10. Bertemu Ibu Steven

Rose menjejakan kakinya dihalaman rumah mewah dan sangat megah itu, sementara ayah dan ibunya memarkirkan mobil mereka diparkiran yang sudah tersedia dipinggir taman rumah gedongan itu.

Ini kali pertama Rose menginjakan kakinya disana. Ia lumayan takjub, ternyata rumah pribadi sang Bupati sepuluh kali lipat megahnya dari rumah dinasnya yang pernah ia lihat dekat pendopo kota. Bayangkan saja, halaman khusus parkir bisa memuat lebih dua ratus unit roda empat tidak terhitung puluhan unit roda dua yang berada dideretan parkiran lainnya.

Seketika Rose merasa minder ketika memperhatikan semua itu, dan itu masih diarea halaman terbuka belum didalam rumah gedongan itu, batinnya.

"Rose! Ayo!" panggil Marlina pada putrinya yang terlihat seperti patung hidup masih berdiri menatap rumah megah berlantai tiga dihadapannya.

"I-iya Bun!" Rose bergegas, menghampiri kedua orang tuanya yang akan masuk dengan beberapa tamu lainnya yang juga baru tiba.

"Maaf Bapak, Ibu, boleh lihat undangannya?" tanya seorang security yang berdiri disamping pintu masuk dengan sopan, sementara seorang security lainnya hanya berdiri dan turut menampilkan senyum ramahnya.

"Ini undangannya," Marlina segera memberikan kartu undangan yang ia ambil dari dalam tas pestanya.

"Terima kasih Ibu, Bapak, dan Adik, mari silahkan masuk," ucap sang security setelah menerima kartu undangan ditangannya lalu mempersilahkan.

Rose kembali dibuat kagum, ia sempat menghentikan langkahnya menyapu seluruh ruangan pesta yang serupa ballroom hotel bintang lima itu.

Tamu-tamu undangan sudah banyak berdatangan. Rose dapat melihat ada banyak kakak-kakak kelasnya sudah hadir disana sambil mengobrol satu sama lain, sepertinya hanya dirinya saja yang adik kelas yang datang dipesta itu.

Sementara tamu-tamu yang lain adalah para pejabat pemerintah, anggota legislatif dan beberapa pengusaha dikota itu yang pernah ia lihat hanya lewat layar televisi.

"Rose!"

Gadis itu menoleh kedua arah yang berbeda secara bergantian saat ada dua orang yang memanggilnya diwaktu yang bersamaan.

Raut ibunya memberi isyarat padanya, supaya ia segera bergegas mengikuti kedua orang tuanya itu, sementara Steven yang juga memananggilnya berlari kecil menghampirinya.

"Kak Steven," gumam Rose tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

"Aku menunggumu sedari tadi, syukurlah kau sudah datang." raut Steven nampak senang, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Rose dengan erat.

Wajah gadis itu langsung merona, antara senang karena satu minggu ini tidak bertemu dengan pujaan hati, juga malu karena ayah dan ibunya seketika memelototkan kedua bola mata mereka memandang kedua tangan anak muda itu yang saling bertautan didepan mereka.

"Ehem!" Martin seketika berdehem cukup nyaring. Bukan hanya Rose dan Steven yang menoleh, tetapi beberapa tamu yang ada didekat mereka ikut menoleh kearah Martin yang menjadi sumber suara.

"Oh, Om, Tante. Maaf, tadi saya tidak melihat," ia menarik tangan Rose yang masih digenggamnya erat mendekati kedua orang tua Rose yang baru disapanya lalu menjabat dan mencium punggung tangan keduanya tanpa sungkan, malah Martin dan Marlina yang menoleh kiri dan kanan takut ada yang melihat Steven melakukan itu pada mereka.

"Saya mau mengajak Rose menemui Mami, Om-Tante," tunjuknya pada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan berpenampilan modis, elegan, dengan sanggul yang menambah keanggunannya.

"Untuk apa?" tanya Martin tidak mengerti.

"Mami mau bertemu Rose Om," sahut Steven dengan senyum tipisnya.

