"Ayo Rose, peluk pinggangku lagi seperti tadi. Kau bisa terbang tanpa sayap nanti kata kak Zenun," goda Steven pada gadis yang ia cintai itu, menjiplak kata-kata seorang penulis kesayangannya.
"Kak Zenun, siapa dia? Laki-laki apa perempuan, Kak?" Rose mengerutkan keningnya penasaran. Sepertinya nama itu spesial, karena pacarnya itu jarang menyebutkan nama siapapun saat mereka sedang berduaan.
"Ada deh. Kadang aku juga kurang faham, kak Zenun itu beneran laki-laki apa perempuan. Pertama aku kenal sih dia itu perempuan cantik, cantik banget, tapi kok tiba-tiba berubah jadi laki-laki ganteng, gantengnya juga banget." ucap Steven bingung tapi tertawa geli.
"Jangan-jangan dia--," Rose menyambung tapi tak kunjung menyelesaikan ucapannya.
"Jangan-jangan apa Rose?" Steven jadi penasaran pada apa yang ingin diucapkan gadisnya itu.
"Manusia setengah Dewa Kak," sahut Rose menatap serius wajah Steven yang memperhatikannya, karena gadis itu memang tidak mengerti siapa orang yang dimaksud oleh pacarnya itu, ia mengatakan itu sesuai dengan apa yang dilukiskan Steven.
"Manusia setengah Dewa? Memang ada ya yang seperti begituan dijaman sekarang?" Steven mengernyitkan keningnya sesaat lalu tertawa.
"Sepertinya kau benar Rose, kak Zenun Smith itu bisa tahu loh apa yang sedang kita bicarakan sekarang, termasuk berbicara didalam hati, hanya Manusia setengah Dewa saja yang punya kemampuan sakti semacam itu," ungkap Steven menambahi dan membumbuinya begitu rupa, mengingat beberapa karya sang Penulis yang dimaksud, yang pernah dibacanya.
Sementara Rose hanya melongo, nalarnya masih belum sanggup menangkap apa yang dikatakan sang kekasihnya, yang seolah sedang berbicara tentang dunia yang berbeda dari mereka.
"Ayo buruan peluk, nanti kau dibawa angin kalau aku melajukan motor ini," pinta Steven lagi sebelum menjalankan motornya.
"Jangan Kak, nanti kak Bram bisa-bisa menjewer telingaku kalau aku mepet-mepet lagi kayak tadi. Dan aku juga tidak mau--," Rose menggantung ucapannya, lalu menggigit bibir bawahnya pelan.
Steven menoleh kebelakang, menemukan wajah Rose yang nampak khawatir. " Dan tidak mau apa Rose?" laki-laki itu menatap lekat wajah manis dan menawan itu.
"Takut kak Bram mematahkan batang leher kak Stev," lirihnya.
Steven seketika tertawa kecil mendengar ucapan Rose yang ia kenal memang polos itu. Laki-laki itu segera menurunkan standar motornya. "Kau percaya kalau kakakmu sesadis itu?" tanya Steven disela-sela tawa renyahnya.
Rose hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan Steven yang mentertawainya.
"Kalau begitu, ayo peluk pinggang Kakak lagi seperti sebelum kakakmu itu tadi bertemu kita. Kakak hanya tidak ingin kau terjatuh saat Kakak melajukan motor ini," ucap Steven beralasan.
Rose kembali menggeleng rusuh, sikapnya membuat Steven begitu gemes melihatnya.
"Apa kau masih takut kalau kakakmu itu mematahkan batang leherku, Rose?" ulang Steven menatap lekat manik hitam Rose yang terlihat bening dan bersih.
Rose mengangguk pelan.
"Apa itu tandanya kau menyayangiku Rose?" lirih Steven.
Gadis itu terdiam, mata beningnya bergerak-gerak, seakan ingin menghindari tatapan Steven yang terus mengawasi tanpa mengedipkan matanya.
Steven tersenyum tipis saat akhirnya Rose mengangguk pelan atas pertanyaannya. Perlahan, laki-laki muda itu mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapannya.
