"Kau kenapa Rose?" Steven menatap Rose yang seolah sedang menyembunyikan wajahnya dari seseorang, ia turut melihat berkeliling, tapi tidak menemukan apapun yang membuat pacarnya melakukan itu selain para pengunjung restoran yang sedang menikmati santap siangnya seperti mereka.
Beberapa pria berpakaian dinas instansi pemerintah tidak luput dari sapuan pandangan Steven, wajah mereka memang tidak asing baginya. Walau tidak terlalu dekat, tapi Steven mengenali beberapa dari mereka, karena pernah bertemu beberapa kali saja saat berkunjung di kantor ayahnya.
"Ayahku Kak," sahut Rose setengah berbisik dengan raut tegang, sementara ekor matanya melirik kearah deretan para pengunjung restoran yang berpakaian dinas.
"Apa ayahmu juga ada di restoran ini?" tanya Steven memastikan.
"Iya Kak, diantara Bapak-Bapak yang mengenakan seragam dinas pemerintahan itu, Bapak yang duduk dikepala meja yang menghadap ke laut sama seperti kita ini, dia ayahku Kak," Rose mengidentifikasi dimana ayahnya berada.
"Pak Martin, apa beliau ayahmu?" Duga Steven, setelah ia melirik sekilas pada pria yang berusia sekitaran 40 tahun keatas itu.
"Iya," Rose mengangguk. "Kak Stev mengenal Ayahku?" tatapnya.
"Heum," angguk Steven pula. "Kita kesana?" ajaknya.
"Jangan!" pekik Rose kaget dan menekan suaranya, tangannya melambai rusuh. "A-aku malu, juga takut," gumam gadis itu dengan wajah memerah. "Kita pulang saja yuk Kak?" rengeknya sedikit parau.
Steven membelai lembut rambut sepunggung milik pacarnya itu. "Jangan takut Rose. Justru tidak sopan bila kita langsung pergi begitu saja dari sini. Ayahmu pasti akan berfikir kalau aku bukan laki-laki baik nantinya," ujarnya menenangkan Rose yang masih memasang raut tegang.
"Tapi Kak, disana banyak temen-temen Ayah," larang Rose memberi alasan.
"Tidak masalah Rose. Aku saja yang kesana, kau disini saja, yah?" Steven menatap lembut, kali ini ia mengusap lembut punggung tangan Rose yang diletakan diatas meja, dan itu semua tidak lepas dari pantauan ayah Rose yang melirik ke arah keduanya dengan ekor matanya, tentu saja naluri keayahannya menggelora melihat keromantisan yang ditunjukan seorang laki-laki pada putri kesayangannya.
"Terserah Kak Stev saja," ujar Rose pasrah. Ada benarnya juga ucapan Steven batinnya, dirinya juga tidak ingin Steven dinilai oleh ayahnya sebaagai laki-laki tidak punya sopan santun pada orang tua.
"Aku mencintaimu, Gadisku," ucap Steven tersenyum manis menatap Rose, sebelum akhirnya ia meninggalkan meja, meninggalkan Rose yang semakin merona mendengar kalimat manis sang kekasih hati. Heum, apa kadang anak remaja begitu?🤭
Namun hati gadis itu tetap saja belum bisa tenang, perasaan tegang semakin menyelimuti hatinya, ia terus memperhatikan setiap gerak langkah kaki yang diayunkan oleh Steven, yang semakin mendekati meja rombongan ayahnya dan teman-temannya.
"Selamat siang Bapak-Bapak sekalian. Maaf, mengganggu acara makan siangnya," sapa Steven sopan.
Sembilan orang berseragam dinas itu sama-sama mendongakan wajah mereka yang tengah menunduk, menikmati makan siang di piring sajinya masing-masing, pura-pura baru menyadari keberadaan Steven.
"Hai Steven, kau disini juga. Ayo bergabung, kita makan siang bersama," Jose salah seorang dari mereka bersuara disertai senyum ramahnya, begitu pula dengan delapan pria lainnya termasuk ayah Rose.
"Iya, terima kasih Om untuk tawarannya. Saya sudah memesan makanan juga dimeja sana," tunjuknya. Spontan kesembilan orang tua itu mengikuti arah yang ditunjukan Steven. Rose diujung meja sana seketika gugup dan salah tingkah begitu menyadari para pria berseragam itu kompak melihat kearahnya.
