Kini Martin sudah bernapas lega, pesta resepsi pernikahan keponakannya telah berjalan lancar dan baru saja usai digelar di akhir pekan itu.
Walau telinganya sempat terasa panas, ketika tanpa sengaja mendengar gunjingan dari beberapa tamu undangan yang hadir mengenai kehamilan Shasa ditengah acara pesta, namun ia tetap berusaha menyabarkan diri sendiri, karena inilah yang menjadi resiko bila tidak bisa menjaga nama baik keluarga.
Belum lagi dirinya melihat kedua orang tua Roy pun sudah pulang lebih dulu seperti tamu undangan, membuat Martin mengelus dada, supaya stok kesabaran masih tetap tersisa dalam dirinya.
"Ayah, Bunda lupa kalau pukul 8 malam ini kita diundang ibu Mutiara, acara syukuran putra mereka Steven atas kelulusannya dari SMU." bisik Marlina disaat suasana sudah mulai sepi dari tamu undangan.
"Kenapa baru bilang sekarang sih Bun?" Martin menoleh kearah isterinya.
"Maaf ya Yah, Bunda benar-benar lupa, selama 4 hari ini kan Bunda sangat sibuk belanja dan mempersiapkan pesta ini bersama Nina," sahut Marlina merasa bersalah.
"Kalau tidak datang, nggak enak juga sih Yah, soalnya ibu Mutiara mengantar langsung undangan itu pada Bunda saat di kantor," terang Marlina.
"Ibu Mutiara, isteri pak Farid Jhon bupati kita mengantar langsung undangan itu pada Bunda?" tanya Martin dengan raut tak percaya. Setahunya, wanita berkelas itu tidak pernah melakukan itu sendiri, dan selalu ajudan atau orang suruhannya saja yang mengantar hal remeh-temeh seperti itu.
"Iya Yah, itu benar, satu hari sebelum Bunda meminta ijin kerja untuk hajatan Shasa," sahut Marlina lagi. "Dan ibu Mutiara meminta Rose juga harus hadir bersama kita," imbuhnya.
"Apa mereka mengenal putri kita juga?" Martin kembali keheranan.
"Katanya itu permintaan putranya Steven, Yah." terang Marlina sesuai apa yang dikatakan Mutiara padanya tempo hari.
"Sepertinya aneh. Apa Bunda tidak curiga? Keluarga kita tidak dekat loh dengan mereka. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Rose yang berpacaran dengan Steven? Atau--" Martin nampak menduga-duga sesuatu, hingga rautnya seketika terlihat resah.
"Tidak baik berprasangka yang tidak-tidak, Yah. Ayo kita berpamitan dulu dengan Nina, ini sudah hampir pukul 6 sore, kita perlu bersiap-siap juga untuk malam ini," ujar Marlina menarik pergelangan tangan Martin untuk menemui Nina adik iparnya.
"Roy, Shasa," Martin menghentikan langkahnya didekat kedua pengantin baru yang masih duduk makan disalah satu meja makan untuk tamu undangan. Suasana pesta yang cukup ramai sepanjang hari itu membuat keduanya baru bisa mengisi perutnya setelah para tamu pulang.
"Paman, Bibi" sepasang pengantin itu buru-buru berdiri dan mencium punggung tangan Martin dan Marlina yang berdiri disisi meja.
"Selamat menempuh hidup baru ya buat kalian berdua." ucap Martin menyentuh lembut puncak kepala keduanya. "Roy, sayangi isterimu, jangan bermain tangan padanya. Dan kau Shasa, hormati suamimu, dan lakukan tugasmu sebagai isteri dengan tulus ikhlas." lalu menurunkan tangannya dari atas kepala keduanya.
"Paman dan Bibi mau berpamitan dulu, kebetulan pukul 8 malam ini ada undangan lagi," ucap Martin mengulas senyum pada keduanya, begitu pula dengan Marlina yang berdiri disebelahnya.
"Iya Paman, terima kasih banyak ya Paman, Bibi," ucap keduanya bersamaan lalu kembali mencium punggung tangan Martin dan Marlina sebelum mereka pergi.
"Nina! Mas dan Mbak-mu mau pamit dulu!" ucap Martin sedikit mengeraskan suaranya, mendekati adiknya yang sibuk membenahi sedikit kekacauan pesta, akibat terpaan angin lumayan kencang yang menyapu tenda bagian depan.
Nina menghentikan kesibukannya, ia bergegas mendekati Martin dan Marlina yang sudah bersiap pulang. "Kok buru-buru sih Mas, Mbak?" tanyanya.
"Ini, ada undangan pukul 8 malam ini, kami perlu bersiap-siap. Maaf ya dek Nina, tidak bisa membantu membenahi," ucap Marlina merasa tak enak.
"Nggak pa-pa kok Mbak. Mbak dan Mas sudah sangat banyak membantu, pesta ini juga dapat terlaksana karena bantuan dari Mas dan Mbak juga. Aku dan Shasa, kami sangat berterima kasih, dan belum bisa membalas segala kebaikan Mas sama Mbak," ucapnya dengan raut haru, entah apa jadinya hari ini, bila kakak dan isterinya itu tidak turun tangan membantu perhelatan resepsi pernikahan putrinya, sedangkan dirinya hanya seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya.
"Nina-Nina--, apa yang kami lakukan tidak meminta balasan, Shasa sama seperti putri kami juga," ungkap Martin mengomentari ucapan adiknya itu.
