Milan merupakan kota utama di sebelah utara Italia dan terletak di hamparan Lombardia, sebuah wilayah yang dikatakan paling maju di Italia. Milan sendiri merupakan sesuatu wilayah yang memiliki pesona mengesankan dan mengagumkan. Karena itulah, tidak sedikit wisatawan lokal maupun asing yang akhirnya memilih berlibur ke Milan. Di musim gugur kali ini semuanya tampak menakjubkan.
Bahkan, sedari tadi Shireen yang ada di dalam mobil yang di kendarai oleh Edwald tak henti-hentinya melihat keluar jendela mobil.
"Kita mau kemana?" Tanya Shireen karna ini termasuk asing baginya.
"Kau tak ingin pulang. Jadi aku berkeliling sebentar."
"Tanpa tujuan?" Tanya Shireen tersentak. Ia pikir Edwald tahu kemana akan membawanya dan jalanan ini tak buruk. Tapi, nyatanya..
"Kau keberatan?" Sahut Edwald dengan santainya padahal ia hanya malas untuk mengatakan tempat yang sudah di tunjukan Cooper.
Shireen agak diam tapi setelah ia tersenyum tipis. Senyumnya cukup mengatakan jika ini sedikit konyol tapi sayang untuk di lewatkan.
"Kau ingin kemana? Aku akan menemanimu."
"Tidak ada. Seperti ini juga bagus," Jawab Shireen beralih menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh Edwald dengan tangan ada di atas paha pria ini.
Sebenarnya posisi ini sangat nyaman bagi Shireen tapi tidak dengan Edwald yang cukup merasa jika semakin kesini Shireen terlalu berbahaya.
"Ed!"
"Hm?"
"Bagaimana kalau kita menginap?" Tanya Shireen menatap wajah tampan fokus Edwald yang membiarkan Shireen memainkan resleting celananya seperti biasa.
"Kau tak ingin pulang?"
Shireen menggeleng. Ia kembali memangku dagunya ke bahu Edwald yang mengangguk saja. Mobil mereka sudah memasuki area pantai Deamon Sky yang memang cukup jauh dan agak terpencil.
Shireen yang melihat panorama langit mendung tapi segar ini segera menatap Edwald yang tak bersuara.
"Kau ingin kesini?"
"Hanya tersesat," Gumam Edwald menarik kerutan di dahi Shireen yang tak mengerti. Jika tersesat kenapa wajahnya terlihat santai? Dan jelas-jelas dia yang membelokan mobil saat ada dua jalur di jalan tadi.
"Ed! Kenapa kau jadi aneh?" Gumam Shireen seperti tak melihat Edwald yang begitu perhatian dan hangat tapi terkesan menutupi.
Terkadang ia menangkap raut canggung Edwald kala ia menanyakan tujuan mereka.
Sadar jika ia mengambil karakter aslinya, Edwald mulai tersenyum tipis. Ia tak perlu takut menunjukan perhatiannya karna sekarang ia adalah SUAMI seorang Shireen.
"Kejutaan!!" Ucap Edwald menghentikan mobil di dekat pohon rindang yang tak jauh dari pantai.
Bahkan, Shireen bisa melihat keindahan tempat ini dengan suasana mendung tapi segar.
"Kau sudah menyiapkannya?"
"Hm. Bagaimana? Kau suka?" Tanya Edwald sok terbuka padahal ia malas mengakui itu. Shireen segera turun dari mobil barulah Edwald bernafas lega.
"Bukan aku. Cih, aku tak akan menyiapkan apapun untukmu," Sangkal Edwald menjaga harga dirinya. Ia keluar dari mobil mendekati Shireen yang tampak sangat bahagia.
Angin segar pantai menderu cukup kuat tapi tak menyurutkan semangat Shireen kala melihat hamparan laut di depan sana.
"Ini luar biasa!!" Pekik Shireen segera melepas kaos kakinya dan berlari menyongsong bibir lautan.
Pantai ini memiliki tebing kapur dengan pasir pantai yang lembut juga air laut berwarna biru yang sangat jernih. Hal itu menambah kesan romantis dan juga sangat hangat bagi siapapun yang melihatnya.
Shireen yang asik merendam kakinya di bibir pantai sana dan sesekali memainkan pasir yang terasa sangat halus. Edwald hanya memandang dari kejahuan dengan tatapan lekat seakan mengurung tawa kecil itu erat.
"Sayaaang!!" Panggil Shireen melambaikan tangannya pada Edwald yang tersentak dari lamunanya.
