Shireen tampak fasih dan elegan memimpin rapat yang berjalan dengan lancar. Nyatanya klien mereka yang seharusnya sudah pergi itu menunggu kedatangan Shireen bahkan rela berjam-jam menantikan wanita cantik itu untuk memulai kesepakatan.
Bukan tanpa alasan mereka menunggu begitu saja. Aura Shireen yang elegan dan cara penyampaiannya yang lugas dan penuh arahan membuat mereka mudah paham dan tertarik.
Apalagi perusahaan HARMON CORP BEAUTY(HCB) yang tengah ia pimpin telah mengeluarkan prodak baru berupa lipstik Nude Lips.
"Prodak lipstik merek ini akan di pasarkan sesuai kesepakatan kita. Team marketing juga akan selalu berusaha untuk mempromosikan prodak dengan model-model yang populer saat ini. Bagaimana Mr?" Tanya Shireen duduk dengan berwibawah dan elegan diatas kursi kepemimpinannya menatap tegas Mr Parker yang mangut-mangut mengerti.
Pria paruh baya dengan rambut pirang dan tubuh agak kurus itu tampak puas menatap Shireen yang tersenyum ramah menunjukan jiwa mahalnya.
"Anda tenang saja. Masalah keamanan pengguna itu tak perlu di pusingkan. Aku sendiri telah mencoba prodak itu dalam satu minggu ini dan tak ada efek samping. Kami juga sudah memasukannya ke lab untuk di uji dan hasilnya murni mengandung bahan yang baik untuk bibir."
"Jika nona Shireen sudah berkata begitu, tak ada alasan bagi kami untuk meragukannya," Jawab Mr Parker membuat Shireen semakin lega.
Sekertaris Amber-pun ikut menghela nafas karna awalnya ia cemas investor pertama mereka akan menolak kerja sama padahal sudah membuat kesepakatan sebelumnya.
"Baiklah. Apa kita bisa menandatangani kontrak?" Tanya Shireen dan tanpa banyak bicara lagi Mr Parker segera meraih dokumen kontrak di meja mahal ini seraya menggoreskan tanda tangannya di beberapa lembar yang sudah ia baca sebelumnya.
Mr Parker dan Shireen berdiri segera saling berjabat tangan sebagai bukti jika hubungan kerja mereka sudah terjalin baik.
"Terimakasih atas kerjasamanya. Mr!"
"Jika nona yang memimpin siapa yang tak akan mau bergabung?!" Kelakar Mr Parker tak terkesan nakal tapi ia sangat mengagumi Shireen sebagai wanita karir yang multitalenta.
"Anda terlalu memuji. Mr!" Segan Shireen menurunkan tangannya.
"Tentu tidak. Saya sudah banyak mendengar soal nona Shireen dan buktinya anda tak hanya cantik dan mempesona tapi juga bisa di andalkan."
"Saya merasa terhormat," Gumam Shireen dengan senyum malu khasnya.
Ia mengantar Mr Parker keluar ruangan meeting dimana asisten pria ini tadi tengah menelpon di luar. Ia segera mendekati Mr Parker dan menatap segan Shireen yang mengangguk ramah.
"Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik. Mr!"
"Yah. Lain kali luangkan waktu untuk sekedar bersantai tapi..."
Mr Parker diam berjalan beriringan dengan Shireen yang membawanya ke lantai bawah memasuki lift bersamaan dengan asisten masing-masing.
"Tapi apa? Mr!"
"Aku turut senang dengan pernikahanmu. Tapi, apa benar perusahaan Tuan Edwald mengalami kebangkrutan?" Tanya Mr Parker melihat wajah cantik Shireen mulai dirundung rasa tak nyaman.
Ia mulai merasa bersalah hingga akhirnya minta maaf.
"Maaf. Aku tak bermaksud untuk.."
"Tak apa. Berita itu memang benar tapi suamiku pasti akan bangkit kembali. Dia pria yang cerdas," Jawaban bijak Shireen begitu dikagumi oleh Mr Parker yang tak bisa lagi meragukan kebaikan hati peri wanita ini.
