Karna tak bisa membendung hasrat lagi akhirnya Edwald membawa Shireen kembali ke kediaman karna jarak yang tak terlalu jauh lagi untuk pulang. Jika ingin pergi ke hotel atau penginapan, ia tak punya uang yang cukup karna harga tempat mewah di kota ini sangat mencekik dompet tipisnya.
Tentu jika Shireen tahu Edwald sudah tak memiliki uang yang cukup maka pasti wanita cantik ini akan sukarela saja memberinya uang pribadi. Tapi, Edwald tak sepicik itu untuk memanfaatkan kebaikan hati istrinya.
Saat sudah sampai di kediaman. Edwald menggendong Shireen ala bridal style masuk kedalam bangunan besar mewah ini dengan langkah tegas nan lebar.
Deru nafas keduanya saling memburu dan jelas terlihat jika mereka menahan hasrat dan untungnya tak ada siapapun di kediaman ini, bisa jadi karna faktor tengah malam.
"E..Ed!" Lirih Shireen kala sudah mencapai puncak tangga. Edwald yang juga tengah dikuasai birahi dengan cepat menyambar bibir basah bengkak Shireen yang juga mengeratkan pelukan ke lengannya seraya membalas pangutan liar Edwald.
Ntah apa yang merasuki keduanya tak lagi sadar akan dunia. Edwald membawa Shireen menuju kamar mereka yang tak begitu jauh dari arah tangga hingga ia menurunkan Shireen yang sigap memeluk pinggang kokoh sang suami.
"E..Ed ehmm!" Lenguh Shireen kala ciuman Edwald beralih ke lehernya.
Hasrat Edwald sudah tak terbendung membuat kepalanya pusing dan batinnya juga menggebu-gebu. Di dorongnya pintu di belakang Shireen yang ia iring masuk dengan posisi masih saling merapat.
"Sayang!" Serak Edwald dengan deru nafas bak di kejar satu kota. Ia menatap penuh puja Shireen yang juga menyerahkan seluruh tubuh dan jiwanya pada seorang Edwald.
"Aku milikmu!"
Mendengar kalimat itu Edwald tak lagi membuang waktu. Ia melepas kaos dan jaket yang sudah berantakan itu hingga tubuh kekar atletisnya membuat semrawut merah di pipi Shireen.
"T..tutup pintunya!" Lirih Shireen mencoba baik-baik saja padahal ia tengah ingin berteriak melarikan diri.
Edwald dengan cepat menutup pintu kembali dan segera mendekati Shireen yang tampak gugup tapi dari wajahnya ia juga mau.
"Apa boleh?"
"B..boleh. Tapi.."
"Akan sakit tapi hanya sedikit. Hm?" Bujuk Edwald karna ia juga tak untuk berhenti.
Shireen mengangguk terus menunduk tak berani menatap tubuh Edwald yang memang tergolong sempurna. Ia termasuk wanita yang anti dalam dunia seksual.
"B..bisa kau pelan-pelan?"
"Tentu!" Jawab Edwald seadanya. Ia perlahan mendorong bahu Shireen untuk duduk di tepi ranjang king size berwarna putih awan ini.
Kedua kaki dan tangan Shireen rapat pertanda ini pertama untuknya. Edwald-pun tahu itu hingga perlahan memberi kecupan lembut ke kening, hidung, pipi dan dagu Shireen yang perlahan berani menatapnya.
"Kenapa kau sangat pemalu. Hm?" Lirih Edwald memeggang dagu lancip Shireen yang selalu kaku saat bersamanya sedangkan diluar sana ia menjelma menjadi wanita tangguh.
"A..aku.."
"Tatap aku dan jangan palingkan wajahmu!" Pinta Edwald dan Shireen memberanikan diri. Manik hitam dan netra hijau elang itu beradu dan Edwald bisa melihat bagaimana lembut dan bersihnya pandangan wanita ini.
"Cantik!"
Itu yang keluar dari bibir Edwald. Ia perlahan mendorong Shireen setengah berbaring di atas ranjang. Pergerakannya sangat halus dan membuai sampai Shireen mengira jika Edwald adalah pemain yang handal.
Edwald beralih mengungkung Shireen yang terhipnotis dengan wajah tampan Edwald yang benar-benar membuatnya jatuh cinta. Begitu pandai-nya Edwald bermain Shireen tak sadar jika tangan Edwald sudah menarik resleting belakang dress-nya turun sampai ke dekat pinggul seksinya.
"E..Ed!" Sentak Shireen saat merasakan tangan besar hangat Edwald meraba punggungnya. Saat pria itu menarik dress-nya turun Shireen sontak langsung menutupi area dada.
"Jangan di tutup. Aku ingin melihatnya!"
Shireen perlahan menurunkan kedua tangannya. Edwald dengan tenang dan agak terburu-buru menurunkan pakaian Shireen sampai terlepas dari tubuh jenjang ini.
Tatapan kagum Edwald tak bisa di sembunyikan. Kedua bukit kembar yang sekang dan putih mulus dibaluti bra merah kontras dengan kulit beningnya di tambah bentuk perut rata dan pinggang seksi melengkapi keindahan visual Shireen yang layak menjadi model.
"J..jangan melihatnya begitu!" Malu Shireen menutupi dada dan bagian intinya yang masih memakai underwear.
Edwald hanya diam. Ia belum puas memandangi keindahan tubuh istrinya yang tak ada lecet sedikitpun.
"E..Ed!" Gugup Shireen saat Edwald mengelus garis perut sampai ke pinggangnya. Sentuhan itu bagai sengatan bervoltase tinggi membuat Shireen menutup mulutnya rapat agar tak bersuara.
