Foto Pra Wedding

Amadea lari tergopoh-gopoh turun dari taksi. Ia tahu ia sudah terlambat dari janji yang ia sanggupi semalam.

Sudah pula telat, sambil menunggu taksi di depan rumah pun ia juga harus sambil meladeni keluhan mamanya soal uang yang berujung dengan pertengkaran lagi.

Ibu Dea ingin beli perhiasan untuk dipakai di acara pernikahan nanti. Ia merengek dan meminta Dea minta uang pada calon suaminya yang cacat itu.

Dea jelas kesal. Selain karena muak dengan kematrealistikan ibunya, ia juga marah karena ibunya menyebut kata cacat sebagai kata ganti dari Mandala-calon menantunya sendiri.

Bagi Dea, Mandala tidak cacat walau tangannya  tinggal satu. Ia tetap sempurna dengan ketidaksempurnaan ini. Sudah berapa kali ia menegur ibunya soal ini, tapi perempuan itu tetap terkesan mencemooh keadaan fisik Mandala.

Oh! Tunggu sampai dia tahu kondisi Mandala Barata yang sebenarnya dengan segala kekayaan dan kuasanya. Apakah ibu Dea akan tetap seangkuh itu?

Dea mencoba mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena lari terburu-buru.

"Pak, saya mau masuk." Amadea berdiri di depan sebuah pintu bangunan yang sisi-sisi luarnya dipenuhi oleh material kaca itu.

"Nggak bisa, Mbak. Gedung ini sudah disewa seharian oleh klien kami dan yang tidak berkepentingan dilarang masuk." Seorang satpam tampak menghadang Dea dengan wajah sangarnya.

Dea merasa frustasi. Ya, ia tahu pasti Mandala yang menyewa gedung ini untuk melakukan sesi foto pra wedding dengannya. Dea bahkan mempelai-nya tapi dilarang masuk.

Sang satpam memelototinya dan membuat Amadea enggan untuk mendebat. Ia pun dengan terpaksa menelpon Mandala.

Aduh! Nanti manggilnya Mas atau Pak, ya. Soalnya ini kan untuk urusan...

"H--halo?" Belum selesai Amadea berpikir dan memutuskan hendak memanggil Mandala dengan sebutan Mas atau Pak, ternyata panggilannya diangkat begitu cepat.

"Ya, Dea. Kamu udah di jalan, kan? Saya sudah di lokasi." Suara Mandala terdengar di latar belakang suara lain yang cukup ramai. Mungkin suara crew foto dan yang lainnya.

Amadea berdehem lalu mulai bicara dengan nada manis karena sang satpam masih mengawasinya dengan tatapan mata lumayan meremehkan.

"Saya ada masalah, P--pak. Eh Maksunya Mas.

Saya ada sedikit masalah. Saya di luar gedung dan nggak bisa masuk karena dihadang satpam." Amadea berkata agak pelan karena satpam yang tadi ketus padanya masih memelototinya dan membuatnya tak nyaman.

"Oh! Oke! Kasih handphone kamu ke dia." Mandala membalas dengan santai.

"Hah?" Begitulah respon Dea ketika terkejut. Ia kadang terlihat lucu dan imut saat mengatakannya, kadang ekspresinya itu membuatnya terlihat konyol.

"Dea! Cepetan kasih handphone saya ke dia. Biar saya yang ngomong langsung!" Mandala memerintahkan sekali lagi lewat panggilan telepon itu.

Dea pun mengulurkan handphone-nya ke arah satpam. Si satpam menerimanya dengan bingung namun pada akhirnya beberapa detik setelah handphone itu menempel di telinganya, ekspresi garangnya berubah menjadi ekspresi ketakutan.

Tak hanya itu saja, si satpam yang tadinya memandangi Dea dengan sinis tiba-tiba berubah menjadi super ramah. Dea bukan hanya dibukakan pintu, tapi ia juga diantar sampai dalam gedung.

Satpam itu bahkan berkali-kali meminta maaf pada Dea. Entah apa yang dikatakan Mandala lewat telepon, yang jelas Dea tahu itu bukan sesuatu yang ramah di telinga.

Saat melangkah menuju pintu ke arah taman belakang bangunan itu, Dea dibuat terkejut dengan Mandala yang sudah berpakaian rapi. Bahkan tatanan rambutnya sangat sempurna juga.

