9. Meminta Ijin

Kini Martin sudah bernapas lega, pesta resepsi pernikahan keponakannya telah berjalan lancar dan baru saja usai digelar di akhir pekan itu.

Walau telinganya sempat terasa panas, ketika tanpa sengaja mendengar gunjingan dari beberapa tamu undangan yang hadir mengenai kehamilan Shasa ditengah acara pesta, namun ia tetap berusaha menyabarkan diri sendiri, karena inilah yang menjadi resiko bila tidak bisa menjaga nama baik keluarga.

Belum lagi dirinya melihat kedua orang tua Roy pun sudah pulang lebih dulu seperti tamu undangan, membuat Martin mengelus dada, supaya stok kesabaran masih tetap tersisa dalam dirinya.

"Ayah, Bunda lupa kalau pukul 8 malam ini kita diundang ibu Mutiara, acara syukuran putra mereka Steven atas kelulusannya dari SMU." bisik Marlina disaat suasana sudah mulai sepi dari tamu undangan.

"Kenapa baru bilang sekarang sih Bun?" Martin menoleh kearah isterinya.

"Maaf ya Yah, Bunda benar-benar lupa, selama 4 hari ini kan Bunda sangat sibuk belanja dan mempersiapkan pesta ini bersama Nina," sahut Marlina merasa bersalah.

"Kalau tidak datang, nggak enak juga sih Yah, soalnya ibu Mutiara mengantar langsung undangan itu pada Bunda saat di kantor," terang Marlina.

"Ibu Mutiara, isteri pak Farid Jhon bupati kita mengantar langsung undangan itu pada Bunda?" tanya Martin dengan raut tak percaya. Setahunya, wanita berkelas itu tidak pernah melakukan itu sendiri, dan selalu ajudan atau orang suruhannya saja yang mengantar hal remeh-temeh seperti itu.

"Iya Yah, itu benar, satu hari sebelum Bunda meminta ijin kerja untuk hajatan Shasa," sahut Marlina lagi. "Dan ibu Mutiara meminta Rose juga harus hadir bersama kita," imbuhnya.

"Apa mereka mengenal putri kita juga?" Martin kembali keheranan.

"Katanya itu permintaan putranya Steven, Yah." terang Marlina sesuai apa yang dikatakan Mutiara padanya tempo hari.

"Sepertinya aneh. Apa Bunda tidak curiga? Keluarga kita tidak dekat loh dengan mereka. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Rose yang berpacaran dengan Steven? Atau--" Martin nampak menduga-duga sesuatu, hingga rautnya seketika terlihat resah.

"Tidak baik berprasangka yang tidak-tidak, Yah. Ayo kita berpamitan dulu dengan Nina, ini sudah hampir pukul 6 sore, kita perlu bersiap-siap juga untuk malam ini," ujar Marlina menarik pergelangan tangan Martin untuk menemui Nina adik iparnya.

"Roy, Shasa," Martin menghentikan langkahnya didekat kedua pengantin baru yang masih duduk makan disalah satu meja makan untuk tamu undangan. Suasana pesta yang cukup ramai sepanjang hari itu membuat keduanya baru bisa mengisi perutnya setelah para tamu pulang.

"Paman, Bibi" sepasang pengantin itu buru-buru berdiri dan mencium punggung tangan Martin dan Marlina yang berdiri disisi meja.

"Selamat menempuh hidup baru ya buat kalian berdua." ucap Martin menyentuh lembut puncak kepala keduanya. "Roy, sayangi isterimu, jangan bermain tangan padanya. Dan kau Shasa, hormati suamimu, dan lakukan tugasmu sebagai isteri dengan tulus ikhlas." lalu menurunkan tangannya dari atas kepala keduanya.

"Paman dan Bibi mau berpamitan dulu, kebetulan pukul 8 malam ini ada undangan lagi," ucap Martin mengulas senyum pada keduanya, begitu pula dengan Marlina yang berdiri disebelahnya.

"Iya Paman, terima kasih banyak ya Paman, Bibi," ucap keduanya bersamaan lalu kembali mencium punggung tangan Martin dan Marlina sebelum mereka pergi.

"Nina! Mas dan Mbak-mu mau pamit dulu!" ucap Martin sedikit mengeraskan suaranya, mendekati adiknya yang sibuk membenahi sedikit kekacauan pesta, akibat terpaan angin lumayan kencang yang menyapu tenda bagian depan.

Nina menghentikan kesibukannya, ia bergegas mendekati Martin dan Marlina yang sudah bersiap pulang. "Kok buru-buru sih Mas, Mbak?" tanyanya.

