11. Suara Lembut Setenang Telaga

Selama berlangsungnya pesta, Steven selalu menempel pada kekasihnya itu, ada rinai bahagia dalam benaknya, bisa menikmati kebersamaan bersama Rose dimalam itu dalam pesta kelulusannya.

Hanya sekali saja ia meninggalkan Rose, ketika dirinya dipersilahkan menyampaikan pesan dan kesannya dihadapan para tamu setelah sambutan yang disampaikan oleh ayahnya.

Rose yang awalnya merasa minder kini sudah merasa lebih nyaman berdiri disisi Steven, mengobrol dan bercanda bersama teman-teman satu angkatan kekasihnya itu.

"Kak, aku kebelet pengen ke toilet," Rose berbisik pada Steven. Perutnya memang terasa begah, karena Steven terus memberikannya makanan dan minuman tanpa henti selama pesta berlangsung.

"Ayo, Kakak antar," laki-laki itu melambai pada pelayan untuk meletakan gelas minumannya.

"Tidak perlu Kak, aku bisa sendiri. Yang penting kak Steven memberiku arahan dimana toiletnya berada.

"Kau yakin Rose?" Steven menatap lekat wajah kekasihnya itu.

"Heum" Rose mengangguk mengiyakan, "Tidak enak dilihat orang Kak, nanti malah dikira ngapain berdua menghilang dari pesta," celotehnya sambil tertawa kecil.

Steven ikut tertawa mendengar celotehan Rose yang sedikit ngawur itu. "Sepertinya ini hasil kau menonton teen romance drama itu ya?" laki-laki itu menoel hidung mancung Rose dengan gemas, mengingat kekasihnya itu pernah menceritakan hobby menontonnya itu.

"Kau lihat lorong disebelah pohon sakura yang ada disana?" tunjuk Steven.

Pandangan Rose mengikuti arah yang ditunjukan Steven. "Iya, aku melihatnya." sahut Rose.

"Setelah melewati 10 meter lorong itu, kau harus berbelok kearah kiri, disana toiletnya. Kalau kekanan, kau akan menemukan taman belakang." terang Steven.

"Apa kau yakin tidak mau Kakak temani?" tanya Steven sekali lagi untuk memastikan.

"Yakin Kak, aku akan segera kembali," Rose mengulas senyum, lalu bergegas pergi sesuai arahan Steven. Panggilan alamnya sudah tidak sanggup ia tunda lagi barang sekejap.

Disisi lain, Martin dan Marlina juga tengah asik berbincang dengan rekan-rekan kerja mereka yang turut hadir disana, namun sepasang mata Martin tetap mengawasi putrinya yang pergi seorang diri menuju lorong yang ditunjukan oleh Steven.

"Selamat malam Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu," Mutiara datang menghampiri sembari mengulas senyum hangatnya. Perempuan itu juga tidak lupa mengulurkan tangannya pada tamu-tamunya itu.

"Selamat malam juga Bu," Martin, Jose, Musha bersama isteri-isteri mereka masing-masing balas menyapa, turut mengulas senyum dan mengulurkan tangan mereka masing-masing pada Mutiara sebagai tuan rumah.

"Boleh saya pinjam ibu Marlina sebentar pak Martin, ada sedikit obrolan ringan seputar perempuan yang ingin saya perbincangkan," ucapnya meminta ijin berharap pria itu setuju pada permintaannya.

Hanya sepersekian detik, Martin dan Marlina saling berpandangan, sorot mata keduanya seolah saling mengungkapkan segala praduga tak pasti yang ada dalam benaknya masing-masing.

Selanjutnya pria itu mengangkat dua alisnya sembari mengangguk ringan. "Tentu saja boleh Bu, Silahkan," ucapnya bersikap seramah mungkin pada permintaan isteri sang Bupati.

"Terima kasih banyak pak Martin," Mutiara nampak senang. "Kalau begitu, saya pamit dulu mau mengajak ibu Marlina." wanita itu menyatukan kedua tangannya didepan dada pada semua tamunya itu sebelum beranjak.

"Mari ibu Marlina, ikutlah bersama saya," ajaknya menatap penuh senyuman.

"Iya Bu," Marlina bergegas mengikuti sang isteri Bupati, ia sedikit gugup dan berusaha menutupi kegugupannya itu dengan senyum tipis diwajahnya.

