"Yuk, Kakak antar pulang," Steven memberhentikan motor sportnya tepat di halte bus sekolah, tepat didepan Rose dan kedua temannya.
"Cie, yang dijemput sang idola," goda Rina disambut cekikikan Norsa sepupunya membuat rona diwajah Rose semakin menjadi. Puluhan siswa dan siswi yang masih nenunggu bus sekolah berikutnya turut menoleh kearah mereka berempat.
Rose memang terbilang siswi paforit di SMU negeri Tangga Arang karena berparas sangat elok, tapi bukan gadis belia itu yang menjadi perhatian mereka, melainkan Steven Jhon.
Siapa yang tidak kenal dengan laki-laki yang masih berstatus siswa kelas 12 IPA1 itu. Di Tangga Arang, kota yang terbilang kecil, hanya memiliki luas wilayah mencapai 270,00 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 112.431 jiwa, selama 2 tahun berturut-turut ini, Steven Jhon dinobatkan sebagai model putra budaya dikota kecilnya itu.
Dengan tubuh atletisnya yang mencapai 182 sentimeter, membuat dirinya terlihat seakan sempurna dimata para kaum hawa yang memandangnya. Dan tidak cukup sampai disitu saja, Steven Jhon selalu menyabet juara umum selama tiga tahun bersekolah di SMU negeri Tangga Arang.
Siapa yang tidak bangga, bila bisa dekat dengan laki-laki yang menjaadi idola bukan hanya sebatas disekolah itu saja, tapi juga sekota kecil Tangga Arang.
"Kok bengong sih Rose, ayo naik," Steven membuyarkan lamunan Rose yang menatap lekat wajahnya yang masih ditutupi kaca helm.
"A--eh, iya Kak," Rose seketika tergagap.
"Gak pa-pa 'kan kalau aku duluan?" Rose menatap Rina dan Norsa yang berdiri disamping kiri dan kanannya.
"Sebenarnya gak boleh sih, aku cemburu tau," Rina membisikan ucapannya ditelinga Rose sembari tertawa kecil.
"Ah, masa sih?!" Rose tak percaya mendengar ucapan sahabatnya itu. Sementara Steven tetap sabar menunggu.
"Nggak, bercanda doang kok..Udah, pergi sana. Kasian kak Stev udah lama nunggu tuh!" dorong Rina pelan pada tubuh ramping Rose.
"Oke, aku duluan ya," Rose mendekati Steven. Pria itu buru-buru memasang helm pada kepala Rose yang telah ia siapkan. Rose menatap wajah tampan Steven yang tengah pokus memasang helm dikepalanya, aliran darah pada wajahnya serasa menghangat, mendapatkan perlakuan manis laki-laki yang dua bulan belakangan ini telah resmi menjadi kekasih hatinya.
"Yuk naik," ajak Steven, begitu selesai memasang helm dikepala Rose.
"Heum," angguk Rose lalu beranjak naik, dan memberi jarak supaya tidak menempel pada tubuh Steven.
Rose terperangah, ketika tangan Steven tiba-tiba meraih tangannya dan melingkarkan dipinggangnya hingga membuat tubuh Rose menempel pada punggungnya.
Kontan saja semua siswa-siswi yang menyaksikan apa yang dilakukaan Steven bersorak dan bersiul ria memberi respon semarak membuat Rose yang semula sudah malu kini semakin malu dibuatnya.
"Ayolah Rose, aku akan membawamu terbang, bila kau tidak memelukku, kau akan dibawa angin nanti," ujarnya, ketika Rose berusaha menjauhkan tubuhnya lagi dari punggung laki-laki itu.
Drum! Drum! Drum!
Rose terpaksa menurut. Ia memeluk erat pinggang Steven yang mulai melajukan motornya dengan pelan meninggalkan semua siswa siswi yang masih bersorak ria untuk mereka.
"Rina, benar kau cemburu, kalau Rose dan kak Steven pacaran?" tanya Norsa. Jiwa keponya meronta-ronta untuk mendapat jawaban.jujur dari mulut sahabatnya itu.
"Siapa bilang aku cemburu?" kilah Rina.
"Kau sendiri. Aku denger kok apa yang kau bisikan ditelinga Rose tadi?" Norsa masih penasaran berat.
"Aku bercanda Norsa..Kau serius amat sih!" kekeh Rina.
"Rin, kita ini sama-sama udah dewasa. Aku bisa lihat kok kalau kamu itu beneran cemburu tadi. Ingat ya, kita bertiga ini sahabatan, jangan sampai bertengkar hanya karena satu cowok. Banyak tuh cowok bertebaran dimana-mana, kau boleh pilih sesukamu. Sesuai seleramu, mau yang tambun ada, bina rangka juga ada."ucap Norsa panjang lebar.
"Iya, iya tahu. Rose sepupumu, jadi kau selalu belain dia 'kan? Tenang saja, aku masih sahabat yang waras. Gak bakalan jadi temen yang makan temen. Yuk, bus nya udah dateng tuh!" Rina segera menarik tangan Norsa. Keduanya lalu berlarian menuju bus, berebutan dengan para siswa-siswi yang lainnya supaya jangan sampai tidak kebagian kursi.
