"Rose, Kakak berangkat kerja dulu ya," pamit Bram. Ia melirik adiknya yang tengah tertidur pulas kekenyangan didepan televisi diruang keluarga.
Bram tertawa sendiri, mengingat Rose yang tetap lahap memakan masakannya. Cita rasanya memang enak, tapi tampilan capcay gorengnya terlihat begitu menjijikan akibat ulah Rose yang mencincang sayuran itu sesuka jidatnya.
Tidak mau mengganggu tidur siang adiknya, Bram lebih memilih mengunci pintu rumah dari luar, karena kedua orang tuanya juga telah membawa duplikat anak kuncinya masing-masing.
Ia buru-buru menaiki motor sportnya, dan melajukannya meninggalkan rumah, karena tinggal 10 menit lagi, jam kerjanya akan dimulai. Bram memang sengaja mengambil kerja paruh waktu setelah selesai kuliah dipagi hari. Ia berkerja pada percetakan yang berada didekat kampusnya, dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.
Sementara itu dirumah, Rose mengeliat-geliat sambil memeluk boneka pandanya yang berukuran besar sebagai pengganti guling.
Samar-samar ia mencium bau masakan dari dapur, juga suara obrolan yang tidak terlalu jelas dari ruang tamu. Matanya masih sangat mengantuk, padahal jam dinding diruang keluarga sudah menunjukan pukul 5 sore.
"Hiks, hiks, hiks," tangis seorang ibu dalam pelukan suaminya. "Padahal kami sudah mengontrol putri kami, tapi tetap saja, tetap saja kami kecolongan pak RT." keluh wanita itu disela-sela tangisnya.
"Kami bingung pak RT, Riani baru saja berusia 15 tahun, dan pacarnya yang menghamilinya itu juga baru saja berusia 19 tahun. Mengingat usia keduanya yang masih terlalu muda dan sama-sama pelajar, orang tua dari Rusdi tidak mengijinkan anak mereka yang masih sekolah itu menikah. Mereka beralasan bila anak laki-laki mereka belum mengerti bagaimana caranya berumah tangga." terang pak Wikasa, yang sore itu tengah bertamu bersama isterinya di rumah Martin, ayah Rose.
Ia masih memeluk isterinya, ibu Yuni yang masih saja terus menangis. Sebagai orang tua, terang saja mereka sangat kebingungan memikirkan nasib malang putri tunggal mereka yang menjadi harapan keluarga.
Sebagai ketua RT di komplek perumahan warga, Martin, ayah Rose memang cukup dipusingkan dengan laporan warganya akhir-akhir ini. Ini sudah kali yang keempat dirinya menerima laporan kehamilan diluar nikah beberapa anak gadis dibawah umur dalam satu tahun terakhir.
Ia menatap sepasang suami-isteri itu, berusaha memberi solusi yang terbaik yang mampu ia berikan, walau sebenarnya ia juga merasa bingung apa yang harus ia utarakan karena masalah serius itu menimpa anak gadis warganya yang masih dibawah umur.
"Begini saja pak Wikasa dan ibu Yuni, kita coba saja menempuh jalur kekeluargaan dulu. Saya akan menemani Bapak dan Ibu kerumah keluarga Rusdi, anak laki-laki yang menghamili Riani, semoga saja ada jalan keluarnya ketika kita menemui kedua orang tuannya lagi," papar Martin.
"Tapi bila masih menemui jalan buntu, dengan terpaksa, kita harus menempuh jalur hukum. Karena sesuai dengan undang-undang terbaru tentang perkawinan dinegara kita, bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun."
"Tidak seperti jaman kita dulu ya pak Wikasa, bu Yuni, undang-undang perkawinan tahun 1974, menyatakan bahwa perkawinan boleh dilakukan oleh pria berusia minimal 19 tahun dan wanita minimal 16 tahun." terang Martin lagi.
"Bagaimana kalau malam besok pak RT? Saya tidak akan merasa tenang bila persoalan ini belum menemukan jalan keluarnya," ide pak Wikasa.
"Saya setuju saja pak Wikasa." sahut Martin menyetujui.
"Baiklah, kalau begitu saya dan isteri pamit dulu, hari juga sudah gelap, kasian Riani sendirian dirumah." ujar pak Wikasa berpamitan.
Martin mengantar kedua tamunya hingga didepan pintu rumah. Ia segera beranjak begitu kedua tamunya itu keluar dari pagar rumahnya, berjalan kaki pulang menuju rumah mereka yang hanya berjarak 5 rumah saja dari rumahnya.