"Bisa jadi calon besan ingin saling mengenal satu sama lain," celetuk Jose begitu Mutiara dan Marlina sudah pergi menjauh.

"Memiliki anak gadis yang cantik, pak Martin dan ibu Marlina bisa jadi cepat mendahului kita semua dalam memiliki seorang menantu," sambar isteri Musha terkekeh senang.

"Tidak seperti itu Ma, Steven sudah berjanji akan menunggu Rose sampai selesai kuliah," ucap Musha merespon ucapan isterinya. "Bukan begitu Martin?" Musha mengalihkan pandangannya pada sosok temannya itu sembari tertawa.

Martin tidak berkata apapun, ia hanya menanggapinya dengan tawa ringannya, dan sesekali pandangannya mengikuti arah Mutiara membawa isterinya kelorong dimana putrinya sebelumnya juga kesana.

...⚘️⚘️⚘️...

"Heuh, leganya," Rose memegang perutnya yang kini sudah tidak mules lagi. Begitulah Rose, bila makan cukup banyak, bawaannya pengen ke toilet saja untuk membuang tabungan yang lama.

Setelah merapikan penampilannya sedikit didepan kaca yang ada didalam toilet itu, Rose bergegas keluar untuk kembali ke ruang pesta.

Ketika akan melintas pada lorong yang menghubungkan toilet dengan ruang pesta, Rose melambatkan ayunan langkahnya saat mendengar suara obrolan dari dalam ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat.

Bukan niatnya untuk menguping obrolan dua wanita yang ada didalam ruangan sana, namun suara salah seorang dari wanita itu terdengar sangat mirip dengan warna suara ibunya.

Setelah beberapa detik berlalu, Rose semakin yakin kalau itu memang suara ibunya, apalagi ia bisa mengintip dari celah pintu kalau ibunya sedang berbicara serius dan sedang duduk saling berhadapan bersama ibunya Steven.

Merasa penasaran apa yang tengah mereka perbincangkan, Rose memutuskan tetap menguntit disana dan semakin mempertajam pendengarannya.

"Setelah kita sama-sama tahu, bila anak-anak kita memiliki hubungan tanpa persetujuan kita masing-masing, saya sangat mengharapkan bila ibu Marlina dapat menjaga Rose putri ibu dengan baik, supaya tidak terlalu dekat lagi dengan Steven putra saya setelah malam ini," ucap Mutiara lembut dengan nada setenang mungkin.

Suara isteri orang nomor satu dikota itu memang terdengar begitu lembut dan setenang air telaga, namun hati Marlina merasa tersentil dan amat tersinggung mendengarnya, seolah-olah putrinyalah yang tidak tahu malu berusaha mendekati putra sang bupati.

"Maksud ibu Mutiara bagaimana?" Marlina berusaha tenang dan tetap berbaik sangka, mungkin dirinya saja yang terlalu perasa sebagai manusia biasa. Ia berusaha untuk tidak salah faham.

"Baiklah, saya akan memperjelasnya lagi sesuai permintaan ibu Marlina." wanita itu kembali tersenyum lembut memandang lekat wajah Marlina dihadapannya.

"Steven masih panjang masa depannya, begitu pula dengan Rose, keduanya masih terlalu muda. Bila terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada Rose atas hubungan mereka, saya sebagai ibunya Steven menegaskan bila Steven tidak bisa menikah diusia muda. Putra saya itu harus menyelesaikan pendidikannya minimal S2, lalu meniti jenjang kariernya seperti ayahnya."

Marlina seketika tergugu, penjelasan itu semakin terasa menyakitkan. Mutiara melihat perubahan wajah lawan bicaranya, ia tetap melanjutkan perkataannya yang belum tuntas.

"Mohon maaf bila bu Marlina kurang berkenan mendengarnya, tapi saya memang harus mengatakan itu, supaya di kemudian hari tidak terjadi hal yang tidak kita harapkan."

"Rose memang gadis yang cukup cantik menurut pemandangan saya. Dia baik, polos, dan juga sopan. Tapi itu saja tidak cukup untuk menjadi menantu kami, ada banyak hal yang perlu dimiliki seorang gadis bila dia ingin mengajukan dirinya menjadi pasangan Steven putra kami." tandasnya, tetap menampilkan ketenangan dalam setiap katanya.

