Selama berlangsungnya pesta, Steven selalu menempel pada kekasihnya itu, ada rinai bahagia dalam benaknya, bisa menikmati kebersamaan bersama Rose dimalam itu dalam pesta kelulusannya.
Hanya sekali saja ia meninggalkan Rose, ketika dirinya dipersilahkan menyampaikan pesan dan kesannya dihadapan para tamu setelah sambutan yang disampaikan oleh ayahnya.
Rose yang awalnya merasa minder kini sudah merasa lebih nyaman berdiri disisi Steven, mengobrol dan bercanda bersama teman-teman satu angkatan kekasihnya itu.
"Kak, aku kebelet pengen ke toilet," Rose berbisik pada Steven. Perutnya memang terasa begah, karena Steven terus memberikannya makanan dan minuman tanpa henti selama pesta berlangsung.
"Ayo, Kakak antar," laki-laki itu melambai pada pelayan untuk meletakan gelas minumannya.
"Tidak perlu Kak, aku bisa sendiri. Yang penting kak Steven memberiku arahan dimana toiletnya berada.
"Kau yakin Rose?" Steven menatap lekat wajah kekasihnya itu.
"Heum" Rose mengangguk mengiyakan, "Tidak enak dilihat orang Kak, nanti malah dikira ngapain berdua menghilang dari pesta," celotehnya sambil tertawa kecil.
Steven ikut tertawa mendengar celotehan Rose yang sedikit ngawur itu. "Sepertinya ini hasil kau menonton teen romance drama itu ya?" laki-laki itu menoel hidung mancung Rose dengan gemas, mengingat kekasihnya itu pernah menceritakan hobby menontonnya itu.
"Kau lihat lorong disebelah pohon sakura yang ada disana?" tunjuk Steven.
Pandangan Rose mengikuti arah yang ditunjukan Steven. "Iya, aku melihatnya." sahut Rose.
"Setelah melewati 10 meter lorong itu, kau harus berbelok kearah kiri, disana toiletnya. Kalau kekanan, kau akan menemukan taman belakang." terang Steven.
"Apa kau yakin tidak mau Kakak temani?" tanya Steven sekali lagi untuk memastikan.
"Yakin Kak, aku akan segera kembali," Rose mengulas senyum, lalu bergegas pergi sesuai arahan Steven. Panggilan alamnya sudah tidak sanggup ia tunda lagi barang sekejap.
Disisi lain, Martin dan Marlina juga tengah asik berbincang dengan rekan-rekan kerja mereka yang turut hadir disana, namun sepasang mata Martin tetap mengawasi putrinya yang pergi seorang diri menuju lorong yang ditunjukan oleh Steven.
"Selamat malam Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu," Mutiara datang menghampiri sembari mengulas senyum hangatnya. Perempuan itu juga tidak lupa mengulurkan tangannya pada tamu-tamunya itu.
"Selamat malam juga Bu," Martin, Jose, Musha bersama isteri-isteri mereka masing-masing balas menyapa, turut mengulas senyum dan mengulurkan tangan mereka masing-masing pada Mutiara sebagai tuan rumah.
"Boleh saya pinjam ibu Marlina sebentar pak Martin, ada sedikit obrolan ringan seputar perempuan yang ingin saya perbincangkan," ucapnya meminta ijin berharap pria itu setuju pada permintaannya.
Hanya sepersekian detik, Martin dan Marlina saling berpandangan, sorot mata keduanya seolah saling mengungkapkan segala praduga tak pasti yang ada dalam benaknya masing-masing.
Selanjutnya pria itu mengangkat dua alisnya sembari mengangguk ringan. "Tentu saja boleh Bu, Silahkan," ucapnya bersikap seramah mungkin pada permintaan isteri sang Bupati.
"Terima kasih banyak pak Martin," Mutiara nampak senang. "Kalau begitu, saya pamit dulu mau mengajak ibu Marlina." wanita itu menyatukan kedua tangannya didepan dada pada semua tamunya itu sebelum beranjak.
"Mari ibu Marlina, ikutlah bersama saya," ajaknya menatap penuh senyuman.
"Iya Bu," Marlina bergegas mengikuti sang isteri Bupati, ia sedikit gugup dan berusaha menutupi kegugupannya itu dengan senyum tipis diwajahnya.
"Bisa jadi calon besan ingin saling mengenal satu sama lain," celetuk Jose begitu Mutiara dan Marlina sudah pergi menjauh.
"Memiliki anak gadis yang cantik, pak Martin dan ibu Marlina bisa jadi cepat mendahului kita semua dalam memiliki seorang menantu," sambar isteri Musha terkekeh senang.
"Tidak seperti itu Ma, Steven sudah berjanji akan menunggu Rose sampai selesai kuliah," ucap Musha merespon ucapan isterinya. "Bukan begitu Martin?" Musha mengalihkan pandangannya pada sosok temannya itu sembari tertawa.
Martin tidak berkata apapun, ia hanya menanggapinya dengan tawa ringannya, dan sesekali pandangannya mengikuti arah Mutiara membawa isterinya kelorong dimana putrinya sebelumnya juga kesana.
...⚘️⚘️⚘️...
