Selesai menemani nona Syeran sarapan, Diena dipanggil oleh asisten Hanzo untuk turun ke lantai 2.
"Bagaimana dengan hari ini? Apa ada yang terlihat mencurigakan dari nona Syeran?" tanya Hanzo, 2 minggu ini dia masih sibuk dengan penyelidikannya tentang istri kontrak sang Tuan.
Hanzo dan Diena masih sama-sama bertanya-tanya bagaimana wanita itu bisa berpindah tempat dalam waktu sekejap.
"Tidak ada asisten Hanzo, semuanya nampak normal seperti biasa. Nona Syeran tidak menghilang-hilang lagi," jelas Deina, saat malam dia pernah juga mengawasi. Dan sang Nona tidur dengan pulasnya, tidak ada gelagat aneh.
Nona Syeran juga tidak memiliki benda-benda yang mencurigakan, contohnya cincin ajaib.
"Baiklah, awasi terus nona Syeran. Pastikan juga dia tidak menyakiti dirinya sendiri," titah Hanzo.
Diena mengangguk patuh.
Dan waktu pun bergulir.
Semakin mendekati 1 bulan sejak mallam pertama waktu itu, Zeon antusias sekali untuk memeriksakan kandungan Syeran.
Dia sudah sangat berharap wanita itu akan segera hamil, karena dengan begitu Zeon akan memiliki keturunan. Anak darrah dagingnya.
Hanya membayangkannya saja Zeon sudah bahagia bukan main.
Sebuah kebahagiaan dan harapan yang dirasakan pula oleh Hanzo, Diena dan seluruh pelayan di rumah ini.
Jadi saat sang dokter datang ke mansion tersebut, semua orang menyambutnya dengan sangat baik.
Jam 8 pagi setelah Syeran sarapan, akhirnya Zeon datang menemui wanita itu.
Syeran tau maksud dan tujuannya, karena Deina pun sudah menceritakan semua kepada dia.
"Aku tidak hamil!" celetuk Syeran dengan santainya. Sikap pembangkang itu makin dia tunjukkan dengan jelas ketika berada di hadapan Zeon.
"Jaga bicara Anda, Nona," ucap Hanzo.
Diena pun menatap tak suka pada wanita itu. Syeran telah bicara kalimat yang menyakitkan bagi sang tuan.
"Untuk memastikan semuanya lebih baik kita segera melakukan pemeriksaan," ucap sang dokter, wanita paruh baya itu tersenyum coba mencairkan suasana yang nampak sudah berubah jadi tegang.
"Hais, membuang-buang waktuku saja," balas Syeran. Sebenarnya dia pun merasa tak sopan bersikap seperti ini ketika sedang berhadapan dengan seseorang yang usianya lebih tua dari dia.
Tapi mau bagaimana lagi, jika sang suami masih tetap bersikukuh dengan surat kontrak itu maka dia pun akan tetap keras kepala seperti ini.
Syeran dan sang dokter masuk ke dalam kamar mandi berdua, karena Zeon ingin dokter itu melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Syeran benar-benar melakukan pemeriksaan.
Sedangkan Zeon menunggu di luar, dia duduk di sofa kamar tersebut.
Hanzo dan Diena berjaga di depan pintu kamar utama ini.
1 garis merah adalah yang tertera dengan jelas di test pack tersebut, Syeran tersenyum kecil.
"Sudah aku bilang aku tidak hamil Dok," kata Syeran dengan riang, dia juga meminta maaf kepada sang dokter apa sikap kasarnya.
"Tidak apa-apa, itu artinya Anda dan Tuan Zeon harus mencoba lagi," jawab sang dokter.
Syeran mendengus kesal.
Di luar sana, Zeon langsung berdiri saat dia melihat Syeran dan sang dokter keluar dari dalam kamar mandi, dia juga berjalan menghampiri.
"Bagiamana?" tanya Zeon dengan mata yang menukik tajam, seolah hasil yang ingin dia dengar hanyalah satu, Syeran hamil.
"Aku tidak hamil," balas Syeran cepat, sebelum sang dokter sempat menjawab.
Namun Zeon tidak mengindahkan jawaban wanita itu, dia justru menatap Dokter Emma.
"Nyonya Syeran belum hamil, Tuan."
Dan sekarang tatapan Zeon langsung berpindah ke arah Syeran, menatap tajam seolah hendak memberikan hukuman.
Syeran memang takut, namun dia balas pula tatapan itu.
Malam ini aku tidak akan pasrah. Ku pastikan kamu tidak akan bisa menembak ku dengan mudah! Batin Syeran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
andi hastutty
😂🤭
2024-08-18
1
Rika Adja
suka ceritanya
2023-09-27
2
Rika Adja
suka ceritanya
2023-09-27
6