"Sekali lagi saya mohon maaf, apa yang saya ucapkan ini tidak bermaksud merendahkan putri ibu Marlina. Kembali saya harus mengingatkan tentang bibit, bobot, dan bebet, sudah turun temurun itulah yang selalu menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan hidup." urainya

"Sebagai seorang ibu, ini tugas kita memperhatikan putra putri kita bu Marlina," sambung wanita itu lagi, tetap mengulas senyum lembutnya.

"Suami kita masing-masing tentu cukup sibuk dengan pekerjaan mereka diluar rumah, jadi tugas seperti ini kitalah yang patut menyelesaikannya bersama supaya segala pekerjaan mereka tidak terganggu dengan masalah-masalah kecil seperti ini,"

"Masalah kecil? Dia menganggap pembahasan tentang Rose ini adalah masalah kecil? Tidak Ibu yang terhormat, ini masalah harga diri keluarga kami," ronta Marlina didalam hati. Ia masih membeku, semua perkataan bersuara lembut dan mengalir tenang bagaikan air telaga itu kenapa begitu sakit dirasa ketika didengar telinganya.

Bersambung...👉

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Untung aja Rose juga mendengarkan nya langsung ya,Biar Rose bisa jaga jarak..

2024-10-25

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Aku dari awal juga terkejut kalo Rose bisa memiliki hubungan dengan Steven,yg notabene nya konglomerat dan terkenal,Steven juga bukan kaleng-kaleng..Mending Rose mencari pasangan yg setara dengan kehidupannya, Keluarga Steven itu memandang harta dan Kasta,Biasa mah holang kaya,Walaupun gak semua orang kaya kek gitu..

2024-10-25

1

auliasiamatir

auliasiamatir

mulai deh kuasa orang kaya munfik

2023-10-18

1

lihat semua
Episodes
1 1. Oh My God
2 2. Basa-Basi
3 3. Laporan Warga
4 4. Burung
5 5. Berani Katakan Tidak!
6 6. Kami Berpacaran
7 7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8 8. Disidang Ayah
9 9. Meminta Ijin
10 10. Bertemu Ibu Steven
11 11. Suara Lembut Setenang Telaga
12 12. Jangan Temui Rose Lagi
13 13. Ingat Baik-Baik
14 14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15 15. Bebas Dari Belajar
16 16. Ruangan Kepala Sekolah
17 17. Hadiah
18 18. Kepohonan
19 HARI PERNIKAHAN
20 MAKAN SIANG
21 21. PENANGKALNYA
22 22. PERHATIAN KECIL
23 23. BELAJAR
24 24. Terkontaminasi
25 25. HUKUMAN (Visual Rose)
26 26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27 TERBANGUN (Visual Reyn)
28 28. EMPAT MATA
29 29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30 30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31 31. MAKANAN KESUBURAN
32 KITA SUDAH SELESAI
33 33. GADIS CENGENG
34 34. AKU BUKAN PINKY BOY
35 35. Kuli Panggul
36 36. KENA BATUNYA
37 37. BERTEMU MANTAN LAGI
38 38. ANDAI SAJA
39 39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40 40. BUKTI REKAMAN
41 41. OBROLAN KELUARGA
42 42. SALAD BUAH
43 43. MENGAMBANG
44 44. RISIH
45 45. TENTANG REYN HAMDANI
46 46. WALK IN CLOSET
47 47. BAHAYA
48 48. MEMPERINGATI RINA
49 49. MEMBUNTUTI
50 50. ZAMAN BATU
51 51. RENCANA AWAL
52 52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53 53. PESAN REYN
54 54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55 55. Di RESTORAN
56 56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57 57. TEGANG DAN GUGUP
58 58. STATUS PERKAWINAN
59 59. TERLALU NAIF
60 60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61 61. MERASA KUSUT
62 62. GARA-GARA ROSE
63 63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64 64. KABUR KARENA BIKINI
65 65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66 66. MULAI TERBONGKAR
67 67. GEGER
68 68. KENAPA JADI KACAU?
69 69. SO SWEET
70 70. PERLAWANAN MARLINA
71 71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72 72. TANGGAPAN PAK KADIN
73 73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74 74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75 75. SERIBU KALI LIPAT
76 76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77 77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78 78. GANTI RUGI
79 79. MEMOHON BANTUAN
80 80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81 81. KUSUT
82 82. OTW Berkembang Biak
83 83. Apa ini punya Rose?
84 84. Nggak Kapok
85 85. Ratunya
86 86. Pengen Telur Dinosaurus
87 87. Kaget
88 88. Clara Pulang
89 89. Setitik Terang
90 90. Juru Bicara
91 91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92 92. Maju atau Mundur
93 93. Tajau Emas
94 94. Insiden Es Krim
95 95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96 96. Dsangka Merindu
97 97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98 98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99 99. Clara Sakit
100 100. Gangguan Rose
101 101. Bram! Jangan Pergi!
102 102. Serasa Ada Yang Hilang
103 103. Sang Guru Jablai
104 104. Konvoi Kelulusan
105 105. Bertemu Orang Tua Olin
106 106. Terbang
107 107. Menonton Secara Live
108 108. Mengantar Leony Pulang
109 109. Kita Urus Rasa Bencimu
110 110. The End
Episodes