"Heum, untuk apa ingin bertemu?" tanya Martin lagi penuh selidik, sebagai seorang ayah dirinya harus tahu jelas mengapa ibu dari Steven sangat ingin bertemu putrinya.

"Tempo hari, aku meminta khusus pada Mami untuk mengundang Rose juga Om, sepertinya Mami penasaran, karena belum pernah bertemu dengan Rose," ucap Steven berusaha memberi penjelasan.

"Hanya bertemu dan melihatkan? Tidak lebih?" protektif Martin lagi. Marlina menyenggol lengan suaminya, begitu melihat raut bingung Steven.

"I-iya Om, hanya bertemu Mami sebentar, tidak lebih," sahut Steven sedikit kikuk dicecar pertanyaan protektif Martin.

"Baiklah, Om bolehkan. Tapi lepaskan tanganmu itu, nggak perlu pake pegang-pegang begitu, tidak baik dilihat orang" tunjuk Martin dengan tatapannya pada dua tangan yang masih saling bertaut itu.

"Oh, iya. Maaf ya Om," Steven buru-buru melepaskan tautan jemarinya pada jemari Rose dengan perasaan malu.

"Saya ijin ajak Rose sebentar ya Om," ucap Steven lagi.

"Heum," sahut Martin.

"Tapi aku takut, juga malu Kak," Martin dan Marlina masih mendengar suara Rose yang baru saja melangkah pergi bersama Steven.

"Tidak perlu malu apalagi takut Rose, Mami orangnya baik kok," ucap Steven menenangkan.

Martin dan Marlina masih mengikuti langkah Steven membawa Rose dengan tatapan mereka hingga tiba pada Mutiara yang tengah berbincang-bincang dengan tamu-tamunya.

"Mi, Mami!" panggil Steven.

"Sebentar ya Ibu-Ibu," ucap Mutiara pada tamu-tamunya. "Ada.apa Sayang, heum?" tanyanya lembut menoleh pada Steven.

"Kenalin, ini Rose pacarnya Steven Mi, yang Steven ceritakan itu," seketika Rose panas dingin mendengar ucapan Steven, ditambah Mutiara dan ibu-ibu tamunya spontan melihat kearahnya dengan penuh perhatian.

Rose me*emas jari-jemarinya sendiri, perasaannya semakin deg-deg'an tidak karuan, takut, malu, gugup, bercampur jadi satu.

Setelah cukup lama menelisik, Mutiara tersenyum lembut lalu mendekati Rose.

"Perkenalkan, aku Maminya Steven," ucapnya lembut dan ramah lalu mengulurkan tangan. Rose kaget, ia cepat-cepat menyambut tangan ibunya Steven dengan tangan bergetar.

"S-saya Rose Tante," suara Rose pun ikut bergetar.

"Iya, Tante sudah tahu namamu Rose. Pantas saja Steven sangat menyukaimu, ternyata kau benar-benar cantik, secantik namamu." Rose seketika tersipu malu mendengar pujian ibu Steven.

"Tanganmu dingin sekali, apa kau sakit? Tanya Mutiara dengan raut cemas, merasakan suhu telapak tangan Rose yang begitu dingin.

"Ng-nggak kok Tante, Rose baik-baik aja," sahut Rose masih merasa gugup.

"Eum, kau pasti gugup, Tante masih muda dulu juga begitu saat pertama kali bertemu calon ibu mertua," ucapnya tertawa kecil, tapi terkesan menjaga image sebagai seorang isteri Bupati.

"Anda bemar bu Mutiara, kita juga begitu dulunya," ucap salah satu tamunya lalu ikut tertawa kecil bersama teman-temannya yang lain.

Rose ikut tertawa kecil namun terlihat sangat canggung, belahan pipinya bertambah merona, membuat Steven semakin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik kekasihnya itu.

"Udah dong Steve, Rose bisa bertambah malu bila kau melihatnya terus seperti itu," goda Mutiara pada putranya yang kini ikut terkekeh mendengar ucapannya.

"Rose, kau sendiri? Mana kedua orang tuamu?" tanya Mutiara sembari melihat kesana-kemari mencari keberadaan orang yang ia tanyakan.

