Bayang-bayang mentari diatas sana masih samar-samar terlihat. Hawa dingin dinihari ini terasa lebih menusuk membuat seorang wanita yang tadi tak lagi punya energi untuk bangun dari tempat tidur besarnya hanya bisa meringkuk seperti bayi di dalam balutan selimut yang menutupi bahu mulusnya.
Mata itu terpejam tak menyadari pintu kamar mandi yang terbuka. Seorang pria dengan tubuh kekar atletis dibaluti bathrobe itu keluar dengan rambut berpotongan Long Trim basah yang ia usap dengan handuk kecil di tangannya.
Manik hijau elang itu menatap ke arah ranjang. Wajah damai lelah Shireen terlihat sangat cantik diantara remangan kamar membuatnya betah memandang lebih lama.
Dia sama sekali belum disentuh orang lain.
Yah, itulah yang sedari tadi menghantui Edwald. Ntah apa yang ia pikirkan siapapun tak akan bisa menebaknya.
"Eed!"
Suara Shireen membuat Edwald berjalan mendekati ranjang. Kelopak mata hitam itu masih tertutup dan hanya erangan kecil pertanda ia mengigau.
"Eed!"
"Aku akan siapkan makanan untukmu," gumam Edwald lalu bergegas pergi ke walk in closet. Setelah beberapa lama ia keluar dengan balutan kaos santai lengan pendek dan celana longgar seperti biasa.
Hal itu tampak sangat maskulin di tubuhnya dan yakinlah Edwald punya pesona yang kuat.
Pria bernetra hijau itu keluar dari kamar dan berjalan tegas turun dari tangga menuju dapur. Ia berencana membuat makanan untuk Shireen yang pasti akan lapar setelah bangun nanti.
"Tuan!"
Beberapa pelayan di bawah sana tersentak kala melihat Edwald turun padahal masih dini hari.
Edwald hanya menatap mereka datar berlalu menuju dapur. Setibanya disana Edwald tanpa canggung lagi memilih beberapa sayuran dan daging ikan tuna tanpa tulang yang ia hancurkan bersama telur.
Para pelayan yang tadi tengah bekerja seketika saling pandang. Ada rasa iri di mata mereka melihat suami yang begitu cekatan seperti Edwald di kediaman ini.
"Tak hanya tampan dan berkharisma. Tuan juga pandai memasak."
"Aku pernah melihatnya mencuci piring bersama nona Shireen. Mereka sangat romantis!"
Desas-desus para pelayan mengagumi Edwald secara diam-diam. Namun, mereka segera mengurai kerumunan kala ada seorang wanita yang baru turun menatap penuh amarah pada mereka.
"Nona!"
"Apa yang kalian lihat. Ha?" geram Freya yang turun dari tangga dengan balutan gaun tidur diatas paha dan tergolong tipis.
Bagian dadanya cukup rendah dibaluti blazer itupun sangat transparan. Para pelayan wanita disini yang melihat hal itu hanya bisa diam melanjutkan pekerjaan mereka.
Senyum di wajah Freya mengembang melihat Edwald yang tengah merebus telur di dalam panci dengan serius.
"Akhirnya kau turun juga," batin Freya melepas tali gaunnya lalu berjalan masuk ke area dapur.
Kehadiran Freya tak begitu terasa oleh Edwald yang hanya fokus pada masakan sederhana yang ia buat. Tangan kekarnya lincah memanggang ikan tuna yang sudah di hancurkan bersama telur ditambah bumbu yang harum membuat Freya terkagum.
"Ehmm!"
Dehem Freya pura-pura lewat di dekat counter table dimana Edwald tengah memunggunginya.
Edwald diam sejenak. Ia mencium aroma parfum wanita yang memang khusus untuk memikat para laki-laki. Ini tak mungkin Shirren, pikirnya begitu.
Ia hafal aroma tubuh Shireen selembut mawar sedangkan ini lebih menyengat dan cukup memusingkan.
"Kau sedang memasak apa?" tanya Freya mengambil air di dalam kulkas.
Edwald tak menjawab. Ia masih sedia menata steak daging ikan diatas piring yang sudah ia hias dengan selada dan tomat.