"Kau butuh sesuatu?"
"Kesini!" Pinta Shireen menunggu Edwald yang melepas sepatunya dan segera berjalan mendekati Shireen yang tampak sangat cantik dengan rambut panjang terkibar indah oleh belaian angin.
Tubuh seksinya juga terbentuk akibat dress lengan panjang dengan bawahan hanya sepaha itu melekat karna tekanan dari udara segar pantai.
"Kesini!" Menarik lengan kekar Edwald untuk berdiri di sampingnya.
Edwald menurut bahkan ia tak menolak sedikitpun. Shireen mengubur kaki Edwald dengan pasir yang tadi menimbun kakinya hingga rasa sejuk itu menjalar.
"Airnya dingin. Kau bisa merasakannya?"
"Lalu?" Tanya Edwald agak heran. Apa ada yang spesial dari air laut yang dingin dan pasir lembut ini?!
Pikiran Edwald memang terlalu rasional. Shireen mulai mengerti kenapa yang heboh itu hanya perempuan, karna laki-laki berpikir terlalu lurus dan tak emosional.
"Airnya dingin dan segar-kan?"
"Yah, segar," Singkat Edwald beralih merentangkan tangannya hanya untuk menyenagkan Shireen. Ia berbuat seakan-akan tempat ini seluarbiasa itu walau dari kacamata seorang Steen ini biasa saja.
Karna melihat Edwald juga menikmati ini, Shireen-pun tak segan untuk membawa Edwald untuk menjelajahi pantai ini.
Dari mulai merendam kaki di air dingin ini lalu berjalan bersama menyusuri bibir pantai dengan tangan saling bergandengan.
Shireen terlihat nyaman bercerita tentang masa kecilnya yang selalu ingin ke pantai tapi sayangnya hanya sendirian.
"Dulu aku tinggal dengan Nenekku di Casthillo. Aku menghabiskan waktu sekitar 10 tahun disana dan hampir setiap hari aku ke pantai yang kebetulan ada di perkebunan Kakekku. Itu masa-masa paling menyenangkan karna nenek selalu mendampingiku," Jelas Shireen terus berjalan pelan dengan tatapan terlempar jauh ke laut di sampingnya.
"Kenapa kau bisa sendirian?" Tanya Edwald tiba-tiba saja ingin bertanya padahal itu tak penting baginya.
Sebelum menjawab, Shireen mengiring Edwald untuk duduk di bawah pohon kelapa yang tak begitu tinggi tapi buahnya cukup lebat meneduhi mereka.
"Saat umurku sudah 11 tahun daddy membawaku ke Milan! Aku sempat menolak karna akan berpisah dari kakek dan Nenek tapi, ... Nenek bilang jika banyak teman di perkotaan, ada gedung-gedung tinggi dan banyak mainan di pantai lain. Aku sangat senang, Ed!" Gumam Shireen tersenyum tipis menggenggam tangan Edwald di pahanya.
Sayangnya senyum itu hanya bertahan 5 detik. Ia kembali murung seperti kecewa dan tak menyangka.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Saat tiba di Milan aku melihat apa yang Nenek katakan padaku. Banyak gedung-gedung tinggi dan pantai tapi aku baru sadar satu hal.." Jeda Shireen lalu tersenyum lagi.
"Disini tak ada teman, tak ada permainan bagi bocah sekecil itu dan tak ada kasih sayang. Hari itu aku langsung di bawa ke sekolah yang besar tapi bagiku disana penjara," Imbuh Shireen meremas pinggiran dressnya.
"Wajar jika kau harus sekolah-kan?"
Pertanyaan Edwald benar tapi posisinya salah. Shireen menghela nafas seperti mempersiapkan diri.
"Aku tak dibolehkan keluar selama aku bisa menguasai setiap materi yang di ajarkan. Mereka mengantarkan makanan di dalam ruangan yang banyak disusun buku dan buku dan aku tak boleh bermain karna harus membantu daddy bekerja. Itu wajar-kan?" Tanya Shireen tersenyum kecut tapi Edwald hanya membisu.
Jika Shireen di paksa secara batin maka ia mengalami keduanya. Hanya saja Edwald tahu segala bentuk kepedihan di atas dunia ini tapi sangat pandai menyembunyikannya.
"Jika aku jadi kau, mungkin aku akan membuat sejarah."
"A..apa?" Tanya Shireen tak mengerti. Edwald hanya diam mengusap kepala Shireen yang terlalu suci dan jernih untuk mencemari hidupnya.
"Jika bukan kau yang mencintai dirimu sendiri. Lalu siapa lagi?"
