"Martin, Kau terlalu kaku pada anak itu," protes Jose, setelah Steven meninggalkan meja mereka untuk kembali ke mejanya menemui Rose yang masih menunggunya.
"Steven itu anak yang baik Martin. Tidak ada anak muda seusianya yang berani terang-terangan datang menemui ayah seorang gadis yang ia sukai lalu dengan begitu jujur mengakui kedekatan mereka kalau tidak bersungguh-sungguh. Apalagi anak itu, putra dari orang nomor satu dikota kita ini," nilai Musha ikut berkomentar.
"Aku rasa kalian benar. Tapi aku punya alasan sendiri melakukan ini. Ini caraku menjaga putriku, karena Rose adalah harga diri dan kehormatanku sebagai ayahnya." sahut Martin sembari membuang napasnya.
"Beberapa warga RT-ku, mereka terpaksa harus menelan pil pahit karena kehamilan diluar nikah anak gadisnya yang masih dibawah umur," terang Martin pelan, membuka sedikit keresahan yang ada dalam benaknya.
"Apa benar begitu?" salah seorang dari mereka bertanya dengan raut tak terbaca.
"Iya, itu benar." angguk Martin.
"Satu tahun ini, aku sudah menerima laporan 4 dari wargaku, dan mereka pusing bagaimana cara menikahkan putri mereka karena secara hukum, di negara kita sesuai undang-undang yang berlaku dilarang keras menikahkan anak dibawah umur. Yah, mereka hanya bisa menikahkan anak mereka secara agama saja. Dan hal ini akan menyulitkan mereka untuk mengurus akte kelahiran anak karena belum memiliki kartu keluarga karena pernikahan mereka belum bisa tercatat secara negara." terang Martin lagi.
"Iya, perkataanmu itu benar Martin, kasihan juga warga RT-mu itu," ucap Jose prihatin.
"Tapi Steven bukan anak orang biasa, dia anak Bupati kita, aku rasa anak itu terlihat cukup bijak, jadi kau tidak perlu khawatir, apalagi dia sudah menunjukan sikap yang baik dan sopan dihadapan kita semua tadi, dan dia juga bukan anak muda biasa, dia seorang Putra Budaya Kota Kabupaten kita ini. Itu menunjukan bila dia memang seorang yang memiliki reputasi yang baik sebagai seorang anak muda," bela Jose.
"Aku justru takut bila anakku memiliki hubungan dengan bukan anak orang biasa, bila terjadi sesuatu, kita yang biasa inilah yang akan menanggung kemalangannya," tutup Martin sendu.
...⚘️⚘️⚘️...
"Kak Steven membuat jantung aku hampir meledak saja." panik Rose dengan raut cemas, begitu mendengar pengakuan Steven. Ia tidak menyangka saja kalau pacarnya itu tiba-tiba saja membeberkan hubungan diam-diam mereka pada ayahnya, bahkan didepan teman-teman sang ayah. Padahal selama ini ia sudah mati-matian menyembunyikan hubungannya dengan laki-laki itu dari orang tuanya.
"Aku 'kan udah bilang berkali-kali ke Kakak, kalau Ayah dan Bunda belum bolehin aku pacaran Kak," ucap Rose masih memperlihatkan kecemasannya. Dirinya sudah membayangkan kemarahan yang akan ia terima.
"Rose, Rose, dengarkan Kakak," Steven memegang kedua pundak gadis itu dan menatap lekat wajah cantik dihadapannya, berusaha untuk menenangkannya.
"Kamu nggak perlu cemas dan nggak perlu sepanik itu, bersikaplah santai. Kakak jamin Ayahmu nggak akan marah sama kamu Rose," bujuknya.
"Jangan percaya pada ucapan pacarmu itu, pake sok-sok'an menjamin segala!" Suara tawa mengejek itu spontan membuat Rose dan Steven mengalihkan perhatian kearah datangnya suara yang sangat mereka kenal.
"P-pak Reyn?!" ucap Rose dan Steven hampir bersamaan. Mulut keduanya sama-sama sedikit terbuka, hal yang tidak biasa menyaksikan tawa sang guru Biologi yang selalu memasang wajah kaku bila sedang berada.didepan kelas.
Pria tinggi dengan raut selalu tegas yang mereka kenal sebagai guru Biologi di sekolah, ternyata baru keluar dari restoran itu juga.
"Pak Reyn ngapain ada disini? Nguntit ya?" tuduh Rose tak berdasar.
"Nguntit? Buat apa? Memangnya kalian berdua siapa?" sahutnya acuh dan nampak tidak suka mendengar tuduhan muridnya. "Apa kalian saja yang butuh makan, saya juga," sambungnya.