Merasa di acuhkan oleh Edwald membuat Freya geram. Ia minum seteguk gelas air di tangannya lalu menjatuhkan benda kaca itu.
"Astaga!!"
Ia terpekik kala pecahan beling di lantai berserakan dengan air yang merebak. Edwald menatap datar Freya yang tampak pucat dan ketakutan melihat banyaknya beling di dekat kakinya tanpa alas.
"Astaga! Kacanya pecah. Apa bisa kau membantuku?" cemasnya mengibas rambut hingga leher jenjang itu terlihat.
Edwald menatap tak berminat tubuh kurus Freya yang jauh dari keseksian Shireen si royal gold miliknya itu.
"Aku takut pecahan kaca ini akan melukai kakiku."
"Kau yang memecahkannya, bukan aku!" santai Edwald tak perduli. Ia melanjutkan kegiatannya yang hampir selesai membuat darah Freya mendidih hebat.
"Kau memang sangat angkuh. Lihat saja, tak akan ku biarkan kau lolos."
Benak Freya berkata-kata licik. Ia menatap serakan beling di bawahnya dengan penuh rencana lalu memijakkan satu kakinya diantara benda tajam itu hingga pekikannya menerobos telinga semua orang.
"Aaaa!!!"
Ia jatuh ke arah Edwald yang refleks menjauh hingga tubuh Freya menghantam meja dapur dengan keras.
Freya menggeram sakit karna benturan di kepala dan pinggangnya membuat ia tergeletak di lantai dengan kaki berdarah dan keadaan menyedihkan.
Niatnya ingin menjebak Edwald tapi malah mencium counter table.
"M..Mommy!!!" teriak Freya memekik sampai para pelayan yang tadi ada di depan langsung berlari kebelakang.
Seketika mereka syok melihat Freya yang tergeletak dalam keadaan seperti itu sedangkan Edwald lebih menyelamatkan piring yang susah payah ia tata rapi.
"N..Nona, tuan kau..."
"Ada apa ini?" suara Nyonya Colins datang dari arah depan.
Edwald hanya diam setia dengan exspresi dinginnya. Pakaian minim yang di kenakan Freya tersingkap bahkan dadanya hampir menyembul keluar tanpa malu. Ia juga sengaja menyibak bagian bawahnya.
"M..Mommy hiks!"
"Ada apa ini?" tanya Nyonya Colins mendekat dan alangkah terkejutnya ia melihat Freya terduduk di lantai dengan kaki berdarah dan ada pecahan kaca di dekat betisnya.
Tatapan penuh amuk itu bergulir pada Edwald yang sebenarnya tak salah apa-apa tapi lagi-lagi ia akan kena makian.
"Apa yang kau lakukan pada putriku. Ha??"
"Bukan urusanku!" datar Edwald ingin pergi tapi Freya langsung memeggang kakinya dengan tangis pecah bak dilecehkan olehnya.
"M..mom hiks! Mommy!!"
"Kenapa?? Apa yang bajingan ini lakukan padamu. Ha??" heboh Nyonya Colins enggan mendekat dan lebih memilih menghakimi Edwald yang sungguh geram melihat tingkah menjijikan Freya.
Air mata bombay itu meluncur dengan satu tangan menutupi bagian dadanya menangis tersedu-sedu, sangat licik.
"M..Mom! A..aku jatuh karna.. Aku sempat di tarik oleh kakak ipar!"
"Apaa???" syok nyonya Colins melihat wajah Freya yang sudah sembab bahkan ia seperti begitu takut menekuk tubuhnya.
Para pelayan disini saling pandang. Jujur mereka tak percaya itu karna belum pernah mereka melihat tatapan nakal Edwald pada wanita di kediaman ini selain pada Shireen.
"K..Kak! Kau.. Kau kenapa melakukan itu padaku. Ha?" isaknya tapi Edwald segera menyentak kakinya kasar dari cengkraman Freya.
"Aku tak pernah mengusik putrimu."
"K..Kak! Jelas-jelas kau yang menarik lenganku saat aku minum tadi. Gelasnya pecah dan dia berusaha untuk merobek pakaianku. Mom! Aku.. Aku memberontak dan jatuh seperti ini. Kakak kenapa melakukan ini. Haa??" histerisnya seperti gadis belia yang dilecehkan secara brutal.