"Betul apa kata ayah Bram itu dek Nina," sambung Marlina ikut bersuara, sembari memeluk hangat tubuh adik iparnya yang terlihat lelah itu.
"Iya Mbak, terima kasih bamyak. Tidak tau apa jadinya hari ini bila Mbak, dan mas Martin tidak ada," ucapnya dengan suara parau bergetar hendak menangis. Marlina menepuk-nepuk pelan punggung adik iparnya untuk menyalurkan rasa tenang, ia sangat memahami apa yang dirasakan sang adik iparnya itu.
"Udah ya, kami pulang dulu," pamit Marlina lembut dan merenggangkan pelukannya.
"Tunggu sebentar Mbak, tadi aku meminta seseorang untuk menyiapkan rendang dalam kotak makanan untuk dibawa pulang." ucap Nina lalu berteriak memanggil seorang wanita paruh baya, tetangga samping rumah yang ia minta untuk menyiapkan pesanannya.
"Aduh, jangan repot-repot dek Nina, dirumah tidak ada yang makan nanti, kami semua sudah kenyang disini," tolak Marlina halus.
"Tidak ngerepotin kok Mbak, ada Bram yang bisa memakannya setelah pulang berkerja. Kebetulan tadi si Bram pesan padaku supaya bisa dibawa pulang sama Mas dan Mbak," ucap Nina sambil menyodorkan kotak makanan yang cukup besar.
"Bram? Ya ampun, anak itu ada-ada saja," kekeh Marlina, mengingat putra sulungnya yang memang sangat menyukai masakan daging rendang.
"Ma kasih banyak loh dek Nina," Marlina menerima kotak makanan yang disodorkan oleh adik iparnya itu padanya.
"Sama-sama Mbak," sahut Nina dengan senyum khasnya.
...⚘️⚘️⚘️...
"Mau kemana Rose? Udah cantik dan wangi," tanya Marlina memperhatikan penampilan putrinya yang mengenakan dres lebar dibawah lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Juga wajahnya, yang telah dipolesi make-up tipis, membuat Marlina tertegun, menyadari bila putrinya itu memang mulai beranjak dewasa.
Martin yang berniat naik ke lantai 2 menghentikan langkahnya dibawah tangga, turut memperhatikan putri kesayangannya itu.
Rose berdiri disisi sofa ruang keluarga, dirinya sengaja menunggu kedua orang tuanya pulang untuk meminta ijin.
Tiga jam yang lalu ia pulang lebih awal dari resepsi pernikahan Shasa bersama Bram kakaknya, demi mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadiri undangan spesial.
"Ayah, Bunda, Rosa mau minta ijin, ada pesta syukuran kelulusan kakak kelas Rose" ucapnya kaku. Jari-jemarinya yang saling bertautan kini saling me*emas, terkesan takut permohonannya ditolak.
"Siapa namanya?" tanya Marlina masih menenteng kotak makanan ditangannya berniat membawanya kedapur.
"Temen--" Rosa tidak berani menyebut namanya. "Sebentar lagi dia mau menjemput Rose. Bolehkan Ayah? Bunda?" Rose kembali meminta ijin, kali ini ia memperlihatkan puppy eyes andalannya untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.
"Apa kakak kelas yang akan menjemputmu itu Steven Jhon, pacarmu itu?" todong Martin.
"Bagaimana ayah bisa tahu??" kaget Rose dengan bibir sedikit terbuka, perasaan cemas ditolak kembali menyergap hatinya, mengingat ayahnya pernah melarangnya untuk bertemu dan berhubungan Steven.
"Kalau kau sudah mempersiapkan diri secantik itu, tentu saja Ayah bisa menebaknya." Rose seketika tersipu mendengar ucapan ayahnya.
"Bolehkan Ayaah?" mohonnya benada manja, dengan dua telapak tangan menyatu didepan dada.
Martin mendesah. Entah kenapa perasaannya sungguh tidak enak saat itu, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi melihat keinginan putrinya yang sudah bersiap, nalurinya sebagai seorang ayah luluh juga demi tetap melihat senyum bahagia diwajah putri kesayangannya itu.
"Baiklah," setuju Martin.
Rose terlonjak, ia tidak menduga bakal mendapat ijin dari ayahnya, karena ia sangat tahu bila ayahnya sangat menentang hubungannya dengan Steven.
"IYES!!!" pekik Rose tak sadar, ia lalu melompat kegirangan dan memeluk ayahnya hingga pria itu hampir saja terjatuh bila saja tidak berpegangan pada pegangan tangga.
"Rose, kau mau membahayakan Ayah ya, bobot tubuhmu itu sudah sangat berat, Nak," ucap Martin yang kaget menerima perlakuan manja putrinya.
"Maaf Ayah, Rose kelewat senang," ucapnya lalu melepas pelukannya dari sang ayah, sementara Marlina hanya mengelengkan kepala lalu beranjak kedapur dengan senyumnya.
"Kau boleh pergi, tapi tidak dijemput oleh Steven. Kau akan berangkat bersama Ayah dan Bunda, kami juga mendapat undangan ke acara syukuran Steven," ucap Martin, lalu menaiki anak-anak tangga, meninggalkan Rose dengan mulutnya yang kembali terbuka mendengar ucapan ayahnya.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
kkkkkkk, gak bisa bebas dong rose
sumpah ngakak aku
2023-10-18
1
Sena judifa
apa mw membicarakan tentang anak2 mereka y
2023-10-14
1
Putra Al - Bantani
kereeennnn... lanjut kak....
mamoir juga ya kak ketempat ku
2023-09-27
1