3. Laporan Warga

"Rose, Kakak berangkat kerja dulu ya," pamit Bram. Ia melirik adiknya yang tengah tertidur pulas kekenyangan didepan televisi diruang keluarga.

Bram tertawa sendiri, mengingat Rose yang tetap lahap memakan masakannya. Cita rasanya memang enak, tapi tampilan capcay gorengnya terlihat begitu menjijikan akibat ulah Rose yang mencincang sayuran itu sesuka jidatnya.

Tidak mau mengganggu tidur siang adiknya, Bram lebih memilih mengunci pintu rumah dari luar, karena kedua orang tuanya juga telah membawa duplikat anak kuncinya masing-masing.

Ia buru-buru menaiki motor sportnya, dan melajukannya meninggalkan rumah, karena tinggal 10 menit lagi, jam kerjanya akan dimulai. Bram memang sengaja mengambil kerja paruh waktu setelah selesai kuliah dipagi hari. Ia berkerja pada percetakan yang berada didekat kampusnya, dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.

Sementara itu dirumah, Rose mengeliat-geliat sambil memeluk boneka pandanya yang berukuran besar sebagai pengganti guling.

Samar-samar ia mencium bau masakan dari dapur, juga suara obrolan yang tidak terlalu jelas dari ruang tamu. Matanya masih sangat mengantuk, padahal jam dinding diruang keluarga sudah menunjukan pukul 5 sore.

"Hiks, hiks, hiks," tangis seorang ibu dalam pelukan suaminya. "Padahal kami sudah mengontrol putri kami, tapi tetap saja, tetap saja kami kecolongan pak RT." keluh wanita itu disela-sela tangisnya.

"Kami bingung pak RT, Riani baru saja berusia 15 tahun, dan pacarnya yang menghamilinya itu juga baru saja berusia 19 tahun. Mengingat usia keduanya yang masih terlalu muda dan sama-sama pelajar, orang tua dari Rusdi tidak mengijinkan anak mereka yang masih sekolah itu menikah. Mereka beralasan bila anak laki-laki mereka belum mengerti bagaimana caranya berumah tangga." terang pak Wikasa, yang sore itu tengah bertamu bersama isterinya di rumah Martin, ayah Rose.

Ia masih memeluk isterinya, ibu Yuni yang masih saja terus menangis. Sebagai orang tua, terang saja mereka sangat kebingungan memikirkan nasib malang putri tunggal mereka yang menjadi harapan keluarga.

Sebagai ketua RT di komplek perumahan warga, Martin, ayah Rose memang cukup dipusingkan dengan laporan warganya akhir-akhir ini. Ini sudah kali yang keempat dirinya menerima laporan kehamilan diluar nikah beberapa anak gadis dibawah umur dalam satu tahun terakhir.

Ia menatap sepasang suami-isteri itu, berusaha memberi solusi yang terbaik yang mampu ia berikan, walau sebenarnya ia juga merasa bingung apa yang harus ia utarakan karena masalah serius itu menimpa anak gadis warganya yang masih dibawah umur.

"Begini saja pak Wikasa dan ibu Yuni, kita coba saja menempuh jalur kekeluargaan dulu. Saya akan menemani Bapak dan Ibu kerumah keluarga Rusdi, anak laki-laki yang menghamili Riani, semoga saja ada jalan keluarnya ketika kita menemui kedua orang tuannya lagi," papar Martin.

"Tapi bila masih menemui jalan buntu, dengan terpaksa, kita harus menempuh jalur hukum. Karena sesuai dengan undang-undang terbaru tentang perkawinan dinegara kita, bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun."

"Tidak seperti jaman kita dulu ya pak Wikasa, bu Yuni, undang-undang perkawinan tahun 1974, menyatakan bahwa perkawinan boleh dilakukan oleh pria berusia minimal 19 tahun dan wanita minimal 16 tahun." terang Martin lagi.

"Bagaimana kalau malam besok pak RT? Saya tidak akan merasa tenang bila persoalan ini belum menemukan jalan keluarnya," ide pak Wikasa.

"Saya setuju saja pak Wikasa." sahut Martin menyetujui.

"Baiklah, kalau begitu saya dan isteri pamit dulu, hari juga sudah gelap, kasian Riani sendirian dirumah." ujar pak Wikasa berpamitan.

