Pertengkaran antara nyonya Colins dan Shireen tadi berujung pada tangisan wanita itu. Awalnya Shireen begitu tegas menolak ucapan mommy-nya tapi mau bagaimanapun perkataan kejam nyonya Colins sukses membuatnya menangis melarikan diri ke dalam kamar seraya mengemasi pakaiannya.
Edwald sedari tadi menatap Shireen yang tak mau memandangnya. Air mata itu di sembunyikan seraya membuka koper di dekat lemari pakaian lebar yang tampak tersusun rapi.
Saat Shireen sibuk memasukan pakaiannya ke dalam benda itu. Edwald langsung memeluknya erat dan penuh kehangatan.
"Menangis saja!" Bisik Edwald mengusap kepala Shireen yang seketika tak bisa menahan lagi.
Ia mencengkram pinggang kokoh Edwald dengan isakan meluncur dan terdengar sangat menyakitkan.
"E..Eed hiks! Kenapa mommy mengatakan itu? Kenapa dia terus menindasmu? Kenapa?" Isak Shireen sangat merasa sakit di hatinya.
Tak terbayang bagaimana sesaknya mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Bahkan, adiknya-pun berusaha untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Maafkan aku!"
"K..kenapa harus seperti ini. Ha? Apa tak bisa mereka menerimamu tanpa memandang status dan kekayaan? Kenapa selalu ini yang jadi permasalahan? Aku sudah lelah mendengarnya!! Aku sudah muaak. Eed hiks!" Racau Shireen meledakan emosinya.
Jelas semua ini sudah ia tahan-tahan sejak lama agar tak keluar tapi hari ini ia benar-benar melawan Nyonya Colins sampai menyanggupi makian wanita itu.
"A..aku lelah. Semua di mata mereka tak cukup. Sampai kapan aku harus dijadikan pion penarik kekayaan lagi?! Apa.. Apa aku.."
"Susstt!! Sudah, jangan bicara seperti itu," Sela Eswald mengusap punggung Shireen yang bergetar. Ia tak pernah melihat Shireen menangis seperti ini karna biasanya Shireen cukup bisa mengendalikan diri.
"Bahkan adikku.. " Lirih Shireen beralih menatap Edwald dengan mata berkaca-kaca. Manik hitam legam ini seperti kucing yang terluka bahkan sangat menusuk hati siapapun yang melihatnya.
"Adikku sendiri ingin menghancurkanku. Untuk apa dia berpakaian seperti itu di hadapanmu? Dan mengaku-ngaku di lecehkan. Sebenarnya apa salah-ku pada mereka? Ed! Apaa??" Imbuhnya masih sangat sakit hati kala tahu jika Freya hanya bersandiwara. Ia sangat percaya pada Edwald dibanding siapapun karna ia tak pernah merasakan cinta dari orang lain kecuali pria ini.
"Kau tak bisa pergi dari rumah ini!" Ucap Edwald menangkup kedua pipi Shireen yang menatapnya sulit.
"K..kau.."
"Biar aku yang pergi. Hm?"
Shireen menggeleng. Ia beralih memeluk erat Edwald yang tak ingin Shireen keluar dari rumah untuk sengsara dengannya sementara di luar sana kejahatan mengincar kelengahannya.
"TIDAK."
"Sayang! Jika kau keluar dari sini kau akan kehilangan pekerjaanmu. Kau hanya akan sengsara hidup denganku dan..."
"Ap..apa kau ingin bercerai?" Tanya Shireen bergrtar dan sontak Edwald menggeleng. Ia tak berencana untuk melakukan itu.
"Bukan seperti itu. Aku akan keluar dari sini untuk membangun sumber kuanganku. Saat sudah bisa memenuhi keinginan keluargamu maka aku akan datang lagi untuk menjemputmu. Bagaimana?"
Tanpa pikir panjang Shireen menggeleng tak setuju. Lebih baik ia kehilangan pekerjaanya dari pada masih disini tanpa ada satu orang-pun yang mencintainya.
"Aku ikut! Aku tak ingin sendirian."
"Aku akan terus menghubungimu. Aku berjanji!" Tegas Edwald serius tapi seketika bibir Shireen bergetar dengan air mata yang lagi-lagi turun.
Bayangkan saja suaminya pergi dari rumah hanya karna tak di terima ibunya. Sudah jelas sekarang masa sulit Edwald dan ia tak bisa membantu apapun. Istri macam apa itu, pikirnya.
"A..aku ikut. Aku ikut kemana-pun kau pergi!" Kekeh Shireen tak mau di tinggal.
Edwald menghela nafas dalam. Mereka berpelukan sangat lama bahkan tak ada yang mau mengendurkan pelukan ini.
Tiba-tiba saja terdengar ketukan di depan pintu. Shireen saling pandang dengan Edwald yang mengurai pelukannya.
"Aku akan membukanya!"
Shireen mengangguk. Wanita polos dan cerdas di dunia kerja itu memandangi bahu lebar Edwald yang melenggang ke luar ruang pakaian.
Karna takut mommynya datang lagi, Shireen segera menyusul Edwald yang tengah membuka pintu kamar.
"Siapa sayang?" Tanya Shireen dengan suara parau dan bengapnya.
