Steven melambatkan laju motornya dan berhenti tepat didepan pagar rumah bercat serba putih. Selang beberapa detik, Rose turun dari boncengan belakangnya.
Setelah menyerahkan helm, Rose sedikit merapihkan rambut panjang sepunggungnya, sementara Steven memperhatikanya dari atas motornya.
Rose menatap steven yang juga tengah menatapnya dengan ulasan senyum manisnya, membuat pipi gadis remaja itu menghangat, terlihat semburat merah samar dipipi chubby-nya.
"Udah, masuk sana," ujar Steven, masih dengan ulasan senyum manisnya. Steven Jhon, pria berkulit khas asia itu adalah kakak kelas Rose, siswa kelas 12 yang dua bulan lagi akan lulus dari SMU Negeri Tangga Arang, tempat mereka bersekolah.
"Apa kak Steven gak mau masuk dulu gitu?" tanya Rose sedikit basa-basi.
Belum sempat Steven menjawab, Rose sudah lebih dulu bersuara. "Nggak usah aja ya Kak?" sambar gadis itu cepat.
Steven menatap Rose penuh tanya dengan perasaan bingung, lalu mendengus. "Ngapain coba, musti nawarin kalau gak boleh masuk juga?"
"Basa-basi Kak, 'kan gak enak Rose udah dianterin pulang malah ngusir," sahut Rose jujur plus polosnya keluar.
"Basa-basimu itu terlalu basi Rose, tau gak." keduanya lalu terkekeh bersama.
Bersamaan dengan itu, satu unit motor sport berhenti tepat disamping keduanya, Rose dan Steven menoleh bersamaan.
Steven memperhatikan laki-laki yang mengenakan jaket kulit cokelat, berusaha mengingat dan mengenali pria yang tidak asing baginya dengan tidak melepaskan tatapannya.
Laki-laki berjaket kulit cokelat itu melepas helmnya lalu menoleh kearah Steven.
"Kenapa melihatku seperti itu? Naksir? Sorry ya, aku masih waras." lalu menyugar rambutnya kebelakang, untuk menambah point ketampanannya.
Steven menatap jijik laki-laki dihadapannya itu lalu berdecih. "Apa yang dia bilang tadi? Naksir? Cih! Emang aku homo apa? Mana dia lebih tua lagi?" batinnya gregetan.
"Udah ya Rose, Kakak pulang dulu," Steven berpamitan pada Rose tanpa menggubris laki-laki sontoloyo yang tidak mampu ia ingat itu, walau ia sudah menyisir ingatannya hingga kusut.
"Oke Kak Steven, hati-hati ya, bye!" Rose melambaikan tangannya, menghantarkan kepergian Steven yang melarikan motornya dengan kecepatan sedang.
"Kok nggak langsung masuk sih Kak?" Rose mengalihkan asistensinya pada kakak kandungnya, Bram Sulistyo, laki-laki yang mengenakan jaket kulit cokelat yang tidak dikenal oleh Steven.
"Nggak, Kakak mau liat anak monyet lagi pdkt tadi," ujarnya acuh, lalu menjalankan motornya masuk ke halaman luas rumah mereka, dan menyimpan motornya di garasi.
Rose menatap kakaknya bingung, apa mungkin dirinya disamakan dengan anak monyet oleh kakaknya itu. Ia tetap melenggang masuk dan menutup pagar rumah lalu mengunci dengan kaitan besi.
...⚘️⚘️⚘️...
Rose baru saja selesai mandi, setelah mengganti seragam sekolahnya, ia keluar dari kamarnya, turun ke lantai bawah menuju dapur, perutnya sudah keroncongan menahan lapar.
Ia mendengus begitu melihat tidak ada makanan sama sekali diatas meja.
"Kenapa? Lapar?" Bram yang juga baru turun dari lantai atas mendekati adiknya.
"Ya iyalah Kak. Bibi mana sih, kok nggak siapin makanan?" rengut Rose yang tidak bisa lagi menahan laparnya.
"Bibi tidak sempat masak untuk makan siang, anaknya sakit, ia terpaksa ijin tadi setelah mengirim rok, CD, dan pemba*utmu tadi pagi," pungkas Bram.
"Kalau lapar, ya masak dong." ucap Bram sambil membuka kulkas, melihat bahan-bahan makanan apa saja yang disimpan bibi disana.
"Kakak ngeledek ya? Udah tau Rose belum bisa masak," sungut gadis itu lagi sembari mencebikan bibirnya.