"Ayah dan Bunda disana Tante," Rose cepat-cepat menoleh dan menunjuk keberadaan kedua orang tuanya, yang kebetulan masih memperhatikan dirinya dan Steven.

Mutiara mengikuti arah jari Rose, begitu tatapannya bertemu dengan tatapan Marlina dan Martin, ia segera menyapa lewat lambaian tangannya dengan senyum ramahnya.

Marlina dan Martin yang berdiri tidak jauh dari sana, bahkan obrolan putrinya dengan ibu Steven itu cukup jelas terdengar oleh mereka, turut melemparkan senyum dan mengangguk pelan tanpa berniat datang menghampiri karena sungkan.

"Lihat tuh Yah, ibu Mutiara ramah kok pada putri kita," bisik Marlina pada suaminya.

Bersambung...👉

Terpopuler

Comments

Sena judifa

Sena judifa

aku jg ikut deg2an

2023-10-14

1

ayu nuraini maulina

ayu nuraini maulina

mau ketemu camer om🤭🤭

2023-09-01

0

Cokies🐇

Cokies🐇

ciyeciyeciyeeee...

2023-09-01

1

lihat semua
Episodes
1 1. Oh My God
2 2. Basa-Basi
3 3. Laporan Warga
4 4. Burung
5 5. Berani Katakan Tidak!
6 6. Kami Berpacaran
7 7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8 8. Disidang Ayah
9 9. Meminta Ijin
10 10. Bertemu Ibu Steven
11 11. Suara Lembut Setenang Telaga
12 12. Jangan Temui Rose Lagi
13 13. Ingat Baik-Baik
14 14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15 15. Bebas Dari Belajar
16 16. Ruangan Kepala Sekolah
17 17. Hadiah
18 18. Kepohonan
19 HARI PERNIKAHAN
20 MAKAN SIANG
21 21. PENANGKALNYA
22 22. PERHATIAN KECIL
23 23. BELAJAR
24 24. Terkontaminasi
25 25. HUKUMAN (Visual Rose)
26 26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27 TERBANGUN (Visual Reyn)
28 28. EMPAT MATA
29 29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30 30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31 31. MAKANAN KESUBURAN
32 KITA SUDAH SELESAI
33 33. GADIS CENGENG
34 34. AKU BUKAN PINKY BOY
35 35. Kuli Panggul
36 36. KENA BATUNYA
37 37. BERTEMU MANTAN LAGI
38 38. ANDAI SAJA
39 39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40 40. BUKTI REKAMAN
41 41. OBROLAN KELUARGA
42 42. SALAD BUAH
43 43. MENGAMBANG
44 44. RISIH
45 45. TENTANG REYN HAMDANI
46 46. WALK IN CLOSET
47 47. BAHAYA
48 48. MEMPERINGATI RINA
49 49. MEMBUNTUTI
50 50. ZAMAN BATU
51 51. RENCANA AWAL
52 52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53 53. PESAN REYN
54 54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55 55. Di RESTORAN
56 56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57 57. TEGANG DAN GUGUP
58 58. STATUS PERKAWINAN
59 59. TERLALU NAIF
60 60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61 61. MERASA KUSUT
62 62. GARA-GARA ROSE
63 63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64 64. KABUR KARENA BIKINI
65 65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66 66. MULAI TERBONGKAR
67 67. GEGER
68 68. KENAPA JADI KACAU?
69 69. SO SWEET
70 70. PERLAWANAN MARLINA
71 71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72 72. TANGGAPAN PAK KADIN
73 73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74 74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75 75. SERIBU KALI LIPAT
76 76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77 77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78 78. GANTI RUGI
79 79. MEMOHON BANTUAN
80 80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81 81. KUSUT
82 82. OTW Berkembang Biak
83 83. Apa ini punya Rose?
84 84. Nggak Kapok
85 85. Ratunya
86 86. Pengen Telur Dinosaurus
87 87. Kaget
88 88. Clara Pulang
89 89. Setitik Terang
90 90. Juru Bicara
91 91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92 92. Maju atau Mundur
93 93. Tajau Emas
94 94. Insiden Es Krim
95 95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96 96. Dsangka Merindu
97 97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98 98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99 99. Clara Sakit
100 100. Gangguan Rose
101 101. Bram! Jangan Pergi!
102 102. Serasa Ada Yang Hilang
103 103. Sang Guru Jablai
104 104. Konvoi Kelulusan
105 105. Bertemu Orang Tua Olin
106 106. Terbang
107 107. Menonton Secara Live
108 108. Mengantar Leony Pulang
109 109. Kita Urus Rasa Bencimu
110 110. The End
Episodes