"Rose! Rose! Ayo kita makan malam Rose!" panggil Marlina, ibu Rose yang berdiri diambang pintu antara ruang keluarga dan dapur.
"Rose masih kenyang Bu. Ibu sama Ayah saja yang makan!" sahut Rose masih betah didepan televisi, menonton drama kesayangannya, percintaan gadis remaja.
Martin yang baru saja datang dari ruang tamu melirik layar televisi yang ditonton putrinya lalu mendengus. "Rose, ini waktunya makan malam, besok malam kau kan masih bisa menontonya lagi." ucap Martin berhenti disamping putrinya yang memeluk boneka pandanya dengan santai dan pandangan masih fokus pada layar televisi.
"Besok malam lain lagi cerita episodenya Yah. Sayang 'kan kalau kelewat, Rose udah mengikuti tayangannya dari awal," sahut Rose masih bergeming pada posisinya. Walau matanya pokus pada layar televisi, tapi telinganya masih bisa mendengar suara ayah maupun ibunya dengan baik.
Marlina baru saja akan membuka mulutnya, berencana memberi 1001 ayat pada putri manjanya yang tidak kehabisan kata menjawab perkataan suaminya.
Tok! Tok! Tok!
Rose dan kedua orang tuanya saling berpandangan sesaat, ketika mendengar ketukan kencang dan tidak beraturan berasal dari pintu ruang tamu.
Rose dan ibunya buru-buru ikut lari ke ruang tamu menyusul ayahnya. Tidak biasanya ada tamu yang mengetok dengan cara yang demikian rusuh, belum lagi suara derai tangisan semakin jelas terdengar ketika mereka semakin mendekati pintu.
"Nina? Shasa?" Martin nampak kaget melihat adik perempuan dan keponakannya yang berderai air mata didepan pintu rumahnya.
"Mas," Nina segera menghambur kepelukan Martin kakaknya yang masih kebingungan melihat dirinya dan juga putrinya yang masih menangis.
"Shasa Mas, Shasa hamil!" ucapnya disela-sela tangisannya.
"Apa? H-hamil?!" kaget Martin sembari mendorong pelan tubuh adiknya itu dari dalam pelukannya, menatapnya tidak percaya, lalu mengalihkan pandangannya pada Shasa yang menunduk dan masih menangis sesenggukan.
"Iya Mas! Shasa hamil!" ulangnya dengan suara keras hingga beberapa tetangga melongokan kepala mereka dari rumahnya masing-masing melihat kearah mereka karena kebisingan mereka yang sangat mengganggu dipetang yang baru menjelang.
"Ibu sudah bilang berkali-kali Shasa! Jauhi laki-laki baji*gan itu! Jangan pacaran dulu kalau masih sekolah! Kalau sudah begini, mau taroh dimana wajah ibumu ini Shasa?!" Nina memekik dan tangannya ikut menjambak rambut putrinya, sebagai luapan kemarahannya yang tidak terbendung lagi begitu mengetahui anak gadis satu-satunya itu telah hamil diluar nikah.
"Ampun Bu! Ampuni Shasa Bu!" mohon gadis muda itu sembari memegang rambutnya yang ditarik sang ibu, menahan rasa sakit pada kulit kepalanya.
"Nina cukup!" Martin melerai. Berusaha melepaskan jambakan tangan adiknya itu dari rambut keponakannya yang hampir saja jatuh terjungkang dilantai teras.
"Ayo kita bicarakan ini didalam saja. Tidak enak didengar tetangga," Martin melirik keluar pagar, benar saja, beberapa ibu-ibu tengah memperhatikan mereka dengan cara menguntit dari balik pagar rumah mereka yang rata-rata hanya setinggi 120 sentimeter saja dari tanah.
Marlina segera menggandeng pundak adik iparnya itu, membawanya masuk kedalam rumah. Sementara Martin membawa keponakannya Shasa. Rose yang masuk paling akhir lalu menutup pintu rumah dan menguncinya karena langit diluar sudah gelap.
Setelah melihat pintu tertutup rapat, beberapa tetangga yang menyaksikan kejadian itu turut merapat satu sama lain dan mulai bergosip ria dengan asumsinya masing-masing.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Tdk mengerti urusan rumah tangga,Tapi menghamilin anak orang,ckk gaya pacaran anak jaman now sangat meresahkan..
2024-10-25
1
auliasiamatir
keren wajib subscribe
2023-10-11
1
Sena judifa
kok pd hamil semua sh
2023-10-07
1