Martin mengantar kedua tamunya hingga didepan pintu rumah. Ia segera beranjak begitu kedua tamunya itu keluar dari pagar rumahnya, berjalan kaki pulang menuju rumah mereka yang hanya berjarak 5 rumah saja dari rumahnya.

"Rose! Rose! Ayo kita makan malam Rose!" panggil Marlina, ibu Rose yang berdiri diambang pintu antara ruang keluarga dan dapur.

"Rose masih kenyang Bu. Ibu sama Ayah saja yang makan!" sahut Rose masih betah didepan televisi, menonton drama kesayangannya, percintaan gadis remaja.

Martin yang baru saja datang dari ruang tamu melirik layar televisi yang ditonton putrinya lalu mendengus. "Rose, ini waktunya makan malam, besok malam kau kan masih bisa menontonya lagi." ucap Martin berhenti disamping putrinya yang memeluk boneka pandanya dengan santai dan pandangan masih fokus pada layar televisi.

"Besok malam lain lagi cerita episodenya Yah. Sayang 'kan kalau kelewat, Rose udah mengikuti tayangannya dari awal," sahut Rose masih bergeming pada posisinya. Walau matanya pokus pada layar televisi, tapi telinganya masih bisa mendengar suara ayah maupun ibunya dengan baik.

Marlina baru saja akan membuka mulutnya, berencana memberi 1001 ayat pada putri manjanya yang tidak kehabisan kata menjawab perkataan suaminya.

Tok! Tok! Tok!

Rose dan kedua orang tuanya saling berpandangan sesaat, ketika mendengar ketukan kencang dan tidak beraturan berasal dari pintu ruang tamu.

Rose dan ibunya buru-buru ikut lari ke ruang tamu menyusul ayahnya. Tidak biasanya ada tamu yang mengetok dengan cara yang demikian rusuh, belum lagi suara derai tangisan semakin jelas terdengar ketika mereka semakin mendekati pintu.

"Nina? Shasa?" Martin nampak kaget melihat adik perempuan dan keponakannya yang berderai air mata didepan pintu rumahnya.

"Mas," Nina segera menghambur kepelukan Martin kakaknya yang masih kebingungan melihat dirinya dan juga putrinya yang masih menangis.

"Shasa Mas, Shasa hamil!" ucapnya disela-sela tangisannya.

"Apa? H-hamil?!" kaget Martin sembari mendorong pelan tubuh adiknya itu dari dalam pelukannya, menatapnya tidak percaya, lalu mengalihkan pandangannya pada Shasa yang menunduk dan masih menangis sesenggukan.

"Iya Mas! Shasa hamil!" ulangnya dengan suara keras hingga beberapa tetangga melongokan kepala mereka dari rumahnya masing-masing melihat kearah mereka karena kebisingan mereka yang sangat mengganggu dipetang yang baru menjelang.

"Ibu sudah bilang berkali-kali Shasa! Jauhi laki-laki baji*gan itu! Jangan pacaran dulu kalau masih sekolah! Kalau sudah begini, mau taroh dimana wajah ibumu ini Shasa?!" Nina memekik dan tangannya ikut menjambak rambut putrinya, sebagai luapan kemarahannya yang tidak terbendung lagi begitu mengetahui anak gadis satu-satunya itu telah hamil diluar nikah.

"Ampun Bu! Ampuni Shasa Bu!" mohon gadis muda itu sembari memegang rambutnya yang ditarik sang ibu, menahan rasa sakit pada kulit kepalanya.

"Nina cukup!" Martin melerai. Berusaha melepaskan jambakan tangan adiknya itu dari rambut keponakannya yang hampir saja jatuh terjungkang dilantai teras.

"Ayo kita bicarakan ini didalam saja. Tidak enak didengar tetangga," Martin melirik keluar pagar, benar saja, beberapa ibu-ibu tengah memperhatikan mereka dengan cara menguntit dari balik pagar rumah mereka yang rata-rata hanya setinggi 120 sentimeter saja dari tanah.

Marlina segera menggandeng pundak adik iparnya itu, membawanya masuk kedalam rumah. Sementara Martin membawa keponakannya Shasa. Rose yang masuk paling akhir lalu menutup pintu rumah dan menguncinya karena langit diluar sudah gelap.