"Aduh sayang sekali ya, padahal Om mau traktir. Hari ini 'kan Om ulang tahun loh" ucap Jose lagi. "Gini aja, nanti Om yang bayar tagihannya yah, ini bukan sekedar tawaran basa-basi Stev," tatap pria itu bersungguh-sungguh.
Steven tersenyum. "Terima kasih banyak Om atas kebaikannya. "Selamat ulang tahun ya Om, semoga selalu sehat dan bahagia." Steven mengulurkan tangannya pada Jose dan mencium punggung tangannya dengan sopan begitu Jose menyambutnya.
"Terima kasih banyak Steven." Jose menepuk punggung anak muda itu begitu Steven melepaskan tangannya.
"Om Jose, minta ijin sebentar bicara dengan Om Martin, boleh?" pintanya kembali sopan.
Semua pasang mata langsung mengarah pada Martin yang sedari tadi pura-pura sibuk dengan kegiatan makannya sendiri.
"Tentu saja boleh Stev," Jose mempersilahkan.
"Om, Martin. Maaf, mengganggu waktunya sebentar." ucap Steven, begitu dirinya sudah berada didekat ayah Rose itu, ia sedikit membungkuk untuk menunjukan rasa hormat dan kesopanan pada orang yang lebih tua.
"Oh iya. Ada apa Stev?" Martin membenarkan posisi duduknya dengan menegakkan punggungnya, sementara Jose dan lainnya tersenyum penuh arti membuat Martin ingin memukul mereka satu persatu, ia sudah tahu apa yang ada didalam kepala teman-temannya itu.
"Om, saya minta ijin mengajak Rose makan siang, walau seharusnya saya mengatakan ini sebelum saya membawanya kemari." ucapnya sebelum di protes sang calon mertua, begitu harapannya.
Sebelum menjawab, Martin kembali melirik teman-temannya yang terkesan menahan senyum mendengar ucapan Steven.
"Saya dan Rose," Steven kembali melanjutkan ucapanya, hingga Martin yang hendak berbicara mengurungkan niatnya dan memberi kesempatan anak muda itu melanjutkan ucapan apa yang ingin ia sampaikan.
"Kami berdua memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman Om. Kami berpacaran," jujur Steven, membuat semua pria berseragam dinas dimeja itu seketika terbatuk-batuk nakal tidak karuan.
Sport jantung, itulah yang dialami Martin. Anak muda itu terlalu berani menurut penilainnya, dirinya saja yang play boy saat masih muda tidak memiliki mental serupa itu, akunya didalam hati.
"Kalian masih pelajar, itu tidak boleh," ucap Martin berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang terus berdegup semakin kencang membayangkan putrinya yang tidak patuh pada peringatannya, dilarang berpacaran sebelum menyelesaikan study.
"Saya tahu Om. Saya mencintai Rose putri Om, dan akan menunggu sampai Rose menyelesaikan study nya di perguruan tinggi. Saya berjanji akan menjaga norma dan etika berpacaran yang baik. Om-om semua yang ada disini sebagai saksi," ucapan Steven kembali mengundang keriuhan, pasalnya dirinya tidak meminta ijin terlebih dulu pada orang tua yang ia jadikan saksi.
Tapi, para pria dewasa yang berpakaian dinas itu tetaplah orang tua yang memiliki hati yang bijak, berfikir bila merekapun pernah diposisi Steven seperti hari ini.
"Martin, kalau aku jadi kau, aku pasti akan mendukung niatan mereka. Kau belum tentu bisa menemukan anak muda serupa Steven yang memiliki sikap gentleman. Bukan begitu Jose?" ucap Musha meminta dukungan pria yang berulang tahun itu.
"Setuju! Bukan begitu temen-temen!" Jose bahkan meminta dukungan semua rekannya dimeja itu.
"Setuju!!!" sentak mereka bersamaan sembari tertawa bebas. Tentu saja para pengunjung restoran menoleh ke arah mereka, begitu pula dengan Rose.
Di situ Steven tahu, ternyata para orang tua itu sama seperti dirinya dan teman-temannya. Punya gank-nya sendiri, hanya saja mereka memiliki jaman dan generasi yang berbeda.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
hahaha, martin .. bingung nih
2023-10-13
0
auliasiamatir
ahhj steve kami gentlemen banget sih. aku suka.
2023-10-13
0
Sena judifa
bahaya rose msh sma jgn pacaran dulu nanti kebablasan
2023-10-09
1