BAB 4

Sikap dingin Bumi mulai terasa oleh Kanaya, beberapa hari di rumah sakit tak sekalipun lelaki yang telah menjadi suaminya itu menegur atau menyapanya,Ia selalu acuh tiap kali Kanaya menanyainya atau sekedar tersenyum.Namun gadis yang akan menginjak bangku kuliah itu tidak terlalu risau,Mungkin Bumi masih terpukul dengan segala permasalahannya, Terutama peristiwa batalnya pernikahanya dengan sang kekasih Nesa.

Hari ini Bu Ningsih sudah di izinkan pulang,Namun Dokter mewanti wanti seluaruh keluarga untuk menjaga kondisi kesehatannya,Tentu saja itu menjadi PR untuk Pak Arif,Bumi dan juga Kanaya nantinya, saat sampai rumah sudah dipastikan  Bu Ningsih akan kembali bersedih mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu.

Tak ingin terluang lagi Pak Arif sengaja menyiapkan rumah lain untuk tempat tinggal mereka sementara, selama Bu NINGSIH memulihkan kondisinya.

Kanya dengan telaten dan lembut mendorong kursi roda yang ibu mertuanya duduki.Sekarang mereka sudah tiba di rumah itu,Bumi tak ikut menemani, karena ia harus membereskan semua kekacauan yang Nesa buat tempo hari.Melunasi urusan catering, tenda dan dekorasi pesta yang baru ia bayar di muka saat memesanya.

Pak Arif tempo hari baru menyelesaikan masalah para tamu undangan yang terlanjur hadir di pesta , dan menjelaskan pernikahan tetap berlangsung namun mempelai pengantin tidak jadi mengadakan pesta karena sang istri yang masuk rumah sakit.penyelesaiannya adalah para tamu sudah mengetahui jika Bumi telah menikah, Namun mereka tidak tahu yang mana perempuan yang menjadi istri Bumi saat ini.

"Nak, sudah jangan pijit Mama terus, kamu pasti capek sudah seharian ngurusin Mama." ucap BU ningsih dirinya kini sedang duduk di tempat tidur dengan kaki berselonjor dan tengah di pijit oleh Kanaya.

" ga apa - apa ko Tante,Naya gak cape sama sekali." Ucap Kanaya sopan.

" Ko masih Tante,kamu sudah menikah dengan anak MAMA,sekarng kamu juga harus manggilnya sama kaya Bumi ,panggil Mama saja." protes Bu NINGSIH karena Kanaya masih saja memanggil dirinya dengan sebutan Tante.

"Baik Tan...eghhh Mah.' Ucap Kanaya gugup.

Bu Ningsih tersenyum,impiannya untuk menikahkan Bumi dengan Kanaya terwujud tanpa ia duga sama sekali.Nesa yang di gadang gadang akan menjadi menantunya ternyata kabur saat hari pernikahan,Entah ini kebetulan atau di sengaja yang jelas Bu Ningsih sangat bersyukur karena ia sesungguhnya tidak pernah menyukai wanita itu sama sekali.

Pak Arif membuka pintu kamar, terlihat istrinya telah tertidur lelap setelah mendapati pijitan lembut dari Kanaya.Menantunya itu tengah menyelimuti sang istri.Senyumnya menghangat , benar kata Bu Ningsih menantu sperti Kanaya lah yang cocok mendapingi Bumi sekarang.

" Masuklah ke kamarmu sekarang nak,ini sudah malam.Masmu mungkin sebentar lagi pulang."ucp Pak Arief.

"Baik Pah, Naya pergi dulu, kalau ada apa-apa dengan Mama jangan sungkan untuk panggil Naya ya."

"baik Nak."

Setelah itu Kanaya pergi dari kamar mertuanya,ia berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum,kemudian duduk di kursi ruang tamu.Kanaya menghembuskan nafasnya kasar.Ia masih dalam kecanggungan sekarng, Ia sangat lelah dan ingin beristirahat, namun ia tidak tahu dimana kamarnya sendiri saat ini,Bumi masih saja bersikap dingin Padannya.

Tak terasa selama satu jam ia ketiduran di ruangan itu,Ia tersadar saat Pak Arif menepuk bahunya dan memintanya untuk pindah ke kamar.

"lho nak, ko tidur disini,kamu gak nyusul suamimu?' tanya Pak Arief.

"memang Mas Bumi udah pulang Pah?" tanya Kanaya heran.

"lo kamu gak tau Bumi udah pulang?"

Naya menggeleng.

"keterlaluan Bumi,dia tadi mondar mandir disini gak berusaha buat bangunin atau mindahin kamu ke kamar?"

Nay menunduk.

" Ya sudah cepat susul suamimu sana."perintah Pak Arif.

" Tapi Pah,Naya..." ia menggantung ucapanya.

"kenapa?"

" Naya gak tau kamar Mas Bumi." ucapnya lirih.

Pak Arif menghela nafasnya.