"Kakak mau ngapain?" panik Rose.
"Boleh aku menciummu?"
Rose membeku, ucapan Steven seketika membuat tubuhnya panas dingin. Adegan pagut-pagutan yang pernah ia tonton di tayangan film percintaan anak remaja seketika terlintas dalam kepalanya.
Tubuh Rose berkeringat. Wajah Steven semakin mendekat. Aura ketampanan pemuda yang menjadi idola di sekolah dan di kota kecil mereka itu seakan menghipnotis, membuat Rose pasrah dan penasaran bagaimana rasanya berciuman.
Kata teman-temannya, pengalaman berciuman dengan lawan jenis yang kita cintai itu begitu manis, begitu nikmat, dan begitu membuat perasaan melambung kedunia penuh fantasi hingga lupa diri, begitu yang Rose dengar.
"KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!!!" iklan masyarakat itu tiba-tiba menyentak kewarasan Rose dalam benaknya yang masih bersih dan polos.
Bersamaan dengan itu, tangan Rose mendorong dada Steven dengan sekuat tenaga. Tentu saja tubuh Steven yang tidak siap pada kemungkinan yang tidak terduga itu terdorong kebelakang hingga terjatuh pada rerumputan yang ada di area bahu jalan.
"Akhh!" erang Steven kesakitan dengan wajah meringis.
"M-maaf Kak. Rose nggak sengaja," Rose buru-buru turun dari motor Steven yang masih distandar, menghampiri Steven untuk membantu laki-laki itu kembali berdiri.
"Kakak nggak pa-pa?" Rose memeriksa telapak tangan Steven, mungkin saja ada luka disana batinnya dengan perasaan khawatir, karena laki-laki itu jatuh terjungkal kebelakang akibat ulahnya. "Maafin Rose ya Kak, Rose benar-benar nggak sengaja," ucap Rose merasa bersalah.
"Kakak nggak pa-pa kok Rose. Hanya kaget saja tadi," Steven memandangi wajah cantik yang tengah mengawasi telapak tangannya dengan teliti.
"Kakak semakin mencintaimu Rose, gadisku yang polos dan masih lugu," ucapnya lirih. Tidak ada raut kemarahan disana, bahkan laki-laki itu semakin mendamba sosok gadis perawan dihadapannya itu.
"Ayo, kita pergi sekarang. Kau pasti sudah lapar juga 'kan?" Rose mengangguk menyetujui. Ia segera naik kembali diboncengan belakang Steven. Kali ini, laki-laki itu sudah tidak memaksanya untuk memeluk pinggangnya lagi.
Steven melajukan motornya perlahan, supaya Rose yang duduk dibelakangnya tetap merasa aman dan nyaman.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah sampai direstoran tujuan. Sesuai namanya, Restoran Tepian Mutiara, terletak ditepian laut, dengan aksesoris kerang-kerang mutiara yang ada disana sini, menambah keindahan dan keasrian restoran itu.
Setelah memarkirkan motornya, seperti biasa Steven membantu Rose membuka helmnya. Ia sangat suka memperhatikan Rose yang merapikan rambut panjang sepunggungnya.
"Cantik," gumamnya dengan senyuman manis.
"Apaan sih Kakak," Rose terlihat malu.
"Nggak pa-pa 'kan Kakak menggandeng tanganmu seperti ini, yang penting jangan mepet?"
Rose memandangi pergelangan tangannya yang telah digandeng tanpa permisi oleh Steven. Walau agak risih, tapi ia tidak keberatan. Keduanya memasuki restoran dengan senyum mengembang.
Steven memilih meja paling sudut, menghadap kearah laut dengan suasana yang cukup romantis disana. Sepertinya laki-laki itu sudah lebih dulu memesan tempat itu sebelum mengajak Rose untuk makan siang bersamanya.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri untuk menuliskan pesanan keduanya.