"Heuh, leganya," Rose memegang perutnya yang kini sudah tidak mules lagi. Begitulah Rose, bila makan cukup banyak, bawaannya pengen ke toilet saja untuk membuang tabungan yang lama.
Setelah merapikan penampilannya sedikit didepan kaca yang ada didalam toilet itu, Rose bergegas keluar untuk kembali ke ruang pesta.
Ketika akan melintas pada lorong yang menghubungkan toilet dengan ruang pesta, Rose melambatkan ayunan langkahnya saat mendengar suara obrolan dari dalam ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat.
Bukan niatnya untuk menguping obrolan dua wanita yang ada didalam ruangan sana, namun suara salah seorang dari wanita itu terdengar sangat mirip dengan warna suara ibunya.
Setelah beberapa detik berlalu, Rose semakin yakin kalau itu memang suara ibunya, apalagi ia bisa mengintip dari celah pintu kalau ibunya sedang berbicara serius dan sedang duduk saling berhadapan bersama ibunya Steven.
Merasa penasaran apa yang tengah mereka perbincangkan, Rose memutuskan tetap menguntit disana dan semakin mempertajam pendengarannya.
"Setelah kita sama-sama tahu, bila anak-anak kita memiliki hubungan tanpa persetujuan kita masing-masing, saya sangat mengharapkan bila ibu Marlina dapat menjaga Rose putri ibu dengan baik, supaya tidak terlalu dekat lagi dengan Steven putra saya setelah malam ini," ucap Mutiara lembut dengan nada setenang mungkin.
Suara isteri orang nomor satu dikota itu memang terdengar begitu lembut dan setenang air telaga, namun hati Marlina merasa tersentil dan amat tersinggung mendengarnya, seolah-olah putrinyalah yang tidak tahu malu berusaha mendekati putra sang bupati.
"Maksud ibu Mutiara bagaimana?" Marlina berusaha tenang dan tetap berbaik sangka, mungkin dirinya saja yang terlalu perasa sebagai manusia biasa. Ia berusaha untuk tidak salah faham.
"Baiklah, saya akan memperjelasnya lagi sesuai permintaan ibu Marlina." wanita itu kembali tersenyum lembut memandang lekat wajah Marlina dihadapannya.
"Steven masih panjang masa depannya, begitu pula dengan Rose, keduanya masih terlalu muda. Bila terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada Rose atas hubungan mereka, saya sebagai ibunya Steven menegaskan bila Steven tidak bisa menikah diusia muda. Putra saya itu harus menyelesaikan pendidikannya minimal S2, lalu meniti jenjang kariernya seperti ayahnya."
Marlina seketika tergugu, penjelasan itu semakin terasa menyakitkan. Mutiara melihat perubahan wajah lawan bicaranya, ia tetap melanjutkan perkataannya yang belum tuntas.
"Mohon maaf bila bu Marlina kurang berkenan mendengarnya, tapi saya memang harus mengatakan itu, supaya di kemudian hari tidak terjadi hal yang tidak kita harapkan."
"Rose memang gadis yang cukup cantik menurut pemandangan saya. Dia baik, polos, dan juga sopan. Tapi itu saja tidak cukup untuk menjadi menantu kami, ada banyak hal yang perlu dimiliki seorang gadis bila dia ingin mengajukan dirinya menjadi pasangan Steven putra kami." tandasnya, tetap menampilkan ketenangan dalam setiap katanya.
"Sekali lagi saya mohon maaf, apa yang saya ucapkan ini tidak bermaksud merendahkan putri ibu Marlina. Kembali saya harus mengingatkan tentang bibit, bobot, dan bebet, sudah turun temurun itulah yang selalu menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan hidup." urainya
"Sebagai seorang ibu, ini tugas kita memperhatikan putra putri kita bu Marlina," sambung wanita itu lagi, tetap mengulas senyum lembutnya.
"Suami kita masing-masing tentu cukup sibuk dengan pekerjaan mereka diluar rumah, jadi tugas seperti ini kitalah yang patut menyelesaikannya bersama supaya segala pekerjaan mereka tidak terganggu dengan masalah-masalah kecil seperti ini,"
"Masalah kecil? Dia menganggap pembahasan tentang Rose ini adalah masalah kecil? Tidak Ibu yang terhormat, ini masalah harga diri keluarga kami," ronta Marlina didalam hati. Ia masih membeku, semua perkataan bersuara lembut dan mengalir tenang bagaikan air telaga itu kenapa begitu sakit dirasa ketika didengar telinganya.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Untung aja Rose juga mendengarkan nya langsung ya,Biar Rose bisa jaga jarak..
2024-10-25
1
Qaisaa Nazarudin
Aku dari awal juga terkejut kalo Rose bisa memiliki hubungan dengan Steven,yg notabene nya konglomerat dan terkenal,Steven juga bukan kaleng-kaleng..Mending Rose mencari pasangan yg setara dengan kehidupannya, Keluarga Steven itu memandang harta dan Kasta,Biasa mah holang kaya,Walaupun gak semua orang kaya kek gitu..
2024-10-25
1
auliasiamatir
mulai deh kuasa orang kaya munfik
2023-10-18
1