Edwald diam menatap sesosok pria paruh baya yang berdiri di depannya. Pria dengan tubuh agak kurus dan rambut setengah memutih berkacamata.
"Dad!"
Lirih Shireen terkejut antara syok dan juga tak menyangka Tuan Walter akan pulang pagi ini. Dari exspresi Tuan Walter ia tampak tak menyukai Edwald yang hanya diam di tempat.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Dad! Kapan kau pulang?" Tanya Shireen sesekali memandang Edwald yang mengusap sisa air mata di pipinya.
Hal itu tak luput dari perhatian Tuan Walter yang berjalan pergi agak menjauh dari pintu kamar. Shireen mau tak mau mengikutinya sampai ke perbatasan tangga.
"Dad!"
"Aku dengar kau bertengkar lagi dengan ibu dan adikmu!" Suara Tuan Walter terdengar sangat datar tapi menyimpan rasa geram di setiap intonasinya.
"Dad! Hanya karna masalah harta dan kekayaan mommy terus menghina Edwald. Kami kerap bertengkar karna aku tak ingin suamiku terus di rendahkan. Dad! Aku.."
"Apa kau buta? Shireen!" Tanya Tuan Walter dan itu mencegat leher Shireen yang tak lagi bisa melanjutkan perkataanya.
"Yang mommy-mu itu katakan benar! Keluarga kita diterpa berita miring hanya karna suamimu yang tak becus mengurus pekerjaanya sendiri. Bahkan, proyek yang-ku tangani sampai gagal karna mereka tahu Edwald adalah menantuku!! Paham!!"
Shireen diam. Ia meremas pinggiran bathorbenya seraya mengigit bibir dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Jika seperti ini terus satu persatu klien akan pergi! Perusahaan bahkan akan ikut bangkrut karna penolakan semua klien atas suamimu."
"A..aku mencintainya!" Lirih Shireen sakit bahkan sangat sakit. Antara hidup dan mati ia mempertahankan keluarganya tapi Edwald adalah hidup dan harapannya yanh baru.
"Nak! Sekali ini saja korbankan hidupmu. Ha? Aku janji tak akan ikut campur lagi dalam urusan pernikahanmu," Lembut Tuan Walter menyesal telah mempertemukan Edwald dan Shireen yang kala itu hanya menurut saja.
Tak di sangka keadaan akan berbalik dan hati wanita ini sudah terpaut dengan jantung pria miskin itu.
"D..Dad! Aku.. Aku mohon. Sekali ini saja biarkan aku bersama Edwald! Aku mohon!" Pinta Shireen tak mau keluarganya hancur karna keinginanya.
Melihat Shireen yang begitu mempertahankan pernikahannya rasa marah di dalam hati Tuan Walter tak dapat di sembunyikan.
"Apa kau tak perduli dengan keluarga ini?"
"Peduli!! Aku sangat peduli tapi biarkan SATU kali ini saja aku memilih keputusan untuk hidupku. Dad! Aku mohon!" Pinta Shireen sangat menghormati ayahnya.
Wajah Tuan Walter mengeras. Jelas ia tak akan setuju tapi sialnya Shireen adalah hoki baginya. Wanita ini memiliki otak yang cerdas dan hawa mahal untuk menarik berbagai investor ke perusahaan mereka.
"Kau pilih saja. Masih ingin tinggal disini dan menjadi anakku atau pergi tapi bukan lagi anggota keluarga ini!"
Degg..
Lagi dan lagi nyawa Shireen seakan di cabut dari tubuhnya. Ia menatap nanar kepergian Tuan Walter yang nyatanya menambah luka yang tadi sudah menganga lebar.
K..kau menyuruhku memilih? Kau ingin memutuskan hubungan darah denganku?
.....
Di tempat yang berbeda. Terlihat seorang pria paruh baya berdiri diantara gelapnya lilin kamar dengan pencahayaan minim hanya memperlihatkan jambang tipis yang sedikit memutih itu.
Cincin-cincin giok mahal di jarinya yang memeggang ponsel tampak mengkilap dengan suara bariton bicara dengan seseorang.
"Sudah sampai dimana rencanamu? Anakku!"
"Dad! Ini baru permulaan. Tunggu tanggal mainnya."
Suara berat khas seorang pria di seberang sana. Seringaian pria paruh baya ini mekar persis menyatakan rasa puas dan bangga akan kinerja putra angkatnya ini.
"Jangan membuatku lama menunggu. Segeralah selesaikan!"
"Kau ingin aku menghancurkan sampai ke akar-akarnya. Bersabarlah sampai kemenanganmu datang!"
Jawaban itu sangat memuaskan pria ini. Seperti biasa ia tak pernah di kecewakan dengan tangan kanan sekaligus anak angkatnya itu. Pekerjaan sangat smoot dan tanpa ada cela sedikitpun.
.....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SIAPA PRIA ITU....???
2024-03-27
0
Dena Regar
berarti edwad tak mencintai shiren dia hanya memamfaakan shiren,menjadikan shiren sebagai pion untuk menghancurkan walter
2023-05-23
4
💞 RAP💞
hohoho apakah itu edwal
jd kasian sm shiren klu begitu jd korban ke dua kubu...😪😪
klu bnrn edwal cm manfaatin shiren semoga shiren hamil lalu ya serah a thor aj lah
2023-05-20
1