"Berapa uang yang kau keluarkan untuk mendapatkan tubuh seperti ini?"
"Ha?" Tanya Shireen tak begitu dengar gumaman Edwald yang masih memandangi keindahan tubuhnya.
Senyum hangat Edwald muncul tapi ada binaran puas di dalam manik hijaunya.
"Aku sudah tak sabar melakukannya!"
"A.. Jangan bicara begitu," Gumam Shireen melupakan pertanyaannya tadi.
Edwald hanya tersenyum kecil. Ia mulai membuka balutan pakaian terakhir hingga sontak Shireen langsung memejamkan mata.
"Eeed!!" Pekiknya merasa ini terlalu intim.
"Buka matamu!"
Shireen tetap diam. Ntah apa yang merasuki Edwald ia merobek underwear merah yang di kenakan Shireen dan sontak wanita itu terkejut.
Edwald tersenyum kala Shireen menatapnya berbeda dan ada tanda tanya dan kebingungan di netra cantiknya.
"Maaf. Aku sedikit tak sabaran, Sayang!" Lembutnya kembali mengungkung tubuh Shireen yang masih fokus ke wajah tampan merah Edwald.
"K..kau baik-baik saja?" Tanyanya mencoba memastikan.
"Hm. Maaf, aku mengejutkanmu," Hangat Edwald perlahan memangut bibir bengkak Shireen karna ulahnya.
Seperti biasa Edwald selalu bisa membuat Shireen tenang. Wanita itu mengikuti ritme permainan Edwald yang sesekali juga kelepasan untuk memberi sentuhan sedikit kasar pada dada sekang Shireen yang sempurna.
"E..Edd emmm.."
Edwald hanya diam. Ia bermain di dada Shireen tapi di bawah sana ia berusaha masuk. Shireen yang tak begitu paham soal permainan ranjang hanya bisa menerima dan sesekali ia melenguh antara sadar atau tidak itu menggelikan.
Tapi, berbeda dengan Edwald yang menyukai rintihan nikmat dan sakit Shireen saat ia mencoba masuk lebih dalam.
"E..Edd.."
"Hm?" Gumam Edwald membuka lebar kaki Shireen agar mudah bertamu dan menutup mata wanita ini supaya lebih memberi sensasi.
Shireen merasa ada yang menekan selaput darahnya dan itu perbuatan Edwald yang seperti menahan-nahan agar tak menerobos paksa.
"E..Eds emmm sss..saakitt!"
Edwlad tetap diam. Ia frustasi karna bermain sangat lembut tapi kuasa tubuh Shireen membuatnya tak berani untuk berbuat lebih kasar.
"T..Tahan!" Gumam Edwald sudah mengambil posisi yang pas dan dalam sekali dorongan ia membuat Shireen memekik tapi bibirnya langsung di bungkam Edwald yang menahan sensasi hebat yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Rasa sakit yang menjalar di tubuh Shireen tak sebanding dengan kesedihan di hatinya. Ia tulus memberikan itu pada Edwald tapi rasanya sangat berat melepas mahkota yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun di negara yang termasuk bebas.
Hanya saja Shireen menuruni keluarga sebelah neneknya yang merupakan orang timur dan ia masih menjaga kesucian itu ditengah kebebasan ranjang di negara ini.
"E..Ed!" Lirih Shireen dengan air mata turun. Edwald menatap itu dengar pandangan yang sulit di jabarkan karna ia juga sangat-sangat tak bisa menyangka jika Shireen benar-benar masih disegel.
"Jangan tinggalkan aku!" Imbuh Shireen menggantungkan hidupnya pada Edwald yang seketika merasakan beban berat di bahunya.
Shireen benar-benar mempercayainya sampai menyerahkan apapun padanya.
............
Di kamar lain ada seorang gadis muda yang tampak kesal menatap pantulan wajahnya di cermin. Walau bagaimana-pun keadaan Edwald yang tak lagi memiliki kekayaan tapi ketampanan dan kharisma pria itu tak bisa ia tepis.
"Kenapa?? Kenapa kau selalu mendapatkan lelaki yang nyaris sempurna??!!" Tanya Freya menatap penuh amarah pada kaca di hadapannya.
Ia membenci Shireen karna memang jauh lebih cantik dan cerdas darinya. Bahkan, kekasih Freya sering mendekati gadis malang ini tapi targetnya adalah Shireen yang menjadi daya tarik para lelaki.
"Apa yang kurang dariku? Aku juga bisa bekerja dan mandiri seperti dia. Tapi, kenapa semua orang selalu membanggakan Shireen!! Shireen dan selalu diaa!!"
Freya memukul kaca itu dengan vas bunga yang ada di samping meja rias hingga retak bahkan tepat di wajahnya yang memang terlalu jauh dari Shireen.
"Shireen! Apa yang kau punya aku juga harus memilikinya. Kita saudari, bukan?" Desis Freya menyeringai. Ia tadi melihat Edwald san Shireen yang bermesraan sampai tak tahu tempat apalagi Freya tak pernah bisa memungkiri jika Edwald memang tipe pria idamannya.
"Apa yang menjadi milikmu berarti juga milikku. Aku juga ingin merasakan tubuh suamimu," Imbuh Freya lalu tertawa keras segera mencari pakaian seksi untuk menjalankan rencananya.
Ia tak akan membiarkan Shireen terlalu beruntung sampai ingin menguasai setiap keindahan di dunia ini.
Vote and like sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
💞Biim 💞
saudara edan 😠
2023-10-14
3
Ibelmizzel
adik yg mejijikan.
2023-05-26
1
Dena Regar
Apakah Edward tulus mencitai shiren
2023-05-23
0