"Indah sekali, suara yang indah.... teriakan ini, mereka pasti gembira dengan seniku. Desa ini terisolasi dari desa lainnya bahkan tidak akan ada yang menyelamatkan kalian.. benar-benar luar biasa."
Kini seluruh desa telah menjadi lautan api.
"Kenapa kau melakukan ini semua?" tanya Vesta demikian yang dijawab dengan santai.
"Tentu saja demi kedamaian, keburukan manusia telah membawa bencana terhadap dunia ini, sebelum bencana itu datang kami harus membuat dunia ini menjadi ideal."
"Apa maksudmu?" potong Liliana, bahkan Vesta yang seorang dewi tidak benar-benar mengetahui yang terjadi.
"Kalian tidak akan tahu, hanya para uskup yang tahu, semua itu tertulis jelas di kitab kami. Yah... mari kita akhiri obrolan ini."
"Aku juga setuju."
Liliana memilih untuk langsung menyerang dengan pukulannya, tanpa bergerak Bernius menahannya dengan satu tangan sebelum membanting tubuh Liliana terbang ke udara.
Di saat yang sama Vesta menarik busurnya lalu terciptalah sebuah panah yang terbuat dari sihir putih. Itu melesat dengan cepat namun meleset dari wajah Bernius.
"Hoh, kau belum ahli menggunakannya."
"Aku tidak akan menyerah."
Beberapa meleset dan beberapa lagi mengenai tubuh Bernius, karena serangan itu begitu lemah tidak bisa melukainya sedikitpun.
"Mustahil?"
"Ketika kalian menginjakkan kaki kalian di desa ini maka takdir kalian hanya mati, tapi jangan khawatir kematian kalian akan dijadikan sebagai penebusan dosa akan dunia ini yang kejam, terutama yang mulia Verniti, Anda akan menjadi angin segar untuk kami."
"Dasar sinting, aku tidak sudi jadi boneka tanah liatmu."
"Saat Anda berubah Anda akan sangat mensyukurinya."
"Lari yang mulia!" teriak Vesta namun kedua kaki mereka tiba-tiba berhenti bergerak karena sebuah ketakutan intens.
"Nah, ini tidak akan sakit."
Ketika Bernius mendekati Roroa, Liliana muncul dari samping sembari memukul wajahnya hingga dia melesat lalu menabrak reruntuhan bangunan di depannya.
"Jangan menyentuhnya sialan, apa kau pikir aku akan mati dengan serangan barusan!" teriak Liliana jengkel.
Luka menetes dari kepala Liliana, tapi hanya sesaat sebelum luka itu mengering dan sembuh kembali, ini merupakan kemampuan khusus naga untuk mengobati dirinya sendiri dalam situasi penting dalam pertempuran.
Tanduk Liliana terlihat sedikit lebih besar dari sebelumnya.
Bernius yang bangkit dari reruntuhan tampak menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor.
"Sesuai yang diharapkan dari seekor naga benar-benar kuat. Lawan yang pantas untuk aku kalahkan."
Bernius meletakan kedua tangannya di tanah dan itu menciptakan tanah yang mengerucut ke udara. Itu mirip sebuah duri landak raksasa.
Liliana merangkul Vesta dan Roroa sebelum melompat untuk menghindari serangan tersebut, bahkan sampai keluar desa serangan tersebut terus mengejar mereka. Penduduk desa yang tidak sempat melarikan diri kini tertusuk di udara.
Ada yang tubuhnya di bawah sementara kepala dan organ dalamnya melayang di udara dan ada juga yang terbelah.
Itu pemandangan yang mengerikan dari sebuah kematian.
Liliana menurunkan keduanya di tempat aman.
"Dia lawan yang mengerikan, kalian pergilah jika aku gagal mengalahkannya."
"Liliana?"
"Tidak masalah, kemungkinan Yujin masih selamat... aku yakin dia tidak akan mati begitu saja."
Liliana meninggalkan mereka untuk menghadapi satu-satunya lawan yang merepotkan, desa telah hancur sepenuhnya dan tidak jelas apa ada yang selamat atau tidak. Yang jelas yang dipikirkan Liliana sekarang adalah memastikan bahwa pelakunya tidak bisa bebas dan berkeliaran seenaknya meskipun harus mempertaruhkan nyawanya.
"Tatapan yang bagus, kau masih berfikir bisa mengalahkanku."
"Kau bukan penyihir? Seharusnya ada lingkaran sihir saat kau menggunakan hal barusan."
"Kau mengetahuinya juga, benar... yang aku gunakan bukan sihir melainkan alkemis."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Nif
Hem....
2023-06-05
0