Jam sudah menunjukan pukul 2 siang dan belum ada tanda-tanda kepulangan Edwald. Hal itu sangat membuat Shireen khawatir karna takut terjadi suatu hal yang buruk di luar sana karna mengingat banyak sekali yang tak menyukai pria itu.
"Kemana dia?!" Gumam Shireen terus mencoba menghubungi ponsel Edwald yang tak aktif. Ia perlahan bangkit dari ranjang lalu berjalan ke arah pintu kamar.
Saat tangan lentik Shireen ingin menekan gagang pintu tiba-tiba saja benda itu sudah di buka dari luar.
"Sayang!" Lemah Shireen antara senang dan lega melihat Edwald sudah berdiri di depan pintu membawa plastik kecil berisi kotak salep yang tadi ia beli.
"Kemana saja? Aku pikir terjadi sesuatu di luar sana sampai kau tak menjawab panggilanku."
"Aku lupa mengisi daya ponselku," Jawab Edwald masuk ke dalam kamar seraya kembali menutup pintu.
Ia meraih pinggang ramping Shireen kedalam pelukannya, lalu mengiring wanita itu duduk di tepi ranjang dengan ia yang berjongkok di lantai.
Wajah tampan Edwald seperti biasa datar tapi sangat hangat. Ia membuat Shireen nyaman dengan perlakuannya yang manis setiap saat.
"Kenapa kau bisa lama? Sayang!" Tanya Shireen mengusap rambut Edwald dengan jemari lentiknya membuat helaian rambut kecoklatan Edwald agak berantakan tapi tampak seksi.
"Ada sedikit masalah."
"Masalah apa?" Tanya Shireen menghentikan kegiatannya. Manik hitam bening itu beralih melihat Edwald yang tengah membuka kotak salep di tangannya.
"Media tadi mengejar-ku. Jadi, aku harus mencari jalan lain!"
"Benarkah?" Tanya Shireen tersentak. Edwald hanya mengangguk mendorong bahu Shireen ke atas ranjang hingga posisi wanita ini setengah berbaring dengan kedua kakinya yang menjuntai Edwald naikan ke atas ranjang.
"Apa kau terluka?" Imbuhnya sangat cerewet. Edwald sebenarnya tak suka dengan wanita rumit seperti Shireen yang apa-apa harus ia tanyakan dan diperhatikan. Cih, begitu memusingkan.
Saat Edwald tak menjawab, Shireen mengulang pertanyaannya lagi. Edwald mengepal tapi ia berusaha untuk tetap lembut.
"Aku baik-baik saja. Shi!"
"Ed! Lain kali kau tak usah keluar sendirian. Apalagi membeli benda itu. Kau bisa menyuruh pelayan di bawah. Sayang!" Ucap Shireen cemas jika sampai nama Edwald menjadi bualan media lagi. Ia tak pernah tenang membiarkan Edwald keluar sendirian apalagi banyak musuh yang mengintainya.
Kekhawatiran Shireen nyatanya hanya angin lalu bagi Edwald yang tetap memasang topeng suami idaman. Ia sebenarnya malas melakukan semua ini apalagi mendengar ocehan Shireen yang bukan termasuk tipe wanitanya.
"Apa kau sudah makan?"
"Belum. Aku mau makan dengan-mu," Jawab Shireen menatap ke bawah. Edwald tampak memakaikan salep itu ke bagian intinya dan agak terasa geli tapi Shireen menahan agar jangan mengeluarkan suara yang memalukan.
Berbeda dengan Shireen yang malu-malu, Edwald justru tak bisa menahannya. Ia melabuhkan kecupan lembut ke bibir pink segar bawah Shireen yang seketika menggelinjang.
"E..Ed!"
"Boleh aku memintanya lagi?" Tanya Edwald membuat wajah Shireen pucat. Ia mau tapi bagian intinya masih sakit untuk melayani kebuasan Edwald yang memang bermain lembut tapi ukuran pusaka itu cukup membuatnya lupa diri.
Melihat kegugupan Shireen yang tampak sulit menjawab menarik senyuman Edwald yang segera mengakhiri pengobatannya.
"Aku hanya bercanda. Shi!"
"K..kau.." Gagap Shireen sudah kepalang malu langsung menutupi wajahnya dengan tangan.
Edwald berdiri merapikan bathrobe Shireen lalu meletakan kotak salep itu di atas nakas ranjang. Ia beralih membuka jaketnya kemudian di letakan di tepi ranjang.
Shireen segera meraih jaket itu kepelukannya sementara Edwald membuka sepatunya seraya duduk di samping paha Shireen.
Niat hati ingin mencium aroma musk tubuh Edwald di jaket ini tapi tiba-tiba saja Shireen mencium aroma parfum lain.
Ini aroma Sandalwood.