"Norsa, kau memang benar. Aku memang cemburu. Cowok memang banyak bertebaran dimana-mana seperti yang kau katakan, untuk saat ini, aku sukanya hanya kak Steven Jhon, bukan cowok lainnya," batin Rina, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya, memikirkan apa yang saat ini tengah dilakukan Rose dan laki-laki idamannya itu.
...💙💜💙...
Rose masih memeluk erat tubuh atletis dihadapannya yang terasa hangat. Beginikah jatuh cinta, terlalu indah untuk dirasakan oleh seorang Rose yang baru pertama kali menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, kakak kelasnya sendiri, padahal dirinya selalu diwanti-wanti untuk tidak boleh berpacaran selama masih jadi seorang pelajar.
"Rose!" panggil Steven sedikit kencang, supaya gadisnya yang ada dibelakangnya mendengar.
"Iya Kak," sahut Rose mendekatkan bibirnya dikepala samping kanan Steven.
"Kita makan siang dulu ya, setelah itu Kakak akan mengantarmu pulang," ucapnya.
"Iya Kak," setuju Rose.
Steven tersenyum mendengar jawaban kekasihnya, rasa bahagia itu semakin menyeruak didalam hatinya. Ia suka Rose, bukan karena parasnya saja yang elok, tapi gadisnya itu terlihat polos dan lugu, membuat dirinya tergila-gila padanya.
Drum! Drum!
Steven dan Rose sama-sama menoleh, begitu melihat seseorang sedang memepeti keduanya dengan motor miliknya.
Creeattt!
Steven menginjak rem mendadak hingga ban belakangnya terjungkit keatas dan Rose yang berada diboncengan belakang semakin erat memeluknya takut terjatuh.
"Gile emang yah tu orang!" kesal Steven lalu membuka kaca helmnya. Sementara laki-laki yang tiba-tiba menyerong motornya kekiri hingga membuat motor yang dikendarai Steven dan Rose hampir saja nyungsep ke bahu jalan disebelah kiri mereka.
"Dia kakakku, Kak," kata Rose setengah berbisik. Ia buru-buru melepaskan pelukannya dari pinggang Steven.
"Rose, ingat pesan Kakak, jangan main pacar-pacaran dulu." Bram melepas helmnya, sehingga Steven yang turun dari motornya dapat mengenali wajahnya yang beberapa hari lalu sempat berpapasan didepaan gerbang rumah Rose.
"Burung laki-laki itu berbahaya, bisa buat banyak anak-anak burung tinggal dalam perutmu Rose," ketusnya mengingatkan adiknya. Ia tahu, apa yang ia katakan agak kelewatan memang, tapi mau bagaimana lagi caranya supaya adiknya itu sadar, karena ia sudah beberapa kali memperingatkan adiknya itu dengan cara yang paling lembut dan sopan tapi tak mempan.
"Widih, kak Bram ngomongnya gitu sih!" protes Rose malu bercampur kesal dengan ucapan sang kakak.
Steven terlihat tetap tenang, ia melangkah meninggalkan Rose yang masih duduk diatas motornya untuk mendekati Bram.
"Perkenalkan, namaku Steven kak, aku kakak kelasnya Rose," laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Bram.
Bram bergeming menatapnya, membuat tangan Steven mengambang diudara tanpa disambut oleh kakak dari kekasihnya itu.
Steven terpaksa menarik tangannya, namun tidak memperlihatkan sedikitpun kekecewaan diwajahnya.
"Aku meminta ijin mengajak Rose makan siang di restoran Tepian Mutiara Kak, setelah itu aku langsung mengantarnya pulang. Aku jamin kalau burungku jinak dan tidak buas Kak," ucapnya meminta ijin.
Rose terbelalak menahan malu dan juga heran, kenapa kakak dan pacarnya itu begitu hobby membahas masalah burung.
"Baiklah, kali ini aku ijinkan. Jangan sampai terjadi apa-apa pada adikku, aku tidak akan segan-segan mematahkan batang lehermu itu, kau mengerti!" sentak Bram dingin.
"Iya, aku mengerti Kak," sahut Steven pelan.
"Rose, Kakak duluan. Ingat, jangan mepet-mepet lagi seperti tadi, Kakak tidak akan sungkan-sungkan menjewer daun telingamu yang seakan tidak mendengar semua nasihat Kakak," ujar Bram menatap adiknya.
Setelah berkata demikian, Bram memasang helmnya lalu melarikan motornya berbalik arah menuju jalan pulang ke rumah.
Beraambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Mmg saharusnya Bram memberi peringatan ke Steven dan Rose, Karena ufah banyak contoh nya yg setiap hari ada aja yg datang kerumah ngadu ke pak RT kalo anak gadis mereka Hamil luar nikah..
2024-10-25
1
Qaisaa Nazarudin
Begini ini lah yang awalnya Sikap seorang SAHABAT yg banyak ku baca di novel2 lain,pacar/tunangan sanggup selingkuh dengan SAHABAT sendiri, Karena sikap Sahabat sendiri yg iri dan gak bener,Apalagi sang cowoknya sendiri yg cepat tergoda,Di rayu dan di suguhkan body aja udah langsung oleng,ckk..
2024-10-25
1
auliasiamatir
wah Steve gentlemen ya
2023-10-11
1