2 minggu telah berlalu dan selama itu pula Zeon tidak pernah menemui Syeran.
Diena bahkan melarang Syeran untuk melihat sang Tuan dari atas balkon.
Kini Diena tidak mau ditanya-tanya lagi tentang tuannya itu, Diena hanya bekerja dan bicara sesuai dengan tanggung jawabnya.
Pagi setelah mandi, Diena menyiapkan baju ganti di atas ranjang. Tapi hari itu Syeran enggan untuk memakai baju tersebut. Dia melenggang dengan santainya menuju lemari pakaian, memilih baju sesuai keinginannya sendiri.
Setiap hari selalu ada saja ulah Syeran yang berontak, Diena sampai hafal.
"Apa untungnya terus memberontak seperti itu? hanya akan merugikan nona sendiri. Tuan Zeon tetap tidak akan menemui kamu," ucap Diena dengan bibir yang tersenyum nampak jelas, dia mengambil kembali baju ganti yang sudah disiapkannya di atas ranjang, Diena kembalikan ke lemari saat Syeran menuju ruang ganti.
Mendengar ucapan Diena itu membuat Syeran kesal sendiri, jika tidak melihat wajah tuan Zeon mana bisa dia menghentikan waktu.
Mana bisa dia berlari ke arah sang suami.
"Cobalah untuk menikmati takdirmu sendiri nona Syeran, dengan begitu mungkin hidup ini akan terasa lebih mudah untukmu, tidak marah-marah terus," ucap Diena lagi, dia bicara seperti itu karena melihat nona Syeran yang telah kembali dengan memakai baju pilihannya sendiri.
"Hari ini kamu terlalu banyak bicara," ketus Syeran.
Diena terkekeh.
"Karena kita akan terus bersama dalam waktu yang sangat lama, karena itulah ayo berkerja sama. Aku juga bosan jika terus melihat Anda marah-marah," balas Diena pula.
"2 Minggu lagi Anda harus melakukan pemeriksaan kehamilan, jika Anda tidak hamil barulah tuan Zeon akan menemui Anda," terang Diena kemudian.
Syeran ingin muntah ketika mendengar penjelasan tersebut. Semakin lama Diena tidak terlihat seperti selir Raja, Diena justru persis seperti Sohwa, pelayan dari kerajaan yang selalu mengawasinya.
"Aku tidak akan hamil!" balas Syeran ketus, ketus terus. kesal sekali dengan semua yang terjadi.
Syeran tidak mau diperlakukan layaknya mesin pencetak anak seperti ini.
"Jangan bicara seperti itu, jika Anda hamil mungkin tuan Zeon akan lebih sering datang," jawab Diena. Diantara semua kemarahan sang Nona, Deina memang selalu tenang.
Sebuah sikap yang membuat Syeran makin kesal.
"Aku tidak akan hamil selama tuan Zeon belum mencintai aku!" kesal Syeran.
Diena makin terkekeh ketika mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu mari sarapan dulu. Anda harus memiliki banyak tenaga untuk marah-marah," ajak Diena.
Mereka berdua keluar dan menuju meja makan.
Diena menyiapkan semuanya, menyajikan makanan hangat yang telah dimasak oleh koki khusus untuk wanita yang tengah menjalani program hamil.
Hidup Syeran di mansion ini sebenarnya sangat terjamin, satu-satunya yang membuat dia menderita adalah rasa kesepian dan perlakuan Zeon yang mengacuhkannya.
Tiap kali Syeran selalu melihat ke arah pintu yang dijaga oleh 2 penjaga, berharap Zeon masuk ke dalam sana.
Bukan hal yang sulit bagi Syeran untuk menaruh hati pada pria bermata elang itu. Terlebih jika ingat mereka telah menyatu.
Kadang Syeran juga menghayal, dia dan tuan Zeon memiliki 3 anak dan hidup bahagia.
Besar sekali harapan Syeran, hidupnya dengan raja Lorry tidak akan kembali terulang.
Aku akan bahagia bersama tuan Zeon, aku sangat membenci mu Lorry.
"Nona, cepatlah makan. Jangan melamun terus," ucap Diena dan buyarlah semua lamunan Syeran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
meMyra
kapan sih Syeran sadar akan chip di tengkuknya itu? supaya Kalo mau hilang gak terlacak
2024-03-26
4
Yucaw
Bagus syeran..terus tanamkan pikiran" positif yg kamu harapkan terjadi dlm kehidupan mu..
2023-07-11
6
💖🍁K@$m! Mυɳҽҽყ☪️🍁💖
masih bingung sama karakter nya Diena pura" peduli atau benaran peduli sama Syeran nya
2023-06-15
0