"Sayang!" Panggil Shireen beralih duduk di samping Edwald yang tak menoleh.
"Hm? Apa?"
"Parfum-mu Musk-kan?"
Edwald mengangguk melirik Shireen dari ekor matanya. Saat ia melihat Shireen memeluk jaketnya sontak Edwald langsung menoleh sempurna.
"Shi!"
"Ada aroma parfum wanita disini," Gumam Shireen mengendusnya kembali. Edwald diam tapi raut wajahnya masih tenang. Apa Shireen akan tahu? Atau mungkin wanita ini curiga padanya?
"Jika sampai dia tahu aku akan membunuhmu. Kimmy!"
Batin Edwald geram kala mengingat parfum Kimmy menempel di jaketnya. Shireen menatap Edwald dengan pandangan biasa tak ada raut curiga apapun di manik hitam indahnya.
"Apa kau.."
"Saat di kejar media tadi aku menelusup di keramaian agar mereka tak menemukanku. Mungkin ada parfum mereka yang menempel," Jawab Edwald tenang seakan-akan itulah yang terjadi.
"Syukurlah kau lolos. Bisa saja nanti mereka membuat berita baru. Ed!" Gumam Shireen mempercayai karangan bebas Edwald yang seketika lega.
Shireen memang wanita berpikiran positif bahkan jika itu wanita lain mungkin ia akan diintrogasi sampai ke akar-akarnya.
"Apa kau berpikir aku akan bersama wanita lain?" Tanya Edwald dengan mata menyipit. Senyum Shireen mengembang memukul pipi Edwald pelan dengan satu tangannya.
"Itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Edwald padahal ia sudah melakukan itu lebih dulu. Shireen begitu lugu dan bersih sampai tak mencurigai apapun tentangnya.
"Aku rasa kau tak akan tega menyakitiku. Benarkan?" Tanya Shireen mengedipkan matanya sepolos mungkin hingga senyum palsu Edwald tertuai ringan menarik pinggang Shireen merapat ke tubuhnya.
"Hm. Kau hanya boleh percaya padaku. Shi!"
"Aku percaya," Jawab Shireen menyandarkan kepalanya ke dada bidang Edwald yang menyeringai iblis. Ia membelai surai panjang lembut ini dengan rencana yang sudah ia susun sedari awal.
Kau wanita yang sangat mudah di manfaatkan. Teruslah percaya padaku sampai kau tak berani lagi menatap mataku.
Jiwa iblis Edwald muncul mencium kening mulus Shireen. Ia akan meratukan wanita ini sampai ia berada di puncak kebahagiaan lalu siaplah untuk jatuh ke alam nyata yang menyakitkan.
"Ed! Aku akan bicara pada daddy. Kau temani aku, ya?"
"Sekarang?"
Shireen mengangguk. Edwald ingat tadi Tuan Walter dan yang lainnya tak ada di kediaman. Percuma membawa Shireen keluar hanya akan menyusahkannya.
"Mereka tak ada di sini. Mungkin nanti malam akan pulang!"
"Benar juga aku.. " Kalimat Shireen terhenti kala ia ingat jika hari ini ada janji temu dengan Kliennya di perusahaan.
"Eeed!! Astaga kenapa aku lupa??"
"Ada apa?" Tanya Edwald melihat Shireen yang langsung meraih ponselnya. Benar saja, sudah ada panggilan tak terjawab dari Sekertaris Amber yang pasti tengah menghandle pekerjaannya.
"Meetingku sudah terlewat 2 jam yang lalu. Aku harus ke perusahaan sekarang!" Ucap Shireen buru-buru bangkit dari ranjang lalu berjalan pelan ke kamar mandi.
"Hati-hati. Sayang!"
"Bisa tolong siapkan pakaianku? Ed!" Sopan Shireen agak segan berdiri di depan pintu kamar mandi. Edwald mengangguk segera berdiri memandangi Shireen yang masih meracau di dalam kamar mandi.
Wajah Edwald yang tadi lembut berubah dingin. Ia mengumpat meraih jaketnya di atas ranjang seraya mencengkeramnya erat.
"Cih, telingaku sakit mendengar ocehanmu," Gumam Edwald pergi ke kamar ganti. Ia sebenarnya sangat tak suka di atur-atur oleh orang lain tapi Shireen pengecualiannya sekarang.
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SALAH KLO DENDAM LO, LO LMPIASKN KE SHIREEN YG TULUS PADA LOO
2024-03-27
1
Sulaiman Efendy
KATANYA BUKAN IDAMAN LO, TPI LO MINTA JATAH LAGI..
2024-03-27
1
Sulaiman Efendy
BUKAN WANITA IDAMAN, TPI LO PERAWANIN JUGA, EDWARD EDWARD..
2024-03-27
1