"Ini, ada undangan pukul 8 malam ini, kami perlu bersiap-siap. Maaf ya dek Nina, tidak bisa membantu membenahi," ucap Marlina merasa tak enak.

"Nggak pa-pa kok Mbak. Mbak dan Mas sudah sangat banyak membantu, pesta ini juga dapat terlaksana karena bantuan dari Mas dan Mbak juga. Aku dan Shasa, kami sangat berterima kasih, dan belum bisa membalas segala kebaikan Mas sama Mbak," ucapnya dengan raut haru, entah apa jadinya hari ini, bila kakak dan isterinya itu tidak turun tangan membantu perhelatan resepsi pernikahan putrinya, sedangkan dirinya hanya seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya.

"Nina-Nina--, apa yang kami lakukan tidak meminta balasan, Shasa sama seperti putri kami juga," ungkap Martin mengomentari ucapan adiknya itu.

"Betul apa kata ayah Bram itu dek Nina," sambung Marlina ikut bersuara, sembari memeluk hangat tubuh adik iparnya yang terlihat lelah itu.

"Iya Mbak, terima kasih bamyak. Tidak tau apa jadinya hari ini bila Mbak, dan mas Martin tidak ada," ucapnya dengan suara parau bergetar hendak menangis. Marlina menepuk-nepuk pelan punggung adik iparnya untuk menyalurkan rasa tenang, ia sangat memahami apa yang dirasakan sang adik iparnya itu.

"Udah ya, kami pulang dulu," pamit Marlina lembut dan merenggangkan pelukannya.

"Tunggu sebentar Mbak, tadi aku meminta seseorang untuk menyiapkan rendang dalam kotak makanan untuk dibawa pulang." ucap Nina lalu berteriak memanggil seorang wanita paruh baya, tetangga samping rumah yang ia minta untuk menyiapkan pesanannya.

"Aduh, jangan repot-repot dek Nina, dirumah tidak ada yang makan nanti, kami semua sudah kenyang disini," tolak Marlina halus.

"Tidak ngerepotin kok Mbak, ada Bram yang bisa memakannya setelah pulang berkerja. Kebetulan tadi si Bram pesan padaku supaya bisa dibawa pulang sama Mas dan Mbak," ucap Nina sambil menyodorkan kotak makanan yang cukup besar.

"Bram? Ya ampun, anak itu ada-ada saja," kekeh Marlina, mengingat putra sulungnya yang memang sangat menyukai masakan daging rendang.

"Ma kasih banyak loh dek Nina," Marlina menerima kotak makanan yang disodorkan oleh adik iparnya itu padanya.

"Sama-sama Mbak," sahut Nina dengan senyum khasnya.

...⚘️⚘️⚘️...

"Mau kemana Rose? Udah cantik dan wangi," tanya Marlina memperhatikan penampilan putrinya yang mengenakan dres lebar dibawah lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus. Juga wajahnya, yang telah dipolesi make-up tipis, membuat Marlina tertegun, menyadari bila putrinya itu memang mulai beranjak dewasa.

Martin yang berniat naik ke lantai 2 menghentikan langkahnya dibawah tangga, turut memperhatikan putri kesayangannya itu.

Rose berdiri disisi sofa ruang keluarga, dirinya sengaja menunggu kedua orang tuanya pulang untuk meminta ijin.

Tiga jam yang lalu ia pulang lebih awal dari resepsi pernikahan Shasa bersama Bram kakaknya, demi mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadiri undangan spesial.

"Ayah, Bunda, Rosa mau minta ijin, ada pesta syukuran kelulusan kakak kelas Rose" ucapnya kaku. Jari-jemarinya yang saling bertautan kini saling me*emas, terkesan takut permohonannya ditolak.

"Siapa namanya?" tanya Marlina masih menenteng kotak makanan ditangannya berniat membawanya kedapur.

"Temen--" Rosa tidak berani menyebut namanya. "Sebentar lagi dia mau menjemput Rose. Bolehkan Ayah? Bunda?" Rose kembali meminta ijin, kali ini ia memperlihatkan puppy eyes andalannya untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.

"Apa kakak kelas yang akan menjemputmu itu Steven Jhon, pacarmu itu?" todong Martin.

"Bagaimana ayah bisa tahu??" kaget Rose dengan bibir sedikit terbuka, perasaan cemas ditolak kembali menyergap hatinya, mengingat ayahnya pernah melarangnya untuk bertemu dan berhubungan Steven.