"ya sudah ayo Papa antar." Dan Naya mengangguk kemudian mengikuti langkah pria itu menuju kamar suaminya.

Ini adalah Rumah baru yang keluarga Pak Arif tempati, Wajar jika kanaya belum tau seluk beluk semua ruangan disana. Karena saat Pak Arif maupun Bumi membeli rumah ini Kanaya merawat dan menunggui ibu mertuanya di rumah sakit.

Pak Arif mengetuk pintu kamar Bumi, tak berapa lama Bumi membukanya.

" ada apa Pah?' seolah tanpa rasa salah ia bertanya pada sang Pap.

" kenapa kau biarkan istrimu tertidur di meja makan, kasihan dia bukanya membangunkan dan menyuruhnya pindah." tegur Pak Arif.

" dia sudah besar Pah tak usah diingatkan lagi."jawab Bumi ngasal.

' jangan seperti itu Bum, kasihan dia sudah sangat lelah karena merawat ibumu.

" cepat suruh dia masuk dan istirahat." lanjut pak ARIF.

'tapi Pah..."

"tidak ada tapi - tapi dia istrimu dan dia berhak satu kamar denganmu."

Bumi menatap kearah wanita yang berdiri di balik punggung orang tuanya dengan perasan yang sulit diaartikan.

" Naya masuk!" ucapnya kemudian.

Kanaya mengangkat kepalanya dan melihat suaminya yang terlihat datar memandanganya.Kenapa seperti ini pernikahanya?

"Naya...kamu mau buat aku di marahi Papa lagi? kenapa kamu terus berdiri di situ?" tegur Bumi.Sontak Kanaya langsung tersentak ,Ia kemudian maju dan masuk ke dalam kamar.

"Ingat Bum , perlakukan NAYA dengan baik,Jangan sakiti dia." Pak ARIF mengingatkan sang Putra yang beberapa hari ini memang terlihat berbeda perlakuanya pada Kanaya.

" Ya sudah Papa kembali ke kamar.ingat pesan Papa Bum."

" ya Pah."Bumi langsung menutup pintu kamar begitu orang tuanya pergi.Kini ia menatap wanita yang tengah berdiri di belakangnya sambil menundukan kepala.Ia mendengus kesal gara gara Kanya dirinya sampai di tegur sang Papa.

" kamu sengaja ingin membuat aku dimarahi orang tuaku Nay?" tegur Bumi.

"Gak Mas, Naya benar benar ketiduran tadi di ruang makan."

"kenapa kamu gak langsung masuk kamar saja,kenapa harus ketiduran disana?" ucap Bumi lagi yang masih merasa kesal.

"Naya...tidak tahu kamar Mas Bumi."ucapnya lirih.

Bumi mendengus kesal,Lalu langsung berbaring di tempat tidur tanpa mengajak sang istri untuk ikut berbaring di sebelahnya.Naya sendiri bingung harus bagaimana sekarang, berada dalam satu kamar dengan seoarng pria sungguh membuatnya terasa aneh, apalagi ini bukan kamar miliknya yang dengan sesuka hati ia akan melakukan apa saja.

Kanaya melirik koper besar yang ada di susut lemari,Ia tahu itu adalah miliknya,daripada ia terlihat kaku dan tidak jelas, lebih baik ia merapikan dulu pakainya setelah itu ia akan menyusul Bumi tidur.

Bumi yang sedang memainkan ponselnya melirik sekilas apa yang dilakukan perempuan itu, tak berniat mengatakan apapun ia langung menyimpan ponselnya di atas Nakas kemudian tidur.

Kanaya melirik ke arah Bumi yang sudah memejamkan mata.

"Aduh aku tidur dimana sekarang?"

Terpopuler

Comments

Julia Juliawati

Julia Juliawati

kasih naya nolongin anjing kejepit. bkn terima kasih mlh di benci dasar bumi bucin km nanti