"Baiklah. Semoga kalian baik-baik saja dan tak ada masalah apapun lagi. Aku juga yakin berita yang beredar itu tak sepenuhnya benar."
Shireen tersenyum dan mengangguk. Lift ini membawa mereka turun ke lantai pertama dimana Sekertaris Amber juga sedia mendampingi Shireen.
Setelah beberapa lama pintu lift terbuka. Mereka keluar dari lift dan sesekali menjawab sapaan para karyawan yang tampak keluar masuk dari pintu utama karna urusan tertentu.
"Sepertinya akan hujan. Cuaca akhir-akhir ini sangat tak menentu," Gumam Mr Parker setelah keluar dari pintu menatap langit kota Milan yang mendung.
Shireen juga memandang ke arah yang sama dan ia tahu dan tak asing lagi dengan semua ini.
"Iya. Mr! Semoga istrimu juga cepat sembuh!" Jawab Shireen tahu jika istri Mr Parker sedang sakit jadi pria ini datang sendiri.
Karna keramah-tamahan Shireen yang hangat dan selalu menebar senyuman membuat siapa saja nyaman. Mr Parker sampai menggeleng heran seraya pamit pergi menuju lobby perusahaan.
"Nona!"
"Yah? Apa ada jadwalku lagi?" Tanya Shireen membenahi dress selutut dengan lengan panjang yang ia pakai. Rambut hitam kecoklatan itu digerai dengan pita cantik di atas kepalanya menambah kesan manis dan feminim.
"Ada anggota dari devisi tiga ingin pindah ke devisi 2 perusahaan. Mungkin dia tak nyaman ada di sana, Nona!"
"Kenapa?" Tanya Shireen serius. Perusahaan ini memang memiliki 5 devisi dan Shireen memimpin devisi 2 karna direktur utamanya adalah Tuan Walter dan direksi yang sudah di bagi-bagi sebelumnya.
"Ntahlah. Dia selalu takut bicara saat menemuiku!"
"Suruh dia menemuiku langsung. Dan selidiki apa yang membuat dia sampai tak nyaman!" Tegas Shireen dan diangguki cepat oleh Sekertaris Amber yang segera pergi.
Shireen menghela nafas dalam. Ia terlalu fokus pada team devisinya sampai lupa jika ada bagian lain yang harus di pantau.
"Kau begitu sibuk. Hm?"
"Astaga!" Sentak Shireen terkejut tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Ia sudah tahu bisikan suara berat datar khas ini dari siapa dan pemilik tubuh yang tengah memeluknya ini sangat familiar.
"Sayang! Kau mengejutkanku."
"Dan kau melupakan aku," Bisik Edwald yang tadi keluar dengan alasan pergi ke tempat kerjanya. Ia menerima pekerjaan sebagai supir dan Shireen tak keberatan atau menentangnya sama sekali.
"Bukan begitu. Hanya saja hari ini ada masalah sedikit tapi tak begitu memusingkan," Gumam Shireen mengusap punggung tangan kekar Edwald yang pulang sore hari.
"Apa kau sudah pulang kerja?"
"Penumpang-ku tak terlalu banyak. Apalagi aku memakai masker jadi mereka tak tertarik dengan ketampanan-ku," Jawab Edwald dan sukses membuat Shireen terkekeh geli mengusap rahang tegas Edwald yang benar tengah memakai masker.
"Shi!" Bisik Edwald saat Shireen menggandengnya masuk.
"Yah?"
"Apa kau sudah bicara dengan daddymu?" Tanya Edwald ingin tahu soal rencananya saat itu.
Shireen menggeleng dan seketika Eswald sangat kesal tapi ia masih mempertahankan pandangan hangatnya.
"Belum. Daddy masih ada di luar tapi aku bisa menelponnya dulu agar dia tak terkejut."
"Aku hanya ingin meringankan beban mu. Sayang!" Jawab Edwald beralih merangkul bahu Shireen yang paham dan segera mengeluarkan ponselnya.
