Pagi ini Shireen bergegas menemui Tuan Walter yang kebetulan ada di kediaman bersama Nyonya Colins. Keduanya tengah makan di meja makan begitu juga Shireen yang agak ragu menyampaikan ini depan Nyonya Colisn yang sudah memasang wajah suram bahkan, tampak sekali tak menyukai keberadaan Edwald yang baru keluar dari dapur membawakan jus mangga manis untuk Shireen yang menerima dengan senyuman.
"Ini sayang!"
"Terimakasih," Jawab Shireen segera meneguknya sampai setengah lalu menyodorkan piring yang sudah ia isi makanan tadi pada Edwald yang duduk di sebelahnya.
Keduanya mengabaikan raut tak suka Tuan Walter dan Nyonya Colins.
"Bagaimana dengan keputusanmu? Shireen!" Tanya Tuan Walter tanpa menatap ke arah Shireen yang melirik Edwald.
Pria berwajah tampan dingin ini mengangguki itu hingga Shireen mulai membuka pembicaraan.
"Dad! Aku punya jawaban sendiri."
"Cih, dia tak akan mau meninggalkan suami tak bergunanya itu. Apa yang bisa di banggakan darinya? Ketampanan tak akan merubah nasib," Ketus Nyonya Colins membuat Shireen sakit tapi Edwald segera menggenggam jemari lentik itu hangat.
Dirasa sudah tenang barulah Shireen kembali bicara dan kali ini ia berusaha menghindari pertikaian di pagi hari.
"Dad! Kau ada masalah di proyek barumu dan akhir-akhir ini kita juga mulai sulit mengimbangi keadaan. Aku rasa Edwald.."
"Jangan mulai lagi, Shireen!" Tekan Tuan Walter menjatuhkan garpu kasar di atas piring mahal itu.
Shireen menghela nafas dalam segera menegaskan kalimatnya.
"Edwald hanya akan membantu kita, dad! Aku yakin suamiku bisa menyelesaikan masalah proyek-mu dan membantu perusahaan kita menjadi lebih baik. Daddy ingatkan, jika Edwald dulu juga membuat perusahaanya meluas dan maju?"
"Tapi bangkrut," Ledek Nyonya Colins melirik rendah Edwald yang hanya diam sedia dengan wajah datarnya.
"Hal itu belum tentu murni kesalahan Edwald. Yang kita lihat sekarang itu bagaimana dia bisa memperluas jangkauan perusahaan, bukan kebangkrutannya. Mom!"
Nyonya Colins hanya diam. Ia tergesa-gesa menghabiskan makananya lalu berdiri bersiap untuk pergi.
"Ayo dad! Kita pergi. Pandanganku disini semakin sempit saja!"
"Mom! Percayalah, Edwald tak akan mengecewakan kita. Aku jamin, Mom!" Tegas Shireen mengambil keputusan besar.
Tuan Walter menatap Edwald dengan rumit. Memang ia akui Eswald punya potensi dan bahkan ia terlihat begitu ahli tapi ntah kenapa saat menatap manik hijau elang itu ia seperti ingin di telan di dalamnya.
"Dad! Aku juga sudah mendapatkan klien besar. Hari ini kami akan bertemu dan Edwald juga sangat membantuku. Dad!" Imbuh Shireen seakan tak membiarkan mereka untuk bernafas.
Hal itu sangat menaburi bumbu kesenangan di hati Edwald yang tak perlu repot menjerumuskan keluarga ini karna ada malaikat cantik yang bisa ia manfaatkan.
"Kau yakin dia bisa di percaya?"
"Aku yakin!" Jawab Shireen tanpa berpikir panjang. Mendengar itu Nyonya Colins langsung menggeram.
"Shireen! Kau ini baru saja mengenal laki-laki. Jangan terlalu menggantungkan kepercayaan padanya karna kalian baru kenal 3 minggu," Sarkasnya ketus.
Karna ucapan Nyonya Colins terlalu berbahaya, Edwald mulai buka suara mencegah Shireen untuk berpikir jauh.
"Aku tahu jika kami baru saling mengenal. Tapi, aku tak mungkin menyakiti istriku sendiri. Aku tulus dan benar-benar mencintai Shireen!"
Mendengar itu hati suci Shireen serasa di sirami banyak bunga. Ia tak pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya dan ternyata persepsi beberapa orang yang mengatakan cinta itu MENYAKITKAN nyatanya hanya bualan, pikirnya begitu.
"Dia ini hanya wanita haus kasih sayang. Sudah didik keras untuk bekerja dari kecil dan mana tahu dia dengan hubungan asmara."
