Masih dengan wajah kesal Guan Lin masuk ke ruangan acara mencari keberadaan adiknya, matanya merotasi ruangan yang penuh dengan orang - orang penting dalam bidang pekerjaan mereka. Saat matanya masih mencari, sosok wanita tadi yang sempat ia tahan sedang tertawa. Satu kata yang terbesit dalan pikiran nya, menawan!
"Kak!"
Tepukan Jia Chan menariknya dari keterpesonaan nya, menarik kembali pada kenyataan. "Dimana sebenarnya pengawal pribadi mu?" decak kesal Guan Lin.
Jia Chan malah cengengesan, "Aku menyuruh mereka menunggu diluar karena malu masih harus dikawal masuk kesini, bagaimanapun aku masih ingin punya muka. Ada wanita yang sedang aku incar," jelasnya pada sang Kakak.
"Kau! Apa kau belum kapok ditusuk musuh? Kau juga tau... bukan hanya dari perserikatan barat musuh kita, tapi juga rival kita dalam bisnis. Apalagi dari utara, mereka yang berani menusukmu masih berani berkeliaran di daerah wilayah kita. Kau bodoh!" Guan Lin terus saja memarahi adiknya.
"Sudahlah, aku tau aku salah. Nikmati saja acaranya, ayo cari minuman." Jia Chan menarik tangan Guan Lin.
"Tunggu! Apa kau mengenal wanita disana?" Guan Lin yang penasaran mengarahkan tatapan nya pada sosok wanita yang melawan nya tadi.
"Yang mana?" tanya Jia Chan ikut melihat ke arah kakaknya menoleh.
"Rambut hitam tergerai, gaun hitam dengan belahan V rendah di bagian depan. Sedang tersenyum dengan pria yang berjas bordir emas di bagian ujung lengan jas."
Jia Chan mencari sosok yang digambarkan sang kakak meskipun kurang detail, dan banyak wanita yang memakai gaun warna hitam malam itu. Namun, matanya seketika melebar saat mengenali wanita penyelamatnya. "Astaga!"
"Ada apa?" Guan Lin melihat mata adiknya terbelalak.
"Itu dia, Nona Zhu. Yang menyelamatkan ku waktu tertusuk, kakak masih ingat ceritaku 'kan?"
Pandangan Guan Lin kembali ke sosok wanita itu, kini ia benar-benar penasaran dengan wanita yang telah menyelamatkan adiknya.
"Aku akan menyapanya, tempo hari saat kakak datang mencariku dan membawaku pergi aku belum sempat berpamitan," Jia Chan mulai melangkah lebar ingin segera sampai di tempat Yu Jie berada.
"Nona Zhu." Panggil Jia Chan.
Sontak Yu Jie yang sedang berbincang kembali dengan Hao Yu menoleh ke arah suara. "Jia Chan, kamu baik-baik saja? Tadi kamu--" Yu Jie menghentikan perkataan nya saat tersadar Hao Yu ada disana.
"Aku baik-baik saja, maaf tempo hari saat kamu menolongku aku tidak sempat berpamitan. Sekali lagi terima kasih dan maaf." Kepala Jia Chan menunduk memberi penghormatan.
"Jangan begini, kamu aman kan sekarang?" maksud Yu Jie mengarah pada kejadian penodongan dengan pistol tadi.
"Aman, tentu saja. Ah, kamu bersama?" tanya Jia Chan bertanya lelaki yang bersama Yu Jie.
"Dia temanku, Tuan Lee."
"Halo, aku Kang Jia Chan." Ujar Jia Chan, dia lalu menoleh pada kakaknya melambaikan tangan memanggil. "Kak, kemarilah."
Guan Lin tidak ingin mengindahkan panggilan adiknya karena tak menyukai berbaur dengan orang lain, namun rasa penasaran mengalahkan semua itu. Dia berjalan mendekati sang adik yang masih berpaling padanya, ia juga merasakan mata wanita itu sedang menatap pergerakan nya.
"Kenalkan kakakku, Guan Lin." Jia Chan segera mengenalkan kakaknya.
"Halo, semuanya."
"Halo juga, Tuan Kang. Maaf atas perilaku tadi," dengan rendah hati Yu Jie meminta maaf lebih dulu padahal Guan Lin yang memulai.
"Tidak! Saya yang harusnya meminta maaf, tadi adalah ketidaksengajaan. Harap maklum," timpal Guan Lin.
"Kak Guan! Ini pertama kalinya kamu meminta maaf pada orang lain. Ada apa ini?" tanya Jia Chan penuh selidik. Ia menatap bergantian pada kakak nya dan Yu Jie.
"Yu Jie, aku ingin bicara."
Suara seseorang menginterupsi perbincangan mereka.
Ang Cheng!
Yu Jie membalikkan tubuh ke belakang mengenali suara lelaki brengsek itu, "Maaf Tuan Lim, aku sedang bicara dengan mereka. Bisakah kita bicara nanti?"
"Aku ingin bicara sekarang, pernikahan kita--"
"Oke, mari bicara." Yu Jie tak ingin masalah pribadinya menjadi konsumsi publik, ia berbalik kembali untuk ijin pergi dari sana. "Maaf, saya harus bicara dengan nya. Silahkan menikmati kembali acara ini, saya permisi."
"Nona Zhu, kita akan tetap pulang bersama bukan?" Hao Yu yang sejak tadi diam saja akhirnya angkat bicara.
"Tentu, Tuan Lee. Sampai ketemu nanti saat acara selesai," tak berlama lagi Yu Jie pergi dengan diikuti Ang Cheng yang lebih dulu menatap tajam pada Hao Yu, Jia Chan dan Guan Lin. Ia sungguh tak menyangka, Yu Jie sangat terkenal di kalangan para pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
angchen lo aja yg buta krn limei ngangkang trus..
2025-03-04
0
Nia Risma
matamu ajaa yg buta ketutupan ulet bulu g bisaa ngeliat kecantikaaan paripurna caaalon mantan istrimu,,,,
2024-10-03
2
Syahrudin Denilo
waduh ada yang cemburu nih
2024-08-15
0