Mereka masuk ke lift menuju lantai ruangan Shireen yang biasa menjadi tempat mereka istirahat.
"Emm.. Tadi aku baru saja selesai menandatangani kontrak dengan Mr Parker."
"Lalu?" Tanya Edwald ingin tahu apa saja yang sudah Shireen lakukan untuk memekarkan perusahaan ini
"Dia adalah klien pertamaku tapi kami sudah sangat akrab. Orangnya juga hangat dan pengertian. Dan kau tahu.. Seharusnya dia marah saat aku terlambat tadi tapi saat tahu aku ada kendala dia langsung mengerti," Jelas Shireen bersemangat menceritakan hal itu pada Edwald yang sebenarnya tak ingin tahu detailnya.
Edwald hanya perlu mengetahui siapa saja yang ikut bekerjasama dengan perusahaan. Bukan kecerewetan Shireen yang begitu memusingkan kepala.
"Sayang! Bagaimana kalau kau ambil alih saja perusahaan ini?"
"Ha?" Tanya Shireen yang tadi tak begitu fokus. Ia tengah memeriksa panggilannya yang tadi tak terjawab.
"Perusahaan ini sangat besar dan kau mengurusnya dengan baik. Aku rasa kau pantas memiliki sepenuhnya."
"Dan aku juga tak perlu melanjutkan drama ini dengan wanita aneh sepertimu," Batin Edwald menyahut ucapannya sendiri.
"Ed! Perusahaan ini bukan hanya milikku. Semuanya ikut bekerja dan saling membutuhkan. Lagi pula aku tak mungkin mengambil alih jabatan daddyku," Jawab Shireen menolak sopan.
Tapi, di balik kacamata seorang Edwald yang tak pernah tahu yang namanya BAIK HATI hanya memandang perilaku Shireen sebagai bentuk kebodohan.
Jawaban seperti apa itu? Cih, penuh dengan kemunafikan dan emosional. Pikir Edwald bengis.
"Kau jangan terlalu baik. Orang belum tentu seperti itu padamu. Shi!" Sangga Edwald memainkan rambut halus Shireen yang tanpa sadar memang sangat harum dan lembut. Jarinya tiba-tiba ingin menyisir surai hitam kecoklatan ini.
Namun, jawab Shireen lagi-lagi membuat jiwa iblis Edwald memberontak. Sebenarnya ia sudah mual tapi telinganya masih bertahan disini.
"Tak apa. Aku tak minta di balas," Gumam Shireen menyimpan kembali ponselnya karna tak ada jawaban dari Tuan Walter.
"Aku lihat daddymu sangat tertekan dengan proyeknya. Mungkin aku bisa membantu walau sedikit."
"Hm. Aku juga kasihan pada daddy tapi mau bagaimana lagi. Ini pekerjaannya," Gumam Shireen memainkan resleting celana Edwald yang sialnya selalu on setiap berdekatan dengan Shireen.
Apa dia memang polos atau pura-pura polos?!
Umpatan batin Edwald terkadang sulit menahan diri karna Shireen sering menyentuh sesuatu melalui perantara dengan sangat santai. Wajahnya juga tak menunjukan pengetahuannya dalam bidang tubuh pria.
Tapi, Edwald akan membuat Shireen menggantikan Tuan Walter lalu ia akan mudah memperbudak wanita ini untuk mengakusisi perusahaan ke bawah kekuasaan perusahaannya.
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Amelia Harianja
kasihan shireen jadi korban
😱😱
2023-05-28
3
Ibelmizzel
setelah kau hancurkan hati ny shi kau akan menyesal,cinta yg kau anggap bodoh dan memuakan tidak akan kau dapatkan dari perempuan manapun Ed.😡😡😡
2023-05-27
0
nawale sophiae
pembalasan dari wanita mandiri yang tersakiti itu sangat mengerikan.. percayalah,,
tunggu saya, EDWALD !
2023-05-26
0