Updated 110 Episodes

1
1. Oh My God
2
2. Basa-Basi
3
3. Laporan Warga
4
4. Burung
5
5. Berani Katakan Tidak!
6
6. Kami Berpacaran
7
7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8
8. Disidang Ayah
9
9. Meminta Ijin
10
10. Bertemu Ibu Steven
11
11. Suara Lembut Setenang Telaga
12
12. Jangan Temui Rose Lagi
13
13. Ingat Baik-Baik
14
14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15
15. Bebas Dari Belajar
16
16. Ruangan Kepala Sekolah
17
17. Hadiah
18
18. Kepohonan
19
HARI PERNIKAHAN
20
MAKAN SIANG
21
21. PENANGKALNYA
22
22. PERHATIAN KECIL
23
23. BELAJAR
24
24. Terkontaminasi
25
25. HUKUMAN (Visual Rose)
26
26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27
TERBANGUN (Visual Reyn)
28
28. EMPAT MATA
29
29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30
30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31
31. MAKANAN KESUBURAN
32
KITA SUDAH SELESAI
33
33. GADIS CENGENG
34
34. AKU BUKAN PINKY BOY
35
35. Kuli Panggul
36
36. KENA BATUNYA
37
37. BERTEMU MANTAN LAGI
38
38. ANDAI SAJA
39
39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40
40. BUKTI REKAMAN
41
41. OBROLAN KELUARGA
42
42. SALAD BUAH
43
43. MENGAMBANG
44
44. RISIH
45
45. TENTANG REYN HAMDANI
46
46. WALK IN CLOSET
47
47. BAHAYA
48
48. MEMPERINGATI RINA
49
49. MEMBUNTUTI
50
50. ZAMAN BATU
51
51. RENCANA AWAL
52
52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53
53. PESAN REYN
54
54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55
55. Di RESTORAN
56
56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57
57. TEGANG DAN GUGUP
58
58. STATUS PERKAWINAN
59
59. TERLALU NAIF
60
60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61
61. MERASA KUSUT
62
62. GARA-GARA ROSE
63
63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64
64. KABUR KARENA BIKINI
65
65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66
66. MULAI TERBONGKAR
67
67. GEGER
68
68. KENAPA JADI KACAU?
69
69. SO SWEET
70
70. PERLAWANAN MARLINA
71
71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72
72. TANGGAPAN PAK KADIN
73
73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74
74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75
75. SERIBU KALI LIPAT
76
76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77
77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78
78. GANTI RUGI
79
79. MEMOHON BANTUAN
80
80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81
81. KUSUT
82
82. OTW Berkembang Biak
83
83. Apa ini punya Rose?
84
84. Nggak Kapok
85
85. Ratunya
86
86. Pengen Telur Dinosaurus
87
87. Kaget
88
88. Clara Pulang
89
89. Setitik Terang
90
90. Juru Bicara
91
91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92
92. Maju atau Mundur
93
93. Tajau Emas
94
94. Insiden Es Krim
95
95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96
96. Dsangka Merindu
97
97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98
98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99
99. Clara Sakit
100
100. Gangguan Rose
101
101. Bram! Jangan Pergi!
102
102. Serasa Ada Yang Hilang
103
103. Sang Guru Jablai
104
104. Konvoi Kelulusan
105
105. Bertemu Orang Tua Olin
106
106. Terbang
107
107. Menonton Secara Live
108
108. Mengantar Leony Pulang
109
109. Kita Urus Rasa Bencimu
110
110. The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!