Setelah melihat pintu tertutup rapat, beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu turut merapat satu sama lain dan mulai bergosip ria dengan asumsinya masing-masing.

Bersambung...👉

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Tdk mengerti urusan rumah tangga,Tapi menghamilin anak orang,ckk gaya pacaran anak jaman now sangat meresahkan..

2024-10-25

1

auliasiamatir

auliasiamatir

keren wajib subscribe

2023-10-11

1

Sena judifa

Sena judifa

kok pd hamil semua sh

2023-10-07

1

lihat semua
Episodes
1 1. Oh My God
2 2. Basa-Basi
3 3. Laporan Warga
4 4. Burung
5 5. Berani Katakan Tidak!
6 6. Kami Berpacaran
7 7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8 8. Disidang Ayah
9 9. Meminta Ijin
10 10. Bertemu Ibu Steven
11 11. Suara Lembut Setenang Telaga
12 12. Jangan Temui Rose Lagi
13 13. Ingat Baik-Baik
14 14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15 15. Bebas Dari Belajar
16 16. Ruangan Kepala Sekolah
17 17. Hadiah
18 18. Kepohonan
19 HARI PERNIKAHAN
20 MAKAN SIANG
21 21. PENANGKALNYA
22 22. PERHATIAN KECIL
23 23. BELAJAR
24 24. Terkontaminasi
25 25. HUKUMAN (Visual Rose)
26 26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27 TERBANGUN (Visual Reyn)
28 28. EMPAT MATA
29 29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30 30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31 31. MAKANAN KESUBURAN
32 KITA SUDAH SELESAI
33 33. GADIS CENGENG
34 34. AKU BUKAN PINKY BOY
35 35. Kuli Panggul
36 36. KENA BATUNYA
37 37. BERTEMU MANTAN LAGI
38 38. ANDAI SAJA
39 39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40 40. BUKTI REKAMAN
41 41. OBROLAN KELUARGA
42 42. SALAD BUAH
43 43. MENGAMBANG
44 44. RISIH
45 45. TENTANG REYN HAMDANI
46 46. WALK IN CLOSET
47 47. BAHAYA
48 48. MEMPERINGATI RINA
49 49. MEMBUNTUTI
50 50. ZAMAN BATU
51 51. RENCANA AWAL
52 52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53 53. PESAN REYN
54 54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55 55. Di RESTORAN
56 56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57 57. TEGANG DAN GUGUP
58 58. STATUS PERKAWINAN
59 59. TERLALU NAIF
60 60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61 61. MERASA KUSUT
62 62. GARA-GARA ROSE
63 63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64 64. KABUR KARENA BIKINI
65 65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66 66. MULAI TERBONGKAR
67 67. GEGER
68 68. KENAPA JADI KACAU?
69 69. SO SWEET
70 70. PERLAWANAN MARLINA
71 71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72 72. TANGGAPAN PAK KADIN
73 73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74 74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75 75. SERIBU KALI LIPAT
76 76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77 77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78 78. GANTI RUGI
79 79. MEMOHON BANTUAN
80 80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81 81. KUSUT
82 82. OTW Berkembang Biak
83 83. Apa ini punya Rose?
84 84. Nggak Kapok
85 85. Ratunya
86 86. Pengen Telur Dinosaurus
87 87. Kaget
88 88. Clara Pulang
89 89. Setitik Terang
90 90. Juru Bicara
91 91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92 92. Maju atau Mundur
93 93. Tajau Emas
94 94. Insiden Es Krim
95 95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96 96. Dsangka Merindu
97 97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98 98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99 99. Clara Sakit
100 100. Gangguan Rose
101 101. Bram! Jangan Pergi!
102 102. Serasa Ada Yang Hilang
103 103. Sang Guru Jablai
104 104. Konvoi Kelulusan
105 105. Bertemu Orang Tua Olin
106 106. Terbang
107 107. Menonton Secara Live
108 108. Mengantar Leony Pulang
109 109. Kita Urus Rasa Bencimu
110 110. The End
Episodes