"Hei, anak umur 18 tahun yang masih ceroboh. Sebaiknya kau segera pulang dan belajar dengan rajin dirumah. Satu minggu lagi.akan dilaksanakan semester kenaikan kelas. Kalau kau sibuk pacaran dengan pacarmu ini, bisa jadi kau akan tetap menjadi penghuni kelas 11 lagi ditahun ajaran baru nanti," ucapnya datar, sedatar wajah dan sikapnya.
Rose terpaku.
"Seorang laki-laki yang baik tidak akan dengan sengaja membuat kekasihnya merasa panik dan cemas karena tindakan cerobohnya," tatapan datar Reyn beralih pada Steven yang berdiri disebelah Rose.
Sama seperti Rose, Steven juga terpaku ditempatnya berdiri, tanpa mampu menyanggah semua perkataan yang dilontarkan oleh pak guru Biologi mereka.
Tidak menunggu lama, Reyn yang sudah memasang helm dan menstarter motor matic keluaran terbaru segera meninggalkan halaman parkir restoran.
"Sebeeeel!!!" pekik Rose kesal dengan mengepalkan kedua tangannya ingin meninju mulut sang guru yang sudah pergi. Tentu saja hanya didalam hati, ia juga tidak mau halaman parkiran restoran itu bakalan kisruh mendengar teriakannya, apalagi didalam sana masih ada ayahnya bersama teman-teman sejawatnya.
"Kenapa ada manusia ajaib seperti DIA, huh!" ucap Rose merengut kesal dan mengibaskan rambut sepunggungnya. Ini untuk kedua kalinya dirinya dikatakan ceroboh oleh sang guru Biologi.
"Rose, maafkan Kakak ya, ini semua karena salah kak Stev. Sepertinya pak Reyn melihat apa yang Kakak lakukan tadi didalam, sehingga beliau bisa berkata seperti itu pada kita." duganya bersikap tenang.
"Harusnya kak Stev tidak ceroboh, mengatakan hubungan kita pada ayahmu secepat ini apalagi dihadapan semua teman-teman ayahmu diwaktu yang belum tepat, karena kau memang sudah memberitahukan Kakak beberapa kali, sebelumnya," sesalnya.
"Kak Stev hanya ingin menunjukan kalau Kak Stev ini tidak main-main dengan hubungan kita, Kakak benar-benar mencintaimu Rose," ucapnya memberi alasan. "Tadi saja ayahmu menerima baik kehadiran Kakak, begitu pula dengan teman-teman ayahmu."
Rose terdiam, sebenarnya ia suka keberanian pacarnya itu mengungkapkan hubungan mereka pada ayahnya, tapi ia merasa waktunya belum tepat.
Ia tahu benar bila ayahnya sangat menentang dirinya berpacaran diusia sekolah, dan itu acapkali digaungkan ayahnya itu sebagai bentuk peringatan keras.
"Iya, tidak apa Kak," sahut Rose dengan suara lemahnya. "Semua sudah terlanjur kak Stev ungkapkan, mau gimana lagi," rautnya terlihat pasrah, pasrah bila nantinya mendapat kemarahan sang ayah.
"Senyum dong, jangan lesu gitu," ucap laki-laki itu sembari mengusap pucuk rambut gadisnya.
Rose mengulas senyum, perasaan cintanya pada Steven membuatnya berusaha memaklumi tindakan laki-laki itu, apalagi Steven selalu bersikap baik, dan perhatian-perhatian kecilnya sangat menyentuh perasaannya.
Walau hatinya sudah tidak sepanik seperti sebelumnya, tapi rasa cemas itu masih saja menyelimuti hatinya, cemas menghadapi kemarahan sang ayah dirumah nanti.
"Terima kasih." Steven tersenyum senang karena gadisnya itu tidak marah padanya. "Yuk, kita pulang." ajak Steven, laki-laki itu meraih helm dan memasangnya di kepala Rose dengan hati-hati.
Rose memperhatikan wajah tampan didepannya, hatinya berdesir karena jarak wajah mereka begitu dekat. "Kak Steven memang keren," batinnya tersenyum sendiri.
"Apa yang kau fikirkan?" Steven menatap lekat wajah cantik Rose, dan turun pada bibir berwarna pink yang seakan menggodanya.
"T-tidak ada. Kita pulang sekarang," Rose segera berpaling. "Nanti keburu Ayah melihat kita lagi disini," ucapnya kembali cemas dengan rona pada belahan pipinya yang sedikit chubby.
"Heum," Steven mendesah pelan. "Kau membuatku gemas saja Rose," batinnya sambil tersenyum.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Sena judifa
kayakx janjian 1 rt hamil di luar nikah y
2023-10-11
0
Putra Al - Bantani
biasa guru biologi wajahnya tegas2 tapi hatinya nano nani kak 😁😁
2023-09-27
1
ayu nuraini maulina
termasuk dirimu nanti kalo dah jd suami🤭
2023-09-01
1