2025-03-09

0

Zainab Ddi

Zainab Ddi

Naya jd korban tapi dia jg yg sengsara

2024-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 BAB 2 MASUK RUMAH SAKIT
3 BAB 3
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8 PERGI
9 BAB 9 PENYESALAN
10 BAB 10 TIDAK ADA KABAR
11 BAB 11 SIAPA ANAK KECIL ITU?
12 BAB 12 KEGELISAHAN SEORANG BUMI
13 BAB 13 KAIN MERAH DI BALIK KEMEJA TIPIS
14 BAB 14 PANGGILAN SAYANG
15 BAB 15
16 BAB 16 KITA MULAI DARI AWAL
17 BAB 17 TAK BISA MELEPASMU
18 BAB 18 IBADAH BERSAMA
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 Bab 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 Bab 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 Bab 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 Bab 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BSB 50 BERKELAHI
51 Bab 51 kehilangan
52 Bab 52 masih larut dalam kesedihan
53 Bab 53 Sepupu menyebalkan
54 Bab 54
55 Bab 55 mencari pria yang menghamili Nesa
56 Bab 56 Menemui Bumi
57 Bab 57 hidup baru di Malang
58 Bab 58 meminta tanggungjawab
59 Bab 59 ketegangan di meja makan
60 Bab 60 leo semakin menjadi
61 Bab 61 BERKELAHI
62 Bab 62 Pergi dari rumah
63 Bab 63 Hanya pindah, tidak meninggalkan
64 Bab 64 Merubah penampilan
65 Bab 65 Jangan lagi mau ditindas, Ma
66 Bab 66 Bapak dan anak sama saja
67 Bab 67 Leo kembali berulah
68 Bab 68 Di bawa pergi
69 Bab 69 Wanita Playing victim
70 Bab 70 Semakin rumit
71 Bab 71 bertemu Dimas
72 Bab 72 Tanda tangan
73 Bab 73 Kabur
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77 Bertemu Altezza
78 BAB 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81 Tidak seperti yang diduga
82 Bab 82 Membujuk Kanaya
83 Bab 83 Ayah jangan pergi
84 Bab 84 kepergian Eyang Nur
85 Bab 85 kembali bersama
86 Bab 86 Karma
87 Bab 87
88 Bab 88 persiapan kembali ke rumah
89 Bab 89 selamat datang kembali, sayang
90 Bab 90 Pertemuan haru
91 Bab 91 Pria kesepian
92 Bab 92 merajuk
93 Bab 93 Takut
94 Bab 94
95 BAB 95 Buka puasa untuk yang kedua kali
96 Bab 96 Rencana licik Bumi
97 Bab 97 pengacau
98 BAB 98 bertemu Ana lagi
99 BAB 99 BERKUNJUNG KE KANTOR
100 BAB 100 Harap-harap cemas
101 BAB 101 MAU TUTUT!
102 BAB 102 Garis dua
103 novel baru
104 Bab 103 acara tujuh bulanan
105 pengumuman novel baru
106 Bab 104 TERPUKAU
107 Kaila Sasa putri Erlangga
108 Akhir yang bahagia
109 pengumuman novel baru
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
BAB 2 MASUK RUMAH SAKIT
3
BAB 3
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8 PERGI
9
BAB 9 PENYESALAN
10
BAB 10 TIDAK ADA KABAR
11
BAB 11 SIAPA ANAK KECIL ITU?
12
BAB 12 KEGELISAHAN SEORANG BUMI
13
BAB 13 KAIN MERAH DI BALIK KEMEJA TIPIS
14
BAB 14 PANGGILAN SAYANG
15
BAB 15
16
BAB 16 KITA MULAI DARI AWAL
17
BAB 17 TAK BISA MELEPASMU
18
BAB 18 IBADAH BERSAMA
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
Bab 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
Bab 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
Bab 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
Bab 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BSB 50 BERKELAHI
51
Bab 51 kehilangan
52
Bab 52 masih larut dalam kesedihan
53
Bab 53 Sepupu menyebalkan
54
Bab 54
55
Bab 55 mencari pria yang menghamili Nesa
56
Bab 56 Menemui Bumi
57
Bab 57 hidup baru di Malang
58
Bab 58 meminta tanggungjawab
59
Bab 59 ketegangan di meja makan
60
Bab 60 leo semakin menjadi
61
Bab 61 BERKELAHI
62
Bab 62 Pergi dari rumah
63
Bab 63 Hanya pindah, tidak meninggalkan
64
Bab 64 Merubah penampilan
65
Bab 65 Jangan lagi mau ditindas, Ma
66
Bab 66 Bapak dan anak sama saja
67
Bab 67 Leo kembali berulah
68
Bab 68 Di bawa pergi
69
Bab 69 Wanita Playing victim
70
Bab 70 Semakin rumit
71
Bab 71 bertemu Dimas
72
Bab 72 Tanda tangan
73
Bab 73 Kabur
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77 Bertemu Altezza
78
BAB 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81 Tidak seperti yang diduga
82
Bab 82 Membujuk Kanaya
83
Bab 83 Ayah jangan pergi
84
Bab 84 kepergian Eyang Nur
85
Bab 85 kembali bersama
86
Bab 86 Karma
87
Bab 87
88
Bab 88 persiapan kembali ke rumah
89
Bab 89 selamat datang kembali, sayang
90
Bab 90 Pertemuan haru
91
Bab 91 Pria kesepian
92
Bab 92 merajuk
93
Bab 93 Takut
94
Bab 94
95
BAB 95 Buka puasa untuk yang kedua kali
96
Bab 96 Rencana licik Bumi
97
Bab 97 pengacau
98
BAB 98 bertemu Ana lagi
99
BAB 99 BERKUNJUNG KE KANTOR
100
BAB 100 Harap-harap cemas
101
BAB 101 MAU TUTUT!
102
BAB 102 Garis dua
103
novel baru
104
Bab 103 acara tujuh bulanan
105
pengumuman novel baru
106
Bab 104 TERPUKAU
107
Kaila Sasa putri Erlangga
108
Akhir yang bahagia
109
pengumuman novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!