Updated 110 Episodes

1
1. Oh My God
2
2. Basa-Basi
3
3. Laporan Warga
4
4. Burung
5
5. Berani Katakan Tidak!
6
6. Kami Berpacaran
7
7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8
8. Disidang Ayah
9
9. Meminta Ijin
10
10. Bertemu Ibu Steven
11
11. Suara Lembut Setenang Telaga
12
12. Jangan Temui Rose Lagi
13
13. Ingat Baik-Baik
14
14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15
15. Bebas Dari Belajar
16
16. Ruangan Kepala Sekolah
17
17. Hadiah
18
18. Kepohonan
19
HARI PERNIKAHAN
20
MAKAN SIANG
21
21. PENANGKALNYA
22
22. PERHATIAN KECIL
23
23. BELAJAR
24
24. Terkontaminasi
25
25. HUKUMAN (Visual Rose)
26
26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27
TERBANGUN (Visual Reyn)
28
28. EMPAT MATA
29
29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30
30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31
31. MAKANAN KESUBURAN
32
KITA SUDAH SELESAI
33
33. GADIS CENGENG
34
34. AKU BUKAN PINKY BOY
35
35. Kuli Panggul
36
36. KENA BATUNYA
37
37. BERTEMU MANTAN LAGI
38
38. ANDAI SAJA
39
39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40
40. BUKTI REKAMAN
41
41. OBROLAN KELUARGA
42
42. SALAD BUAH
43
43. MENGAMBANG
44
44. RISIH
45
45. TENTANG REYN HAMDANI
46
46. WALK IN CLOSET
47
47. BAHAYA
48
48. MEMPERINGATI RINA
49
49. MEMBUNTUTI
50
50. ZAMAN BATU
51
51. RENCANA AWAL
52
52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53
53. PESAN REYN
54
54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55
55. Di RESTORAN
56
56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57
57. TEGANG DAN GUGUP
58
58. STATUS PERKAWINAN
59
59. TERLALU NAIF
60
60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61
61. MERASA KUSUT
62
62. GARA-GARA ROSE
63
63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64
64. KABUR KARENA BIKINI
65
65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66
66. MULAI TERBONGKAR
67
67. GEGER
68
68. KENAPA JADI KACAU?
69
69. SO SWEET
70
70. PERLAWANAN MARLINA
71
71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72
72. TANGGAPAN PAK KADIN
73
73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74
74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75
75. SERIBU KALI LIPAT
76
76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77
77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78
78. GANTI RUGI
79
79. MEMOHON BANTUAN
80
80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81
81. KUSUT
82
82. OTW Berkembang Biak
83
83. Apa ini punya Rose?
84
84. Nggak Kapok
85
85. Ratunya
86
86. Pengen Telur Dinosaurus
87
87. Kaget
88
88. Clara Pulang
89
89. Setitik Terang
90
90. Juru Bicara
91
91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92
92. Maju atau Mundur
93
93. Tajau Emas
94
94. Insiden Es Krim
95
95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96
96. Dsangka Merindu
97
97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98
98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99
99. Clara Sakit
100
100. Gangguan Rose
101
101. Bram! Jangan Pergi!
102
102. Serasa Ada Yang Hilang
103
103. Sang Guru Jablai
104
104. Konvoi Kelulusan
105
105. Bertemu Orang Tua Olin
106
106. Terbang
107
107. Menonton Secara Live
108
108. Mengantar Leony Pulang
109
109. Kita Urus Rasa Bencimu
110
110. The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!