Rose menjejakan kakinya dihalaman rumah mewah dan sangat megah itu, sementara ayah dan ibunya memarkirkan mobil mereka diparkiran yang sudah tersedia dipinggir taman rumah gedongan itu.
Ini kali pertama Rose menginjakan kakinya disana. Ia lumayan takjub, ternyata rumah pribadi sang Bupati sepuluh kali lipat megahnya dari rumah dinasnya yang pernah ia lihat dekat pendopo kota. Bayangkan saja, halaman khusus parkir bisa memuat lebih dua ratus unit roda empat tidak terhitung puluhan unit roda dua yang berada dideretan parkiran lainnya.
Seketika Rose merasa minder ketika memperhatikan semua itu, dan itu masih diarea halaman terbuka belum didalam rumah gedongan itu, batinnya.
"Rose! Ayo!" panggil Marlina pada putrinya yang terlihat seperti patung hidup masih berdiri menatap rumah megah berlantai tiga dihadapannya.
"I-iya Bun!" Rose bergegas, menghampiri kedua orang tuanya yang akan masuk dengan beberapa tamu lainnya yang juga baru tiba.
"Maaf Bapak, Ibu, boleh lihat undangannya?" tanya seorang security yang berdiri disamping pintu masuk dengan sopan, sementara seorang security lainnya hanya berdiri dan turut menampilkan senyum ramahnya.
"Ini undangannya," Marlina segera memberikan kartu undangan yang ia ambil dari dalam tas pestanya.
"Terima kasih Ibu, Bapak, dan Adik, mari silahkan masuk," ucap sang security setelah menerima kartu undangan ditangannya lalu mempersilahkan.
Rose kembali dibuat kagum, ia sempat menghentikan langkahnya menyapu seluruh ruangan pesta yang serupa ballroom hotel bintang lima itu.
Tamu-tamu undangan sudah banyak berdatangan. Rose dapat melihat ada banyak kakak-kakak kelasnya sudah hadir disana sambil mengobrol satu sama lain, sepertinya hanya dirinya saja yang adik kelas yang datang dipesta itu.
Sementara tamu-tamu yang lain adalah para pejabat pemerintah, anggota legislatif dan beberapa pengusaha dikota itu yang pernah ia lihat hanya lewat layar televisi.
"Rose!"
Gadis itu menoleh kedua arah yang berbeda secara bergantian saat ada dua orang yang memanggilnya diwaktu yang bersamaan.
Raut ibunya memberi isyarat padanya, supaya ia segera bergegas mengikuti kedua orang tuanya itu, sementara Steven yang juga memananggilnya berlari kecil menghampirinya.
"Kak Steven," gumam Rose tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Aku menunggumu sedari tadi, syukurlah kau sudah datang." raut Steven nampak senang, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Rose dengan erat.
Wajah gadis itu langsung merona, antara senang karena satu minggu ini tidak bertemu dengan pujaan hati, juga malu karena ayah dan ibunya seketika memelototkan kedua bola mata mereka memandang kedua tangan anak muda itu yang saling bertautan didepan mereka.
"Ehem!" Martin seketika berdehem cukup nyaring. Bukan hanya Rose dan Steven yang menoleh, tetapi beberapa tamu yang ada didekat mereka ikut menoleh kearah Martin yang menjadi sumber suara.
"Oh, Om, Tante. Maaf, tadi saya tidak melihat," ia menarik tangan Rose yang masih digenggamnya erat mendekati kedua orang tua Rose yang baru disapanya lalu menjabat dan mencium punggung tangan keduanya tanpa sungkan, malah Martin dan Marlina yang menoleh kiri dan kanan takut ada yang melihat Steven melakukan itu pada mereka.
"Saya mau mengajak Rose menemui Mami, Om-Tante," tunjuknya pada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan berpenampilan modis, elegan, dengan sanggul yang menambah keanggunannya.
"Untuk apa?" tanya Martin tidak mengerti.
"Mami mau bertemu Rose Om," sahut Steven dengan senyum tipisnya.
"Heum, untuk apa ingin bertemu?" tanya Martin lagi penuh selidik, sebagai seorang ayah dirinya harus tahu jelas mengapa ibu dari Steven sangat ingin bertemu putrinya.
"Tempo hari, aku meminta khusus pada Mami untuk mengundang Rose juga Om, sepertinya Mami penasaran, karena belum pernah bertemu dengan Rose," ucap Steven berusaha memberi penjelasan.
"Hanya bertemu dan melihatkan? Tidak lebih?" protektif Martin lagi. Marlina menyenggol lengan suaminya, begitu melihat raut bingung Steven.
