Malam ini Edwald pulang dengan membawa Shireen yang tak lagi mampu membuka matanya. Wanita cantik itu hanyut dalam pelukan kekar Edwald yang membawanya masuk ke kediaman melewati para manusia fana di dalamnya.
Awalnya Edwald hanya menjumpai tuan Walter yang tengah duduk sofa ruang ruang tamu lebar lantai dasar tapi, saat ia sudah mendekati tangga tepat dari atas ada nyonya Colins dan Freya yang baru turun.
Bedanya tatapan nyonya Colins begitu tak bersahabat tapi Freya penuh dengan rasa takut.
"Cih, merusak pemandangan mataku," Umpat Nyonya Colins melewati Edwald begitu saja. Tapi, tidak dengan Freya yang justru membeku di atas tangga dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasih.
"Apa Shireen pingsan karna melihat rekaman itu? Atau mungkin mereka bertengkar hebat tadi. Bagaimana ini? Dia bisa membunuhku," Batin Freya mengigil tak berani menatap manik hijau misterius Edwald yang justru santai naik ke atas membuatnya gelisah.
"A..Aku..."
Langkah Edwald terhenti tepat di pertengahan tangga. Tak ada raut keberatan yang tampak di wajah tampannya saat menggendong Shireen yang seperti bayi di lengannya.
"Kau kenapa?" Tanya Edwald datar tapi maknanya sangat dalam.
Freya diam menunduk meremas pinggir rok pendek yang ia pakai. Jantungnya kembali tak stabil harap-harap cemas jika Edwald akan menembaknya.
"A..aku tak sengaja tadi me.."
"Kau melakukan apa?" Tanya Edwald mulai mengintimidasi. Keringat dingin di kening Freya semakin menetes deras bahkan wajahnya seperti seorang terkena anemia.
"A..aku!"
"Emm.." Gumaman Shireen merasa terganggu dengan suara percakapan ini. Matanya mulai terbuka sayu tapi masih linglung menatap ke langit-langit tinggi kediaman.
Tatapan Shireen tertuju pada wajah tampan datar Edwald yang juga memandangnya lalu beralih pada Freya yang mengejutkannya.
"Astaga!" Sentak Shireen segera turun dari gendongan Edwald yang beralih membelit pinggang Shireen agar tak jatuh ke bawah.
"Freya!"
"K..kau.." Freya benar-benar takut. Ia mengigit bibir bawahnya langsung memeluk Shireen yang tersentak bahkan ia refleks membatu.
"Ada apa? Kau baik-baik saja-kan?"
Freya hanya diam. Ia sangat takut jika benar Shireen melihat rekaman itu dan nasibnya akan habis detik ini juga. Tentu gelagat Freya bisa di baca oleh Edwald yang memberi sorot membunuh setiap Freya mencuri pandang padanya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Apa kalian bertengkar?" Cicit Freya berbisik hanya di dengar oleh Shireen yang beralih menatap bingung Edwald yang hanya diam.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Syukurlah!" Lega Freya membuat dahi Shireen mengernyit. Saat Freya melepas pelukan itu ia mulai sedikit tenang.
"Ada apa?"
"Aku hanya merasa bersalah jika kau dan kakak ipar bertengkar," Elak Freya lalu turun ke bawah. Shireen tertegun dengan mata mengikuti langkah Freya menjahuinya.
Apa aku bermimpi? Kenapa anak itu tiba-tiba jadi aneh?
"Apa terjadi sesuatu?"
"Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan," Ujar Edwald beralih mengiring Shireen kembali ke atas dengan membawa tas wanita itu di tangan satunya.
Shireen masih tampak bingung tapi saat tiba di depan pintu kamar ia tak lagi memusingkan perubahan Freya.
"Shi!" Panggil Edwald meletakan tas Shireen diatas ranjang sedangkan wanita itu duduk di pinggir kasur putih empuk ini.
"Ada apa?"
"Aku ada urusan diluar. Mungkin malam ini tak akan sempat pulang," Jelas Edwald ikut duduk di samping Shireen yang tampak murung segera menyandarkan kepalanya ke bahu Edwald yang beralih memainkan jemari lentiknya.
"Urusan sepenting apa sampai tak sempat pulang?"
"Masalah perusahaan-ku. Ada beberapa hal yang harus-ku urus. Shi!" Jawab Edwald mendapat helaan nafas lemah Shireen yang memang begitu manja padanya.
"Boleh?"
"Baiklah. Tapi, pagi ini kau pulang-kan? Maksudku, aku akan membuatkan bekal untukmu." Gumam Shireen menatap wajah tampan Edwald yang juga terlihat berat meninggalkannya. Ntah itu kepalsuan atau sebuah sandiwara Shireen tak mengerti.
"Aku akan pulang pagi ini."
"Emm.. baiklah! Aku akan menyiapkan semuanya," Jawab Shireen menegakkan cara duduknya lalu beralih mengambil ponsel yang sudah terisi penuh di dalam tas.
Edwald membiarkan Shireen sibuk dengan ponselnya sementara ia bersiap untuk pergi keluar lagi.
Saat Shireen membuka aplikasi chatting hijau yang ada di ponselnya. Banyak notif yang masuk bahkan Shireen sampai menunggu beberapa saat karna ia punya banyak klien terutama wanita.
"Sepertinya kau sangat sibuk. Shi!" Seru Edwald mendengar suara ponsel Shireen dari dalam walk in closet.
"Yah. Biasanya Amber yang membantuku tapi hari ini banyak pekerjaan. Jadi aku segan membebaninya."
"Ada dari laki-laki?" Tanya Edwald sudah keluar dari walk in closet dengan memakai topi dan jaket baru.
