10. Menumpas Kelompok Mafia

Ditengah malam, Turangga melesat terbang ke atas langit menembus awan, hendak menuju ke Surabaya. Dia sengaja terbang sendiri di kegelapan malam, agar tidak membuat orang lain heboh, bahwa dia bisa terbang.

Turangga terbang dengan kecepatan tinggi, melebihi kecepatan pesawat tempur, menuju kearah Surabaya.

Untuk urusan di Jakarta, sementara diserahkan kepada Rendi, untuk menanganinya, dengan dibantu oleh beberapa bawahan Turangga.

Turangga terus melesat kearah timur, hingga tak membutuhkan waktu lama, dia sudah tiba di atas langit kota Surabaya, dan mencari tempat sepi untuk mendarat.

Dia melihat kesebuah proyek perumahan yang terbengkalai, yang dihentikan pekerjaannya karena ada permasalahan. Turangga dengan gerakan cepat menukik turun menuju ke kawasan proyek, dan mendarat disebuah bangunan rumah yang belum selesai. Tidak ada orang satupun ditempat itu, dan juga tidak ada penjaga.

Proyek itu sudah lama ditinggalkan, hingga ditumbuhi rumput ilalang yang tinggi-tinggi. "Tempat ini sangat cocok untuk dibangun kawasan bisnis, perhotelan, apartemen, pusat perbelanjaan dan perumahan mewah," ucap batin Turangga.

Lantas dia pergi untuk menemui bawahannya, Sucipto, yang menjadi pemimpin perwakilan Turangga Grup di Surabaya, karena dia mendapat kabar, bahwa Sucipto telah dianiaya oleh anggota kelompok Handoko, yang berkuasa disekitar Surabaya.

Setibanya di Markas perwakilan Turangga Grup, dia mendapat laporan dari bawahannya, bahwa kelompok Handoko akan menutup semua usaha Turangga Grup di Surabaya, karena setiap pengusaha dan organisasi yang membuka perwakilannya di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, harus tunduk kepada semua aturan yang dibuat oleh kelompok Handoko.

Karena itulah, mereka menganiaya Sucipto dan anggota lainnya, yang tidak mau tunduk kepada aturan kelompok Handoko, dan mengancam akan menutup semua usaha Turangga Grup.

Turangga begitu mendengar laporan dari bawahannya, darah jiwa bertempurnya bergejolak, ingin segera menumpas kelompok Handoko.

"Nanti malam, antar aku ketempat kediaman Handoko," ucap Turangga, kepada bawahannya. "Jangan membawa banyak orang, cukup tujuh orang untuk membereskan mereka," tambahnya.

Sucipto menurut apa kata Turangga, karena dia sudah mengetahui kekuatan bosnya. Bahkan kalau Turangga mau, dia bisa menghancurkan kota Surabaya sendirian, dengan kekuatannya yang sangat dahsyat.

Namun dia hanya ingin menumpas kelompok Handoko, yang telah mengganggu usahanya di Surabaya, dan ingin memberikan contoh kepada kelompok lainnya, agar tidak berani mengganggu anggota Turangga Grup.

Malam pun tiba, Turangga dengan dipandu oleh Sucipto dan bawahannya, menuju ketempat Handoko dengan menggunakan dua mobil Pajero Sport.

Sekitar tiga ratus meter dari target, Turangga menghentikan mobilnya, dia keluar dari mobil Pajero Sport, lalu melesat terbang kearah rumah mewah milik keluarga Handoko. Sekitar jarak enam meter dari atas pohon, dia mengawasi area rumah Handoko. Ada sekitar sepuluh orang berjaga dirumahnya, dengan senjata lengkap.

Kesepuluh orang penjaga itu, langsung dilumpuhkan oleh Turangga dengan sepuluh jarum beracun, yang dilesatkan dari tangan kanannya dengan kekuatan penuh.

Cep.... Cep.... Cep....

Sepuluh jarum beracun, melesat cepat mengarah tepat ke leher para penjaga, hingga mereka langsung tersungkur, dan racun yang sangat mematikan itu menjalar ke seluruh tubuh para penjaga, tidak membutuhkan waktu lama, mereka bergelimpangan tidak bergerak lagi.

Turangga langsung masuk kedalam rumah mewah, menuju kesebuah ruangan tempat mereka berkumpul. Kebetulan dalam ruangan itu, Handoko dan antek-anteknya lagi mengadakan pertemuan.

Brak....

Sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati, didobrak dari luar oleh Turangga. Dan dihadapan mereka, muncul seorang pria muda yang gagah dan tampan, menatap kesemua orang yang berada didalam ruangan itu.

Handoko dan antek-anteknya, terkejut dengan kemunculan pria muda, yang mendobrak pintu secara tiba-tiba, dan berdiri tegak di hadapan mereka, seolah menantang Handoko dan antek-anteknya.

"Bajingan asu kau! Berani membuat kekacauan ditempat ku, apa kau sudah bosan hidup?" Seru Handoko marah, sambil mengarahkan moncong senjata api kearah Turangga.