Updated 110 Episodes

1
1. Oh My God
2
2. Basa-Basi
3
3. Laporan Warga
4
4. Burung
5
5. Berani Katakan Tidak!
6
6. Kami Berpacaran
7
7. Putriku adalah Harga Diri dan Kehormatanku
8
8. Disidang Ayah
9
9. Meminta Ijin
10
10. Bertemu Ibu Steven
11
11. Suara Lembut Setenang Telaga
12
12. Jangan Temui Rose Lagi
13
13. Ingat Baik-Baik
14
14. Kita Tidak Baik-Baik Saja
15
15. Bebas Dari Belajar
16
16. Ruangan Kepala Sekolah
17
17. Hadiah
18
18. Kepohonan
19
HARI PERNIKAHAN
20
MAKAN SIANG
21
21. PENANGKALNYA
22
22. PERHATIAN KECIL
23
23. BELAJAR
24
24. Terkontaminasi
25
25. HUKUMAN (Visual Rose)
26
26. TIDAK BOLEH ADA SKANDAL (Visual Steven Jhon)
27
TERBANGUN (Visual Reyn)
28
28. EMPAT MATA
29
29. RESIKO PUNYA ISTERI ANAK MURID SENDIRI
30
30. SEMAKIN MENCURIGAKAN
31
31. MAKANAN KESUBURAN
32
KITA SUDAH SELESAI
33
33. GADIS CENGENG
34
34. AKU BUKAN PINKY BOY
35
35. Kuli Panggul
36
36. KENA BATUNYA
37
37. BERTEMU MANTAN LAGI
38
38. ANDAI SAJA
39
39. HARTA YANG PALING BERNILAI
40
40. BUKTI REKAMAN
41
41. OBROLAN KELUARGA
42
42. SALAD BUAH
43
43. MENGAMBANG
44
44. RISIH
45
45. TENTANG REYN HAMDANI
46
46. WALK IN CLOSET
47
47. BAHAYA
48
48. MEMPERINGATI RINA
49
49. MEMBUNTUTI
50
50. ZAMAN BATU
51
51. RENCANA AWAL
52
52. BUKAN ADIK TAPI ISTERI
53
53. PESAN REYN
54
54. LEDEKAN KOPI PAHIT
55
55. Di RESTORAN
56
56. MENGEJAR SANG GURU BIOLOGI
57
57. TEGANG DAN GUGUP
58
58. STATUS PERKAWINAN
59
59. TERLALU NAIF
60
60. KECELAKAAN LALU LINTAS
61
61. MERASA KUSUT
62
62. GARA-GARA ROSE
63
63. BUKAN DARAH BANGSAWAN
64
64. KABUR KARENA BIKINI
65
65. BAGAI HUJAN DI MUSIM KEMARAU
66
66. MULAI TERBONGKAR
67
67. GEGER
68
68. KENAPA JADI KACAU?
69
69. SO SWEET
70
70. PERLAWANAN MARLINA
71
71. FATAL DAN SALAH LANGKAH
72
72. TANGGAPAN PAK KADIN
73
73. DEMI SI BUAH HATI DAN SI BUAH...
74
74. LAKI-LAKI ITU, HARUS BISA DIPEGANG JANJINYA
75
75. SERIBU KALI LIPAT
76
76. SETIAP TINDAKAN ADA TIMBAL BALIK
77
77. AYANG BIDADARI (VISUAL BRAM DAN LEONY)
78
78. GANTI RUGI
79
79. MEMOHON BANTUAN
80
80. KAKAK-BERADIK SEBELAS-DUA BELAS
81
81. KUSUT
82
82. OTW Berkembang Biak
83
83. Apa ini punya Rose?
84
84. Nggak Kapok
85
85. Ratunya
86
86. Pengen Telur Dinosaurus
87
87. Kaget
88
88. Clara Pulang
89
89. Setitik Terang
90
90. Juru Bicara
91
91. Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya.
92
92. Maju atau Mundur
93
93. Tajau Emas
94
94. Insiden Es Krim
95
95. Belajar Menerima, Atau DENDA
96
96. Dsangka Merindu
97
97. Kebahagiaan Vs Harga Diri
98
98. Terpaksa Menjilat Ludah Sendiri
99
99. Clara Sakit
100
100. Gangguan Rose
101
101. Bram! Jangan Pergi!
102
102. Serasa Ada Yang Hilang
103
103. Sang Guru Jablai
104
104. Konvoi Kelulusan
105
105. Bertemu Orang Tua Olin
106
106. Terbang
107
107. Menonton Secara Live
108
108. Mengantar Leony Pulang
109
109. Kita Urus Rasa Bencimu
110
110. The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!