaan, melihat Rose sedang terduduk disudut toilet dengan wajah sembab, sementara high heels dan tasnya terdampar disekitar kakinya.
"Rose apa yang terjadi?" Steven menghambur memeluk Rose yang membeku menatap nanar kearahnya, rasa cemasnya semakin menjadi-jadi melihat wajah kusut kekasihnya itu.
"Siapa yang membolehkanmu memeluk putriku, lepas!" pekik Martin dengan nada marahnya. Steven segera melepaskan pelukannya lalu menyingkir untuk memberi ruang pada Martin.
"Nak, kau kenapa?" panik Martin, ia menyentuh kedua pundak putrinyan dengan perasaan cemas.
"Aku mau pulang Ayah," ucap Rose serak.
"Apa ada orang yang menyakitimu, Sayang?" Marlina ikut bertanya dengan perasaan cemas dan was-wasnya.
Rose menggeleng pelan. "Perutku sakit sekali Bun," lirihnya sembari memegang perutnya.
"Apa karena makanan di pestaku?" tanya Steven cepat, raut cemas masih tergambar jelas diwajahnya yang berdiri dibelakang ayah Rose.
Rose kembali menggeleng pelan. "Aku, aku sedang ha*d" lirihnya lagi.
"Kalau begitu, bantu Rose berdiri, Ayah," Marlina segera memeriksa begitu suaminya sudah membantu putri mereka berdiri. Seketika bau amis menguar dari sumbernya.
"Astaga Rose, bagaimana bisa begini? Kau ceroboh sekali jadi anak perempuaan," omel Marlina. Cairan merah itu telah mengotori bawahan dres milik Rose pada bagian belakangnya.
"Maafin Rose Bun, Rose tidak tahu kalau sakit mules Rose tadi bukan karena mau BAB saja, ternyata Rose jg ha*d." lirihnya lagi.
"Kak Steven, maaf ya? Sudah mengotori toilet Kakak," ucapnya memandang kearah Steven yang masih berdiri dibelakang ayahnya. Malu? Tentu saja hal itu yang ia rasakan, karena Steven melihat kecerobohannya yang tidak pandai menyimpan hal yang memalukan itu, ditambah lagi rasa sakit disudut hatinya mengingat perkataan ibu Steven yang menganggapnya tak pantas untuk lelaki itu.
"Tidak apa-apa Rose, nanti ada asisten rumah tangga yang membersihkannya. Tunggu sebentar kak Steven ambilkan selimut dulu ya, untuk menutupi itu," tawar Steven dan akan segera bergegas.
"Tidak perlu," tahan Martin. "Cukup beritahu kami pintu keluar selain pintu utama yang melewati ruang pesta. Kami harus buru-buru pulang," pinta ayah Rose.
"Baiklah Om. Tapi ijinkan saya membantu memapah Rose atau menggendongnya sampai ke mobil. Saya tidak tega melihatnya kesakitan seperti itu," ucapnya tulus,.melihat Rose yang meringis kesakitan.
"Tidak boleh, masih ada saya Ayahnya." tolak Martin. "Tunjukan saja jalannya sekarang."
"Iya Om," pasrah Steven, ia segera keluar dari toilet diikuti oleh Marlina dan Martin yang menggendong Rose dengan kedua tangannya.
Dari ujung lorong dekat ruangan dimana dirinya sebelumnya berbicara dengan ibunya Rose, Mutiara berdiri, menatap datar kepergian mereka melewati taman belakang rumahnya.
"Steven, setelah malam ini, jangan pernah temui Rose lagi," ucap Marlina, setelah ia dan keluarganya berada didalam mobil.
"Tapi Tan, Steven cinta sama Rose, dan kami berdua baik-baik saja," sanggahnya tak mengerti, menatap Marlina yang berbicara dari balik jendela.
"Kalian berdua masih sama-sama sekolah, masa depan kalianpun masih panjang, dan banyak hal mungkin saja bisa terjadi. Dan kau Steven, pokuslah pada kuliahmu supaya kau menjadi seperti yang diharapkan orang tuamu." ucap Marlina pelan. Ia merasa Steven adalah anak yang baik, tapi perkataan menyakitkan ibu anak muda itu masih segar dalam ingatanya.
"Maaf, tidak sempat berpamitan pada Ayah dan Ibumu, kami buru-buru karena Rose dalam keadaan sakit. Ayah, ayo jalan." Martin segera mematuhi perkataan isterinya, menarik tuas gas mobilnya, dan perlahan mobil mereka meninggaalkan Steven yang masih terpaku ditempatnya berdiri.
Ia masih tidak bisa menerima bila dirinya dilarang menemui Rose, kekasihnya.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
salut sama mamah nya rose ,
2023-10-18
2
Sena judifa
kasihan km rose
2023-10-15
1
Cokies🐇
duh emang orangtua suka ikut" campur aja sama urusan anak.
2023-09-08
1