Turangga tidak tinggal diam, sebelum mereka bergerak menembaki dirinya, dia sudah mengeluarkan aura kekuatan Abadi Tahap Awal, hingga semua orang yang berada diruangan itu, langsung tersungkur dan muntah darah.

Turangga bergerak cepat menancapkan jarum-jarum beracunnya, ke leher antek-anteknya Handoko. Hanya menyisakan pemimpinnya, Handoko Suryo Atmodjo, yang terlihat wajahnya sangat pucat, karena tertindas aura kekuatan yang dikeluarkan oleh Turangga.

"Kau yang memerintahkan untuk menutup usahaku, hah?" Bentak Turangga, bertanya kepada Handoko, sambil mengangkat kerah bajunya, hingga dia tercekik oleh kekuatan Turangga.

"Si.... Siapa kamu sebenarnya?"

Handoko gugup dan sangat ketakutan, dengan kekuatan Turangga yang masih mencengkram kerah bajunya.

"Akulah pemilik Turangga Grup, yang kau usik, hingga aku datang kemari," ucap Turangga, langsung membanting tubuh Handoko ke lantai dengan keras.

Bug.... Aahhh....

Jerit Handoko, menahan rasa sakit dibanting oleh Turangga.

Turangga langsung menghubungi Sucipto dan yang lainnya, melalui telepon genggamnya, untuk membereskan semua dokumen penting milik Handoko, dan segera mengurusnya untuk di over balikan atas nama Turangga Grup.

Sucipto bergerak cepat, melaksanakan perintah dari Turangga, dengan dibantu oleh bawahannya, termasuk para penasehat hukum Turangga Grup perwakilan Surabaya, untuk mengalihkan seluruh kekayaan Handoko, kepada Turangga Grup perwakilan Surabaya, termasuk rumah mewahnya.

Usai menyelesaikan urusannya, malam harinya, Turangga membawa terbang Handoko dan semua antek-anteknya, yang diikat dijadikan satu, untuk dibuang ketengah laut utara.

"Biar mereka menjadi santapan ikan hiu," ucap Turangga, dalam batinnya.

Gegas Turangga kembali ke rumah mewah, untuk memerintahkan kepada bawahannya, agar membenahi rumah mewah sitaan dari Handoko. Dan Hanya ada satu rumah yang tidak di sita oleh Turangga, yaitu rumah yang ditempati oleh istri dan anak-anaknya.

Rumah mewah itu, nantinya akan dijadikan mes para Anggota Turangga Grup, dan sekaligus untuk mengadakan pertemuan rahasia dan tertutup.

Turangga akan menyempatkan waktu, untuk tinggal di Surabaya selama satu minggu. Karena selain dia berniat ingin menguasai sebuah proyek yang terbengkalai itu, dan nantinya, kawasan itu akan dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan terbesar dan termewah, juga ingin memberi pelajaran kepada oknum-oknum yang bersekutu dengan Kelompok Handoko.

Seperti biasa, dalam kegelapan malam, dia bergerak cepat melakukan penculikan kepada beberapa oknum pejabat, untuk memberikan hukuman kepada mereka.

Semua oknum-oknum itu dikumpulkan di satu tempat, dan dihabisi dengan menancapkan jarum-jarum beracunnya ke leher mereka, hingga mereka tumbang tidak bergerak lagi

Satu Minggu kemudian, setelah Turangga kembali ke Jakarta, penduduk disekitar tempat pembuangan mayat oknum-oknum pejabat, dihebohkan dengan ditemukannya ratusan mayat bergelimpangan, disebuah kebun yang jauh dari kota.

Penemuan ratusan mayat oknum-oknum pejabat itu, membuat penasaran seluruh penduduk untuk membuktikannya, da sejumlah wartawan berdatangan untuk meliputnya,

Ditempat itu sudah di pasang garis polisi, agar para penduduk tidak masuk ke tempat kejadian, hanya petugas kepolisian dan wartawan yang meliput kejadian itu, yang boleh masuk ke TKP.

Berita penemuan ratusan mayat itu, cepat tersebar, hingga beberapa wartawan televisi turut menyiarkan secara langsung dari Tempat Kejadian Perkara.

Turangga tersenyum, begitu tau dari berita di Media Sosial, mengenai ditemukan seratus mayat diperkebunan jati, dan tidak ada jejak pembunuhan, hanya ditemukan dalam tubuh mayat, ada sebuah racun yang sangat mematikan.

Sangat rapih memang yang dilakukan oleh Turangga, karena dia mencabut kembali jarum-jarum beracunnya, dari leher para oknum pejabat, setelah mereka tidak bergerak lagi, dan langsung membuang jarum-jarum beracunnya ketengah laut utara, serta menghapus jejak dilehernya dengan cairan khusus tingkat Dewa, yang menghilangkan semua jejak didalam tubuh manusia, agar si pelakunya, tidak dapat dilacak oleh pihak kepolisian.

Bersambung......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!