"Kalau kau sudah mempersiapkan diri secantik itu, tentu saja Ayah bisa menebaknya." Rose seketika tersipu mendengar ucapan ayahnya.

"Bolehkan Ayaah?" mohonnya benada manja, dengan dua telapak tangan menyatu didepan dada.

Martin mendesah. Entah kenapa perasaannya sungguh tidak enak saat itu, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi melihat keinginan putrinya yang sudah bersiap, nalurinya sebagai seorang ayah luluh juga demi tetap melihat senyum bahagia diwajah putri kesayangannya itu.

"Baiklah," setuju Martin.

Rose terlonjak, ia tidak menduga bakal mendapat ijin dari ayahnya, karena ia sangat tahu bila ayahnya sangat menentang hubungannya dengan Steven.

"IYES!!!" pekik Rose tak sadar, ia lalu melompat kegirangan dan memeluk ayahnya hingga pria itu hampir saja terjatuh bila saja tidak berpegangan pada pegangan tangga.

"Rose, kau mau membahayakan Ayah ya, bobot tubuhmu itu sudah sangat berat, Nak," ucap Martin yang kaget menerima perlakuan manja putrinya.

"Maaf Ayah, Rose kelewat senang," ucapnya lalu melepas pelukannya dari sang ayah, sementara Marlina hanya mengelengkan kepala lalu beranjak kedapur dengan senyumnya.

"Kau boleh pergi, tapi tidak dijemput oleh Steven. Kau akan berangkat bersama Ayah dan Bunda, kami juga mendapat undangan ke acara syukuran Steven," ucap Martin, lalu menaiki anak-anak tangga, meninggalkan Rose dengan mulutnya yang kembali terbuka mendengar ucapan ayahnya.

Bersambung...👉

Terpopuler

Comments

auliasiamatir

auliasiamatir

kkkkkkk, gak bisa bebas dong rose
sumpah ngakak aku

2023-10-18

1

Sena judifa

Sena judifa

apa mw membicarakan tentang anak2 mereka y

2023-10-14

1

Putra Al - Bantani

Putra Al - Bantani

kereeennnn... lanjut kak....
mamoir juga ya kak ketempat ku

2023-09-27

1

lihat semua
Episodes
1 1. Oh My God
2 2. Basa-Basi
3 3. Laporan Warga
4 4. Burung
5 5. Berani Katakan Tidak!
6 6. Kami Berpacaran
7 7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8 8. Disidang Ayah
9 9. Meminta Ijin
10 10. Bertemu Ibu Steven
11 11. Suara Lembut Setenang Telaga
12 12. Jangan Temui Rose Lagi
13 13. Ingat Baik-Baik
14 14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15 15. Bebas Dari Belajar
16 16. Ruangan Kepala Sekolah
17 17. Hadiah
18 18. Kepohonan
19 HARI PERNIKAHAN
20 MAKAN SIANG
21 21. PENANGKALNYA
22 22. PERHATIAN KECIL
23 23. BELAJAR
24 24. Terkontaminasi
25 25. HUKUMAN (Visual Rose)
26 26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27 TERBANGUN (Visual Reyn)
28 28. EMPAT MATA
29 29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30 30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31 31. MAKANAN KESUBURAN
32 KITA SUDAH SELESAI
33 33. GADIS CENGENG
34 34. AKU BUKAN PINKY BOY
35 35. Kuli Panggul
36 36. KENA BATUNYA
37 37. BERTEMU MANTAN LAGI
38 38. ANDAI SAJA
39 39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40 40. BUKTI REKAMAN
41 41. OBROLAN KELUARGA
42 42. SALAD BUAH
43 43. MENGAMBANG
44 44. RISIH
45 45. TENTANG REYN HAMDANI
46 46. WALK IN CLOSET
47 47. BAHAYA
48 48. MEMPERINGATI RINA
49 49. MEMBUNTUTI
50 50. ZAMAN BATU
51 51. RENCANA AWAL
52 52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53 53. PESAN REYN
54 54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55 55. Di RESTORAN
56 56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57 57. TEGANG DAN GUGUP
58 58. STATUS PERKAWINAN
59 59. TERLALU NAIF
60 60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61 61. MERASA KUSUT
62 62. GARA-GARA ROSE
63 63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64 64. KABUR KARENA BIKINI
65 65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66 66. MULAI TERBONGKAR
67 67. GEGER
68 68. KENAPA JADI KACAU?
69 69. SO SWEET
70 70. PERLAWANAN MARLINA
71 71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72 72. TANGGAPAN PAK KADIN
73 73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74 74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75 75. SERIBU KALI LIPAT
76 76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77 77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78 78. GANTI RUGI
79 79. MEMOHON BANTUAN
80 80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81 81. KUSUT
82 82. OTW Berkembang Biak
83 83. Apa ini punya Rose?
84 84. Nggak Kapok
85 85. Ratunya
86 86. Pengen Telur Dinosaurus
87 87. Kaget
88 88. Clara Pulang
89 89. Setitik Terang
90 90. Juru Bicara
91 91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92 92. Maju atau Mundur
93 93. Tajau Emas
94 94. Insiden Es Krim
95 95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96 96. Dsangka Merindu
97 97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98 98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99 99. Clara Sakit
100 100. Gangguan Rose
101 101. Bram! Jangan Pergi!
102 102. Serasa Ada Yang Hilang
103 103. Sang Guru Jablai
104 104. Konvoi Kelulusan
105 105. Bertemu Orang Tua Olin
106 106. Terbang
107 107. Menonton Secara Live
108 108. Mengantar Leony Pulang
109 109. Kita Urus Rasa Bencimu
110 110. The End
Episodes