Mendengar itu emosi Nyonya Colins naik mengubun. Ia meraih teko air kaca yang ada di meja pantry di sampingnya lalu menyiramkan benda itu ke wajah Edwald yang seketika basah kuyup.
"Dasar menantu tak bergunaa!!!"
Makinya keras dengan emosi melahap isi kepalanya. Edwald mengepal bahkan piring yang ia peggang sudah retak karna cengkraman tangan kekarnya.
"Sudah kau tak punya pekerjaan dan hanya menumpang hidup di rumah ini tapi kau masih tak tahu diri. Kenapa tak dari dulu saja aku menceraikan Shireen dari pria sepertimu?!"
Sungguh. Makian itu benar-benar menusuk bagi Edwald yang masih berusaha tenang walau penghinaan ini tak akan ia lupakan sampai seumur hidupnya.
"Apa yang kau berikan pada kami hingga leluasa makan dan tidur disini? Pria menjijikan!!"
"Cukuup!!!"
Sambar seorang wanita yang tadi terganggu dari alam mimpinya karna mendengar keributan di bawah. Ia turun dengan susah payah memakai bathrobe coklat yang indah di tubuhnya tapi sangat terkejut melihat apa yang terjadi disini.
"Shireen! Lihat apa yang sudah suami miskin tak berguna-mu ini lakukan?! Lihat kesini!"
Shireen berjalan pelan menahan sakit di bagian intinya. Langkah kaki jenjang itu terhenti di dekat Edwald yang tampak basah dan berantakan.
"Sayang! Kenapa kau seperti ini?" cemas Shireen mengusap wajah Edwald yang basah dengan tangannya.
Tatapan Shiren beralih pada Freya dan ia cukup heran dan kebingungan dengan semua ini.
"Mom! Kenapa kau lagi-lagi memaki suamiku? Dan Freya kenapa kau seperti ini?"
"K..Kak!" lirih Freya menangis menutupi bagian dadanya.
Mata Shireen menajam ke arah Edwald yang tahu dengan pandangan penuh tanya itu.
"Aku tak melakukan apapun!" datarnya tapi Freya terlihat sangat tak berdaya.
"Kak! Kakak ipar bohong. Dia mencoba melecehkan aku!" bantah Freya keras.
Nyonya Colins tak lagi punya kesabaran untuk melihat wajah Edwald di kediaman ini.
"Aku tak ingin tahu. Ceraikan Shireen atau kau pergi dari kediaman ini!!"
"Mom! Edwald tak mungkin melakukan itu. Aku tahu bagaimana suamiku," keras Shireen menjadi garda terdepan bagi Edwald yang juga malas berdebat dengan ibu mertuanya.
"Kak! Suamimu ingin melecehkan aku dan kau masih membelanya?? Ini yang kau sebut saudariku. Ha??" isak Freya membuat Shireen serba salah.
Ia percaya pada Edwald tapi dua manusia ini juga orang yang penting baginya.
"Kak! Apa kau memang tak pernah menyayangiku. Ha? Aku minta maaf jika aku tak menghargai mu dulu tapi sekarang percayalah padaku. Kak!" imbuhnya memelas.
Disamping tangisan lemahnya ia menyeringai puas melihat kemarahan Mommy nya yang pasti tak akan menerima Edwald lagi. Mereka akan bercerai dan semuanya selesai, pikirnya begitu.
"Jika aku tak bisa memilikinya maka kau juga tidak. Shireen!"
Batinnya menatap puas Shireen yang masih mempertahankan kepercayaannya pada Edwald. Bahkan ibu dan anak itu saling berdebat hingga amarah Nyonya Colins tak terkendalikan lagi. Ia menampar Shireen yang seketika menjadi objek keegoisan ibunya.
"Ceraikan dia atau kau pergi dari sini!!!"
.....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Dessy Rinda
lah,mendingan pergi dr rmh sm suaminya
2023-11-14
3
Aksal Anugrah
lanjuuuut
2023-11-10
0
Dena Regar
Dasar adik tak tau diri tukang fitnah
2023-05-23
1