"Ada kabar apa Nina menelpon, Yah?" tanya Marlina pada suaminya yang baru saja kembali dari ruang keluarga untuk mengangkat telpon dari adiknya. Pria itu meneguk air putihnya sebelum melanjutkan makan malamnya yang sempat terhenti.
"Pihak keluarga Roy, calon suami Shasa minta pembatalan waktu resepsi pernikahan, padahal surat undangan sudah disebarkan pada semua undangan, Bun," sahut Martin dengan raut ikut pusing memikirkannya.
"Dibatalkan? Bukankah tinggaal 4 hari lagi? Apa alasannya, Yah?" tanya Marlina kaget.
"Tidak punya uang katanya," sahut Martin terlihat kesal.
"Tidak mungkin Yah, kedua orang tua Roy sama-ama pegawai juga seperti kita" ucap Marlina tidak percaya mendengar alasan yang tidak masuk akal itu.
"Aku rasa juga begitu Bun. Sepertinya kedua orang tua Roy sengaja tidak mau mengadakan resepsi pernikahan supaya tidak buang-buang biaya. Karena waktu pertemuan terakhir kami tempo hari, ibu Roy mengatakan tidak perlu mengadakan resepsi dengan alasan kasihan pada Shasa nanti akan malu karena ketahuan sudah hamil duluan sebelum nikah," ungkapnya, mengingat pertemuan terakhir dirinya bersama Nina dan Shasa dengan keluarga Roy, calon suami keponakannya itu.
"Kasihan sekali ya Nina dan Shasa kalau begitu," Marlina tercenung sesaat, memikirkan apa yang tengah dirasakan adik iparnya bila resepsi pernikahan itu dibatalkan begitu saja, pastilah akan sangat malu batinnya, bila para undangan itu datang dan tidak ada pesta di alamat yang mereka tuju sesuai surat undangan.
"Ayah," lirih Marlina menatap suaminya yang tengah menikmati makan malamnya, sementara Rose yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan kedua orang tuanya sambil menikmati santap malamnya ikut memandang kearah ibunya.
"Heum,"" sahut Martin.
"Bagaaimana kalau kita membantu Nina untuk membiayai pesta resepsi itu? Aku kasihan pada Nina dan Shasa Yah, mereka pasti sangat malu pada para tamu undangan bila tidak ada pesta dihari yang telah ditentukan. Dalam waktu 4 hari, tidak mungkin mereka memberitahukan pada semua orang yang mereka undang bila acaranya dibatalkan," ucap Marlina memberi ide.
Martin terdiam sejenak, memikirkan apa yang disampaikan isterinya itu untuk beberapa saat.
"Baiklah, Ayah setuju Bun. Besok ajak Nina berbelanja, pakai saja tabungan kita. Bila pesta itu batal kita juga pasti akan turut menanggung rasa malunya," Martin lalu meminum air putihnya lagi, setelah menghabiskan suapan terakhirnya.
"Yah, Bun. Rose kekamar dulu mau belajar. Besok masih semesteran." pamit gadis itu, begitu selesai membersihkan mulutnya menggunakan tissue.
"Duduk dulu sebentar Rose, Ayah mau bicara." datar Martin.
Deg.
Gadis itu seketika merasa gugup dan kembali duduk pada kursinya. Ia dapat membaca gelagat yang kurang nyaman dari suara dan sikap datar ayahnya, sementara ibunya yang juga sudah selesai makan masih duduk pada posisinya dan menatap kearahnya juga.
"Kenapa kau berani melanggar larangan Ayah Rose? Padahal Ayah sudah berkali-kali melarangmu untuk berpacaran." datar Martin lagi.
Rose mematung dikursinya, kedua tangannya yang saling bertautan dibawah meja nampak gemetar menahan rasa takut atas kemarahan ayahnya yang sebentar lagi akan meledak.
"Kau masih berusia 18 tahun, tugasmu adalah sekolah, belajar, dan bukan berpacaran dengan anak Bupati itu!" kini suara itu sudah berubah meninggi.
Jantung Rose yang sedari tadi sudah berdetak bertalu-talu tidak beraturan, kini semakin memacu riuh. Ia sudah menduga ini pasti akan terjadi, setelah pengakuan Steven satu minggu yang lalu.
Ibu Rose tidak berbicara apapun, ia hanya mendengarkan saja suaminya berbicara, karena beberapa hari sebelumnya suaminya itu sudah membahas hal itu dengannya.
"Jangan pernah bertemu dan berhubungan dengan laki-laki itu lagi, kau mengerti Rose?!" tegas Martin menatap tajam putrinya.
