Setelah meeting mendebarkan tadi selesai akhirnya Shireen bisa beristirahat di ruangannya. Hari ini jadwalnya sangat padat apalagi ia harus mengurus karyawan yang ingin pindah dari beberapa divisi ke tempat yang ia pimpin saat ini.
Tentulah Shireen harus bertemu mereka satu-satu dan menanyakan apa alasan keinginan mereka. Jika itu pimpinan lain mungkin akan menolak karna menyebabkan masalah baru nantinya.
Tapi, Shireen terlalu baik hati. Ia rela mengambil jam istirahatnya untuk bertemu dengan para karyawan yang tampak santai dan tenang setiap mengadu padanya.
"Nona!"
"Kenapa kau ingin pindah? Bukankah disana divisi khusus yang terpilih?" Tanya Shireen duduk di kursi kerjanya dengan elegan menatap hangat seorang wanita muda yang tampak mulai gugup membahas itu.
"Ada apa? Kau bisa katakan disini?"
"Nona! Aku takut bekerja di sana," Cicitnya nyaris tak terdengar. Shireen diam melihat gestur wanita ini seperti diancam atau mungkin ada orang yang mengganggunya.
"Apa yang membuatmu takut?"
"Kepala divisi itu terus menggangguku!"
Sontak Shireen terkejut. Ia tahu makna mengganggu dari pernyataan wanita ini tapi kenapa bisa? Sebelumnya juga ada yang memundurkan diri tapi alasannya tak seperti ini.
"Dia melecehkanmu?"
"I..iya. Nona! Sebenarnya sejak awal saya bekerja sudah mulai merasa aneh. Beberapa wanita yang ada disana seperti memandangku dengan tatapan ambigu. Setelah seminggu aku di sana tiba-tiba satu persatu mereka memundurkan diri. Ternyata .."
"Permisi!!"
Seseorang menerobos masuk dengan tergesa-gesa. Wanita yang tadi Shireen tanyai seketika terkejut melihat Morren, pria paruh baya dengan wajah oval dan perut agak buncit.
Ia menatap tajam ke arah wanita tadi hingga rasa takut menjalar di permukaan tulangnya.
"N..Nona! Saya permisi!"
"Tetap disini!" Tegas Shireen merasakan gelagat aneh di wajah Morren ketika melihat karyawan wanita ini.
"Nona Shireen! Maaf aku mengganggumu."
"Memamng sangat menganggu. Apalagi kau masuk tanpa mengetuk lebih dulu," Jawab Shireen dengan tatapan menohok bagi kepala divisi Morren yang gelisah.
"Nona! Aku hanya merasa cemas kau memanggil karyawanku. Jadi, aku kesini untuk menemuimu jika ada masalah yang belum selesai."
"Kebetulan sekali. Duduk dan dengarkan masalahnya," Tegas Shireen mengisyaratkan wanita itu agar duduk dan Morren tampak gugup duduk di sebelah wanit ini.
Tatapan hangat Shireen selalu melindungi wanita di hadapannya tapi manik hitam itu berubah penuh intimidasi kala bersitatap dengan mata gugup Morren.
"Apa masalah yang terjadi di divisi 5 sampai karyawanmu memundurkan diri begitu banyak?Tuan Morren!"
"Bukankah sudah jelas. Mereka punya kepentingan pribadi dan tak layak untuk divisiku. Apa kau menyalahkanku? Nona Shireen?" Sarkas Morren dan Shireen tentu mulai mencurigainya.
"Tidak. Tapi, aku ingin kau memilih karyawan yang memang niat bekerja. Bukan hanya berhenti di tengah jalan. Atau ada yang membuatnya tak nyaman di sana?"
"Kenapa dia jadi menghakimiku?! Dasar wanita sok berkuasa," Maki Morren mengepal dan terlihat sorot matanya membenci Shireen yang harus melindungi semua karyawan perusahaan.
"Aku sudah mengumpulkan semua karyawan yang pernah mengundurkan diri dari divisimu."
"N..Nona!" Panik Morren terlihat jelas.
"Aku juga sudah menyuruh badan firma hukum perusahaan untuk menyelidiki ini. Siapa tahu mereka mendapat tekanan dari ORANG DALAM," Ucap Shireen penuh penekanan.
Merasa tak terima dengan ucapan Shireen barusan. Morren berdiri dan menggebrak meja membuat wanita di sampingnya memekik segera bangkit.
"KAU MENUDUHKU. HAA??"