"Maksudmu kau tak mencintaiku?" Sinis Shireen hingga Edwald langsung memalingkan wajah.
"Kau haus?"
"Kau tak mencintaiku?" Desak Shireen memojokan Edwald yang terlihat gagu untuk menjawab.
"Sepertinya air kelapa ini segar," Gumam Edwald menatap ke atas pohon pura-pura tak mendengar. Shireen kesal segera mencubit paha bagian dalam Edwald yang tersentak.
"Kauu.."
"Menyebalkan!" Rutuk Shireen bangkit lalu kembali berjalan ke arah tepi pantai. Ia tampak mencari-cari kerang yang mungkin terdampar disini dengan ranting kayu di sela-sela bebatuan.
Edwald diam menatap lekat Shireen yang kembali sibuk dengan keinginanya. Helaan nafas Edwald muncul meraba bagian yang di cubit Shireen tadi sampai sudut bibirnya tertarik kecil.
"Apa peranmu sangat menyenangkan, Steen?"
"Hm. Luma.."
Degg..
Edwald tersentak dengan suara di pinggir telinganya. Wajah tampan itu mengeras melihat Cooper menyamar menjadi petugas pantai tengah duduk di belakangnya menatap penuh kagum pada Shireen.
"Jadi ini istrimu, Steen? Dia terlalu seksi dan sempurna!" Decah Cooper menjilati air liurnya yang mau keluar melihat paha putih dan bokong seksi Shireen yang tengah berjongkok.
Sedetik kemudian Cooper terkejut kala Edwald berdiri di hadapannya dengan sorot mata membunuh yang menyeramkan.
"A..aku.."
Tanpa banyak bicara Edwald segera menyeret kasar Cooper yang gelagapan berjalan pontang-panting mengikuti langkah lebar Edwald yang dengan kejam mendorongnya ke balik batu besar agak jauh dari Shireen.
Jantung Cooper terasa mau pecah merapat ke batu dingin ini. Ia menggeleng panik kala Edwald melepas tali pinggangnya.
"S..Steen! Aku bercanda. Serius aku bercanda dan.. Aaaaa!!"
Jeritan Cooper membuat Shireen terkejut dan burung-burung di pepohonan dekat ini beterbangan.
"Suara apa itu?!" Gumam Shireen bingung. Ia tak melihat Edwald di bawah pohon kelapa tadi hingga Shireen memutuskan untuk kembali ke mobil.
Selang beberapa lama Edwald keluar dari balik batu besar tadi. Wajah dinginnya begitu mendominasi sampai mengalahkan dosis air yang ikut ciut melihat apa yang baru saja terjadi.
"S..Steen!" Lirihan Cooper yang sudah tak berdaya tumbang ke atas pasir ini. Mulutnya di sumpal dengan kemeja dengan tubuh sudah merah bekas cambukan panas tali pinggang Edwald yang dengan santai berjalan meninggalkannya.
Jauh dari dalam lubuk hati Cooper, ia mengutuk Edwald yang tak tahu terimakasih. Tapi, keberaniannya sudah sedari tadi melarikan diri.
"D..dasar tak.. tahu diri," Gumam Cooper lalu merangkak dengan sisa tenaganya melarikan diri. Jika tetap disini bisa saja pria seribu wajah itu akan menenggelamkannya di lautan.
Sementara Shireen, ia seketika lega melihat Edwald sudah berjalan kesini.
"Sayang!! Kau kemana saja?" Tanya Shireen menyongsong kedatangan Edwald yang tampak memasang tali pinggangnya.
"Kau lapar?"
"Iya, tapi kau dari mana saja?" Bingung Shireen beralih memakaikan benda itu ke pinggang kokoh Edwald yang bicara asal.
"Buang air kecil!"
"Ouh, yaudah! Ayo kita cari makanan," Gumam Shireen merapikan jaket Edwald yang hanya menurut. Tak ada rasa bersalah sama sekali karna memukuli Cooper yang memang sudah menyulut amarahnya.
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Lina RA
tidak suka sama kekerasan, tp sangat penasaran dgn crt ed dan shi.. thor please jgn sadis2 bgt
2024-01-03
1
Heniishanaya 🤩
inget film Korea yg istrinya polisi terus punya anak perempuan sama suaminya yang kerja dirumah itu yg kalau malam keluar dari rumah, apa ya itu
2023-05-26
0
Nazwaputri Salmani
Aku gagal fokus pas baca ed lepas talu pinggang,,,
2023-05-26
0