"I-iya Ayah." sahut Rose takut. "T-tapi aku dan kak Steven, kami masih berpacaran dalam batas yang wajar Ayah," sambung Rose memberi sedikit pembelaan.
"Rose, Ayah dan Bundamu pernah muda, kami sangat tahu apa yang bisa dilakukan oleh orang yang sama-sama saling menyukai." pria itu menatap putrinya yang kini menundukan kepalanya.
"Bram, kakakmu sering melihatmu dibonceng oleh laki-laki itu pulang dengan motor miliknya. Dan kau pernah memeluknya erat dari belakang,"wajah Rose seketika merah padam menahan malu, mendengar hasil laporan kakaknya yang dibeberkan sang ayah.
"Kau tahu Rose," Martin menjedah ucapannya, berusaha menemukan kata-kata yang tepat untuk membuat putrinya mengerti akan bahaya pacaran yang sedang menguntitnya.
"Setelah merasa nyambung berbicara satu sama lain, biasanya sepasang laki-laki dan perempuan yang berpacaran akan maju pada tahap berpegangan tangan. Dan setelah merasa puas berpegangan tangan, laki-laki akan menyentuh wajah atau rambut si perempuannya," ucap Martin mengingat apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu direstoran.
"Ayah dan teman-teman Ayah melihatmu dan Steven saling bergandengan tangan saat memasuki restoran waktu itu."
"Ayah juga melihat bagaimana laki-laki itu mengusap rambut bahkan membersihkan bibirmu lalu menjilat hasil usapannya," ungkap Martin tanpa menyensor ucapnya, ia benar-benar ingin membuat putrinya itu benar-bemar memahami apa yang menjadi titik kekhawatirannya.
Rose semakin menunduk dalam, rasa takut, malu berpadu menjadi satu, jangan ditanya roman wajahnya saat ini, sungguh menyiratkan rasa malu yang luar biasa, karena apa yang dikatakan ayahnya itu semuanya benar sesuai apa yang Steven lakukan padanya.
"Dan setelah semua yang ia lakukan itu dirinya anggap sesuatu yang biasa, laki-laki itu akan berlanjut pada tindakan ingin menciummu Rose," gadis itu terhenyak, mengingat Steven memang akan mencium dirinya sebelum mereka sampai di restoran waktu itu.
"Dan bila kau mengijinkannya, bercium-ciuman itupun akan dianggap juga hal yang sudah biasa nantinya. Dan selanjutnya, dosisnya akan di tambah, tangan laki-laki itu akan bergerilya pada bagian-bagian terlarang tubuhmu, dan bila kau masih mengijinkannya juga, maka nafsu yang diatas namakan cinta itu akan berakhir pada kehamilan seorang gadis diluar nikah," terang Martin panjang lebar.
"Dan bila kehamilan itu terjadi, biasanya pihak perempuanlah yang akan menanggung segala akibatnya seorang diri Rose."
"Kau bisa melihat kakak sepupumu Shasa, ia dan ibunya meminta pertanggung-jawaban Roy, tapi laki-laki itu selalu saja berusaha lari dari tanggung jawab."
"Dan tadi kau dengar sendiri obrolan Ayah dan Bunda. Mereka seenak jidatnya saja membatalkan secara sepihak resepsi pernikahan yang tinggal 4 hari lagi. Betapa malunya Bibimu dan kakakmu Shasa pada semua tamu undangan dan warga sekitar bila acara resepsi itu dibatalkan begitu saja,"
"Jadi Rose--" ucapan Martin seketika menggantung, ketika melihat bibi Sila tergopoh-gopoh mendekati mereka dimeja makan.
"M-maaf Bapak, Ibu. Diluar ada pak Mikasa. Kabarnya, putri mereka Riani yang hamil besar itu mengalami pendarahan karena ditendang oleh suaminya," lapor bibi Sila terbata-bata.
"Keterlaluan! Suami Riani itu memang laki-laki brengs*k!" geram Martin segera berdiri dan meninggalkan meja makan menuju ruang tamu.
Bersambung...👉
*Catatan Author :
Khusus buat adik-adikku yang masih menempuh pendidikan, hati-hatilah bila engkau sedang berpacaran, jangan sampai kebablasan ya? Karena masa muda itu hanya datang sekali, waktu tidak akan pernah berbalik. Jagalah dirimu dengan baik. Ingatlah petuah ayah Martin, semoga bermanfaat.🙏*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
ini cerita keten banget thor, aku setuju
2023-10-18
1
auliasiamatir
setuju aku sama pak martin, anak ku juga ku larang pacaran pak martin...
2023-10-18
1
auliasiamatir
ya ammpiuuunn malu banget tuh rose
2023-10-18
1