"Mom!" Lirih Shireen tergores dengan kalimat Nyonya Shireen.
Yah, ia akui hidupnya selama ini hanya tentang pekerjaan tapi apa salah ia mencoba merasakan cinta dari orang lain? Ia hanya tahu cinta seorang nenek bukan seorang ibu atau ayahnya sendiri.
"Aku tak ingin mendengar alasanmu. Ceraikan dia dan mulailah hidupmu seperti biasa."
"Tapi.."
"Cukup!" Sela Tuan Walter sudah mengambil keputusan. Ia menatap tegas Edwald tapi ia tak kuat berlama-lama beradu pandang dengan sosok misterius ini.
"Aku menerima Edwald untuk membantu urusan perusahaan."
"Benarkah? Jadi Edwald tak perlu pergi-kan, Dad?" Tanya Shireen girang. Saat Tuan Walter mengangguk ia langsung memeluk Edwald yang tersenyum kecil mengusap kepala Shireen.
"Terimakasih. Dad!"
"Aku tak ingin mendengar dia berbuat masalah. Cepat selesaikan masalah perusahaan dan akan ku pikirkan hubungan kalian seterusnya," Tegas Tuan Walter berdiri dan pergi mengabaikan Nyonya Colins yang tak percaya itu.
"Apa-apaan ini?? Walteeer!!!"
Shireen hanya diam tak menggubris Nyonya Colisn yang terlihat sangat tak setuju.
"Shireen!! Aku sudah merencanakan pertemuan-mu dengan putra temanku. Jika kalian tak bercerai bagaimana bisa kalian akan menikah??"
Degg..
Seketika Shireen terkejut. Edwald hanya pura-pura tersentak karna jujur ia tak perduli.
"M..mom!"
"Dia lebih berpengaruh dan sangat baik. Jauh dari suamimu ini. Shireen!" Geram Nyonya Colins menatap ketus Edwald yang segera berdiri diikuti Shireen yang masih syok.
"Shireen adalah istriku. Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan siapapun mengambilnya!"
"Ouh, benarkah? Dengan apa kau akan menghidupi istrimu? Batu? Kertas atau kayu?" Sarkas Nyonya Colins mengambil gelas di atas meja lalu menyiramkan itu ke wajah Edwald.
"Mommy!!" Syok Shireen menatap Nyonya Colins tajam. Wajah wanita paruh baya ini tiba-tiba berubah pias kala bersitatap dengan netra mematikan Edwald yang tampak menyimpan bara api di dalam manik hijau itu.
Kenapa dia sangat mengerikan?
Batin Nyonya Colins merinding. Ia melihat jiwa ibslis bergejolak di ubun-ubun Edwald yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
Namun, wajah tampan penuh kebekuan itu berubah lembut kala tangan Shireen mulai mengusap tetesan air di pipinya dengan tisu.
"Sayang! Duduklah dan Mommy pergi dari sini!!" Tegas Shireen beralih pada Nyonya Colins yang tak tahan lagi dengan hawa membunuh Edwald yang membuat tubuhnya mengigil.
Tak berselang lama Nyonya Colins pergi maka turunlah Freya dari anak tangga dengan seragam sekolah yang ia pakai.
Langkah gadis berambut pendek itu masuk ke dalam ruang makan. Namun, ia terhenti kala melihat Shireen mengusap leher dan dada Edwald dengan lembut membereskan sisa air ini.
"Kenapa selalu saja seperti ini?!" Umpat Freya yang masih merasakan sakit di kakinya yang di perban. Untung saja luka itu tak begitu dalam hingga ia masih bisa berjalan normal.
Saat Freya mematung di depan sana, tatapan mata Shireen mulai menangkap keberadaanya. Seperti biasa Shireen akan menawarkan makan tapi Freya sudah pergi lebih dulu.
"Dia terus saja tak mau makan di pagi hari," Gumam Shireen menghela nafas berat. Edwald tahu jika Freya tak menyukai hubungannya dan Shireen tetapi itu tak terlalu penting.
"Aku akan berangkat kerja!"
"Makanlah dulu. Aku juga akan pergi setelah mengurus-mu," Ucap Shireen duduk kembali.
Edwald memperlihatkan jam di pergelangan tangannya seakan-akan ia sudah terlambat.
"Sayang! Aku tak ada waktu lagi."
"Emm.. Tunggu. Aku siapkan bekal saja. Ya?" Tanya Shireen bergegas ke dapur mengambil kotak makanan.
Edwald diam. Antara tak mungkin membawa kotak makanan ke luar dan juga malas untuk menentengnya.