Shireen tersenyum lalu mengangguk kecil. Ia belum sadar jika ada pesan dari Freya yang terselip diantara notif yang menumpuk.
"Ada! Bahkan banyak."
"Benarkah?" Selidik Edwald mendekat seraya memperbaiki jam tangannya yang baru. Saat sudah di dekat Shireen ia ingin merampas benda itu tapi Shireen segera menjauhkan ponselnya.
"Kenapa?"
"Berikan!" Paksa Edwald tapi senyum geli Shireen tak terhindarkan. Hal itu memantik ketidaksabaran Edwald yang kembali ingin merebutnya. Lagi-lagi Shireen menghindar hingga kedua lutut Edwald naik ke atas ranjang mengunci paha Shireen dengan kedua tangan meraih ponsel yang Shireen peggang.
"Ed! Kau.."
"Kau jangan menguji kesabaran-ku. Shi!" Decah Edwald mendorong Shireen hingga terlentang. Edwald juga jatuh mengungkung tubuhnya dengan mata terpaut dalam.
"Kau kuat untuk seranganku lagi?" Tanya Edwald menyeringai tapi mendapatkan hadiah gigitan Shireen ke bahunya. Tentu itu tak menyakitkan karna hanya gigitan kasih sayang.
"Sudah cukup. Lanjut besok saja!"
"Besok?" Menaikan satu alisnya.
Shireen tersenyum malu berusaha melepas kuncian Edwald ke kedua tangannya di atas kepala.
"Ed! Aku hanya bercanda. Yang memberi pesan itu biasanya klien wanita yang ingin berteman. Tapi, aku jarang membukanya karna tak sempat," Jelas Shireen membiarkan Edwald mengambil ponselnya.
Tatapan tajam Edwald menangkap nama Freya disana dan ada satu pesan masuk bertepatan dengan jam yang sama saat pengejaran tadi.
"Tak ada-kan?" Tanya Shireen melihat Edwald diam ingin menghapus pesan itu tapi Shireen lebih dulu mengambil alih.
"Shi!"
"Pergilah! Nanti kau terlambat. Pokoknya pagi ini kau harus pulang," Ucap Shireen mematikan ponselnya lalu menarik tengkuk Edwald untuk mendaratkan kecupan selamat malam di bibir sensual pria ini.
"Selamat malam!"
Edwald diam. Ia masih memandangi ponsel Shireen karna yakin ada sesuatu yang Freya lakukan sebelum berhenti di tepi jalan tadi.
Melihat Edwald yang terfokus pada ponselnya, seketika Shireen menghela nafas berat.
"Sayang! Aku hanya bercanda. Tak ada pesan pria manapun disini."
"Aku tak perduli itu. Tapi, gadis sialan itu sangat mengganggu," Umpatan batin Edwald harus menanyakan ini pada Freya. Jika sampai dugaannya benar maka ia tak akan segan melenyapkan gadis itu.
"Ed!"
"Hm. Aku percaya padamu," Jawab Edwald mengecup kening mulus Shireen dan bangkit dari kungkungannya.
Ia melirik jam di pergelangan lengan kekarnya. Masih ada waktu 30 menit untuk menunggu Shireen tidur.
"Istirahatlah. Aku pergi dulu!"
"Kau juga. Sayang!"
Edwald hanya mengangguk. Shireen memandang sang suami keluar pintu kamar barulah ia mengalihkan pandangan ke arah langit-langit kamar yang tinggi.
"Malam ini akan sangat dingin," Gumam Shireen memeluk bantal di sampingnya. Ia tersenyum tipis kala membayangkan hidupnya 180° berubah saat setelah menikah, rasanya masih seperti mimpi.
.....
Sementara di luar sana Edwald turun ke bawah melihat Freya yang tengah menelpon di dekat teras depan. Tuan Walter dan nyonya Colins ada di ruang tamu terdengar berbincang kecil.
Lirikan mata Edwald tertuju pada cctv di area sudut ruangan. Ia keluar dari kediaman berdiri di belakang Freya yang tadinya menelpon seketika terkejut setengah mati melihat Edwald.
"Astaga!! Kau.."
"Tak baik bagi seorang wanita menelpon terlalu larut," Gumam Edwald jarak dengan Freya bahkan ia seperti memperingatkan Freya agar cepat masuk karna dingin. Itulah ilusi yang ia ciptakan dari sisi lensa cctv yang memantau.
Freya masih membeku di tempat. Ia tak percaya Edwald bisa mengatakan itu lalu pergi ke arah luar.
"Dia kenapa?" Gumam Freya heran. Ia seketika kesal saat sambungannya dan sang kekasih yang tadi asik mengobrol tiba-tiba terputus hanya karna pria iblis itu.
"Tak hanya misterius dia juga sangat tak berguna," Umpat Freya ingin masuk kembali ke kediaman. Tapi, tiba-tiba saja ada pesan masuk dan itu dari kekasihnya yang tadi mematikan sambungan secara sepihak. Biasanya tak seperti itu, pikir Freya heran.
AKU MENUNGGUMU DI TAMAN KOTA
"Malam-malam begini? Haiss.. Apa dia memberiku kejutan?!" Gumam Freya yang tadi kesal seketika bersemangat. Ia setengah berlari masuk ke dalam kediaman untuk bersiap-siap.
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Triiyyaazz Ajuach
Freya kau dlm bahaya
2023-05-24
2
Nazwaputri Salmani
Aduhhh maut sedang menantu mu friya,, semoga shireen buka chat dari friya biar ketahuan kelakuan nya si edwald... lanjut thor up nya
2023-05-23
0
Asih Sunarsih
lanjutttttt
2023-05-23
1