"I-iya Om, hanya bertemu Mami sebentar, tidak lebih," sahut Steven sedikit kikuk dicecar pertanyaan protektif Martin.
"Baiklah, Om bolehkan. Tapi lepaskan tanganmu itu, nggak perlu pake pegang-pegang begitu, tidak baik dilihat orang" tunjuk Martin dengan tatapannya pada dua tangan yang masih saling bertaut itu.
"Oh, iya. Maaf ya Om," Steven buru-buru melepaskan tautan jemarinya pada jemari Rose dengan perasaan malu.
"Saya ijin ajak Rose sebentar ya Om," ucap Steven lagi.
"Heum," sahut Martin.
"Tapi aku takut, juga malu Kak," Martin dan Marlina masih mendengar suara Rose yang baru saja melangkah pergi bersama Steven.
"Tidak perlu malu apalagi takut Rose, Mami orangnya baik kok," ucap Steven menenangkan.
Martin dan Marlina masih mengikuti langkah Steven membawa Rose dengan tatapan mereka hingga tiba pada Mutiara yang tengah berbincang-bincang dengan tamu-tamunya.
"Mi, Mami!" panggil Steven.
"Sebentar ya Ibu-Ibu," ucap Mutiara pada tamu-tamunya. "Ada.apa Sayang, heum?" tanyanya lembut menoleh pada Steven.
"Kenalin, ini Rose pacarnya Steven Mi, yang Steven ceritakan itu," seketika Rose panas dingin mendengar ucapan Steven, ditambah Mutiara dan ibu-ibu tamunya spontan melihat kearahnya dengan penuh perhatian.
Rose me*emas jari-jemarinya sendiri, perasaannya semakin deg-deg'an tidak karuan, takut, malu, gugup, bercampur jadi satu.
Setelah cukup lama menelisik, Mutiara tersenyum lembut lalu mendekati Rose.
"Perkenalkan, aku Maminya Steven," ucapnya lembut dan ramah lalu mengulurkan tangan. Rose kaget, ia cepat-cepat menyambut tangan ibunya Steven dengan tangan bergetar.
"S-saya Rose Tante," suara Rose pun ikut bergetar.
"Iya, Tante sudah tahu namamu Rose. Pantas saja Steven sangat menyukaimu, ternyata kau benar-benar cantik, secantik namamu." Rose seketika tersipu malu mendengar pujian ibu Steven.
"Tanganmu dingin sekali, apa kau sakit? Tanya Mutiara dengan raut cemas, merasakan suhu telapak tangan Rose yang begitu dingin.
"Ng-nggak kok Tante, Rose baik-baik aja," sahut Rose masih merasa gugup.
"Eum, kau pasti gugup, Tante masih muda dulu juga begitu saat pertama kali bertemu calon ibu mertua," ucapnya tertawa kecil, tapi terkesan menjaga image sebagai seorang isteri Bupati.
"Anda bemar bu Mutiara, kita juga begitu dulunya," ucap salah satu tamunya lalu ikut tertawa kecil bersama teman-temannya yang lain.
Rose ikut tertawa kecil namun terlihat sangat canggung, belahan pipinya bertambah merona, membuat Steven semakin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik kekasihnya itu.
"Udah dong Steve, Rose bisa bertambah malu bila kau melihatnya terus seperti itu," goda Mutiara pada putranya yang kini ikut terkekeh mendengar ucapannya.
"Rose, kau sendiri? Mana kedua orang tuamu?" tanya Mutiara sembari melihat kesana-kemari mencari keberadaan orang yang ia tanyakan.
"Ayah dan Bunda disana Tante," Rose cepat-cepat menoleh dan menunjuk keberadaan kedua orang tuanya, yang kebetulan masih memperhatikan dirinya dan Steven.
Mutiara mengikuti arah jari Rose, begitu tatapannya bertemu dengan tatapan Marlina dan Martin, ia segera menyapa lewat lambaian tangannya dengan senyum ramahnya.
Marlina dan Martin yang berdiri tidak jauh dari sana, bahkan obrolan putrinya dengan ibu Steven itu cukup jelas terdengar oleh mereka, turut melemparkan senyum dan mengangguk pelan tanpa berniat datang menghampiri karena sungkan.
"Lihat tuh Yah, ibu Mutiara ramah kok pada putri kita," bisik Marlina pada suaminya.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sena judifa
aku jg ikut deg2an
2023-10-14
1
ayu nuraini maulina
mau ketemu camer om🤭🤭
2023-09-01
0
Cokies🐇
ciyeciyeciyeeee...
2023-09-01
1