Updated 110 Episodes

1
1. Oh My God
2
2. Basa-Basi
3
3. Laporan Warga
4
4. Burung
5
5. Berani Katakan Tidak!
6
6. Kami Berpacaran
7
7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8
8. Disidang Ayah
9
9. Meminta Ijin
10
10. Bertemu Ibu Steven
11
11. Suara Lembut Setenang Telaga
12
12. Jangan Temui Rose Lagi
13
13. Ingat Baik-Baik
14
14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15
15. Bebas Dari Belajar
16
16. Ruangan Kepala Sekolah
17
17. Hadiah
18
18. Kepohonan
19
HARI PERNIKAHAN
20
MAKAN SIANG
21
21. PENANGKALNYA
22
22. PERHATIAN KECIL
23
23. BELAJAR
24
24. Terkontaminasi
25
25. HUKUMAN (Visual Rose)
26
26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27
TERBANGUN (Visual Reyn)
28
28. EMPAT MATA
29
29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30
30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31
31. MAKANAN KESUBURAN
32
KITA SUDAH SELESAI
33
33. GADIS CENGENG
34
34. AKU BUKAN PINKY BOY
35
35. Kuli Panggul
36
36. KENA BATUNYA
37
37. BERTEMU MANTAN LAGI
38
38. ANDAI SAJA
39
39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40
40. BUKTI REKAMAN
41
41. OBROLAN KELUARGA
42
42. SALAD BUAH
43
43. MENGAMBANG
44
44. RISIH
45
45. TENTANG REYN HAMDANI
46
46. WALK IN CLOSET
47
47. BAHAYA
48
48. MEMPERINGATI RINA
49
49. MEMBUNTUTI
50
50. ZAMAN BATU
51
51. RENCANA AWAL
52
52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53
53. PESAN REYN
54
54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55
55. Di RESTORAN
56
56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57
57. TEGANG DAN GUGUP
58
58. STATUS PERKAWINAN
59
59. TERLALU NAIF
60
60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61
61. MERASA KUSUT
62
62. GARA-GARA ROSE
63
63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64
64. KABUR KARENA BIKINI
65
65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66
66. MULAI TERBONGKAR
67
67. GEGER
68
68. KENAPA JADI KACAU?
69
69. SO SWEET
70
70. PERLAWANAN MARLINA
71
71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72
72. TANGGAPAN PAK KADIN
73
73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74
74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75
75. SERIBU KALI LIPAT
76
76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77
77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78
78. GANTI RUGI
79
79. MEMOHON BANTUAN
80
80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81
81. KUSUT
82
82. OTW Berkembang Biak
83
83. Apa ini punya Rose?
84
84. Nggak Kapok
85
85. Ratunya
86
86. Pengen Telur Dinosaurus
87
87. Kaget
88
88. Clara Pulang
89
89. Setitik Terang
90
90. Juru Bicara
91
91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92
92. Maju atau Mundur
93
93. Tajau Emas
94
94. Insiden Es Krim
95
95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96
96. Dsangka Merindu
97
97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98
98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99
99. Clara Sakit
100
100. Gangguan Rose
101
101. Bram! Jangan Pergi!
102
102. Serasa Ada Yang Hilang
103
103. Sang Guru Jablai
104
104. Konvoi Kelulusan
105
105. Bertemu Orang Tua Olin
106
106. Terbang
107
107. Menonton Secara Live
108
108. Mengantar Leony Pulang
109
109. Kita Urus Rasa Bencimu
110
110. The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!