"Apa aku menyebut namamu?" Tanya Shireen masih duduk tenang di kursinya. Ia sudah melihat wajah lain tuan Morren yang selama ini pasti bermain kotor.
"JANGAN KAU PIKIR, KAU PUTRI DIREKTUR UTAMA DISINI KAU BISA SEENAKNYA!!"
"Aku hanya bertanya dan bukan menuduh. Jika kau merasa tersinggung berarti memang ada hubungannya denganmu," Tegas Shireen membuat Morren naik pitam. Ia menggenggam vas bunga di samping meja Shireen dan ingin memukulkan benda itu ke arah Shireen yang berdiri.
"KAU MEMANG SIALAAN!!"
Belum sampai tangannya menghantamkan benda itu, tiba-tiba saja ada tangan kekar seseorang yang menahan lengan Morren.
"Sayang!" Gumam Shireen mematung melihat Edwald yang berdiri di belakang Morren dengan cengkraman menguat. Bahkan, Morren bisa merasakan tulangnya bergesekan dan ingin patah.
"K..kau.."
Edwald hanya diam. Semakin lama cengkramannya begitu kuat sampai tangan Morren pucat begitu juga wajah pria itu. Alhasil Shireen mendekati Edwald dalam mode wajah dinginnya.
"Ed!" Lirih Shireen mengelus dada bidang Edwald yang lembut hingga barulah Edwald melepaskan cengkramannya.
Morren memeggangi tangannya yang sakit dan kesemutan lalu menatap ngeri ke arah Edwald yang beralih membelit pinggang ramping seksi Shireen posesif.
"Kau baik-baik saja?"
"Yah. Aku baik," Gumam Shireen tersenyum lalu menatap tajam Morren yang tak menyangka Shireen akan memiliki pawang sekuat itu.
"Pergi dari sini. Kau tak diperbolehkan menginjak divisi 5 sebelum keputusan direktur keluar!"
"Siall!!" Umpat Morren bergegas keluar sedangkan wanita tadi diam tanpa sadar ia terpesona akan ketampanan Edwald yang memang begitu memikat.
Sadar jika ia sudah keterlaluan, kepala itu ia tundukan karna Shireen sudah sangat baik padanya.
"Nona!"
"Kau tak perlu pindah. Aku akan mengurus mereka!" Ucap Shireen yang di angguki wanita itu. Ia pergi dengan perasaan lega dan senang karna pria tua cabul itu sudah di tindak lanjuti.
Sementara Edwald ia hanya diam. Tapi, jauh dari sorot mata tajamnya ia mengaggumi profesionalisme dan pesona Shireen dalam melakukan pekerjaanya.
"Ku pikir kau tak akan berani menindak orang seperti itu. Shi!"
"Kenapa? Apa aku begitu penakut. Hm?" Tanya Shireen mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar Edwald yang sudah tak lagi memakai masker atau topinya hingga Shireen bisa menikmati visual tampan suaminya.
"Bukan penakut. Tapi, cara bicaramu yang begitu lembut tak akan mengguncang semut sekalipun."
Jawaban Edwald terdengar manis tapi itu memang bentuk pemikiran Edwald selama ini pada Shireen.
"Lembut bukan berarti lemah. Hanya saja aku lembut jika pada orang yang tepat. Sepertimu," Jawab Shireen agak malu-malu berjinjit mengecup bibir sensual Edwald yang lebih tinggi darinya. Shireen hanya sebatas dada Edwald yang mudah memeluknya.
"Benarkah?"
"Hm. Aku tak mungkin marah pada orang yang baik-baik. Tergantung orangnya juga. Sayang!" Gumam Shireen tapi timbul keinginan di benak Edwald untuk menanyakan sesuatu.
"Jika aku bukan orang baik. Bagaimana?"
"Kau kurang baik apanya? Kau bukan orang baik tapi PRIA TERBAIK," jawab Shireen lalu tersenyum geli padahal ia sudah membuat Edwald mematung.
Edwald terjebak dalam galaksi manik hitam bening Shireen yang menenggelamkannya jauh seakan-akan hawa di dalam mata ini menghipnotisnya untuk melihat lebih intens.
Hangat, damai dan ketenagan. Itu hal yang asing tapi tiba-tiba ia bisa merasakannya. Siapa sebenarnya Shireen? Kenapa perasaan asing ini ada padanya?
"Ed!" Panggil Shireen karna Edwald melamun. Pandangan pria ini terkunci bahkan tak berkedip pada matanya hingga Shireen menepuk pelan pipi Edwald.
"Sayang!"