"Belum bisa masak tapi udah berani pacaran. Mau dikasih makan apa suami dan anakmu nanti Rose?" Bram mengeluarkan seikat sayuran dan ikan yang sudah di bumbui dari dalam kulkas dan meletakannya diatas meja konter dapur.
"Widih kak Bram, Rose 'kan pacarannya masih maen-maen, nggak mikir punya suami, apalagi punya anak," ucap Rose polos, lalu bergidik ngeri membayangkan ujung dari pacaran yang ia anggap main-main memang akan berakhir ke arah sana, seperti yang barusan kakaknya bicarakan.
"Ingat ya Rose, dari awal yang main-main itu, akan berujung bahaya, apalagi seusia dirimu, belum pantes pacaran. Sekolah dulu yang bener, lulus, terus kuliah, terus kerja, lalu boleh pacaran dan nikah," ulas Bram menasehati adik perempuan semata wayangnya itu.
Ya, mereka hanya dua bersaudara. Bram Sulistyo, pria berperawakan tinggi 180 sentimeter itu kuliah di Universitas semester empat sambil berkerja paruh waktu disalah satu percetakan didekat kampusnya. Sementara Rose adiknya baru kelas 11 di SMU Negeri Tangga Arang, dan kurang lebih tiga bulan lagi akan naik ke kelas 12.
Kedua orang tua mereka, Martin dan Marlina sama-aama bekerja sebagai PNS di instansi Pemerintah kota Tangga Arang. Martin juga dipercaya oleh para warga dikomplek tempat tinggalnya sebagai seorang ketua RT.
"Sini, bantuin Kakak biar cepat rampung." Rose mendekati kakaknya dengan rasa malas dan nampak lemas tidak bertenaga akibat lapar.
"Potong sayuran ini begini," Bram memberi contoh memotong kacang buncis diatas talenan. Begitu selesai seruas, ia lalu memasukan potongan kacang buncis yang terlihat rapi itu kedalam mangkuk berukuran sedang.
"Nah sayur sawi ini potongnya seperti ini," Bram kembali memberi contoh, dari seikat sawi yang telah ia bersihkan di air mengalir.
"Ngerti kan Rose?" tanya Bram menatap adiknya.
"Iya, Rose ngerti Kak," sahut Rose bernada malas, rasa lapar membuatnya mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur siang.
"Kakak mau masak apa sih?"" Rose balik bertanya sambil mengambil alih pisau dari tangan kakaknya.
"Kakak mau masak capcay goreng dan ikan goreng," Bram memasukan ikan kedalam penggorengan yang sudah ia panaskan sebelumnya hingga terdengarr suara, " Srenggg!" beberapa detik kemudian aroma bumbu ikan goreng mulai tercium oleh indera penciuman membuat perut keduanya semakin merasa lapar.
Sembari menunggu ikan goreng bumbunya matang, Bram membersihkan kembang kol dan menyiapkan bumbu tumisannya. Tidak membuang waktu lama, Bram yang sudah terbiasa mengolah bahan-bahan itu dalam waktu singkat sudah menyelesaikannya.
Ia buru-buru memanaskan minyak dalam wajan lalu mulai memasukan bawang dan bumbu tumisan lainnya, setelah bau bumbu sudah tercium,.ia mengecilkan api untuk memasukan sayur-sayurannya.
"Rose, berikan sayuran yang sudah kau potong pada Kakak," panggilnya. Rose lalu buru-buru memberikan sayuran yang baru saja selesai dirajamnya.
"Astaga Rose! Ini potongan sayur apaan?!" kaget Bram melihat kacang buncis panjang pendek tidak beraturan, belum lagi daun sawi yang dirajam sangat halus bagai bubuk tanpa bisa dikenali lagi bentuknya.
Rose hanya cengengesan mendengar pekikan sang kakak tanpa merasa bersalah. "Siapa suruh Kakak minta bantuan Rose, ya begitu deh jadinya, terima aja apa adanya," cengirnya.
"Kan udah Kakak beri contoh Rose.." Bram merasa gemes pada adik lucnut-nya itu.
Bersambung...👉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
auliasiamatir
ya ammpiuuunn rose...🤭
2023-10-11
2
Sena judifa
salam dr muara cinta kita thor like fav dan rate mendarat
2023-10-05
1
Putra Al - Bantani
berbasa basiii 😂😂
2023-09-23
1