"Dea! Kan saya sudah bilang. Pakai fasilitas sopir yang saya kasih ke kamu. Biar kamu nggak perlu telat begini karena nunggu taksi." Mandala yang tadinya hendak menjemput Dea langsung balik badan dan memberi kode pada Dea untuk mengikutinya.

Dea tergopoh-gopoh mengikuti langkah panjang kaki Mandala.

"Jangan, Mas. Nanti ibu saya akan tahu lah kalau terlalu mencolok diantar sopir pribadi. Ibu tahunya Mas Mandala cuma karyawan biasa. Itu pun Ibu sudah berusaha memancing-mancing soal uang. Apalagi beliau tahu Mas bukan orang sembarangan..."

Mandala hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingat lagi kelakuan ibu Dea. Memang benar sih seperti yang Dea bilang. Ibu Dea alias Riris Sayuti itu adalah wanita matrealistis.

"Udahlah. Sana kamu ganti baju. Sekalian diarahkan nanti kita foto seperti apa." Mandala lalu duduk di kursi santai dan menunjuk seorang wanita berambut cepak untuk membantu Dea.

Dea mengangguk lalu masuk ke kamar ganti. Agak kesal juga ia sebenarnya dengan permintaan mendadak foto pra wedding ini. Tapi yang namanya perintah, apalagi dari Mandala, maka Dea hanya bisa menikmati ketidaknyamanannya dengan pura-pura tersenyum.

Dea telah selesai mengganti pakaiannya dengan gaun selutut warna cokelat. Warna ini senada dengan kemeja cokelat juga yang tadi dipakai Mandala.

"Bu Dea! Nanti kayak gini ya posenya." Wanita tadi menyodorkan sebuah album foto yang isinya foto pilihan yang dijadikan contoh pose.

Dea yang sekarang sudah dipakaikan make up di depan meja rias itu tampak syok.

"I--ini? Pose begini? Ciuman?" Dea menunjuk foto mesra pasangan di album itu.

Perempuan yang mendampingi Dea itu hanya mengangguk.  "Tadi Pak Mandala yang milih ini."

Dea ingin menjerit!

Kenapa harus ada adegan itu nanti?

Susah payah ia mencoba tak terbawa perasaan, sekarang hancurlah pertahanannya.

"Serius Pak Mandala bilang mau pose ini?" Dea bertanya setengah berbisik, seolah malu ingin menyebut kata 'ciuman.' Padahal mereka kan juga hendak menikah.

"Iya, Bu. Katanya fotonya mau dicetak buat dipajang di depan venue pernikahan." Perempuan berambut sebahu itu malah tampak bingung melihat ekspresi kaget Dea.

Dea tertunduk lemas. Make up artist yang sedang meriasnya ikut bingung. Bagaimana mau dirias. Wajahnya saja tertekuk begitu.

"Bukannya Bu Dea senang ya seharusnya. Pak Mandala kan..."

"Ya! Saya senang, kok!" Dea langsung menyahut cepat. Ia tak mau ada gosip nantinya.

Seperti kata Mandala kemarin. Gosip itu jika diciptakan, opini bisa dibentuk dan digiring.

Sang make up artist dan perempuan berambut sebahu itu saling pandang. Dea nyengir.

"Mmm, saya cuma malu aja soalnya nanti kan dilihat orang..."

"Bisa request cuma Bu Dea, Pak Mandala, sama fotografer-nya aja kok di lokasi kalau Bu Dea malu."

Dan Dea lagi-lagi hanya tersnyum kaku sambil mengangguk. Ia biarkan make up artist merias wajahnya.

Dea terlalu sibuk dan tegang memikirkan pose foto yang diminta Mandala. Mandala sibuk dengan tablet dan segenap diagram berisi angka-angka di laporan perusahaannya. Ya, di lokasi seperti ini pun tak mengurungkan niatnya untuk bekerja.

Mereka berdua tidak ada yang tahu kalau Meirika Jayatri sudah turun dari mobilnya. Dengan kacamata hitamnya, sepatu hak tingginya, dan tas mewahnya ia melenggok bagaikan model memasuki gedung ini.

Tujuannya jelas : mengacau.

BERSAMBUNG ...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!