"A.. Apa?" Sentak Edwald tersadar. Ia jadi gugup sendiri melihat Shireen menatapnya lekat.
"Ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah karna hari ini cukup banyak penumpang," elak Edwald dan Shireen langsung berempati.
"Kau menghabiskan bekalmu-kan? Sayang!"
"Shitt!"
Batin Edwald mengumpat. Ia tadi membuang makanan itu ke pembuangan sampah resto sekalian dengan kotak makananya karna terlalu kesal. Tak ia sangka Shireen akan menanyakan hal itu padanya.
"Apa kau tak suka masakanku?"
"Bukan seperti itu. Aku menghabiskannya tapi aku lupa menaruh kotaknya. Sayang! Maaf, ya?"
Shireen mengangguk tenang. Ia tak mempermasalahkan itu sama sekali. Shireen menarik Edwald duduk di kursi kerjanya lalu melepaskan jaket yang pasti sangat panas.
"Rileks! Aku akan memijatmu!"
"Tak perlu. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Shi!" Tolak halus Edwald karna ia tak biasa.
"Kau lelah menyetir mobil dan berkeringat di luar sana. Aku hanya bekerja di dalam gedung. Jadi kau lebih lelah dariku," gumam Shireen melepas kedua sepatu pria itu lalu menaikan kedua kaki kokoh ini ke atas meja kerjanya.
Edwald hanya diam pasrah membiarkan Shireen memijat lengannya dengan telaten. Ia memperhatikan senyum indah dan wajah cantik bahagia Shireen yang begitu aneh dan sederhana.
Apa yang memijat memang sebahagia itu?!
Pikir Edwald heran mrlihat Shireen yang selalu senang hati mengurusnya. Wanita ini terlalu ambigu dan sulit di jelaskan dengan kata-kata.
Lama-kelamaan pijatan Shireen begitu terasa nyaman. Jari lentik itu nyatanya sangat lihai dan paham cara merilekskan otot tubuh hingga tanpa sadar Edwald memejamkan matanya bersandar ke punggung kursi.
Dia tidur?
Benak Shireen bertanya melihat wajah datar tenang Edwald yang seperti sangat menikmati pijatannya.
Dirasa bagian lengan kekar ini sudah cukup. Shireen beralih ke bahu dan kepala Edwald yang tak bergerak sama sekali. Pijatan tangan hangat Shireen di kepalanya terasa seperti belaian tapi membawa ketenagan. Bak di tepi pantai dengan semilir angin menyapu segar dan tubuh terasa ringan.
Disela aktifitas memijatnya. Shireen memanfaatkan momen ini untuk menikmati visual wajah suaminya. Saat tidur Edwald benar-benar sangat tampan bahkan semua porsi wajah dan tubuhnya begitu sempurna.
"Apa aku begitu tampan?"
Degg..
Wajah Shireen langsung memerah tomat. Ia menunduk kala Edwald membuka mata penuh daya pikat itu sampai Shireen ingin menarik kedua tangannya dari kepala Edwald yang malah menariknya kembali.
Alhasil Shireen terkejut kala bibirnya di raup lembut oleh Edwald yang membawa Shireen dalam pangkuannya.
Awalnya Shireen masih malu tapi saat dirasa ciuman ini begitu memabukan barulah Shireen membalas. Tak sekaku sebelumnya tapi ini lebih candu dan menggairahkan.
Shitt. Aku lebih ingin menyiksamu dengan keringat setiap harinya. Aku tak pernah merasa secandu ini pada wanita.
Umpatan batin Edwald merasa ia akan hilang akal jika tak menikmati tubuh Shireen sehari saja. Ntah apa yang wanita ini lakukan padanya sampai di benak Edwald hanya ada momen-momen panas dan ingin terus melakukan hal itu.
.....
Vote and Like Sayang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
MAKANYA JGN BICARA SMBARANGN, YG LO ANGGAP BKN WANITA IDAMAN, MLH BIKIN LO KTAGIHAN..
2024-03-27
1
Nazwaputri Salmani
Nah loh udah mulai candu kan...
setelah kebusukan mu terbongkar dan kamu ninggalin shireen,,, aku sumpahin kamu impoten dan cinta mati sama shireen,, biar kamu dapat karma udah menyia nyiakan shireen
2023-05-23
3
Tina Nine
Raskan kau Ed,,,jadi candukan kamu ke Shi,,biar kelak kamu seperti orang ga waras saat Shi meninggalkan kamu,saat tau kau hanya memanfaatkan nya untuk balas dendam
2023-05-23
2