Dia mulai lagi. Decah Edwald tapi hanya pasrah sampai Shireen datang dan menyiapkan kotak makananya tak lupa botol air yang terisi penuh di masukan ke dalam tas khusus yang tampak mudah di tenteng.
"Ini! Jangan sampai kau telat makan. Aku tak suka ada Freya yang kedua disini."
Edwald hanya meraih tas itu dengan senyuman kecil. Ia melihat Shireen mengambil jaket yang tadi ia letakan di kursi makan dan memakaikannya dengan rapi.
"Sudah. Ada yang ingin di bawa lagi?" Tanya Shireen benar-benar menjadi istri.
"Tidak ada. Sayang!"
"Kau mau buah? Akan ku siapkan jika kau mau?" Tawar Shireen sangat bersemangat. Edwald hanya mengulum senyum membelit pinggang ramping Shireen yang belum bersiap-siap kekantor dan masih cantik dengan dress santai lengan pendek berpotongan anggun ini.
"Aku hanya pergi menjadi supir. Bukan seorang direktur tapi kau sudah sangat heboh. You're so cute. Shi!" Puji Edwald tapi bermaksud yang lain.
"Tak apa. Supir juga butuh tenaga dan aku harus terus memberimu energi. Hm?"
"Terserah kau saja. Shi! Yang penting kau senang," Gumam Edwald di antar keluar oleh Shireen yang berdiri di teras.
Wanita cantik bermata hitam bak boneka itu mencium bibirnya sebelum melepas pergi.
"Hati-hati bekerjanya. Jika butuh sesuatu kau hubungi aku."
"Hm," Gumam Edwald berjalan pergi menjahui kediaman menuju gerbang di depan sana.
Shireen hanya memandangi dari kejahuan. Ia tadi sudah ingin mengantar Edwald tapi pria itu kekeh tak mau merepotkan-nya. Alhasil Shireen menurut walau dengan berat hati melepas sang suami.
"Indahnya pemandangan pagi ini!"
Shireen tersentak kala ada kepala pelayan yang menyeru dari belakang. Pelayan Anne tersenyum geli melihat Shireen malu karna tahu arti ucapan darinya.
"Bik. Jangan seperti itu."
"Kenapa? Tuan dan nona masih pengantin baru dan wajar. Bibik juga sangat senang melihat kalian akur setiap saat. Tuan juga sangat tampan dan kalian cocok," Ujarnya penuh kebahagiaan.
Shireen hanya bisa tersenyum tapi di balik lengkungan bibir indahnya itu, ada harapan dan kebahagiaan yang sangat besar.
"Shireen masuk, Bik!"
"Iya. Nona! Semoga selalu bahagia Beautiful angle!" Godanya hingga Shireen bergegas pergi.
.........
Di tempat yang lain. Freya baru saja menghentikan mobilnya di tepi jalan menghadap ke dua jalur berbeda di depannya. Keadaan jalanan tak begitu ramai jadi ia punya kesempatan untuk merias diri di dalam mobil.
"Aku tak punya ketenagan jika melihat mereka," Umpat Freya merapikan alas bedaknya. Saat ia asik memanjakan wajahnya tiba-tiba saja ia melihat ada mobil taksi yang berhenti tak begitu jauh darinya.
Awal-awal Freya tak begitu peduli tapi saat melihat siapa yang keluar dengan jaket dan pakaian yang familiar itu matanya mulai menajam.
"Bukankah itu Edwald?" Gumam Freya melirik kaca spion.
Edwald tampak turun dengan topi dan masker menutupi wajahnya. Ia menunggu di samping taksi lalu Freya terkejut kala ada satu mobil mewah bermerek melaju pelan dan berhenti di dekat pria itu.
"Shiit. What happened??" Gumam Freya kala Edwald masuk ke mobil itu dan pergi padahal seharusnya dia tak memiliki mobil.
...
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Triiyyaazz Ajuach
nah nah mulai ketahuan Freya
2023-05-22
2
yustina ara
keberhasilan mu adalah kehancuran dalam diri Shireen,,, ku tunggu Edd penyesalanmu hingga menangis darah pun tak kan membantumu,,, apalgi km hanya anak angkat dr siapa ituuu🤔🤔🤔🤔🤔
2023-05-21
0
💞 RAP💞
hmm edwald tdk bs membedakan antara shiren istri tulus yg bs menerima apa adanya tanpa bnyk menuntut,..dan suma bapak angkat yg hanya menjadikan edwal sebagai alat bls dendam nya...
semoga aj shiren cpt hamil dan edwal yg nyidam ,sapa tau bs sadar jd bs menghargai istri
2023-05-21
0