Sementara di meja yang berbeda, sembilan pasang mata tengah mengawasi dua muda-mudi berseragam putih abu-abu itu, mulai dari keduanya masuk hingga duduk membuat pesanan makan siang.
"Pak Kadin Martin, sepertinya Bapak akan berbesanan dengan pak Bupati," goda seorang kepala dinas lainnya pada Martin ayah Rose, saat mengenali siapa kedua remaja SMU itu. Ya, Steven Jhon adalah anak bungsu dari orang nomor satu yang ada di kabupaten Kota Raja Tangga Arang.
Ucapan itu langsung disambut tawa ringan para pria yang kesemuaannya menjabat sebagai kepala dinas instansi pemerintahan kota Tangga Arang, mereka sengaja makan siang bersama karena sedang merayakan pesta ulang tahun secara kecil-kecilan salah satu diantara mereka di restoran itu.
"Siapalah kita Pak Kadin Musha, kita tidak pantas berbesanan dengan orang terhormat seperti pak Bupati," ucap Martin merendah dan ikut terkekeh, menjawab pria yang menggodanya.
"Siapa bilang? Pak Kadin Martin 'kan sudah mengukir banyak prestasi selama menjadi kepala dinas, tentu pak Bupati tidak akan memandang sebelah mata akan hal itu," pak Jose, yang sedang berulang tahun dihari itu ikut bersuara.
Sementara dimeja yang menjadi bahan pembicaraan para kepala dinas itu, Rose merasa ngeri pada menu yang sedang dikupas oleh Steven untuknya.
"Kakak saja yang makan, Rose takut," ujar Rose menjauhkan mulutnya dari sendok.yang di sodorkan Steven kearahnya.
"Ini enak loh Rose, kok kamu bisa gak suka?" ucap Steven keheranan. Setahunya, hampir semua orang yang ia kenal sangat menyukai hewan berbuku-buku itu. Di rumahnya, menu berbahan udang, apapun masakannya akan menjadi makanan favorit keluarganya.
"Rose geli Kak, mirip ulat gendut saat ditelanjangi seperti itu," ungkap Rose merasa ngeri dan kegelian sendiri.
Steven memperhatikan udang tumis yang baru ia kupas, memang mirip sih seperti yang dikatakan Rose batinnya. Ia tersenyum sendiri memikirkannya.
"Serius nih nggak mau makanan senak ini?" tanya Steven memastikan.
Rose mengangguk. Ia menatap ngeri saat Steven memasukan makanan serupa ulat gendut itu kedalam mulutnya lalu meringis memperhatikan Steven yang mengunyah dengan nikmat.
"Kenapa menatap Kakak seperti itu? Mau Kakak lu*at juga?" goda Steven melihat wajah lucu gadis dihadapannya.
"Ng-nggak," Rose buru-buru menjepit cumi bumbu pedas dengan sumpit ditangannya dan memasukan kedalam mulutnya hingga kedua pipi chubby nya semakin mengembung.
Steven semakin gemes melihat cara makan Rose yang berlepotan. Laki-laki muda itu menjulurkan tangannya lalu mengusap lembut dengan ibu jarinya, sudut-sudut bibir Rose yang ternoda bumbu makanan.
Rose membeku menerima perlakuan manis Steven padanya, apalagi pemuda itu lalu menjilat ibu jarinya sendiri yang baru saja digunakan membersihkan sudut-sidut bibirnya. "Gurih--, dan manis". Steven menatap bibir Rose yang memerah karena kepedasan.
Rose gelagapan, ia buru-buru melihat kekiri dan dan kebelakang, khawatir ada orang yang melihat apa yang dilakukan Steven itu.
"Oh My God! Mampus aku!" pekik Rose tertahan. Ia menepuk jidatnya begitu pandangannya bersitatap dengan sorot mata pria yang sangat dikenalnya.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
kkkkkkk rose ketahuan ayah nya pasti 🤭🤭🤭
2023-10-11
1
Sena judifa
maksud dia gmn sih
2023-10-09
1
Cokies🐇
wkwkwk
2023-08-20
1